NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — DESA KELIMA: KEBENCIAN

Angin malam di lembah perbatasan utara berembus membawa bau anyir darah yang menguap dari tanah yang retak. Desa Bintang Sembilan—yang dulunya terkenal sebagai pemukiman tempat berbaurnya para ras buangan dari berbagai penjuru dunia—kini tampak bagaikan kuburan massal tanpa nisan. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada derik serangga malam, yang tertinggal hanyalah keheningan mati yang mencekam tulang sumsum.

Lu Chen melangkah perlahan menuruni punggung kudanya. Tato segel di dadanya, yang menyimbolkan identitas sejatinya sebagai perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman, berdenyut keras bagaikan alarm perang. Setiap embusan napasnya memancarkan pendaran tiga warna—emas dewa, ungu siluman, dan merah darah manusia—yang bergetar hebat merespons gelombang energi paling beracun di tempat ini.

"Baunya..." Wolf menutup separuh wajahnya dengan kain jubah, matanya menyipit menatap kegelapan di hadapan mereka. "Bau ini bukan sekadar kematian. Ini adalah bau busuk dari hati yang telah membusuk karena dendam kesumat."

Lu Chen tidak menjawab. Sepasang manik matanya menatap lurus ke arah lapangan tengah desa. Di tempat itu, ratusan penduduk dari berbagai ras berdiri terpaku dalam posisi yang saling menyerang. Pria fana mencengkeram leher dewa penjaga; siluman muda menancapkan kuku di dada manusia. Mereka mati dalam posisi saling membunuh, menghabisi satu sama lain bukan karena perebutan wilayah, melainkan karena bara kebencian mendarah daging yang sengaja disulut oleh sihir kegelapan.

"Mereka tidak saling mengenal ampun," ucap Lin Yue lirih, langkah kakinya bergetar saat melewati jasad-jasad yang saling mengunci leher. "Racun kebencian itu menghapus kewarasan mereka, membuat mereka melihat orang di sebelah mereka sebagai musuh abadi yang harus dimusnahkan."

Lu Chen berjongkok di samping seorang gadis kecil berdarah campuran dewa dan manusia. Gadis itu tewas dengan jemari mungil yang masih mencengkeram belati kecil, menancap di dada bayangan imajiner ciptaan kebenciannya sendiri. Melihat pemandangan itu, dada Lu Chen terasa dihantam palu godam raksasa.

JLEB!

Identitas campurannya membuat ia dapat menyerap sisa-sisa memori emosional dari para korban. Di dalam kepalanya, ribuan suara cacian menghantam kesadarannya: “Anak haram!”, “Ras rendahan!”, “Kalian tidak berhak hidup di dunia ini!”. Suara-suara rasisme dan penolakan yang pernah ia rasakan semasa awal kelahirannya kini berputar seribu kali lipat lebih nyaring, mencoba merobek kewarasan jiwanya dari dalam.

"Argh..." Lu Chen terhuyung mundur, mencengkeram kepalanya yang terasa mau pecah. Pendaran tiga warna di dadanya berkedip liar, nyaris padam oleh pekatnya gelombang kebencian di udara.

Xue Ling sigap melesat menangkap tubuh pemuda itu sebelum ambruk ke tanah. "Lu Chen! Sadarlah! Jangan dengarkan suara-suara itu! Itu bukan pikiranmu!"

Pesan di Atas Altar Kebencian

Luna yang menyisir area kuil utama desa memanggil mereka dengan suara bergetar ketakutan. "Kalian harus melihat apa yang tertulis di altar pemujaan!"

Di atas altar batu tempat para warga biasa berdoa memohon kedamaian, sebuah prasasti darah terpampang nyata dengan ukuran besar:

5/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KELIMA: KEBENCIAN MURNI

Xue Ling menatap tulisan itu dengan napas memburu. "Lima hati emosi telah direnggut: Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, Keserakahan, dan kini Kebencian Murni. Lebih dari separuh syarat kebangkitan Varkos telah terpenuhi. Jika empat emosi terakhir jatuh ke tangan mereka, dunia ini benar-benar akan kiamat."

Wolf mendesis geram, mencabut pedangnya dan menghantamkannya ke batu altar hingga hancur berkeping-keping. "Sialan! Mereka benar-benar meracuni inti peradaban Tiga Alam dengan memanen sisi terburuk dari diri kita!"

Tiba-tiba, api berwarna hitam pekat menyembur keluar dari reruntuhan altar, berputar membentuk pusaran badai yang memunculkan tiga sosok bayangan tanpa wajah.

"Langkah yang cukup cepat, sang Raja Campuran," suara Jenderal Pertama bergemuruh mencemooh, memantul di dinding-dinding lembah. "Bagaimana rasanya menyaksikan bukti nyata dari kebencian yang kau coba satukan? Bukankah dunia ini memang penuh dengan ras-ras busuk yang saling membenci?"

Lu Chen perlahan melepaskan pegangan Xue Ling. Ia menegakkan tubuhnya, menyeka keringat bercampur darah di sudut bibirnya. Pendar tiga warna di dadanya perlahan-lahan kembali stabil, memancarkan cahaya yang jauh lebih tenang namun mematikan.

Ia mendongak, menatap tajam ke arah bayangan para jenderal tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Kau benar," jawab Lu Chen dengan suara dingin yang mencengangkan. "Dunia ini memang pernah dipenuhi oleh kebencian. Aku sendiri pernah menjadi korban dari kebencian itu... dibenci, ditolak, dan dikutuk karena darahku."

Jenderal Kedua tertawa meremehkan. "Ha-ha-ha! Lalu kenapa kau masih mencoba menyelamatkan mereka? Bunuh mereka semua! Biarkan dunia ini terbakar bersama dendammu!"

"Karena," lanjut Lu Chen, suaranya naik satu oktaf memecah kesunyian malam, "kebencian bukanlah takdir kita. Aku lahir dari tiga ras yang saling membenci, tapi aku memilih untuk hidup dalam cinta dan pengampunan. Aku adalah bukti bahwa kebencian bisa diputus!"

Ujian Terberat Sang Raja Campuran

Mendengar ucapan itu, ketiga jenderal mengeluarkan aura pembunuh yang luar biasa pekat. "Anak kurang ajar! Kalau begitu, rasakan sendiri kutukan kebencian terpekat yang kami miliki!"

BOOM!

Gelombang energi hitam legam melesat membabi buta, menciptakan medan tekanan gravitasi yang langsung melumpuhkan Wolf, Luna, and Lin Yue hingga bersimpuh di tanah. Xue Ling mencoba maju menebas, namun terpental jauh akibat hantaman perisai tak kasat mata.

Lu Chen berdiri seorang diri di hadapan badai kebencian tersebut.

Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya terbuka, menyeret kesadarannya masuk ke dalam dimensi ilusi batinnya sendiri. Di dalam ruang gelap itu, bayangan masa lalunya bermunculan: penduduk desa fana yang melemparkannya batu, para pendeta dewa yang meludahinya, dan para tetua siluman yang mencapnya sebagai noda semesta.

Semua bayangan itu menunjuk ke arahnya sambil berteriak serempak: “Bunuh mereka! Balas dendam pada dunia yang kejam ini!”

Sisi siluman di dalam diri Lu Chen meraung buas. Cakar hitam legam mencuat panjang di kedua tangannya. Matanya memerah pekat, kehilangan seluruh kesadaran kemanusiaannya. Godaan untuk melepaskan seluruh amarah dan memusnahkan umat manusia terasa begitu menggoda di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

"Ya... lepaskanlah," bisik suara kegelapan di dalam telinganya. "Hancurkan semuanya."

Lu Chen mengangkat tangannya, bersiap menghantamkan cakar maut ke arah bayangan dirinya sendiri.

Namun, tepat di detik-detik terakhir sebelum ia kehilangan kendali sepenuhnya, sebuah bayangan kecil berkelebat di dalam benaknya—bayangan Bima, anak kecil dari Desa Batu Api yang memeluk boneka kayunya sambil menangis, serta senyuman lembut Shen Yue yang memeluknya di saat-saat paling rapuh.

“Seorang Raja sejati bukanlah seseorang yang tidak pernah merasa takut atau benci... melainkan ia yang tetap memilih cinta di tengah hantaman kebencian.”

Cahaya di Titik Nadir

Lu Chen menghentikan gerakannya. Napasnya terengah-engah, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menatap cakar hitam di tangannya, lalu perlahan mengepalkan jemarinya hingga berdarah.

"Aku menolak," bisik Lu Chen lirih. Ia menutup matanya, melepaskan seluruh beban kepedihan masa lalu, membiarkan esensi tiga ras di dalam nadinya—manusia yang bertahan, dewa yang menyembuhkan, dan siluman yang melindungi—menyatu dalam ikatan Cahaya Penyelamat.

CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK DAHSYAT.

Ledakan energi suci itu meruntuhkan dimensi ilusi batinnya dalam sekejap. Di dunia nyata, cahaya murni itu membubung naik ke angkasa, menyapu bersih kabut hitam kebencian di Desa Bintang Sembilan dan memulihkan kesadaran rekan-rekannya yang sempat lumpuh.

Bayangan ketiga jenderal itu menjerit kesakitan saat cahaya tersebut mengikis wujud mereka. "Sialan... kekuatan macam apa ini?! Dia berhasil melampaui batas kebencian murni!"

"Pergilah dari sini," ucap Lu Chen dingin, menatap tajam ke arah langit. "Kalian tidak akan pernah bisa menghancurkan dunia yang sedang kubangun."

WUS! Ketiga bayangan itu kocar-kacir menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan sisa-sisa pendaran cahaya suci yang menenangkan.

Cliffhanger: Sisa Empat Hati

Xue Ling dan Wolf segera berlari menghampiri Lu Chen yang terduduk lemas di atas tanah.

"Kau baik-baik saja, Chen?" tanya Xue Ling cemas, membantu pemuda itu berdiri.

Lu Chen mengangguk pelan, menyeka darah di sudut bibirnya. "Aku baik-baik saja... tapi kita harus bergerak cepat. Lima hati telah jatuh ke tangan mereka. Hanya tersisa empat emosi lagi."

Lin Yue menatap peta perbatasan magis yang kini memperlihatkan titik koordinat baru di wilayah selatan. "Desa keenam... target mereka selanjutnya adalah emosi Kecemburuan."

Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap lurus ke arah cakrawala selatan yang diselimuti badai petir. Tato di dadanya kembali berpendar stabil, menandakan bahwa tekadnya kini jauh lebih kuat dari baja.

"Kita tidak akan biarkan mereka mengambil satu pun lagi," tegas Lu Chen. "Siapkan kuda. Kita kejar mereka malam ini juga!"

Dan di bawah langit malam Tiga Alam yang bergemuruh, sang Raja Campuran kembali melangkah maju, siap menghadapi badai ujian berikutnya demi menjaga kedamaian yang telah ia bayar dengan air mata dan pengorbanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!