"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 06
"Sayang, kamu tidak perlu berterima kasih sama aku," ucap Kirana lembut. Tangannya meraba-raba wajah suaminya dengan penuh kasih sayang, tidak tahu bahwa di hadapannya sedang berdiri maut yang sedang menyamar.
Di balik senyum hangat yang tampak tulus itu, jari-jari Arga sudah mencengkeram erat gagang pisau tajam yang tersembunyi di balik punggungnya. Niatnya sudah bulat... saat itu juga ia siap untuk menikam istrinya.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara dering ponsel membelah keheningan di ruangan yang mencekam, mematikan niat jahat Arga yang sudah di ujung tanduk.
"Sayang, sepertinya ponselku berbunyi?" seru Kirana sedikit bingung, tangannya bergerak meraba-raba udara mencari sumber suara itu.
Arga mengumpat dalam hati, perlahan menurunkan tangannya. Pisau itu pun ia letakkan kembali ke tempat sembunyi dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Sial ... Siapa yang menghubungi Kirana sekarang?
"Tunggu sebentar, sayang," Arga bangkit perlahan dari sofa, melangkah menuju meja tempat ponsel Kirana tergeletak berkedip-kedip.
Saat melihat nama di layar, alisnya langsung bertaut kencang. Tasya! Kenapa dia menghubungi Kirana?
Ia melirik sekilas ke arah istrinya yang masih duduk diam dan menunggu, baru kemudian mengambil ponsel itu.
"Siapa itu, sayang?" tanya Kirana dari kejauhan.
Dengan wajah datar dan tenang, Arga langsung mematikan panggilan itu. "Bukan siapa-siapa. Hanya nomor tidak dikenal," jawabnya santai, lalu kembali duduk di sebelah istrinya.
"Owhhh ... Aku kira siapa. Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu itu penting."
"Tidak perlu. Pasti hanya panggilan iseng saja. Sekarang, ayo kita masuk ke kamar."
Arga membopong tubuh istrinya dengan gerakan penuh perhatian—topeng yang tidak pernah lepaskan dari wajahnya, mereka masuk ke kamar, lalu meletakkannya pelan di atas kasur empuk mereka.
Belum sempat suasana tenang kembali, pertanyaan Kirana membuat darah Arga berdesir tidak nyaman.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu."
"Tanya saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Kemana Bi Titin? Sudah dua minggu dia belum kembali ke sini. Bukannya dulu dia bilang hanya izin pulang kampung satu minggu saja?" tanya Kirana dengan nada penasaran yang polos.
Arga tertegun sejenak, suaranya tiba-tiba terdengar gagap. "A-aku tidak tahu ... Dia juga tidak mengabari ku."
"Aku pikir kamu tahu kabar Bi Titin" lirih Kirana sedikit kecewa.
"Aku benar-benar tidak tahu! Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan kabar Bi Titin?" tanya Arga agak menekan, berusaha menutupi gelisah nya.
"Enggak apa-apa, sayang," jawab Kirana singkat.
Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah menemukan mereka, Kirana. Semua orang itu sudah aku singkirkan ... Arga tersenyum tipis, dingin, dan penuh kelicikan di dalam hatinya.
*
*
Keesokan harinya.
Arga sudah berdiri siap di samping tempat tidur, siap mengantar istrinya melakukan pemeriksaan rutin mata Kirana setiap bulan.
"Sayang, ayo kita berangkat sekarang."
Kirana menggeleng pelan, bahunya terkulai lemas. "Sayang ... sepertinya aku tidak perlu pergi. Aku sudah berhenti berharap."
"Sayang, apa yang kamu katakan? Jangan putus asa dulu. Aku yakin matamu masih bisa sembuh," ucap Arga berusaha terdengar menyemangati, padahal di matanya justru terbayang kepuasan jika istrinya benar-benar tidak bisa melihat untuk selamanya.
"Tidak usah ... rasanya mustahil bagiku untuk bisa melihat lagi."
Suara Kirana terdengar begitu sendu dan penuh keputusasaan. Sudah dua bulan berlalu, namun tak ada secercah cahaya pun yang bisa ia tangkap. Kegelapan masih menjadi temannya yang abadi.
"Bagaimana kalau kita pergi ke luar negeri? Mungkin ada cara pengobatan atau operasi yang bisa menyembuhkan mata mu."
"Operasi? Dokter sudah bilang, kemungkinannya sangat kecil. Bahkan bisa dibilang hampir tidak mungkin aku bisa melihat kembali," keluh Kirana dengan suara lelah.
Arga segera merangkul tubuh istrinya erat, seolah tak ada yang lebih tulus darinya di dunia ini. Ia berbisik pelan di telinga Kirana, "Sayang ... jangan pernah menyerah. Aku akan selalu ada di sisi kamu, apa pun yang terjadi."
Tangannya mengusap pundak istrinya lembut, sementara di sudut bibirnya tersembunyi senyum penuh kemenangan yang tak akan pernah bisa dilihat oleh mata buta itu.
"Sudahlah. Sekarang kita ke rumah sakit. Aku yakin pasti masih ada jalan untuk menyembuhkan mu."
Nada bicaranya begitu meyakinkan, hingga perlahan hati Kirana yang sudah keras pasrah itu luluh kembali.
"Baiklah ... kalau begitu, aku ikut ke rumah sakit."
Bagus ... Ikuti saja semua yang aku katakan, sampai kamu benar-benar buta selamanya.
Di rumah sakit, suasana steril dan dingin justru menjadi saksi bisu kejahatan yang sedang direncanakan.
Setelah pemeriksaan selesai, Arga meminta bicara empat mata dengan dokter yang menangani istrinya. Ia memastikan obat yang diberikan justru akan mematikan sisa harapan penglihatan Kirana.
"Dokter ... kamu pasti tahu maksudku datang ke sini," ucap Arga berbisik, raut wajahnya berubah tajam dan mengancam. "Kamu tahu apa yang lebih menakutkan daripada kematian?"
"S-saya tidak tahu, Pak." jawab dokter itu terbata-bata, tangannya gemetar di sisi tubuh.
"Kehilangan semua yang sudah kamu bangun selama ini ... Jangan pernah berpikir untuk mengkhianati ku ... jika kamu tidak ingin bernasib sama seperti istriku."
Dokter itu menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Pak Arga ... saya janji, saya akan merahasiakan semuanya rapat-rapat."
"Aku tahu kamu adalah dokter kepercayaan Kirana ... Dokter Alibie."
Dokter Alibie memang orang yang sudah lama menangani kesehatan Kirana dan keluarganya.
"Kamu tahu kenapa aku mengatakan ini?" tanya Arga lagi, menatap tajam ke manik mata dokter itu.
Dokter itu menggelengkan kepala dengan ketakutan. "T-tidak tahu, Pak!"
"Sekali kamu berani berkhianat, aku akan menghabisi nyawamu," ancam Arga tegas.
Dokter itu hanya diam terpaku. Ia sadar betul seberapa besar kuasa Arga sekarang, dan ia sangat membutuhkan uang yang dijanjikan. Namun yang tidak ia sadari, ia hanyalah pion kecil yang akan dibuang begitu rencana itu tuntas.
*
Di luar ruangan, Kirana menunggu cukup lama namun suaminya tidak belum juga kembali. Dengan hati-hati ia meraih tongkat penuntunnya, lalu melangkah pelan meraba-raba mencari jalan keluar.
Karena sering datang ke sini, perlahan ia mulai hafal setiap sudut dan tikungan ruangan ini meski tak bisa melihatnya.
"Ke mana sih suamiku? Katanya mau menemui Dokter Alibie sebentar."
Langkah kaki Kirana pelan namun pasti, hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu ruangan dokter yang sedikit terbuka.
Dari balik celah pintu itu, suara Arga terdengar samar namun cukup jelas tertangkap telinganya yang peka.
"Ingat, Dokter! Jangan sampai rencana ini gagal."
Darah seketika berdesir kencang di seluruh tubuh Kirana, napasnya tercekat tak percaya.
"Sayang ...! Rencana apa yang tidak boleh gagal?"
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,