Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Duel Dua Pria
Suasana di area parkir basement yang dingin dan temaram itu mendadak membeku. Cengkeraman tangan Rendy pada pergelangan tangan Danang terasa bagaikan jepitan besi yang tak tergoyahkan. Danang meringis, mencoba menghentakkan tangannya dengan napas tersengal-sengal, namun lengan Rendy bahkan tak bergeser satu milimeter pun.
"R-Rendy?!" Danang membelalakkan mata, antara terkejut dan murka. Rasa terhina yang membakar dadanya membuat ketakutannya menguap seketika.
"Lepaskan tanganku, si gembel sialan! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Jangan ikut campur urusanku dengan wanita murahan ini!"
"Tutup mulutmu, Danang," potong Rendy dengan suara yang sangat rendah, namun sarat akan ancaman maut.
Tatapan mata Rendy begitu tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat Danang mendadak melangkah mundur secara refleks. Di belakang Rendy, Siska terduduk lemas di dinding beton dengan air mata yang menetes tanpa henti. Tubuhnya menggigil melihat dua pria dari masa lalunya kini saling berhadapan dalam ketegangan yang memuncak.
"Kamu bangkrut, kamu terdesak, dan sekarang kamu berusaha memukul seorang wanita untuk menutupi kebusukanmu sendiri?" ujar Rendy seraya menyunggingkan senyum dingin yang penuh penghinaan.
"Kamu benar-benar tidak lebih dari seekor parasit yang kelaparan."
"Bangsat!" jerit Danang histeris. Keputusasaan dan rasa malunya meledak menjadi kegilaan murni. Dengan tangan kirinya yang bebas, Danang mengayunkan sebuah pukulan mentah ke arah rahang Rendy dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.
"Mati kamu!"
Namun, Rendy bukanlah pria lemah yang bisa ditindas seperti tiga tahun lalu.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan tenang, Rendy memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan tinju Danang meleset menghantam udara kosong. Sebelum Danang sempat menarik kembali tangannya, Rendy mencengkeram kerah jas mahal Danang, memutar tubuhnya, dan—
Brak! BUK!
Sebuah pukulan lurus yang amat keras dari kepalan tangan kanan Rendy mendarat tepat di rahang kiri Danang.
Dampak benturan itu begitu dahsyat. Danang menjerit kesakitan saat tubuhnya terlempar ke samping, membentur kap mesin mobil sedan mewah sebelum akhirnya tersungkur ke lantai beton yang dingin. Darah segar seketika menyembur dari sudut bibirnya yang pecah, bercampur dengan ludah dan rasa perih yang melumpuhkan seluruh wajahnya.
"A-Aghh..." Danang mengerang kesakitan, memegangi rahangnya yang terasa bergeser. Matanya yang kabur menatap Rendy dengan rasa takut yang kini benar-benar melumpuhkan keberaniannya.
Rendy merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan santai, seolah baru saja membersihkan debu yang menempel di pakaiannya. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tegap bergema di area basement. Lima orang pengawal pribadi bersetelan jas hitam yang dipimpin oleh Pak Irwan muncul dari balik kegelapan.
"Tuan Muda," Pak Irwan membungkuk hormat, menatap Danang yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan pandangan dingin.
"Pak Irwan," perintah Rendy datar tanpa sedikit pun menoleh ke arah Danang.
"Seret pria ini keluar dari seluruh area properti Adhitama. Jika dia berusaha melangkah satu senti saja mendekati gedung ini lagi, serahkan seluruh dokumen penipuan investasinya ke kejaksaan malam ini juga."
"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Irwan tegas. Dengan isyarat tangan, dua pengawal bertubuh kekar langsung mengangkat tubuh Danang yang terkulai lemas, menyeretnya seperti sampah keluar dari area parkir basement. Teriakan ketakutan dan erangan sakit Danang perlahan menghilang di balik kegelapan koridor.
Keheningan kembali menguasai area parkir. Rendy membalikkan badannya, menatap Siska yang masih mematung di lantai, memegangi kedua lututnya yang gemetar dengan mata sembab.
Siska menundukkan kepala, tak berani menatap mata Rendy. Rasa malu, penyesalan, dan rasa bersalah yang amat besar membuat dadanya terasa begitu sesak. Ia menunggu Rendy mencecarnya dengan pertanyaan tentang botol racun tidur itu, atau setidaknya memaki kebodohannya.
Namun, Rendy tidak mengatakan sepatah kata pun.
Pria itu melangkah mendekati sebuah mobil Maybach hitam yang terparkir tak jauh di depan mereka. Pintu penumpang belakang terbuka secara otomatis. Rendy berbalik, melangkah mendekati Siska, lalu tanpa peringatan meraih pergelangan tangan Siska yang terbalut perban.
"R-Rendy...?" bisik Siska kaget, suaranya sangat rapuh.
Tanpa mengeluarkan suara dan tanpa ekspresi di wajahnya yang tampan, Rendy menarik tubuh Siska yang lemas agar berdiri, menyeret wanita itu melangkah pasti menuju mobil mewahnya, lalu memasukkannya ke dalam kursi penumpang belakang sebelum ia sendiri ikut masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.