Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Benang Qi pertama
Malam telah larut di sektor barat Gunung Pedang Surgawi. Ketika ratusan pelayan lainnya telah terlelap dalam tidur yang melelahkan, sebuah bayangan kecil tampak duduk bersila di atas sebuah batu datar di tengah hutan belakang. Sosok itu adalah Xiao Lin. Di bawah sinar bulan yang temaram, keringat membasahi jubah abu-abunya yang tipis.
Tidak jauh darinya, Ah Gou berdiri waspada di balik semak-semak, sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada pengawas sekte yang berpatroli.
Di dalam tubuh Xiao Lin, sebuah perjuangan spiritual sedang berlangsung.
Mengikuti petunjuk dari potongan buku usang yang selalu disimpannya, Xiao Lin mencoba memandu aliran hangat tipis yang dia rasakan sejak dua hari lalu. Benang energi itu, yang awalnya sekecil helai rambut, perlahan bergerak menyusuri meridian lengannya yang sempat terluka.
Setiap kali benang itu melewati pembuluh darahnya, rasa perih seperti ditusuk jarum melanda tubuh Xiao Lin. Rasa sakit itu adalah tanda bahwa Qi alam sedang mengikis kotoran fana yang menyumbat tulang spiritualnya.
‘Aku harus bertahan. Jika rasa sakit sekecil ini saja membuatku menyerah,
‘Bagaimana aku bisa melindungi Ah Gou?,
‘Bagaimana aku bisa berdiri di atas panggung seleksi?’ batin Xiao Lin dengan tekad baja.
Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga hampir berdarah, menolak untuk membuka matanya atau melepaskan segel tangannya.
Apa yang tidak disadari oleh Xiao Lin adalah, jauh di dalam ruang jiwanya yang paling gelap, sepasang mata hitam pekat yang dingin perlahan terbuka sedikit. Jiwa kejam yang tersegel di dalam dirinya sedang mengamati perjuangan pemuda polos itu dengan pandangan penuh penghinaan, namun juga sedikit tertarik.
"Menggunakan teknik pernapasan tingkat rendah yang penuh cacat untuk membuka meridian... Sungguh metode yang bodoh dan lambat," cemooh suara dingin itu di dalam kegelapan.
"Namun, tekad bocah ini... tidak buruk untuk ukuran manusia fana yang lemah."
Dengan sebuah dengusan malas, sisa jiwa kuno itu menjentikkan secuil energi hitam yang sangat samar dari balik segelnya. Secuil energi itu merembes keluar dan langsung menyatu dengan benang Qi hangat yang sedang dipandu oleh Xiao Lin.
BOOM!
Di dunia nyata, tubuh Xiao Lin bergetar hebat. Dia merasakan aliran hangat di tubuhnya tiba-tiba meledak menjadi arus energi yang liar dan sangat murni. Arus energi itu dengan ganas menerobos sumbatan di sekitar Dantiannya (pusat energi di bawah pusar). Rasa sakit yang luar biasa membuat Xiao Lin hampir berteriak, namun sesaat kemudian, rasa sakit itu digantikan oleh kenyamanan yang luar biasa, seolah-olah seluruh tubuhnya baru saja dibersihkan oleh air suci.
WUUUUSSH!
Sebuah pusaran angin kecil berputar di sekitar tubuh Xiao Lin, menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya. Kehangatan yang pekat kini berkumpul dan menetap di dalam Dantiannya, membentuk sebuah kolam energi kecil yang terus berputar.
Xiao Lin membuka matanya. Sepasang matanya yang jernih memancarkan kilatan cahaya yang samar sebelum kembali normal. Dia mengembuskan napas panjang, yang keluar dalam bentuk gas abu-abu pekat berbau busuk—itu adalah kotoran fana yang berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.
"Ini..."
Xiao Lin menatap kedua tangannya dengan rasa tidak percaya. Dia bisa merasakan setiap pori-pori kulitnya kini jauh lebih peka terhadap udara sekitar. Energi yang mengalir di dalam dirinya terasa nyata dan patuh.
Dia telah berhasil. Dalam waktu satu malam latihan keras, Xiao Lin secara resmi telah melangkah ke ranah Qi Gathering Tingkat 1!
Bagi murid pelayan tanpa bakat, menerobos ke ranah ini dalam waktu singkat adalah hal yang mustahil. Xiao Lin mengira ini adalah hasil dari kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir yang akhirnya membuahkan hasil, tanpa tahu ada campur tangan dari sosok mengerikan di dalam jiwanya.
"Xiao Lin!"
"Kau... kau berhasil?!" Ah Gou berlari keluar dari semak-semak dengan wajah penuh kejutan dan kegembiraan.
Dia bisa merasakan aura Xiao Lin yang kini berbeda dari manusia biasa.
"Ah Gou! Aku... aku bisa merasakan Qi!" Xiao Lin berdiri dengan penuh semangat, senyum polosnya merekah lebar. Dia mencoba melayangkan sebuah pukulan dasar ke udara.
WUSH!
Pukulan itu menghasilkan suara lesatan angin yang cukup tajam, jauh lebih kuat daripada pukulan fisiknya yang biasa.
"Luar biasa! Kau benar-benar seorang kultivator sekarang!" Ah Gou memeluk pundak sahabatnya dengan gembira.
"Dengan ini, kau pasti tidak akan langsung kalah di panggung seleksi nanti!"
Xiao Lin mengangguk senang, namun dia segera menenangkan dirinya.
"Ini baru tingkat pertama, Ah Gou. Di seleksi nanti, sebagian besar murid luar berada di tingkat 2 atau tingkat 3. Bahkan aku mendengar rumor bahwa murid luar peringkat atas sudah mencapai tingkat 4. Aku masih harus berlatih lebih keras dalam sisa waktu tiga belas hari ini."
Sementara Xiao Lin merayakan keberhasilan kecilnya, di area halaman luar sekte, suasana menjelang seleksi justru semakin memanas dan dipenuhi aura persaingan yang tidak sehat.
Di dalam sebuah paviliun kayu yang indah, Wang Chen sedang duduk bersila sambil mengelus pedang berukir naganya. Di depannya, dua orang murid luar yang kakinya masih dibalut perban—teman-teman Wang Hu yang terluka tempo hari—sedang berlutut dengan wajah ketakutan.
"Bagaimana? Apakah si sampah Xiao Lin itu mendaftarkan namanya?" tanya Wang Chen tanpa membuka matanya, suaranya terdengar sangat datar namun menekan.
"S-sudah, Senior Wang Chen," jawab salah satu murid dengan gugup.
"Kami memata-matai papan pengumuman sektor barat tadi sore. Si cacat Ah Gou mendaftarkan nama Xiao Lin ke dalam daftar peserta murid pelayan."
Wang Chen membuka matanya, memperlihatkan sorot mata yang dingin dan penuh ambisi.
"Bagus sekali. Anak itu benar-benar mencari matinya sendiri. Apakah Pengawas Liu sudah menjalankan tugasku?"
"Sudah, Senior. Pengawas Liu sengaja memberikan tugas-tugas paling berat kepada Xiao Lin dan Ah Gou selama dua minggu ini agar mereka tidak memiliki waktu untuk beristirahat, apalagi berlatih. Kami memastikan tubuhnya akan kelelahan total sebelum hari seleksi tiba."
Wang Chen tersenyum kejam, sebuah kepuasan terpancar dari wajahnya. Dia adalah salah satu kandidat kuat yang diprediksi akan menjadi murid dalam kali ini. Baginya, membunuh seorang pelayan rendahan seperti Xiao Lin di atas arena bukan hanya tentang membalas dendam untuk sepupunya, tetapi juga untuk menunjukkan kepada faksi lain bahwa keluarga Wang tidak boleh disinggung oleh siapa pun, bahkan oleh takdir sekalipun.
"Dua minggu lagi... di atas panggung arena, aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhnya di hadapan seluruh penatua sekte. Aku ingin melihat, apakah 'Macan Tutul Bayangan' yang diklaim Penatua itu akan datang menyelamatkannya lagi," gumam Wang Chen sambil menggenggam erat gagang pedangnya.
Di bawah langit malam yang sama, dua kekuatan yang sangat kontras sedang bersiap. Xiao Lin dengan kepolosan dan tekad bajanya untuk bertahan hidup, melawan Wang Chen yang dipenuhi ambisi kejam untuk menghancurkannya. Waktu terus berputar dengan cepat menuju hari di mana takdir mereka akan saling berbenturan.
Tiga belas hari akan berlalu dengan cepat.
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉