NovelToon NovelToon
SANGKAR PERNIKAHAN

SANGKAR PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita.P

Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.

Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?

Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.

Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?

"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Lelah

Tangisan yang tiba-tiba tidak bisa berhenti, Seruni benar-benar terisak, seperti dalam dirinya sedang sangat rapuh. Bahkan tidak bisa untuk menahan tangisan saat melihat acara pernikahan adik iparnya, seperti kembali pada hari dimana dia menikah dengan suaminya, namun semuanya bukan awal dari kebahagiaan. Tapi, awal dari kehancuran hidupnya.

Hiks...hiks.. Isak tangisnya terdengar, Mama sampai menoleh dan bingung dengan menantunya yang menangis sampai terisak seperti itu. Bahkan bukan hanya Mama Sonya saja, tapi Raifan juga merasa bingung dengan istrinya.

"Seruni, kenapa?" tanya Mama Sonya.

Seruni tidak menjawab, dia sibuk menghapus air matanya dengan tisu. Menunduk diam, sementara Raifan langsung merangkulnya. Membawa Seruni berdiri dan pergi dari sana. Membawa istrinya ke tempat yang lebih tenang, menghindari acara yang ramai.

"Kenapa? Dari semalam kau terus menangis tanpa sebab. Ada apa? Bicara padaku!"

Raifan menatap istrinya dengan lekat, masih bingung dengan Seruni. Ketika tangisannya berhenti, Seruni menatapnya lekat, matanya memerah, namun tatapan itu tidak biasa. Seperti menunjukan luka yang dia alami.

"Rumahku hancur, Mas. Dulu aku berpikir jika rumah baru akan lebih baik, memberikan kenyamanan untukku dari rumahku yang berantakan. Tapi nyatanya, rumah baruku adalah hal yang paling menyakitiku. Tidak memberikan kenyamanan itu, seperti aku lebih memilih tidak punya rumah"

Diam... Raifan menatap sorot mata Seruni yang sendu, menunjukan luka dan kesedihan yang dia alami selama ini. Ketika rumahnya hancur, dan dia menemukan rumah baru, harapan pertama adalah mendapatkan rumah yang nyaman dan melindunginya. Tapi, nyatanya tidak ada tempat untuk pulang.

"Mas, aku tahu kamu masih berhubungan dengan Mawar. Dan jika memang kamu ingin kembali dengannya, aku rela Mas. Tapi, biarkan aku lepas dari sangkar pernikahan ini"

Raifan menoleh, saat menyadari ada seseorang yang datang disana. Pandi melihat Tuannya pergi, maka mengikuti karena takut ada yang terjadi.

"Pandi, tolong jaga istriku"

"Baik Tuan"

Seruni diam, menatap suaminya dengan tertegun. Kenapa tiba-tiba menyuruh Pandi untuk menjaganya? Sementara Seruni sedang membahas hal yang penting tentang pernikahan mereka. Namun, Raifan seolah tidak mau membahas hal itu.

"Mas, aku bukan mau pergi dengan Pandi. Aku hanya ingin lepas darimu, Mas Rai. Tolong lepaskan aku dari pernikahan ini, Mas...."

Raifan menghela napas, menatap Seruni dengan lekat. Mengelus kepalanya lembut dan mengecup keningnya. "Kamu tidak usah disini sampai acara selesai, hari ini aku izinkan kau pergi jalan-jalan, tapi dengan Pandi. Tenangkan dirimu"

Seruni diam, menatap Raifan yang berlalu pergi dari hadapannya. Meninggalkan Pandi yang akan menemaninya. Seruni menghembuskan napas kasar, menatap Pandi yang berdiri tegap disana.

"Nona, anda mau pergi kemana hari ini?"

"Ke Pantai" ucap Seruni ketus sambil berjalan lebih dulu dari Pandi, benar-benar masih tidak habis pikir dengan suaminya. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kenapa dia seolah sengaja menahanku dalam pernikahan ini?

Pandi hanya menuruti saja, mengantar Seruni ke sebuah Pantai dengan jarak cukup jauh, menggunakan mobil membutuhkan waktu sekitar 4 jam tanpa macet. Meski perjalanan yang jauh, tapi Seruni terlihat tidak lelah. Ketika sampai dia langsung berjalan di pesisir Pantai. Hari sudah sore, dan sebentar lagi matahari akan terbenam, hal yang akan terlihat indah ketika berada di sebuah Pantai.

Air ombak mengenali kakinya yang telanjang, pasir memenuhi kakinya. Seruni menatap hamparan laut tanpa ujung itu, matanya berkaca-kaca, angin pantai bertiup kencang menerpa wajahnya.

"Arghhhhhhh!"

Akhirnya dia berteriak kencang, menghilangkan segala beban dalam pikirannya. Semua hal yang sudah terjadi padanya benar-benar membuatnya lelah. Seruni terus berteriak, sesekali dia menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Lalu, jatuh terduduk di atas pasir, menangis sejadi-jadinya. Hari sudah petang, matahari mulai kembali ke ufuk barat dan menjanjikan akan kembali besok di pagi hari untuk menerangi bumi. Namun tidak seperti Seruni yang hancur, bahkan sinar mentari pagi, bukan awal baru yang indah. Tapi, hari selanjutnya yang melelahkan.

"Nona"

Seruni mengangkat tangannya, meminta Pandi tidak melanjutkan ucapannya. Sekarang dia hanya ingin meluapkan segala kesal dan gemuruh sesak di dadanya.

"Pandi, kamu tahu bagaimana lelahnya jadi aku, hah? Aku menikah dengan pria yang aku cintai, tapi aku tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan cintanya. Dalam dua tahun ini, aku hanya jadi wanita yang terperangkap dalam sangkar pernikahan. Bukan istri yang dicintai suaminya. Hiks... Pandi, aku mulai lelah, aku mulai berpikir apa hidup ini tidak pernah bisa adil untukku? Apa salahku? Kenapa semua orang memperlakukan aku seperti ini? Hiks... Rasanya mati lebih baik daripada melanjutkan hidup yang hampa"

"Anda tidak boleh bicara seperti itu, Nona. Saya yakin jika Tuan Muda sebenarnya sangat peduli pada Nona"

"Haha.. Peduli? Dia tidak akan pernah peduli padaku, dia hanya tidak mau melepaskan aku, karena ingin membuatku semakin tersiksa dalam sangkar pernikahannya"

Seruni mendongak, menatap Pandi dengan matanya yang sembab. Bahkan seorang seperti Pandi yang baru bekerja dengan Raifan, sudah yakin jika suaminya peduli padanya.

"Pandi, bukan karena kamu dipekerjakan untuk menjagaku, kamu menganggap kalau Mas Raifan peduli padaku. Salah! Dia mempekerjakan kamu, karena takut aku lari darinya. Dia hanya menggunakan kamu untuk memantau keberadaanku"

Pandi terdiam, menatap Seruni yang sedang membabi buta meluapkan segala kesal yang ada dalam dirinya. Tangan kiri Pandi memegang ponsel yang merekam semuanya.

"Pandi, kamu tunggu di parkiran saja. Aku tidak akan pergi kemana-mana, hanya ingin sendiri dulu"

"Saya menunggu disana Nona" tunjuk Pandi ke tempat yang hanya beberapa meter saja dari tempat Seruni berada.

Seruni tersenyum miris, Pandi di bayar suaminya untuk mengawasinya, jadi tidak mungkin jika dia pergi meninggalkan Seruni sendiri tanpa pengawasannya.

"Aku ini bukan istrinya, tapi tawanan"

Seruni merebahkan tubuhnya di atas pasir, membiarkan air ombak membasahi tubuhnya. Dinginnya angin laut tidak mempengaruhinya. Dia tetap diam, menatap langit yang sudah gelap. Hari ini, semuanya benar-benar terasa sangat lelah, semuanya meluap dalam dirinya, semua yang dia pendam selama ini akhirnya meluap tak tertahankan.

Seruni memejamkan mata, tubuhnya mulai menggigil karena basah dari air laut dan juga angin malam yang kencang. Namun dia sama sekali tidak berpindah tempat, hanya diam disana, tiduran di atas pasir. Sampai perlahan matanya terpejam rapat, meninggalkan gelap setelah bayangan terakhir yang dia lihat seseorang yang berdiri disana.

Sekilas Seruni mendengar langkah kaki yang mendekat, sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.

"Kenapa kau biarkan dia disini selama itu?"

"Saya sudah mencoba membawa Nona untuk pergi, tapi Nona Muda menolak keras. Bahkan mengancam ingin menenggelamkan diri di lautan"

Ya, beberapa jam tadi Seruni sempat memberikan ancaman itu pada Pandi ketika pria itu ingin membawanya pergi dari sana, melihat kondisi Seruni yang sudah lelah, wajah pucat dan bibir menggigil.

"Silahkan beritahu Tuanmu, tapi jangan bawa aku pergi dari sini. Aku ingin diam disini sampai aku puas. Kalau tidak, aku akan berlari ke tengah lautan dan mati tenggelam. Kau tahu aku tidak pandai berenang, maka jika aku mati dan mayatku hilang, kau yang akan di salahkan"

Entah darimana keberanian itu, tapi Seruni benar-benar memberikan ancaman itu pada Pandi.

Bersambung

1
Fera Susanti
ah raifan mh misterius ga jelas..pantes seruni prasangka buruk terus
nayla tsaqif
Kabur aja lahhh,, kaburrrrr,, 😌
Mia Camelia
ywdh sih raifan jujur aja klo cinta sama seruni🤭
dyah EkaPratiwi
pergi runi
dyah EkaPratiwi
raifan bener2 ya
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣 menyesal kan sekarang
Oma Gavin
tolong segera dibongkar rahasia seruni menurut raifan itu hrs di jaga bener" penasaran
edelweis🌻
bikin seruni pergi biar gk berbelit2
Rarik Srihastuty
lanjut thor, makin penasaran nih.
dyah EkaPratiwi
tapi sekali kali gpp run bikin suamimu tantrum
dyah EkaPratiwi
jahat banget kamu raifan😭
dyah EkaPratiwi
bener2 gak waras ini raifan
dyah EkaPratiwi
gila raifa
dyah EkaPratiwi
semangat runi💪
Mia Camelia
seruni bertahan lah💪💪🤭
Hani
bagus
Rarik Srihastuty
ceritanya seru
Yani Suryani
aku yakin Raifan itu sebenarnya sudah suka sama seruni tapi masih belum sadar
Yani Suryani
jangan lupa like nya 👍
MamDeyh
Aku malah selalu menunggu update an mu lohhh kak Nitaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!