Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Baru
Namun, di belahan kota yang lain, jauh dari suasana kebebasan Evita di pengadilan, sebuah malapetaka besar sedang bersiap meledak dari balik dinding-dinding dingin sel tahanan.
Di ruang isolasi tahanan Markas Kepolisian Metropolitan Jakarta Selatan, Viola Sanustika mondar-mandir bagaikan seekor binatang buas yang terjebak di dalam sangkar besi. Rambut panjangnya terurai kusut menutupi wajahnya yang pucat pasi, dan pakaian tahanan jingga yang ia kenakan tampak koyak di beberapa bagian karena amukannya sepanjang malam.
Pikiran Viola benar-benar sudah hilang kewarasannya. Sejak mendengar berita bahwa Wiryawan Corporation resmi bangkrut total dan Xander jatuh miskin, sementara Evita memenangi sidang perceraian dan berdiri berdampingan dengan Ma Yong Hua sebagai wanita paling beruntung di ibu kota, jiwa psikopat Viola mengalami letupan kebencian yang melampaui batas kewarasan manusia.
"Tidak... Tidak mungkin! Ini tidak adil! Sialan! Sialan kalian semuaaa!" teriak Viola histeris, memukul-mukul dinding sel dengan kepalan tangannya yang berdarah.
Ia tertawa melengking tajam seorang diri, suaranya menggema mengerikan di sepanjang koridor sel yang sepi.
"Ha-ha-ha-ha! Evita... Kau pikir kau bisa hidup bahagia di atas penderitaanku?! Dan kau, Ma Yong Hua! Pengusaha sombong! Kau pikir kekayaanmu bisa melindungimu dariku?!" racau Viola dengan mata melotot liar, air liurnya menetes ke lantai sel.
Keberuntungan yang tidak masuk akal atau kelalaian fatal mendadak berpihak pada kegilaan wanita itu. Menjelang siang hari, ketika seorang petugas jaga baru datang mengantarkan jatah makanan siang dan membuka pintu sel isolasi secara tidak sempurna karena terdistorsi oleh amukan tahanan lain di ujung lorong, Viola melihat celah sekecil jarum untuk melarikan diri.
Dengan menggunakan seluruh sisa tenaga dalam tubuhnya yang dikuasai oleh adrenalin kemarahan, Viola menerkam ke depan secara mendadak.
Bruk!
Ia mendorong tubuh petugas jaga muda itu hingga tersungkur keras membentur dinding besi hingga pingsan seketika. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Viola menyambar kunci gantung yang tergantung di pinggang sang petugas, membuka pintu selnya sendiri, lalu berlari kencang menerobos lorong ruang tahanan.
****
Beberapa petugas lain yang mencoba mengejarnya diterjang secara membabi buta menggunakan pecahan piring kaca makanan yang ia ambil dari nampan. Dengan rambut tergerai liar dan seringai sadis terpampang di wajahnya, Viola berhasil melompat keluar melewati pintu belakang gedung kepolisian yang sedang lengang akibat pergantian jam piket siang.
Berhasil lolos ke jalan raya di tengah terik matahari ibu kota, Viola berdiri di pinggir jalan raya sambil memegang tiang lampu lalu lintas. Ia menengadahkan kepalanya ke langit, lalu melepaskan tawa yang sangat nyaring, tajam, dan penuh dengan dendam kesumat yang membara di dalam jiwanya.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha! Aku bebas! Aku keluar dari neraka itu!" teriak Viola histeris di tengah kerumunan pejalan kaki yang ketakutan melihat penampilannya.
Viola menyeka darah di tangannya, menatap tajam ke arah gedung perkantoran Ma Group di kejauhan dengan sorot mata haus darah yang sangat menakutkan.
"Dengar baik-baik sumpahku, Evita! Ma Yong Hua!" geram Viola dengan suara berbisik penuh ancaman kematian yang mengerikan. "Kalian kira penjara bisa mengurungku?! Kalian salah besar! Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai hari ini... Dan aku akan kembali untuk merobek nyawa kalian berdua dengan tanganku sendiri! Ha-ha-ha-ha-ha!"
Tawa histeris Viola melebur bersama deru suara kendaraan di jalan raya, meninggalkan jejak ancaman maut yang siap menghantam kehidupan damai Evita dan Ma Yong Hua kapan saja.
****
Pagi hari di kawasan Universitas Internasional Megapolitan menyuguhkan pemandangan yang begitu megah dan dinamis. Gedung-gedung perkuliahan berarsitektur modern dengan dinding kaca transparan berdiri megah di bawah naungan langit biru ibu kota. Kampus elite yang berada langsung di bawah naungan yayasan sponsor utama Ma Group itu terkenal sangat ketat dalam seleksi akademik serta memiliki fasilitas riset kelas dunia.
Di ruang dosen lantai tiga Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Evita Desniati berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah blazer formal berwarna abu-abu muda yang melekat pas di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya diikat rapi dengan gaya ekor kuda, memancarkan pesona seorang akademisi profesional yang cerdas, berwibawa, dan penuh karisma.
Meskipun beberapa hari lalu ia baru saja melewati badai paling menghancurkan dalam hidupnya—mulai dari fitnah keji, pemecatan tidak hormat, hingga proses perceraian yang melelahkan dari Xander Wiryawan—kehadiran pelindung baru dalam hidupnya telah membalikkan keadaan seratus delapan puluh derajat. Berkat intervensi mutlak dan dukungan penuh dari Ma Yong Hua, Evita kini kembali berdiri tegak di tempat yang seharusnya, bahkan dengan status yang jauh lebih terhormat sebagai salah satu Guru Besar dan dosen senior di universitas bergengsi tersebut.
****
Tok... tok... tok...
Pintu ruangan diketuk pelan, lalu terbuka menampilkan sosok ketua jurusan ekonomi, Profesor Handoko, yang melangkah masuk sambil tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Profesor Evita," sapa Profesor Handoko dengan nada penuh hormat. "Semua mahasiswa di kelas Pengantar Teori Makroekonomi sudah berkumpul di aula auditorium lantai dua. Mereka sangat antusias menantikan kuliah umum perdana dari dosen tamu kehormatan kita hari ini."
Evita menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk meredakan sisa debar di dadanya, lalu membalas senyuman itu dengan tulus.
"Terima kasih banyak, Profesor Handoko. Saya sudah siap," jawab Evita mantap.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki Evita menggema tenang di sepanjang koridor luas lantai dua menuju ruang auditorium utama. Begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh ratusan mahasiswa tingkat sarjana dan pascasarjana, sambutan hangat langsung bergemuruh.
Prok... prok... prok...
Tepuk tangan meriah dari para mahasiswa bergemuruh memenuhi ruangan. Di barisan kursi depan, beberapa asisten dosen dan perwakilan dekanat tersenyum menyambutnya. Evita melangkah ke atas podium dengan postur tegap dan anggun. Ia menuliskan namanya di papan tulis digital, lalu mulai memaparkan materi perkuliahan dengan suara yang sangat tenang, artikulatif, dan penuh penguasaan materi yang mendalam.
****
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan atau rasa minder. Di dalam ruang kelas itu, Evita kembali menemukan jati dirinya yang sejati: seorang pendidik berdedikasi tinggi yang dicintai dan dihormati oleh anak didiknya. Sesi tanya jawab berjalan sangat interaktif, dan seluruh materi yang disampaikan Evita berhasil memukau seisi ruangan hingga jam perkuliahan pagi itu ditutup dengan sukses besar.
Namun, di balik gemerlapnya kesuksesan hari pertama Evita kembali mengajar, sebuah ancaman tak kasat mata sedang mengintai dari sudut-sudut tergelap gedung kampus yang megah tersebut.
Di sepanjang koridor sepi lantai tiga gedung fakultas ekonomi—area yang agak jauh dari keramaian auditorium—seorang wanita berpenampilan ganjil tampak mendorong troli kebersihan.
Wanita itu mengenakan seragam biru tua petugas kebersihan kampus, lengkap dengan topi baseball hitam yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya, serta masker medis hijau tebal yang sengaja dinaikkan hingga menutupi batang hidungnya. Hanya sepasang mata yang menyisakan kilatan darah dan amarah membara yang terlihat jelas dari balik masker tersebut.
Dia adalah Viola Sanustika.
Setelah berhasil kabur secara beringas dari sel tahanan markas kepolisian beberapa hari lalu, wanita yang sudah kehilangan seluruh kewarasannya itu menyusup masuk ke lingkungan Universitas Megapolitan dengan menyamar sebagai staf kebersihan kontrak harian. Niatnya hanya satu: menghabisi Evita Desniati dengan tangannya sendiri.
Viola berdiri mematung di samping pilar besar koridor, mencengkeram erat gagang sapu kayu di tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih dan berderit keras.
"Sialan... wanita murahan itu..." desis Viola di balik maskernya, suaranya terdengar serak, bergetar, dan penuh kebencian yang mendalam. "Dia bisa tertawa di atas penderitaanku? Dia bisa kembali mengajar dengan megah setelah menghancurkan hidupku dan Xander? Tidak... Aku tidak akan membiarkannya bernapas lebih lama lagi!"