NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.

Belajar Menjadi Lebih Baik

Suasana kelas perlahan sepi saat bel pulang sekolah berbunyi panjang. Siswa-siswa bergegas membereskan buku dan alat tulis, berdesakan menuju pintu keluar dengan wajah lega. Namun Laras masih duduk diam di bangkunya, matanya menatap kosong ke arah meja di mana Aisyah baru saja berdiri dan berjalan pergi bersama Rara.

Tangannya meremas lembar ulangan yang nilainya belum terlalu memuaskan, jauh di bawah nilai yang diraih Aisyah tadi pagi. Pikirannya melayang kembali ke momen saat Dimas berbicara dengan begitu tulus dan penuh kekaguman pada gadis tenang itu. Setiap kata, setiap senyum, dan tatapan mata Dimas—semuanya terasa begitu berbeda dibandingkan saat ia berbicara dengan orang lain.

"Kenapa ya..." gumam Laras pelan, suara hampir tenggelam oleh suara langkah kaki teman-temannya. "Kenapa rasanya sikap Dimas beda banget kalau sama Aisyah? Dia nggak pernah senyum selebar itu, nggak pernah bicara selembut itu sama aku."

Ia menunduk dalam, membiarkan perasaan yang selama ini ia sembunyikan perlahan muncul ke permukaan. Dulu ia pikir kalau ia cantik, berani mendekat, dan sering memberi perhatian, pasti Dimas akan meliriknya. Ia pikir harus heboh, harus terlihat menonjol, supaya diperhatikan. Tapi hari ini, ia melihat kenyataan yang berbeda. Aisyah yang tenang, yang tidak pernah berusaha mencuri perhatian, justru dialah yang membuat Dimas berhenti dan menatap kagum.

"Apakah benar Dimas memang suka sama Aisyah?" batin Laras bertanya-tanya, hatinya terasa sesak namun tidak lagi menyakitkan seperti dulu. Kali ini ada rasa sadar yang perlahan tumbuh. "Bukan karena gue kurang cantik, bukan karena gue kurang berani... tapi karena gue belum bisa jadi diri sendiri yang tenang dan tulus kayak dia. Dimas mencari ketenangan, dan gue justru bikin keributan sendiri."

Bayangan wajah Aisyah melintas di benaknya. Gadis itu tidak pernah memamerkan apa yang ia miliki, tidak pernah memaksa orang lain menyukainya, tidak pernah menjatuhkan orang lain demi terlihat lebih baik. Ia hanya diam, berusaha, dan menjadi dirinya sendiri. Dan justru itulah yang membuatnya terlihat begitu istimewa.

"Kalau begitu..." Laras menghela napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya, matanya mulai berbinar tekad baru. "Mungkin gue juga harus belajar untuk berubah. Bukan untuk meniru Aisyah persis, tapi mengambil hal-hal baik darinya. Gue mau jadi lebih tenang, lebih hati-hati bicara, lebih rajin tanpa harus pamer, dan lebih menghargai orang lain seperti dia menghargai dirinya sendiri."

Ia melihat Dimas yang sedang berjalan beriringan dengan Arga dan Bima, sesekali menoleh ke belakang seolah mencari sosok Aisyah. Pemandangan itu dulu akan membuatnya cemburu buta, tapi hari ini ia hanya tersenyum tipis paham.

"Gue nggak mau lagi berebut perhatian," batinnya mantap. "Gue mau berusaha menjadi orang yang pantas dihargai, sama seperti Aisyah. Siapa tahu dengan begitu, gue bisa menemukan kebahagiaan gue sendiri, entah nanti sama siapa."

"Lagi melamun apa, Lar?"

Tiba-tiba suara Rara terdengar dari dekat. Laras menoleh dan melihat Rara serta Aisyah berdiri di samping mejanya, menatapnya dengan perhatian namun tidak ingin mengganggu.

Laras tersenyum tulus, senyum yang tanpa kepura-puraan. "Nggak melamun kok. Cuma lagi mikir aja banyak hal."

"Kamu tadi kelihatan serius banget," tambah Aisyah lembut. "Ada yang mau dibicarakan atau butuh bantuan?"

Laras menggeleng pelan, lalu berdiri merapikan tasnya. "Bukan soal pelajaran kok, Syah. Tapi soal diri gue sendiri. Gue baru sadar banyak banget hal yang bisa gue pelajari dari lo."

Aisyah terkejut mendengarnya, matanya sedikit membelalak. "Dari aku? Kenapa begitu?"

"Iya," jawab Laras mantap, menatap tepat ke mata Aisyah. "Gue lihat sikap lo yang tenang, yang nggak pernah cari masalah, yang rajin diam-diam, dan tetap rendah hati meskipun lo paling pintar di kelas. Gue baru paham kenapa orang-orang respek sama lo, kenapa Dimas juga begitu kagum sama lo. Gue sadar, selama ini gue salah cara. Gue terlalu sibuk ingin dilihat orang lain sampai lupa memperbaiki diri sendiri."

Rara tersenyum bangga, lalu menepuk pelan bahu Laras. "Itu baru namanya sadar diri, Lar. Belajar dari orang lain itu nggak salah kok, asal gue tetap jadi diri gue sendiri, bukan meniru orang lain sampai hilang jati diri lo."

"Aku tahu itu," ucap Laras lembut. "Gue nggak mau jadi gue persis, Syah. Gue cuma mau meniru sifat-sifat baik lo. Gue mau berubah jadi lebih dewasa, nggak cemburuan lagi, nggak agresif nggak jelas, dan lebih fokus sama masa depan lo. Gue pengen suatu hari nanti orang lain juga bisa melihat gue dan bilang, 'Laras sekarang sudah jadi orang yang hebat'."

Aisyah tersenyum lebar, matanya berbinar senang. "Aku yakin kamu pasti bisa, Laras. Semua orang punya kelebihan masing-masing. Kamu kan berani, kamu ceria, kamu pandai bergaul. Kalau kelebihan itu digabung dengan ketenangan dan kerajinan, kamu pasti luar biasa banget nantinya."

"Makasih ya," ucap Laras tulus, kali ini benar-benar merasakan kehangatan persahabatan tanpa ada rasa bersaing. "Makasih udah nggak pernah membenci gue meskipun gue dulu jahat banget."

"Kita kan teman," jawab Aisyah singkat namun bermakna dalam. "Teman itu saling mengingatkan kalau ada yang salah, dan saling dukung kalau mau berubah jadi lebih baik."

Mereka pun berjalan beriringan keluar kelas, menyusul Dimas dan yang lain yang sudah menunggu di koridor. Saat melihat Laras berjalan berdampingan dengan Rara dan Aisyah sambil tertawa lepas tanpa ada beban di wajahnya, Dimas tersenyum lebar.

"Lihat deh Dim," bisik Arga di sampingnya. "Bukan cuma Aisyah yang bikin berubah, tapi suasana di antara kalian semua yang bikin kalian tumbuh bareng."

Dimas mengangguk setuju. "Iya. Dan aku seneng banget lihat Laras mulai ngerti mana jalan yang benar. Semua orang pasti bisa berubah, asal ada kemauan."

Laras yang mendengar percakapan itu menunduk malu sejenak, lalu mengangkat kepalanya dengan semangat baru. Di dalam hatinya ia berjanji: mulai hari ini, ia tidak akan lagi mengejar bayang-bayang perhatian orang lain. Ia akan mengejar versi dirinya yang lebih baik, lebih berharga, dan lebih dicintai oleh dirinya sendiri terlebih dahulu.

Sore itu di halaman sekolah, Rara dan Aisyah berhenti sejenak di dekat taman sambil menunggu angkutan umum. Laras yang berjalan di belakang mereka menyusul dengan langkah mantap, lalu ikut duduk di bangku taman yang sama.

"Syah, boleh gue tanya satu hal lagi?" tanya Laras pelan, setelah diam cukup lama.

"Tentu saja," jawab Aisyah sambil menoleh ramah. "Apa yang ingin lo tanyakan?"

Laras menatap daun-daun yang bergoyang tertiup angin, seolah menyusun kata yang tepat di dalam hatinya. "Dulu gue selalu berpikir, kalau gue cantik, gue heboh, gue berani mendekat, pasti Dimas akan menyukai lo. Tapi hari ini lo melihat sendiri... caranya menatap lo, caranya berbicara pada lo, semuanya terasa berbeda. Gue jadi yakin, Dimas memang suka sama lo kan?"

Aisyah tertegun sejenak, pipinya merona pelan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap langit biru sebentar sebelum berkata lembut. "Aku tidak tahu pasti apa yang dirasakan Dimas. Tapi aku percaya, perasaan itu tidak bisa dipaksa atau diatur. Kalau memang dia merasa nyaman dan cocok dengan aku, itu adalah hal yang wajar. Sama seperti kamu juga berhak menyukai siapa saja, Lar."

"Tapi gue sekarang tidak lagi sedih atau cemburu," potong Laras cepat, lalu tersenyum tipis. "Gue malah jadi paham. Dimas tidak mencari orang yang paling berusaha menarik perhatian, tapi orang yang hatinya tenang dan tulus. Dan gue sadar, gue juga ingin punya hati seperti itu. Bukan supaya Dimas suka sama gue, tapi supaya gue bisa mencintai diriku sendiri lebih dulu."

Rara yang mendengarkan sejak tadi menepuk bahu Laras dengan bangga. "Itu baru namanya pintar, Lar. Berubah karena ingin jadi lebih baik, bukan karena ingin meniru orang lain."

Laras mengangguk mantap. "Mulai besok, gue nggak akan sibuk mengamati Dimas lagi. Gue akan sibuk memperbaiki diriku sendiri. Gue akan belajar lebih rajin, bicara lebih sopan, dan tidak gampang tersinggung atau cemburu. Siapa tahu nanti... entah berapa lama lagi, gue bisa bertemu dengan orang yang tepat untuk lo, yang menyukai gue apa adanya, sama seperti Dimas menyukai apa adanya lo."

Tak jauh dari sana, Dimas dan kedua sahabatnya berdiri di balik pohon besar, tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Arga dan Bima saling pandang takjub, sementara Dimas tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.

"Wah, perubahannya luar biasa banget ya," bisik Bima pelan. "Dulu yang paling berisik dan paling gengsi, sekarang bisa bicara sebijak gitu."

"Dia baru saja menemukan kuncinya," tambah Dimas lembut. "Saat seseorang berhenti berusaha menjadi orang lain, barulah dia bisa bersinar dengan cahayanya sendiri. Aku yakin Laras akan jadi gadis yang hebat nantinya."

Sore itu, matahari mulai turun perlahan, menyebarkan warna jingga keemasan di langit. Di bangku taman itu, tiga sahabat kini duduk berdampingan dengan hati yang damai. Tidak ada lagi persaingan, tidak ada lagi kesalahpahaman. Hanya ada harapan baru, tekad untuk tumbuh bersama, dan persahabatan yang kini terjalin lebih kuat dari sebelumnya.

Laras menatap kedua sahabatnya, lalu tersenyum tulus. "Terima kasih ya sudah tidak membenci gue. Gue janji, kalian tidak akan kecewa melihat perubahan lo."

"Kami yakin itu," jawab Rara dan Aisyah serempak.

Mereka pun tertawa bersama, suara tawa yang terdengar begitu lega dan bahagia. Perjalanan menuju kedewasaan memang tidak pernah mudah, tapi rasanya jauh lebih ringan jika ditempuh bersama orang-orang yang tulus menyayangi kita.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!