NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. kenangan masa lalu

Lauren masih tidak bisa percaya. Pria yang selama ini muncul begitu saja di jalanan London, yang tidak pernah ia ketahui pekerjaannya, ternyata adalah atasannya sendiri sebagai pemilik seluruh gedung ini, pemilik perusahaan tempat ia baru saja mulai bekerja.

 Pikirannya masih berputar mencoba mencerna kenyataan itu, ketika tanpa diundang, sebuah kenangan lama menyeruak muncul di benaknya, begitu jelas seolah baru terjadi kemarin.

Beberapa bulan sebelum sebulan penuh mereka tidak pernah bertemu, sebelum pertemuan terakhir mereka di bawah hujan itu, Lauren pernah menemukan Alex lagi untuk kesekian kalinya dalam kondisi babak belur, memar di sudut matanya, bibirnya sobek, jalannya pincang menahan sakit di salah satu kakinya.

*****

 Malam itu, alih-alih hanya diam merawatnya seperti biasa, sesuatu dalam diri Lauren akhirnya meledak.

"Kau pikir aku bodoh?" bentaknya waktu itu, suaranya bergetar antara marah dan khawatir yang bercampur aduk, tangannya menekan kain bersih ke luka di pelipis Alex dengan gerakan yang lebih kasar dari biasanya. "Ini sudah keberapa kalinya aku menemukanmu seperti ini? Babak belur, berdarah-darah, dan kau tidak pernah mau cerita kenapa! Apa kau pikir aku akan terus-terusan ada di sini untuk menampal luka-lukamu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Alex hanya diam waktu itu, menatap Lauren dengan ekspresi yang sulit ditebak, membiarkan gadis itu melampiaskan kemarahannya tanpa mencoba membela diri sedikit pun.

"Kau bisa mati, kau tahu itu?" suara Lauren melembut di ujung kalimatnya, nyaris pecah menahan tangis yang tiba-tiba menggenang tanpa ia duga sendiri. "Dan aku tidak tahu harus menghubungi siapa kalau suatu hari kau tidak muncul lagi di hadapanku. Kau pikir itu adil untukku?"

"Maaf," hanya itu yang diucapkan Alex malam itu, suaranya serak, jauh lebih lembut dari nada dingin yang biasa ia tunjukkan.

 Ia tidak memberikan penjelasan apa pun soal luka-lukanya, tidak juga janji untuk berhenti pulang dalam kondisi seperti itu. Tapi ada sesuatu di matanya malam itu, sesuatu yang menyerupai penyesalan tulus yang membuat kemarahan Lauren perlahan mereda menjadi kelelahan yang dalam.

******

Setelah malam itu, pertemuan mereka menjadi semakin jarang, hingga akhirnya benar-benar terhenti selama sebulan penuh sebelum pertemuan mereka kembali di bawah hujan beberapa hari lalu.

Lauren sempat mengira kemarahannya waktu itu yang membuat Alex menjauh, membuatnya diam-diam menyesali kata-katanya sendiri meski ia tahu semua yang ia katakan waktu itu keluar dari rasa khawatir yang tulus.

Kini, duduk di kursi kerjanya yang baru, mengetahui bahwa pria yang pernah ia bentak habis-habisan karena pulang babak belur itu ternyata adalah pemilik dari seluruh perusahaan tempat ia bekerja, Lauren merasa kepalanya semakin dipenuhi pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

 Luka-luka macam apa yang selama ini didapatkan seorang pemilik perusahaan sebesar Nozer Holdings?

Pekerjaan macam apa yang bisa membuat seseorang seperti Alex pulang dalam kondisi seburuk itu, berkali-kali, tanpa pernah mau menjelaskan alasannya?

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," tanya rekan kerja di meja sebelahnya, seorang perempuan dengan senyum ramah yang langsung akrab meski baru pertama kali bertemu, seolah tidak ada jarak sama sekali antara karyawan lama dan karyawan baru di divisi ini.

"Aku tidak apa-apa," jawab Lauren cepat, mencoba tersenyum meski pikirannya masih berkecamuk. "Cuma sedikit gugup, hari pertama soalnya. Tadi juga sempat salah naik lift, jadi agak kaget."

"Ah, wajar itu! Aku juga dulu begitu di hari pertama, malah nyasar ke ruang server," rekan kerjanya tertawa ringan, lalu menyodorkan tangan. "Aku Della, aku di sini sudah tiga tahun. Kalau kau bingung apa-apa, tanya saja ke aku, jangan sungkan."

Lauren membalas jabatan tangan itu, merasa sedikit lebih tenang dengan keramahan yang begitu tulus dari orang yang baru saja ia kenal. "Lauren. Terima kasih, Della."

"Nanti siang kau ikut sesi orientasi karyawan baru, ya," lanjut Della sambil kembali fokus ke layar komputernya. "Semua karyawan baru wajib ikut, biasanya di ruang serbaguna lantai dua puluh. Isinya pengenalan perusahaan, struktur organisasi, aturan-aturan dasar. Agak membosankan, tapi wajib."

"Oh, baik," jawab Lauren, mengangguk, meski hatinya diam-diam masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tentang sosok yang baru saja ia temui di lantai atas.

 Ia menatap sekali lagi ke luar jendela, ke arah kota London yang membentang luas di bawahnya, mencoba menata kembali pikirannya yang masih kacau, sebelum akhirnya memaksa diri untuk fokus pada tugas-tugas pertamanya sebagai karyawan baru di tempat yang, ia sadari sepenuhnya sekarang, jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

Sekitar setengah jam setelah perkenalan singkat dengan Della, Lauren masih duduk di kursinya sendiri, begitu juga beberapa karyawan baru lain yang tersebar di beberapa titik ruangan lantai dua puluh dua.

Wajah-wajah mereka sama-sama tampak canggung, sesekali saling melirik sebelum kembali memperhatikan meja kerja masing-masing.

Tak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian formal dengan kartu identitas perusahaan menghampiri mereka. Ia berdiri di bagian depan ruangan sambil tersenyum ramah. "Selamat pagi, semuanya."

Beberapa karyawan baru, termasuk Lauren, langsung mengalihkan perhatian kepadanya.

"Selamat datang di Nozer Holdings. Sebelum sesi orientasi dimulai, saya ingin menyampaikan sedikit arahan. Untuk sementara, silakan tetap berada di meja kerja masing-masing. Gunakan waktu ini untuk membiasakan diri dengan lingkungan kantor. Kalau ingin melihat-lihat area sekitar lantai ini atau ke pantry dan toilet, silakan, tetapi jangan meninggalkan lantai dua puluh dua dulu."

Perempuan itu berhenti sejenak, memastikan semua orang mendengarkan.

"Nanti kalau sesi orientasi sudah siap dimulai, kami akan datang kembali untuk mengantar kalian ke ruang serbaguna. Jadi, mohon tetap berada di sekitar area ini agar tidak tertinggal."

Beberapa karyawan mengangguk pelan.

"Apakah ada yang ingin ditanyakan?"

Seorang karyawan baru mengangkat tangan.

"Maaf, apakah setelah orientasi kami langsung mulai bekerja?"

"Benar. Setelah orientasi selesai, masing-masing akan kembali ke divisinya untuk menerima arahan lebih lanjut dari atasan atau rekan satu tim."

"Baik, terima kasih."

"Kalau begitu, silakan menunggu dengan santai. Sampai bertemu lagi saat orientasi dimulai."

Setelah mengatakan itu, perempuan tersebut berjalan meninggalkan ruangan, sementara suasana kembali tenang.

Lauren mencoba mengisi waktu dengan mengamati sekelilingnya dari susunan meja, cara rekan-rekan lama bekerja, hingga papan pengumuman kecil di dekat pantry.

Namun, pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Sesekali matanya melirik jam di sudut layar komputernya, menghitung berapa lama lagi ia harus menunggu, sementara dalam hati ia terus berharap semoga sikapnya yang pernah membentak Alex habis-habisan beberapa bulan lalu tidak menjadi alasan pria itu memecatnya setelah ia resmi bekerja di perusahaan ini.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!