*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
# Tiga puluh dua
Suasana hening di ruang rawat Leon menjadi gaduh, ketika pria yang berminggu-minggu lamanya koma itu kini telah membuka mata dan terbangun. Leon akhirnya sadar dari komanya selama berminggu-minggu dirawat.
Perawat yang masuk ke kamar Leon pun tak kalah kagetnya, ia tidak mengira akhirnya pasien yang ia rawat bangun juga. Perawat tersebut langsung ke luar kamar kamar kembali untuk memanggil dokter.
“Ibu tunggu di sini, saya akan panggilkan dokter sebentar!” seru perawat sambil terus berjalan meninggalkan ruang perawatan.
Bu Kades pun mendekati ranjang, dilihatnya Leon yang belum ia ketahui identitasnya itu memegangi kepalanya.
“Saya di mana?” tanya Leon sembari melihat Bu Kades dan menatap ke penjuru ruangan.
“Kamu terjatuh dan hanyut di sungai Nak, warga kampung menemukanmu. Lalu kami membawamu ke mari, karena tidak tahu keluarga yang harus kami hubungi,” terang Bu Kades sambil sedikit cemas karena Leon yang sepertinya kaya orang yang kebingungan.
“Keluarga?” tanya Leon. Otaknya kemudian kembali bekerja, kejadian demi kejadian kini terbayang-bayang di kepalanya. Sepertinya baru kemarin, mobilnya sengaja di tabrak orang dan di pojokkan ke tepi jembatan. Sakit kepala karena memaksa mengingat semua kejadian itu, Leon berteriak kesakitan. Membuat Bu Kades makin ketakutan. Ia lantas ke luar memanggil perawat.
“Dokter... suster... Tolong!” teriaknya sambil berlari sempoyongan.
Seorang dokter dan dua perawat yang semula di panggil langsung berlari ke kamar Leon. Di sana dokter melihat, pasiennya terus memegangi kepalanya yang kesakitan.
Untuk menenangkan Leon yang terus meronta dan mengeluhkan sakit di kepalanya, dokter pun menyuntikkan obat pada pasiennya itu. Beberapa menit kemudian Leon kembali tenang, dan hitungan menit ia pun memejamkan mata. Leon kembali tertidur.
“Ada apa dengannya, Dok?” tanya Bu Kades yang merasa cemas.
“Tidak apa-apa, Bu! Sejauh ini masih kita pantau, sambil menunggu kita akan lakukan general check up kembali.”
“Terima kasih, Dok!”
Bu Kades pun ditinggalkan sendiri di dalam kamar bersama Leon yang masih terpejam. Setelah beberapa jam kemudian, Leon kembali membuka mata. Kali ini ia bisa mengontrol dirinya sendiri. Mungkin karena masih ada efek obat, ia pun masih nampak tenang.
“Hanum!” ucapnya lirih.
Bu Kades yang duduk di sebelahnya pun langsung mendekat. “Kamu ingat sesuatu, Nak?”
“Istri saya, istri saya pasti sedang mencari saya, Bu. Tolong hubungi istri saya.”
Bu Kades langsung mengeluarkan ponsel ukuran kecil dengan layar yang kecil pula. Bukan sebuah smartphone yang kekinian.
“Berapa nomornya, biar Ibu sambungkan!”
“Kosong delapan sembilan lima tiga, kosong tiga, kosong tiga kali... tujuh, delapan.” Leon mencoba mengeja nomor telpon istrinya. Nomor yang tak mungkin ia lupa karena itu merupakan nomor penting baginya.
“Baik, tunggu sebentar. Ibu akan telpon.” Bu Kades nampak kesusahan memencet nomor di ponselnya. Karena keypad nomornya hampir luntur semua. Jadi Bu Kades harus mengetiknya dengan pelan-pelan sekali.
Tut tut tut
Hanum menatap nomor asing, ia terlihat tak bersemangat. Berhari-hari lamanya ia dikerjai penipu yang mengaku menemukan suaminya. Entah sudah berapa puluh juta yang ia transfer sebagai imbalan pada si penipuan.
Ini karena ia membuat iklan di mana-mana, iklan tentang hilangnya Leon. Dan Hanum memajang nomor ponselnya untuk memudahkan bila ada yang melihat atau menemukan suaminya. Tapi itu malah dipakai lahan bagi penipu untuk meminta uang padanya.
Jadi, saat ada nomor asing lagi yang masuk dalam ponselnya ia nampak ragu-ragu dan hampir acuh.
“Bagaimana Bu?” tanya Leon dengan lemah karena tak kunjung bisa bicara pada Hanum.
“Sebentar Nak, nomornya aktiv. Tapi tidak diangkat.”
“Bisa pinjam ponselnya, Buk?” mohon Leon agar dipinjami telpon genggam milik wanita yang menolongnya itu.
Baru akan meraih telpon mungil Bu Kades, seorang perawat masuk untuk memeriksa infus. Apa masih ada atau sudah habis.
Leon yang semula minta tolong pada si Ibu langsung beralih ke perawat.
“Suster! Bisa tolong pinjami saya ponselnya untuk melakukan panggilan vidio.” Leon berusaha untuk duduk. Meski badannya sakit semua. Ini karena terlalu lama ia berbaring dan tak bangun-bangun selama berminggu-minggu.
Mulanya suster menatap aneh, tapi begitu Bu Kades memberi penjelasan. Ia pun mengulurkan smartphonenya.
“Dia mau menghubungi keluarganya, Sus. Korban kecelakaan, pasti keluarganya pada mencarinya,” terang Bu Kades.
“Saya kira, Ibu adalah keluarganya.” Perawat memberikan ponselnya.
“Bukan, saya hanya menolongnya ketika hanyut di sungai dekat kampung saya.”
Perawat hanya manggut-manggut, sedangkan Leon. Ia langsung memencet nomor Hanum dan melakukan panggilan vidio.
Tut tut tut
Hanum yang termenung, ia pun melirik ke ponselnya lagi. “Panggilan Vidio? Siapa ini?” Hanum mengernyitkan dahi.
Ketika tombol hijau ia geser, mata Hanum langsung berkaca-kaca. “Mas!” pekiknya sambil tangannya bergetar.
“Hanum, kemari lah!”
“Iya Mas, aku akan datang ke sana. Mas kirim alamatnya sekarang.” Sambil berjalan Hanum meraih kunci mobil. Ia tak mau mematikan ponsel, ingin melihat bahwa suaminya benar-benar masih hidup selama ini.
“Bik.. Bibi. Tolong jaga Sean! Saya mau jemput Mas Leon.”
“Sudah ketemu Nyonya?”
“Sudah, saya titip Sean.”
“Hanum... Hanum!” panggil Leon.
“Jangan dimatikan Mas, aku akan segera ke sana.”
“Ini ponselnya perawat, aku akan kirim alamatnya. Ku matikan ponselnya, hati-hati. Jangan buru-buru!” pesan Leon dengan suara berat.
Hanum masuk memeluk ponselnya, ia menangis bukan karena sedih. Hatinya sangat bahagia, suami yang hilang berminggu-minggu kini telah ketemu. Sambil mengusap pipinya, Hanum melajukan mobil menuju aspal hitam pekat. Menuju alamat yang Leon kirimkan padanya.
“Terima kasih, Suster!” Leon mengulurkan ponsel milik suster yang merawatnya.
Satu jam kemudian, Hanum terlihat berlari di koridor rumah sakit. Langkah kakinya memaksa untuk berlari kencang menuju suami yang ia rindukan.
Cekrek
Hanum membuka kamar nomor delapan, di sana dilihatnya Leon telah berada di atas sebuah ranjang rumah sakit.
Bukkk
Ia langsung memeluk tubuh suaminya, orang yang paling ia benci dulu kini sangat ia rindukan. Ia bersyukur karena Leon masih hidup. Bila dulu ia ingin Leon lenyap dari muka bumi ini, kini ia malah berdoa untuk keselamatan dan umur yang panjang untuk suaminya itu.
“Mas ke mana saja?” ia bertanya sambil tersedu di pelukan Leon.
Bu Kades hanya menatap dan agak sedikit canggung karena dua orang itu masih terus berpelukan.
“Ibu ini yang menolongku!” Leon melepas pelukan Hanum, selain karena ada orang. Tubuhnya juga merasa sakit karena Hanum memeluknya dengan sangat erat.
Hanum lantas menggenggam tangan wanita yang menyelamatkan suaminya.
“Terima kasih, Bu!”
Bu Kades pun tersenyum. Ikut senang karena Leon kembali bisa berkumpul dengan keluarganya.
Hanum kembali berpaling, kini ia duduk di bibir ranjang suaminya. Memegang tangan Leon dan menggenggamnya.
“Aku hampir gila karena Mas menghilang cukup lama.” Bulir bening kembali keluar dari sudut matanya yang lentik.
“Maaf Hanum!” Leon pun meraih Hanum, kembali menenggelamkannya dalam pelukan. “Maafkan aku!”
Hanum malah semakin menjadi, ia tambah terseduh. Bukan karena sedih, namun karena rasa haru. Akhirnya Leon muncul dalam kehidupannya lagi. Ia mengira tak akan bisa melihat suaminya lagi.
“Di mana Sean?”
“Sean di rumah, kemarin. Beberapa hari lalu dia demam, kami membawanya ke rumah sakit. Dia terus memanggil namamu!” Sambil mengatakan itu Hanum kembali terisak.
“Maafkan aku, Hanum... maafkan aku!”
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️