NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Ayunan Kayu, Buah Ceri, dan Bayangan Masa Depan

​Hawa sejuk Lembang bertiup perlahan, mengibarkan helai-helai halus rambut Nadira yang lolos dari kuncirannya. Usai menghabiskan sarapan bubur ayam tadi, wanita itu kini menyandarkan tubuhnya di atas ayunan kayu berukuran besar yang berada di sudut teras vila.

​Kedua kakinya terangkat, dilipat santai di atas dudukan kayu, sementara jemarinya sibuk bergulir di layar ponsel, mengamati draf pekerjaan kantor yang dikirimkan oleh Odelia. Pemandangan hamparan lembah hijau yang membentang luas di bawah sana seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk melamun.

​Sret.

​Sebuah mangkuk kaca berisi buah ceri merah segar yang masih tampak berembun diletakkan tepat di samping paha Nadira. Tak lama kemudian, bagian samping ayunan kayu itu sedikit merendah saat tubuh jangkung Askara ikut menduduki ayunan tersebut.

​Tanpa permisi, Askara mendaratkan lengan kekarnya di atas sandaran ayunan, merangkul bahu Nadira dan menarik tubuh wanita itu pelan agar bersandar di dada bidangnya.

​"Mikirin apa sih? Khusyuk banget dari tadi," gumam Askara pelan, mengusap bahu Nadira dengan ibu jarinya. Pria itu menyumpit satu buah ceri segar dan menyodorkannya ke depan bibir Nadira.

​Nadira tidak menolak. Ia membuka mulutnya, menyesap manisnya buah ceri itu, lalu mengunyahnya perlahan. Namun, raut wajahnya masih tampak tertekun.

​"Ka..." panggil Nadira pelan, suaranya terdengar ragu-ragu tak seperti biasanya.

​"Hmm?"

​"Gue masih berasa kayak mimpi tau gak sih," cicit Nadira, matanya menatap lurus ke arah pemandangan lembah di depan mereka. "Pernikahan ini... kok rasanya mendadak dan darurat banget, ya? Umur gue sebentar lagi tiga puluh tahun, Ka. Teman-teman alumni kampus kita udah pada punya anak bahkan sudah pada sekolah, ada yang udah bikin bisnis bareng suami... Lah gue? Gue baru mau nikah umur tiga puluh, terus ujung-ujungnya malah nikah sama lo."

​Askara terkekeh pelan, kecupan kecil mendarat di pelipis Nadira. "Kenapa memangnya kalau nikah sama gue? Kurang ganteng? Kurang kaya? Atau kurang protektif?"

​"Bukan gitu, ih!" potong Nadira refleks menyikut pelan perut Askara, walau tidak berniat menyakiti. Ia memperbaiki posisi duduknya, memiringkan tubuh menatap Askara dengan raut bingung dan wajah memerah. "Maksud gue tuh... lo itu sahabat gue dari zaman kita masih bau kencur, Askara! Dari zaman kita rebutan ciki di lapangan, zaman lo nolongin gue pas diseruduk ayam... Kita itu udah tahu busuk-busuknya masing-masing!"

​"Terus masalahnya di mana, Nadira?" tanya Askara tenang, memiringkan kepalanya menikmati wajah panik calon istrinya.

​"Ya masalah lah!" seloroh Nadira dengan nada menggebu-gebu, jemarinya bergerak-gerak di udara mencoba menggambarkan kerumitan di kepalanya. "Masa nanti setelah nikah... g-gue harus... ya tahu lah! Berhubungan suami istri sama sahabat sendiri?! Bayanginnya aja gue udah bergidik geli tau gak?!"

​Apalagi, pikiran Nadira melayang lebih jauh. Membayangkan bagaimana Askara yang biasanya ia jadikan tempat meluapkan emosi, pria yang sering ia pukuli pakai bantal atau kotak cokelat, mendadak berubah status menjadi seorang 'suami'. Sosok yang dalam ajaran agama dan norma harus ia patuhi, hormati, dan layani sepenuh hati.

​Bagaimana mungkin ia bisa bersikap manis dan penurut sebagai istri, sementara mulutnya sudah sangat terbiasa menyemprot Askara dengan umpatan 'mesum' atau 'jahat' setiap kali pria itu menjahilinya?

​"Terus nanti kalau lo udah jadi suami gue... masa gue gak boleh melotot lagi ke lo? Masa gue gak boleh mukul lo lagi kalau lo nyebelin?" lanjut Nadira merengek, bibirnya sudah maju beberapa sentimeter. "Gue kan sering banget teriak-teriak marah gak jelas ke lo. Masa nanti gue kualat kalau ngomel ke suami sendiri? Semuanya aneh banget, Ka! Gue gak yakin bisa jalanin peran jadi istri yang baik buat lo..."

​Mendengar segala kecemasan konyol namun tulus yang meluncur dari bibir Nadira, tawa Askara tidak bisa dibendung lagi. Pria itu tertawa lepas, suaranya bergema memenuhi teras vila, membuat ayunan kayu yang mereka duduki sedikit bergoyang.

​"Askara! Kenapa malah ketawa sih?! Gue lagi serius tau!" bentak Nadira bersungut-sungut, makin kesal.

​Askara meredakan tawanya, menatap wajah cemberut Nadira dengan pandangan mata yang mendadak melunak penuh kehangatan. Ia mengulurkan kedua tangannya, memegang kedua pipi Nadira yang berisi dan menepuk-nepuknya gemas.

​"Nadira Ruella... dengerin gue baik-baik," ujar Askara dengan suara rendah yang sangat menenangkan. "Siapa yang minta lo berubah jadi wanita dewasa yang kalem, penurut, dan mendadak anggun setelah nikah? Hm?"

​Nadira berkedip bingung. "Ya... kan biasanya istri emang harus begitu..."

​"Gue gak pernah nuntut lo buat berubah jadi orang lain, Nad," potong Askara mantap, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Nadira. "Gue jatuh cinta sama lo itu ya karena lo adalah Nadira yang sekarang. Nadira yang galak, Nadira yang suka ngomel, Nadira yang ngeyel, yang suka manja dan suka gebuk gue pake barang-barang di meja kalau lagi emosi. Gue suka semua paket lengkap dari diri lo."

​Dada Nadira bergetar hebat mendengarkan setiap patah kata yang meluncur tulus dari bibir pria di hadapannya.

​"Soal menghormati suami... buat gue, bentuk rasa hormat lo itu simpel," lanjut Askara, jemarinya mengusap lembut bibir bawah Nadira. "Lo cuma perlu ada di dekat gue. Jangan pernah lari lagi ke cowok lain, jangan pernah nyembunyiin masalah dari gue, dan biarkan gue yang nanggung seluruh hidup lo mulai bulan depan."

​"Cuma gitu doang?" cicit Nadira pelan, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

​"Cuma gitu doang," tegas Askara tersenyum manis. "Gue bakal selalu dukung karier lo di Ruella Creative. Gue bakal mengutamakan lo di atas semua urusan gue, dan gue bakal memanjakan lo sepuas yang lo mau. Tapi syaratnya cuma satu..."

​"Apa?"

​"Lo harus selalu ada di dalam jangkauan gue. Ke mana pun gue pergi, termasuk ke Dubai bulan depan, lo harus ikut," bisik Askara protektif, menarik tubuh Nadira kembali ke dalam pelukan hangatnya. "Soal urusan tempat tidur dan hubungan suami istri..." Askara menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyuman miring yang sangat jahil tepat di depan wajah Nadira.

​"Kenapa soal itu?!" tembak Nadira mendadak waspada.

​"Tenang aja, Sayang," ledek Askara berbisik mesra di telinga Nadira. "Gue jamin, begitu kita udah sah nanti... bayangan 'menggelikan' di otak lo itu bakal berubah jadi bayangan paling nagih seumur hidup lo."

​TAK!

​"ASKARA MESUM! KAN MULAI KAN!" jerit Nadira histeris sambil menepuk dada Askara keras-keras, walau wajahnya sudah merah padam seperti buah ceri di mangkuk.

​Askara kembali tertawa keras, memeluk tubuh wanita itu erat-erat agar tidak bisa kabur. Di atas ayunan kayu Lembang pagi itu, di antara omelan dan gelak tawa yang saling bersahut-sahutan, rasa cemas di hati Nadira perlahan-lahan meluas menjadi kepastian.

​Ia mungkin terlambat menikah di usia tiga puluh tahun, dan ia mungkin menikahi sahabat kecilnya sendiri. Namun di dalam dekapan Askara, Nadira tahu pasti satu hal: ia tidak akan pernah menemukan pria lain di dunia ini yang sanggup mencintainya sedalam dan seutuhnya ini.

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!