NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Ibu si Merak Rimba

Aynara baru saja menyerahkan lamaran kerja di sebuah perusahaan. Selain mengirim lamaran secara daring, ia juga sengaja datang langsung untuk menyerahkan CV dan berkas pendukung.

Setelah berpamitan kepada petugas di meja resepsionis, ia melangkah meninggalkan lobby.

Baru beberapa langkah keluar dari gerbang perusahaan, ponselnya tiba-tiba berdering.

Aynara mengernyit saat melihat layar. Tidak ada nama yang muncul, hanya deretan nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Karena penasaran, ia akhirnya menerima panggilan tersebut.

"Halo," sapa Aynara sambil berjalan menuju sebuah pohon rindang di pinggir jalan.

"Aynara?"

Suara wanita dari seberang membuat dahinya berkerut samar.

"Iya? Ini siapa, ya?"

"Ini Mama Asti, ibunya Aksa."

Langkah Aynara terhenti sesaat.

"Oh, Ibu." Ia segera memperbaiki sikapnya. "Ada apa, Bu?"

Ia sama sekali tidak menyangka ibu mertuanya akan menghubunginya.

"Jangan panggil Ibu," ujar Asti lembut. "Bagaimanapun, kamu menantu Mama. Panggil Mama aja, kayak Aksa manggil Mama."

Aynara tersenyum getir. "Pernikahan saya dengan Aksa..." Ia menghela napas pelan. "Kami menikah karena terpaksa dan sama-sama gak punya perasaan khusus. Setelah satu tahun, kami akan bercerai."

"Ra." Suara Asti tetap lembut. "Terlepas kalian akan bercerai atau tidak setelah satu tahun, itu gak mengubah kenyataan bahwa kamu adalah istri Aksa dan menantu Mama."

Aynara menunduk.

"Selama kalian belum bercerai, kamu tetap menantu Mama."

Suara kendaraan yang berlalu-lalang membuat suara Aynara terdengar hampir tertelan ketika menjawab, "Saya mengerti."

"Kalau begitu, panggil Mama, ya. Jangan pakai bahasa formal begitu." Nada Asti terdengar sedikit menggoda. Ia seolah bisa merasakan kecanggungan Aynara dari cara gadis itu berbicara.

"Iya, Ma." Kali ini suara Aynara terdengar sedikit kaku.

"Nah, begitu dong." Asti tertawa kecil. "Oh, iya. Tolong kirim nomor rekening kamu ke Mama, ya."

Alis Aynara langsung bertaut. "Untuk apa, Ma?"

"Mama mau kasih uang buat kamu," jawab Asti ringan.

"Gak usah, Ma. Aku ada uang, kok." Padahal Aynara tahu uang yang dimilikinya tidak banyak. Namun ia tidak terbiasa menerima belas kasihan orang lain, bahkan dari ibu mertuanya sendiri.

"Tolong jangan ditolak, Ra." Asti menghela napas pelan. "Memang yang Mama kasih mungkin gak seberapa dibandingkan yang Kakek kasih ke kamu. Tapi ini bukan soal jumlah."

Nada suara Asti terdengar semakin hangat. "Mama cuma mau kasih kamu uang saku. Anggap saja dari Mama untuk menantu Mama."

Aynara terdiam. Ibu mertuanya bahkan memberinya uang tanpa diminta.

Berbeda dengan Cepi. Untuk meminta uang saku saja, Aynara harus siap mendengar ocehan panjang. Itu pun jumlah yang diberikan biasanya jauh lebih sedikit daripada yang ia butuhkan.

Tanpa sadar, Aynara membandingkan keduanya. Ada sedikit rasa miris di dalam hatinya. Bukan karena uang.

Melainkan karena untuk pertama kalinya ada seorang ibu yang memberinya sesuatu tanpa membuatnya merasa seperti sedang meminta belas kasihan.

"Kalau kamu menolaknya, Mama malah merasa kamu gak menganggap Mama sebagai mertuamu." Suara Asti terdengar sedikit sendu.

"Eh, bukan begitu, Ma." Aynara menjadi serba salah.

"Terus?"

"Baiklah. Terima kasih, Ma." Kali ini, ucapan Aynara benar-benar terdengar tulus.

"Nah, gitu dong." Suara Asti terdengar lega. "Tapi jangan bilang terima kasih dulu."

Aynara mengernyit.

"Nomor rekeningnya belum kamu kirim," lanjut Asti.

Aynara terkekeh kecil. "Oh, iya, Ma."

"Ya sudah, Mama tutup dulu," kata Asti. "Kalau ada apa-apa, hubungi Mama, ya. Nanti kalau kamu ada waktu luang, kita ketemuan."

"Iya, Ma," sahut Aynara, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas.

Suara Asti kembali terdengar. "Jaga diri."

"Mama juga."

Sambungan telepon berakhir.

Aynara menatap layar ponselnya yang kembali gelap selama beberapa detik.

Ia masih merasa sedikit aneh. Suaminya begitu dingin kepadanya sejak mereka menikah. Bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengenal satu sama lain.

Namun ternyata, ibu mertuanya justru memperlakukannya dengan begitu hangat.

Aynara segera membuka aplikasi perbankan dan mengirimkan nomor rekeningnya kepada Asti.

Bukan karena ia sangat menginginkan uang itu. Ia hanya tidak ingin menolak ketulusan wanita yang sejak awal tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk.

Transfer masuk: Rp10.000.000.

Aynara membulatkan mata. "Sepuluh juta?"

Ia menatap layar beberapa saat. Bagi dirinya, jumlah itu bukan uang kecil.

Namun bagi Asti yang selama ini mendapatkan uang bulanan dari keluarga Wicaksono, memberikan uang sepuluh juta kepada menantunya mungkin bukan sesuatu yang perlu dipikirkan panjang.

Aynara menghela napas kecil, lalu mengetik sebuah pesan sambil menggumam pelan.

"Terima kasih, Ma."

Kali ini ia mengatakannya meskipun Asti sudah tidak lagi berada di ujung telepon.

Setelah selesai mengetik, Aynara menekan tombol kirim. Tak lama kemudian, balasan masuk.

> Sama-sama, Sayang.

Dada Aynara terasa menghangat membaca dua kata itu. Ia menatap pesan tersebut beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Tanpa ragu, ia membalasnya dengan sebuah emotikon hati. ❤️

Beberapa saat kemudian Aynara kembali menatap nominal transfer dari Asti.

Rp10.000.000.

Ia mengembuskan napas pelan. Bekerja di pabrik belum tentu mendapatkan gaji sebesar itu dalam sebulan, kecuali sudah menduduki posisi tertentu. Bahkan untuk staf kantor biasa, jumlah tersebut bukan nominal yang kecil.

"Aku punya ibu mertua seperti ibu peri..." gumamnya. Aynara menghela napas. "...sayangnya suamiku kayak merak rimba. Merasa paling tampan, paling berkelas, paling hebat. Sombongnya level dewa, angkuhnya stadium akhir. Bener-bener gak ketolong."

Aynara menggeleng pelan. Saat mengingat suara lembut Asti, pikirannya kembali tertuju pada ibu tirinya.

Cepi tidak pernah berbicara selembut itu kepadanya. Nada suara wanita itu selalu terdengar hangat ketika berbicara kepada Caca. Teetapi berubah ketus, bahkan sinis ketika berbicara dengannya.

Sementara ibu kandungnya... Aynara hanya mengenalnya melalui foto. Ia masih terlalu kecil ketika wanita itu meninggal.

Aynara kemudian bersandar pada batang pohon di belakangnya.

"Suara Mama Asti lembut dan hangat." Senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku sampai merasa seperti punya ibu kandung yang masih hidup."

Aynara kembali menatap nominal transfer dari Asti.

Rp10.000.000.

Tiba-tiba ia menegakkan tubuhnya karena teringat ucapan Asti.

“Memang yang Mama kasih mungkin gak seberapa dibandingkan yang Kakek kasih ke kamu...”

Aynara mengernyit. “Kalau sepuluh juta dari Mama aja katanya gak seberapa dibandingkan pemberian Kakek...”

Matanya perlahan membesar. “Berarti Kakek sebenarnya ngasih aku berapa?”

Ia terdiam. Selama ini, dirinya tidak pernah menerima satu rupiah pun uang dari Wicaksono. Aynara menatap layar ponselnya dengan dada mulai berdebar.

“Jangan-jangan...”

Selama ini uang itu diberikan kepada siapa?

 

...🔸🔸🔸...

...“Menjadi seorang ibu bukan hanya tentang melahirkan. Terkadang, kasih seorang ibu justru terasa dari seseorang yang memilih menerima kita dengan tulus, tanpa pernah meminta balasan.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
yang semangat kerjanya ya Aynara, walaupun ketemu Aksa melulu
Hanima
Lanjutt
Cicih Sophiana
Riva emang sahabat setia... setia ngabisin makanan... setia numpang tidur dan setia numpang ke kantor tdk bayar...🫢😂😂😂😂
abimasta
berani melangkah untuk merubah hidup
Hanima
👍👍👍
Hanima
👍👍
Anitha
Aksa kah...?
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Sugiharti Rusli
apa laki" itu si Aksa yah, dia mau cari tahu tentang identitas Nara, yang padahal bini nya sendiri😅😅😅
Sugiharti Rusli
kalo dia ga boros,nuang buat bayar kontrakan dan transport bisa dia tabung kan, apalagi dia makan juga gratis pas malam,,,
Siti Jumiati
lanjuuuut
Sugiharti Rusli
dan Riva juga tipikal teman yang tahu diri lha, sudah dikasih tumpangan gratis, dia juga ikutan sedikit beberes lha di sana yekan🤪🤪🤪
Sugiharti Rusli
tapi paling tidak kamu juga ga kesepian di apartemen mewah milik ibu mertua kamu itu sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
teman modelan Riva terkadang bisa menghibur, tapi terkadang juga bikin pusing sama ocehanya yah Ra🤣🤣🤣
Puji Hastuti
ya ampun ketemu lagi 🤭
evievoy
Aksa
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak... 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Kenapa kau memikirkan itu Aksa? ha? 😂😂😂 Apa karena Aynara itu cantik ya? ha? 😂😂😂 Kalau Aynara nggk cantik, pasti kau tidak akan memilirlannya kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Sekarang, Aksa telah resmi menjadi CEO. Dan Aynara, juga sudah menjadi Istri CEO. 😂😂😂 Istri CEO memesona. 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nah loh... Terpaku kau kan? 😂😂😂 Makanya... Jangan asal menolak dulu kau! 😂😂😂 Sekarang? Malah menjilat dudah sendiri dah! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah loh... Ketemu juga kalian ahirnya ya... 😂😂😂 Pasti kau akan terpesona melihat istrimu sendiri Aksa... 😂😂😂 Kau jilat dah tuh, ludah kau sendiri! 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!