Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
"Akhirnya aku bisa hidup tenang, bisa menjalani sisa hidupku dengan bebas melakukan apa pun, bebas menentukan apa yang aku inginkan. Astaga... ini seperti mimpi." Celoteh Esmera terdengar begitu riang pagi itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajahnya benar-benar terlihat santai. Tidak ada kerutan di dahinya, tidak ada tatapan waspada, apalagi perasaan seolah-olah dirinya sedang diawasi setiap saat.
Hari ini, Esmera sudah kembali ke rumah barunya. Rumah yang benar-benar sesuai dengan keinginannya.
Tidak terlalu besar, tidak terlalu mewah, dan yang paling penting, jauh dari hiruk-pikuk istana. Ia bahkan sengaja meminta halaman yang luas karena sudah memiliki banyak rencana untuk tempat itu.
Esmera ingin menanam sayuran, lalu beberapa pohon buah-buahan dan tentu saja aneka jenis bunga.
Tidak ada pelayan. Tidak ada bangsawan yang datang berkunjung. Tidak ada ksatria yang berdiri di depan pintunya setiap saat. Tidak ada pula Edris Ruan yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan ketenangannya.
Setidaknya, itulah yang Esmera pikirkan. Karena Edris sudah berjanji tidak akan mengirim siapa pun untuk mengganggunya. Dan bagi Esmera, janji itu adalah kesempatan untuk akhirnya hidup seperti orang biasa.
"Baiklah, mari membuat sarapan kesukaanmu, Esmera." Dia berbicara kepada dirinya sendiri sambil menggulung lengan bajunya.
Pagi itu, Esmera memasak dengan penuh semangat. Sesekali ia bahkan bersenandung kecil sambil menyiapkan bahan makanan. Setelah selesai, ia membawa masakannya ke meja makan sederhana di dekat jendela.
Ia duduk, lalu menyantap sarapannya dengan puas."Enak." Esmera mengangguk puas."Memang tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memasak untuk diri sendiri."
Setelah sarapan selesai, ia mencuci piring dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sederhana.
Hari ini adalah hari untuk berkebun.
Dia sudah membeli beberapa bibit bunga yang ingin ditanam. Selain itu, ada juga beberapa bibit sayuran dan pohon buah yang sengaja ia siapkan.
Membayangkan halaman rumahnya dipenuhi bunga dan tanaman, membuat Esmera semakin bersemangat."Aku akan menanam bunga di bagian sini..."
Dia membuka pintu rumah sambil membawa beberapa peralatan berkebun. Namun baru saja pintu terbuka, Esmera langsung membeku.
Seseorang sudah berdiri tepat di depan rumahnya.
Seorang pria tinggi dengan pakaian ksatria biasa.
Rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang, dan ekspresinya seolah-olah kedatangannya ke tempat itu adalah sesuatu yang sangat wajar.
Esmera menatap pria itu selama beberapa detik. Kemudian matanya menyipit."Yang Mulia.."
Pria itu tersenyum tipis."Selamat pagi."
Esmera langsung menutup kembali sebagian pintunya."Apa yang sedang Anda lakukan?" Nada suaranya jelas tidak senang."Bukankah Yang mulia sudah berjanji tidak akan menggangguku hari ini?"
Edris menatap pakaian yang dikenakannya sendiri."Aku tidak mengganggumu."
"Kau berdiri di depan rumahku pagi-pagi begini."
"Aku hanya datang menjemputmu."
"Itu namanya mengganggu."
Edris tidak terlihat merasa bersalah sedikit pun."Kau kan mengatakan agar aku tidak menyuruh Bidam ke sini."
Esmera terdiam.
"Dan aku sudah memenuhi janjiku." Edris menunjuk dirinya sendiri."Aku tidak menugaskan Bidam."
Esmera mulai memiliki firasat buruk.
"Tapi aku sendiri yang datang menjemputmu."
Gadis itu menatapnya tidak percaya."Jadi sekarang Yang Mulia berpikir karena Anda tidak menyuruh Bidam, berarti Anda tidak melanggar janji?"
Edris mengangguk dengan tidak tahu malu."Yang penting aku tidak ingkar janji."
Esmera menghela napas panjang. Sepertinya Edris memang memiliki kemampuan khusus untuk membuat segala sesuatu terdengar masuk akal meskipun jelas-jelas tidak masuk akal.
"Aku tidak mau pergi ke mana pun." Esmera kembali mengambil sekop kecil yang tadi ia bawa."Jadwalku sangat padat."
Edris mengangkat alis."Padat?"
"Ya."
"Melakukan apa?"
Esmera menunjuk halaman rumahnya dengan serius."Berkebun."
Edris terdiam.
Esmera mengangguk mantap."Aku punya banyak pekerjaan hari ini."
"Kau menyebut menanam bunga sebagai pekerjaan yang sangat padat?"
"Tentu saja." Esmera memelototinya."Aku harus menentukan tempat yang tepat untuk menanamnya. Kemudian menggali tanah, memberikan pupuk, menyiramnya, lalu merawatnya. Itu membutuhkan waktu."
Edris menatap halaman luas yang masih kosong. Kemudian menatap sekop kecil di tangan Esmera."Jadi kau memilih berkebun daripada ikut denganku?"
"Benar."
"Yakin?"
"Yakin."
Edris menghela napas seolah-olah kecewa."Padahal aku akan menuju kediaman Arabella."
Tangan Esmera yang sedang memegang sekop langsung berhenti.
Edris memperhatikan perubahan kecil itu. Ia tahu tepat di mana harus menyerang."Aku hanya berpikir mungkin kau tertarik untuk ikut."
Esmera perlahan mengangkat wajahnya."Apa maksud Yang Mulia?"
"Aku akan menemui keluarga Arabella." Edris menatapnya tenang."Dan mungkin saja kau bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungmu."
Esmera terdiam. Sekop kecil di tangannya perlahan turun. Semua semangatnya untuk berkebun mendadak lenyap begitu saja.
Kedua orang tua kandungnya.
Kalimat sederhana itu berhasil mengguncang pertahanannya dalam sekejap.
Esmera menunduk.
Tentu saja dia penasaran.
Selama ini, ia selalu mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan keluarga Arabella. Ia bahkan berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah tidak peduli pada siapa pun dari keluarga itu. Namun sebenarnya...
Dia ingin bertemu mereka. Sekali saja.
Esmera menggigit bibirnya pelan.
Edris memperhatikan wajah Esmera yang mulai berubah. Tidak ada lagi gadis yang dengan penuh semangat ingin berkebun.
Kini yang berdiri di hadapannya adalah seorang perempuan yang sedang berusaha keras menyembunyikan rasa penasaran yang begitu besar.
"Aku tahu kau penasaran."
Esmera segera mendongak."Tidak, aku hanya..." dia terdiam, sadar dirinya sudah tertangkap.
Edris tersenyum tipis."Jadi?"
Esmera menatapnya dengan kesal.
Pria sinting ini. Kenapa dia selalu saja bisa menemukan cara untuk membuatku luluh?
Padahal tadi pagi ia baru saja berjanji pada dirinya sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari paling tenang dalam hidupnya.
Ia akan berkebun.
Memasak.
Menikmati rumah barunya.
Dan tidak berurusan dengan siapa pun.
Namun sekarang, hanya karena satu kalimat dari Edris, seluruh rencana itu langsung berantakan.
Esmera menghela napas panjang."Yang Mulia, Anda benar-benar sangat licik."
"Terimakasih, aku anggap itu sebagai pujian."
di tunggu up nya thor😌😌 semangat up nya 😆😆