NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG TERAKHIR DI TENGAH BADAI

Badai petir yang menggelegar di langit Jakarta membelah kegelapan malam dengan kilatan cahaya putih terang, menyinari kawasan perumahan elit Dharmawangsa yang mendadak diselimuti ketegangan luar biasa. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, menampar kaca-kaca jendela besar kediaman Letnan Jenderal Gibran Mahendra. Di dalam kamar utama, Ziva terbangun secara mendadak akibat suara guntur yang memekakkan telinga. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara manik matanya yang sembap langsung menangkap sosok Gibran yang berdiri tegak di dekat jendela kaca besar.

Pria itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang dengan bagian lengan yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang menegang. Gibran tidak menoleh saat Ziva terbangun; pandangannya terarah lurus ke luar halaman depan, di mana sorot lampu kendaraan taktis dan kendaraan dinas militer mulai tampak memasuki gerbang utama secara beriringan.

"Gibran..." panggil Ziva dengan suara parau, rasa ngeri tiba-tiba merayap di dadanya melihat situasi di luar. "Apa itu... apa itu polisi militer?"

Gibran berbalik perlahan. Wajah pria itu tampak sangat tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun aura dominasi dan bahaya terpancar jelas dari setiap gerakannya. Ia berjalan mendekati tempat tidur, menatap Ziva yang masih meringkuk ketakutan di balik selimut tebal.

"Tetaplah berada di dalam kamar ini, Ziva," ucap Gibran dengan nada suara rendah yang mutlak. "Apapun yang terjadi di luar sana, jangan pernah mencoba melangkah keluar."

Sebelum Ziva sempat merespons atau melemparkan pertanyaan lebih lanjut, Gibran berbalik, melangkah cepat menuju pintu utama kamar, menutupnya rapat-rapat, dan menguncinya dari luar. Suara sistem pengunci elektronik berbunyi tegas, meninggalkan Ziva seorang diri dalam debaran jantung yang kian tak beraturan.

Di lantai bawah kediaman Dharmawangsa, suasana terasa jauh lebih membeku dari udara dingin di luar. Pintu utama berukuran besar terbuka lebar, membiarkan angin malam dan air hujan cipratan badai masuk ke teras depan.

Mayor Jenderal Surya berdiri tegak di dekat tangga utama dengan ekspresi wajah tegang, sementara di hadapannya, sekelompok perwira tinggi Polisi Militer yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengawas Pertahanan melangkah masuk dengan tegap, dikawal oleh beberapa personel bersenjata lengkap. Di belakang barisan perwira militer tersebut, tampak Bramantyo Adriana dan Aris Mahendra berdiri dengan tatapan penuh amarah dan ketegangan.

Derasnya hujan seakan kalah suara oleh dentuman sepatu bot militer yang menghantam lantai marmer hitam ruang tamu Gibran.

Letnan Jenderal Gibran Mahendra menuruni anak tangga satu demi satu dengan tenang, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kain hitamnya. Wibawa pria itu begitu luar biasa hingga membuat beberapa prajurit Polisi Militer yang mengawal sempat menahan napas sejenak.

"Luar biasa," suara Gibran memecah keheningan malam, dingin dan sarat akan sindiran tajam. "Menghadirkan pasukan bersenjata lengkap ke kediaman seorang perwira tinggi di tengah malam buta. Apakah markas besar sudah kehilangan akal sehatnya, atau kalian memang sengaja ingin menciptakan kudeta kecil di rumah saya?"

Ketua Dewan Pengawas Pertahanan maju dua langkah, menatap tajam ke arah Gibran dengan mata menyalang. "Hentikan sandiwara ini, Jenderal Gibran! Anda sudah mengabaikan panggilan sidang darurat, menyalahgunakan wewenang institusi untuk kepentingan pribadi, dan yang paling fatal: melakukan penyekapan ilegal terhadap seorang warga sipil di kompleks militer!"

Bramantyo Adriana tidak dapat lagi menahan diri. Pria paruh baya itu melangkah maju, menunjuk tepat ke arah wajah Gibran dengan tangan bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Di mana putri saya, Gibran?! Di mana Ziva?! Kembalikan dia sekarang juga sebelum saya pastikan karir dan nama besar keluarga besar Mahendra hancur lebur di tangan hukum internasional!"

Aris Mahendra berdiri tepat di samping calon mertuanya, tatapan matanya menyala penuh kebencian dan amarah yang membara. "Paman sudah melewati batas kewarasan. Paman bukan lagi seorang perwira yang menjunjung tinggi kehormatan militer, melainkan seorang penjahat yang bersembunyi di balik pangkat!"

Mendengar rentetan tuduhan dan makian yang dilayangkan di ruang tamunya sendiri, Gibran sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Sudut bibir pria itu justru terangkat membentuk garis seringai tipis yang mengerikan. Ia mengeluarkan tangan dari saku celananya, melipat kedua tangannya di dada bidangnya.

"Kalian berbicara tentang kehormatan, hukum, dan keadilan di hadapan saya?" suara Gibran menggema rendah, penuh tekanan yang membuat bulu kuduk merinding. "Kalian pikir kalian bisa datang ke sini, menerobos masuk rumah saya, dan merampas apa yang sudah menjadi milik mutlak saya begitu saja?"

Ketua Dewan Pengawas mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada komandan Polisi Militer di belakangnya. "Letnan Jenderal Gibran Mahendra, atas nama Dewan Pengawas Pertahanan Nasional dan surat perintah resmi penjemputan darurat, Anda dinyatakan dinonaktifkan sementara dari komando teritorial. Perintahkan pasukan Anda untuk membuka akses kamar lantai atas, dan serahkan saudari Ziva Adriana kepada kami sekarang juga!"

Empat orang personel Polisi Militer langsung bergerak maju, mengangkat laras senjata mereka dengan posisi siaga, bersiap menaiki tangga utama menuju lantai dua tempat kamar Ziva berada.

Situasi di dalam ruangan mencapai titik didih. Udara terasa tersedot habis. Surya mengepalkan tangannya di samping tangga, siap menghadapi kemungkinan terburuk dari pertumpahan darah antar-perwira di dalam satu atap yang sama.

Namun sebelum prajurit pertama sempat menapakkan kaki di anak tangga kedua, sebuah suara jeritan nyaring yang sangat familier tiba-tiba menggema dari arah koridor lantai atas.

“Gibran! Lepaskan aku! Tolong!”

Di lantai atas, Ziva yang mendengar keributan dan bentakan suara dari ruang tamu bawah kehilangan seluruh kendalinya. Ketakutan luar biasa mencengkeram jiwanya. Ia berlari ke arah pintu kamar yang terkunci rapat, memukul-mukul permukaan kayu jati tersebut dengan sekuat tenaga sambil berteriak histeris meminta tolong.

Suara jeritan Ziva seketika menghentikan pergerakan seluruh orang di ruang tamu bawah.

Aris Mahendra adalah orang pertama yang bereaksi. Pemuda itu langsung berlari menaiki tangga tanpa memedulikan gertakan siapa pun. "Ziva! Itu suara Ziva!" teriak Aris kalap.

Gibran tidak tinggal diam. Dengan gerakan kilat yang luar biasa cepat, Gibran memotong jalur Aris di pertengahan tangga, mencengkeram kerah jaket keponakannya itu dengan satu tangan dan mendorongnya hingga terjatuh ke belakang menimpa beberapa pengawal di bawah.

"Jangan pernah berani menginjakkan kaki ke lantai atas, Aris!" bentak Gibran dengan suara menggelegar yang mematikan.

Ketua Dewan Pengawas murka melihat tindakan Gibran. "Tangkap dia! Jenderal Gibran melakukan perlawanan terhadap petugas negara! Amankan seluruh area!"

Suasana berubah menjadi kekacauan total. Personel Polisi Militer mengangkat senjata mereka, membidik tepat ke arah Gibran yang berdiri tegak di tengah tangga, menolak mundur satu jengkar pun dari jalan menuju lantai atas. Surya berteriak mencoba melerai, sementara Bramantyo memanggil nama putrinya dengan isak tangis tertahan di lantai bawah.

Di tengah bisingnya hujan badai di luar dan ketegangan senjata yang siap meletus di dalam rumah, Gibran menoleh perlahan ke arah pintu kamar di ujung koridor atas yang masih diguncang oleh ketukan putus asa Ziva. Di dalam tatapan mata hitam sang Jenderal, tersimpan tekad yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh hukum, senjata, atau darah dagingnya sendiri bahwa benteng terakhir itu tidak akan pernah roboh, bahkan jika dunia harus hancur bersamanya malam ini.

1
syora
alhamdulillah sunat datang Ariana smoga mnjdi ank yg soleh
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
syora
up lg dong thor
syora
ya allah semoga dilancarkan segala urusannya
agar kluarga kecil mereka bhgia
+1
lagi🌚
+1
akhir dari segala baku tembak
syora
semoga samawa till jannah ya gibran ziva
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
syora
alhamdulillah apapu awal hubungan klian
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
+1
al kira ada +21
syora
alhamdulillah 🙏
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin
syora
semoga bisa langgeng
+1
lagi☻️
+1
roar☻️
+1
lagiiii☻️
+1
lagiiiiii🌚
+1
al baca sambil nahan nafas☻️
+1
dia hanya orang gagal yang haus kasih sayang☻️
+1
lagi🌚
+1
lagiiii🦖
+1
menanti +21🌚🌚🌚
+1
deg2an al 🦖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!