Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ibu si Merak Rimba
Aynara baru saja menyerahkan lamaran kerja di sebuah perusahaan. Selain mengirim lamaran secara daring, ia juga sengaja datang langsung untuk menyerahkan CV dan berkas pendukung.
Setelah berpamitan kepada petugas di meja resepsionis, ia melangkah meninggalkan lobby.
Baru beberapa langkah keluar dari gerbang perusahaan, ponselnya tiba-tiba berdering.
Aynara mengernyit saat melihat layar. Tidak ada nama yang muncul, hanya deretan nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Karena penasaran, ia akhirnya menerima panggilan tersebut.
"Halo," sapa Aynara sambil berjalan menuju sebuah pohon rindang di pinggir jalan.
"Aynara?"
Suara wanita dari seberang membuat dahinya berkerut samar.
"Iya? Ini siapa, ya?"
"Ini Mama Asti, ibunya Aksa."
Langkah Aynara terhenti sesaat.
"Oh, Ibu." Ia segera memperbaiki sikapnya. "Ada apa, Bu?"
Ia sama sekali tidak menyangka ibu mertuanya akan menghubunginya.
"Jangan panggil Ibu," ujar Asti lembut. "Bagaimanapun, kamu menantu Mama. Panggil Mama aja, kayak Aksa manggil Mama."
Aynara tersenyum getir. "Pernikahan saya dengan Aksa..." Ia menghela napas pelan. "Kami menikah karena terpaksa dan sama-sama gak punya perasaan khusus. Setelah satu tahun, kami akan bercerai."
"Ra." Suara Asti tetap lembut. "Terlepas kalian akan bercerai atau tidak setelah satu tahun, itu gak mengubah kenyataan bahwa kamu adalah istri Aksa dan menantu Mama."
Aynara menunduk.
"Selama kalian belum bercerai, kamu tetap menantu Mama."
Suara kendaraan yang berlalu-lalang membuat suara Aynara terdengar hampir tertelan ketika menjawab, "Saya mengerti."
"Kalau begitu, panggil Mama, ya. Jangan pakai bahasa formal begitu." Nada Asti terdengar sedikit menggoda. Ia seolah bisa merasakan kecanggungan Aynara dari cara gadis itu berbicara.
"Iya, Ma." Kali ini suara Aynara terdengar sedikit kaku.
"Nah, begitu dong." Asti tertawa kecil. "Oh, iya. Tolong kirim nomor rekening kamu ke Mama, ya."
Alis Aynara langsung bertaut. "Untuk apa, Ma?"
"Mama mau kasih uang buat kamu," jawab Asti ringan.
"Gak usah, Ma. Aku ada uang, kok." Padahal Aynara tahu uang yang dimilikinya tidak banyak. Namun ia tidak terbiasa menerima belas kasihan orang lain, bahkan dari ibu mertuanya sendiri.
"Tolong jangan ditolak, Ra." Asti menghela napas pelan. "Memang yang Mama kasih mungkin gak seberapa dibandingkan yang Kakek kasih ke kamu. Tapi ini bukan soal jumlah."
Nada suara Asti terdengar semakin hangat. "Mama cuma mau kasih kamu uang saku. Anggap saja dari Mama untuk menantu Mama."
Aynara terdiam. Ibu mertuanya bahkan memberinya uang tanpa diminta.
Berbeda dengan Cepi. Untuk meminta uang saku saja, Aynara harus siap mendengar ocehan panjang. Itu pun jumlah yang diberikan biasanya jauh lebih sedikit daripada yang ia butuhkan.
Tanpa sadar, Aynara membandingkan keduanya. Ada sedikit rasa miris di dalam hatinya. Bukan karena uang.
Melainkan karena untuk pertama kalinya ada seorang ibu yang memberinya sesuatu tanpa membuatnya merasa seperti sedang meminta belas kasihan.
"Kalau kamu menolaknya, Mama malah merasa kamu gak menganggap Mama sebagai mertuamu." Suara Asti terdengar sedikit sendu.
"Eh, bukan begitu, Ma." Aynara menjadi serba salah.
"Terus?"
"Baiklah. Terima kasih, Ma." Kali ini, ucapan Aynara benar-benar terdengar tulus.
"Nah, gitu dong." Suara Asti terdengar lega. "Tapi jangan bilang terima kasih dulu."
Aynara mengernyit.
"Nomor rekeningnya belum kamu kirim," lanjut Asti.
Aynara terkekeh kecil. "Oh, iya, Ma."
"Ya sudah, Mama tutup dulu," kata Asti. "Kalau ada apa-apa, hubungi Mama, ya. Nanti kalau kamu ada waktu luang, kita ketemuan."
"Iya, Ma," sahut Aynara, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas.
Suara Asti kembali terdengar. "Jaga diri."
"Mama juga."
Sambungan telepon berakhir.
Aynara menatap layar ponselnya yang kembali gelap selama beberapa detik.
Ia masih merasa sedikit aneh. Suaminya begitu dingin kepadanya sejak mereka menikah. Bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengenal satu sama lain.
Namun ternyata, ibu mertuanya justru memperlakukannya dengan begitu hangat.
Aynara segera membuka aplikasi perbankan dan mengirimkan nomor rekeningnya kepada Asti.
Bukan karena ia sangat menginginkan uang itu. Ia hanya tidak ingin menolak ketulusan wanita yang sejak awal tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk.
Transfer masuk: Rp10.000.000.
Aynara membulatkan mata. "Sepuluh juta?"
Ia menatap layar beberapa saat. Bagi dirinya, jumlah itu bukan uang kecil.
Namun bagi Asti yang selama ini mendapatkan uang bulanan dari keluarga Wicaksono, memberikan uang sepuluh juta kepada menantunya mungkin bukan sesuatu yang perlu dipikirkan panjang.
Aynara menghela napas kecil, lalu mengetik sebuah pesan sambil menggumam pelan.
"Terima kasih, Ma."
Kali ini ia mengatakannya meskipun Asti sudah tidak lagi berada di ujung telepon.
Setelah selesai mengetik, Aynara menekan tombol kirim. Tak lama kemudian, balasan masuk.
> Sama-sama, Sayang.
Dada Aynara terasa menghangat membaca dua kata itu. Ia menatap pesan tersebut beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Tanpa ragu, ia membalasnya dengan sebuah emotikon hati. ❤️
Beberapa saat kemudian Aynara kembali menatap nominal transfer dari Asti.
Rp10.000.000.
Ia mengembuskan napas pelan. Bekerja di pabrik belum tentu mendapatkan gaji sebesar itu dalam sebulan, kecuali sudah menduduki posisi tertentu. Bahkan untuk staf kantor biasa, jumlah tersebut bukan nominal yang kecil.
"Aku punya ibu mertua seperti ibu peri..." gumamnya. Aynara menghela napas. "...sayangnya suamiku kayak merak rimba. Merasa paling tampan, paling berkelas, paling hebat. Sombongnya level dewa, angkuhnya stadium akhir. Bener-bener gak ketolong."
Aynara menggeleng pelan. Saat mengingat suara lembut Asti, pikirannya kembali tertuju pada ibu tirinya.
Cepi tidak pernah berbicara selembut itu kepadanya. Nada suara wanita itu selalu terdengar hangat ketika berbicara kepada Caca. Teetapi berubah ketus, bahkan sinis ketika berbicara dengannya.
Sementara ibu kandungnya... Aynara hanya mengenalnya melalui foto. Ia masih terlalu kecil ketika wanita itu meninggal.
Aynara kemudian bersandar pada batang pohon di belakangnya.
"Suara Mama Asti lembut dan hangat." Senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku sampai merasa seperti punya ibu kandung yang masih hidup."
Aynara kembali menatap nominal transfer dari Asti.
Rp10.000.000.
Tiba-tiba ia menegakkan tubuhnya karena teringat ucapan Asti.
“Memang yang Mama kasih mungkin gak seberapa dibandingkan yang Kakek kasih ke kamu...”
Aynara mengernyit. “Kalau sepuluh juta dari Mama aja katanya gak seberapa dibandingkan pemberian Kakek...”
Matanya perlahan membesar. “Berarti Kakek sebenarnya ngasih aku berapa?”
Ia terdiam. Selama ini, dirinya tidak pernah menerima satu rupiah pun uang dari Wicaksono. Aynara menatap layar ponselnya dengan dada mulai berdebar.
“Jangan-jangan...”
Selama ini uang itu diberikan kepada siapa?
...🔸🔸🔸...
...“Menjadi seorang ibu bukan hanya tentang melahirkan. Terkadang, kasih seorang ibu justru terasa dari seseorang yang memilih menerima kita dengan tulus, tanpa pernah meminta balasan.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.