NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hadiah dari Ketakutan yang Tak Beralasan

​Suara deburan ombak memecah kesunyian di pantai berpasir putih itu. Buih air laut menyapu butiran pasir, membawa serta jejak pertempuran singkat yang baru saja terjadi.

​Madara berdiri dengan tenang. Angin laut meniup ujung rambut hitam panjangnya. Pelindung dada merah yang dia kenakan tidak memiliki noda kotoran sama sekali.

​Di sekelilingnya, pemandangan berbanding terbalik dengan ketenangannya.

​Dua puluh orang pria dewasa terkapar tak berdaya. Erangan kesakitan keluar dari mulut mereka secara bersahutan. Ada yang memegangi lengan yang terkilir ke arah yang salah. Ada yang memeluk dada mereka yang sesak karena tulang rusuk retak. Ada pula yang hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit di persendian kaki.

​Madara membuang pandangannya dari tumpukan manusia lemah itu. Rasa bosan kembali menyelimuti hatinya. Pertarungan tadi bahkan tidak cukup untuk memanaskan otot-otot tubuhnya yang masih kaku.

​Dia baru saja akan melangkah pergi menuju batu karang untuk kembali duduk, tetapi sebuah cahaya biru redup berkedip di sudut pandangannya.

​Langkah Madara terhenti.

​Cahaya biru itu melayang di udara, tepat beberapa jengkal di depan wajahnya. Sebuah layar semi transparan kembali muncul. Teks berwarna putih terang tercetak jelas di atas permukaan layar tersebut.

​[Menerima ketakutan absolut dari 20 individu. Poin Reputasi +50. Chakra maksimal meningkat tipis.]

​Mata hitam Madara menatap rentetan kalimat itu. Wajahnya tetap datar, tetapi pikirannya bekerja dengan sangat cepat.

​Tepat setelah dia selesai membaca kalimat terakhir, sebuah sensasi aneh menjalar di dalam perutnya. Sensasi itu sangat halus, tetapi bagi seseorang yang telah menguasai kendali energi hingga tingkat dewa, perubahan sekecil apa pun tidak akan luput dari pengawasannya.

​Madara memejamkan mata. Dia memusatkan pikirannya ke dalam jalur tenketsu di tubuhnya.

​Aliran chakra yang sebelumnya terasa sangat sempit kini sedikit melonggar. Ibarat sebuah parit kecil yang dinding tanahnya baru saja dikikis oleh aliran air. Kapasitas energi di dalam tubuhnya bertambah. Sangat tipis, namun nyata.

​Madara membuka matanya kembali. Dia menatap layar biru yang perlahan memudar di udara.

​'Begitu cara kerjanya,' batin Madara.

​Dia kini memahami mekanisme benda tak kasatmata yang menyebut dirinya Sistem ini. Benda ini tidak memaksanya melakukan misi konyol. Benda ini tidak mengendalikannya seperti pion di atas papan catur.

​Sistem ini bereaksi terhadap respons dunia terhadap keberadaannya.

​Dua puluh bajak laut di sekitarnya memancarkan ketakutan yang murni. Ketakutan itu diserap, diubah menjadi nilai tukar tak terlihat, dan digunakan untuk membuka belenggu yang menahan kekuatan aslinya.

​'Poin reputasi,' pikir Madara sambil melihat ke arah sekumpulan bajak laut yang masih mengerang. 'Kekuatan asliku dikunci, dan kunci untuk membukanya adalah dengan membuat dunia ini bereaksi padaku.'

​Sudut bibir Madara terangkat sedikit.

​Dia tidak perlu menjadi orang baik. Dia tidak perlu menjadi pahlawan. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Jika ketakutan dari serangga-serangga ini bisa memberinya sedikit chakra, apa yang akan dia dapatkan jika dia menundukkan para penguasa di dunia ini?

​Pikiran itu memberikan sedikit hiburan di tengah kebosanannya.

​Suara gesekan pasir menarik perhatian Madara kembali ke dunia nyata.

​Dia menundukkan pandangannya. Kapten bajak laut bertubuh gemuk itu sedang menyeret tubuhnya sendiri menggunakan kedua siku tangannya. Tempurung lutut pria itu sudah hancur total akibat tendangan Madara sebelumnya.

​Pria gemuk itu merangkak dengan susah payah. Keringat dingin bercampur dengan pasir membasahi wajahnya. Mulutnya mengeluarkan darah segar akibat giginya yang rontok saat wajahnya membentur pasir tadi.

​Kapten itu berhenti tepat dua meter di depan ujung sepatu Madara.

​Madara menatap manusia di bawahnya dengan pandangan merendahkan. Dia menunggu pria itu memohon belas kasihan. Dia menunggu tangisan penyesalan yang biasa dia dengar dari musuh-musuh lemah di medan perang.

​Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat alis Madara berkerut pelan.

​Pria gemuk itu memaksakan dirinya untuk bangkit ke posisi bersujud. Dahinya ditempelkan kuat-kuat ke atas pasir basah. Kedua tangannya direntangkan ke depan dalam pose penyerahan diri yang paling mutlak.

​Bahu pria itu bergetar hebat. Suara isak tangis yang terdengar sangat emosional keluar dari mulutnya yang berdarah.

​Di dunia lautan yang kejam ini, hukum rimba adalah satu-satunya aturan yang berlaku. Kapten itu tahu betul bagaimana cara kerja bajak laut. Jika sebuah kru kalah dalam pertarungan, pihak yang menang akan mengambil semua harta benda, lalu menyembelih pihak yang kalah dan membuang mayat mereka ke laut sebagai makanan ikan. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada tawanan yang tidak berguna.

​Namun, pemuda berambut hitam di depannya ini melakukan hal yang sama sekali berbeda.

​Pemuda ini memiliki kekuatan monster. Dia bisa saja mencabut kepala mereka semua dalam hitungan detik. Dia bisa saja membakar tubuh mereka atau memotong leher mereka tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

​Tetapi pemuda ini tidak melakukannya.

​Dia hanya mematahkan tulang mereka. Dia menghentikan kemampuan mereka untuk bertarung, namun dengan sengaja membiarkan mereka tetap bernapas.

​Bagi otak kapten bajak laut yang sudah terbiasa dengan kekejaman tanpa ampun, tindakan Madara ini diterjemahkan ke dalam satu makna yang sangat jauh menyimpang dari kenyataan.

​Pemuda ini adalah dewa penolong yang sedang menyamar.

​Kapten itu mengangkat kepalanya sedikit. Air mata bercampur darah mengalir deras di pipinya yang kotor. Dia menatap Madara dengan pandangan pemujaan yang sangat fanatik.

​“Tuan telah mengampuni nyawa kotor kami!” teriak kapten itu dengan suara parau dan pelat.

​Madara tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu dalam diam. Tatapannya masih sedingin balok es.

​Teriakan kapten itu menarik perhatian para anak buahnya yang terkapar di sekelilingnya. Para bajak laut yang masih memiliki kesadaran mulai menoleh. Mereka melihat kapten mereka bersujud menangis di depan sang monster.

​Mereka juga menyadari satu fakta penting. Mereka masih hidup. Rasa sakit di persendian mereka sangat luar biasa, tetapi dada mereka masih berdetak. Paru-paru mereka masih bisa menghirup udara.

​Pola pikir mereka segera menyamakan frekuensi dengan kapten mereka.

​Satu per satu, bajak laut yang tangannya masih bisa digerakkan mulai menyeret tubuh mereka mendekat. Mereka yang tidak bisa merangkak hanya memutar tubuh mereka, menempelkan dahi mereka ke pasir dari tempat mereka berbaring.

​Pantai itu kini dipenuhi oleh pemandangan dua puluh orang pria kasar yang menangis dan bersujud ke arah satu orang remaja.

​“Anda pasti melihat potensi kebaikan dalam diri kami!” teriak kapten itu lagi, suaranya makin melengking karena emosi. “Anda tidak mencabut nyawa kami karena Anda tahu kami masih bisa diperbaiki!”

​Madara mengerjap pelan. Wajahnya yang datar kini berkerut menunjukkan ekspresi jijik yang sangat jelas.

​'Apa yang orang bodoh ini bicarakan?' batin Madara dengan rasa muak.

​Dia melihat ke arah kedua tangannya yang bersih. Tidak ada noda darah. Tidak ada kotoran. Menggunakan tangan itu untuk memecahkan kepala manusia-manusia lemah ini hanya akan menodai kehormatan seni bela dirinya.

​Dia membiarkan mereka hidup bukan karena dia peduli. Dia membiarkan mereka hidup karena mereka sama tidak pentingnya dengan debu yang berterbangan di udara. Seseorang tidak akan repot-repot menggunakan tenaga untuk membunuh seekor lalat yang sudah patah sayapnya.

​Kapten gemuk itu meneteskan air mata lebih banyak. Dia memukulkan tinjunya ke pasir.

​“Kami bersumpah setia pada Tuan yang penuh belas kasih!” seru sang kapten dengan tekad yang bulat. “Mulai hari ini, nyawa kami adalah milik Anda! Perintahkan kami, dan kami akan melintasi lautan api untuk Anda!”

​Para anak buahnya ikut berteriak menyahut dari belakang.

​“Kami bersumpah setia pada Tuan!”

​“Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan!”

​Suara tangisan dan sumpah serapah penuh kesetiaan itu menggema di udara. Membuat suasana pantai yang indah itu menjadi terasa sangat absurd dan konyol.

​Madara memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menarik napas panjang melalui hidung, mencoba menekan keinginan untuk benar-benar membakar mereka semua menggunakan Katon saat itu juga. Chakra yang dia miliki terlalu berharga untuk dibuang hanya karena rasa kesal.

​Dia membuka matanya. Pandangannya menajam, memancarkan aura Haki Penakluk tingkat rendah yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

​Suara tangisan para bajak laut itu berhenti seketika. Mereka menahan napas, merasa seolah-olah ada batu besar yang tiba-tiba menekan punggung mereka.

​“Hn. Jangan salah paham, serangga,” suara Madara keluar dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan menusuk langsung ke tulang.

​Semua mata menatapnya dengan ketakutan dan rasa hormat yang tercampur aduk.

​Madara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia menatap kapten gemuk itu tepat di matanya.

​“Kalian hanya terlalu lemah,” lanjut Madara tanpa menyembunyikan nada merendahkan di suaranya. “Bahkan kematian di tanganku adalah sebuah kemewahan yang tidak pantas kalian dapatkan.”

​Kata-kata itu diucapkan dengan sangat jelas. Madara bermaksud untuk menghancurkan ilusi konyol di kepala mereka. Dia ingin mereka tahu bahwa mereka hanyalah sampah yang bahkan tidak layak untuk dibunuh.

​Namun, otak para bajak laut ini tampaknya terbuat dari bahan yang berbeda.

​Kapten gemuk itu menelan ludah. Mata kecilnya melebar. Dia merenungkan kata-kata tajam yang baru saja diucapkan oleh pemuda di depannya.

​'Kematian di tanganku adalah kemewahan yang tidak pantas kalian dapatkan.'

​Dalam pikiran sang kapten, kalimat itu bergema berulang-ulang. Dia menerjemahkannya menggunakan logika jalanan bajak laut yang sudah terdistorsi oleh rasa syukur karena tidak dibunuh.

​Sang kapten terkesiap. Sebuah pencerahan palsu menghantam otaknya.

​Dia menoleh ke arah anak buahnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang baru saja menemukan pencerahan suci.

​“Apakah kalian dengar itu, Saudara-saudara?!” bisik kapten itu dengan suara bergetar.

​Anak buahnya memandangnya dengan bingung, menunggu penjelasan lebih lanjut.

​“Tuan ini berkata bahwa kita belum pantas mati di tangannya!” lanjut sang kapten dengan penuh semangat. “Itu artinya... Tuan ini ingin kita menjadi lebih kuat! Dia memberi kita waktu untuk membuktikan nilai kita! Ini adalah ujian mental dari seorang pemimpin sejati!”

​Beberapa anak buahnya terbelalak. Otak mereka yang sederhana menyerap penjelasan konyol itu dengan sangat mudah.

​“Benar juga!” seru pria bermata satu yang kakinya patah. “Jika Tuan ini hanya ingin membunuh kita, kita sudah menjadi mayat sejak tadi! Dia sedang menguji tekad kita!”

​“Kebijaksanaan yang sangat luar biasa!” tangis pria lain yang memegangi rusuknya. “Tuan tidak ingin kita mati sebagai pecundang! Tuan ingin kita hidup sebagai orang yang berguna!”

​Madara berdiri di tempatnya dengan alis yang semakin berkerut. Dia menatap sekumpulan manusia di depannya dengan tatapan tidak percaya.

​'Apakah racun laut telah merusak otak mereka?' batin Madara.

​Dia sudah mengatakan dengan sangat jelas bahwa mereka adalah sampah. Bagaimana bisa mereka mengubah hinaan mutlak itu menjadi sebuah pujian dan ujian motivasi?

​Dunia ini mulai terasa sangat melelahkan bagi Madara.

​Kapten gemuk itu kembali menempelkan dahinya ke pasir. Kali ini dengan tenaga yang lebih keras.

​“Kami mengerti, Tuan Agung!” teriak kapten itu. “Kami akan membuktikan bahwa kami layak menerima kemewahan dari Anda! Kami akan berlatih! Kami akan menjadi berguna!”

​Para bajak laut lain ikut menundukkan kepala mereka berulang-ulang seperti sekelompok burung pelatuk yang sedang mematuk kayu.

​Madara menghela napas panjang. Mengurusi kebodohan manusia bukanlah keahliannya. Di dunia asalnya, dia hanya perlu memberikan perintah mutlak atau menghancurkan siapa pun yang banyak bicara.

​Dia melepaskan lipatan tangannya. Matanya melirik melewati kumpulan manusia bodoh itu, tertuju pada kapal layar kayu yang membuang sauh di perairan dangkal.

​Kapal itu terlihat lapuk dan kotor. Layarnya berlubang di sana-sini. Namun, itu adalah satu-satunya alat transportasi yang ada di pulau terpencil ini.

​Madara sangat membenci air dalam jumlah besar. Berenang melintasi lautan luas bukanlah sebuah pilihan. Dia tidak memiliki cukup chakra untuk berjalan di atas air selama berhari-hari. Dia juga tidak tahu arah mana yang harus dituju.

​Dia membutuhkan kapal itu. Dan yang lebih penting, dia membutuhkan orang yang bisa menggerakkan kapal itu tanpa dia harus mengotori tangannya sendiri dengan pekerjaan kasar.

​Madara menatap kembali ke arah kapten gemuk yang masih bersujud.

​Sebuah ide praktis muncul di kepalanya. Jika serangga-serangga ini bersikeras untuk menjadi budak yang setia karena kesalahpahaman mereka sendiri, maka dia akan memanfaatkannya.

​“Berhenti menangis seperti bayi,” perintah Madara dengan nada tajam.

​Suara tangisan itu berhenti seketika. Kapten gemuk itu mengangkat wajahnya, menatap Madara dengan penuh harap.

​Madara mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah kapal layar berlambang tengkorak di kejauhan.

​“Kapal itu. Apakah itu milik kalian?” tanya Madara singkat.

​Kapten itu mengangguk dengan cepat. Giginya yang tersisa bergemeretak.

​“Benar, Tuan! Itu adalah kapal kami! Bajak Laut Taring Berkarat!” jawabnya dengan bangga, meski tubuhnya penuh luka.

​“Kalian bajak laut,” ucap Madara pelan. “Itu artinya kalian tahu cara membaca arah angin dan lautan di dunia ini.”

​“Tentu saja, Tuan! Kami telah berlayar di West Blue selama lima tahun! Kami tahu setiap rute pulau dan jalur angin di sekitar perairan ini!”

​Madara tidak menunjukkan reaksi apa pun. Fakta bahwa mereka menyebut diri mereka pelaut berpengalaman meskipun gaya bertarung mereka sangat memalukan adalah sebuah ironi tersendiri. Namun, Madara tidak peduli. Selama mereka bisa mengemudikan kapal, itu sudah cukup.

​“Bagus,” kata Madara.

​Dia melangkah maju, berjalan melewati tubuh kapten gemuk itu tanpa melirik sedikit pun. Madara terus berjalan menuju arah perahu kayu kecil yang terdampar di pinggir pantai.

​“Kapal itu sekarang milikku,” suara Madara terdengar tegas tanpa memberikan ruang untuk penolakan. “Bersihkan geladaknya. Hilangkan bendera konyol itu. Aku tidak suka menumpang di tempat yang kotor.”

​Para bajak laut itu terdiam. Mereka saling berpandangan.

​Meminta seorang kapten bajak laut untuk menurunkan bendera Jolly Roger miliknya adalah sebuah penghinaan terbesar. Itu sama saja dengan membunuh harga diri kru tersebut secara permanen.

​Namun, kapten gemuk itu tidak merasa terhina. Wajahnya justru berbinar terang.

​Pemuda monster ini tidak membunuh mereka. Pemuda ini justru mengambil kapal mereka dan secara tidak langsung menjadikan mereka sebagai krunya. Ini adalah pengakuan tertinggi.

​“Kalian dengar apa yang dikatakan Tuan Agung?!” teriak kapten itu kepada anak buahnya.

​Dia melupakan rasa sakit di lututnya yang hancur. Menggunakan kekuatan lengannya, kapten itu memaksa dirinya untuk berdiri dengan satu kaki, bersandar pada pedang patah yang dia tancapkan di pasir.

​“Bersihkan kapal! Buang bendera lama kita! Mulai hari ini, kita melayani penguasa baru!”

​Semangat yang tidak wajar tiba-tiba merasuki para bajak laut yang terluka itu.

​Mereka yang lengannya terkilir memaksakan diri untuk menarik sendi mereka kembali ke tempat semula sambil meringis kesakitan. Mereka yang rusuknya retak mengikat dada mereka dengan sobekan kain kemeja agar bisa bernapas lebih baik.

​Mereka tertatih-tatih, merangkak, dan saling memapah satu sama lain untuk berdiri.

​Madara berdiri di dekat perahu kayu kecil, menatap proses itu dengan wajah tanpa ekspresi.

​Ini adalah pemandangan yang menggelikan. Sekelompok pria dewasa yang babak belur memaksakan diri untuk bekerja hanya karena kata-kata dingin yang disalahartikan.

​'Manusia yang dikendalikan oleh rasa takut dan harapan palsu akan selalu bergerak melampaui batas fisik mereka,' batin Madara.

​Ini adalah prinsip dasar manipulasi yang sering dia gunakan di masa lalu. Hanya saja kali ini, dia bahkan tidak perlu berbohong. Dunia ini sendiri yang memanipulasi kenyataan untuknya.

​Salah seorang bajak laut berlari tertatih-tatih menghampiri Madara. Dia menunduk hormat, tidak berani menatap langsung ke mata pemuda itu.

​“Tuan, kami akan segera menyiapkan perahu ini untuk membawa Anda ke kapal utama,” kata pria itu dengan suara gemetar.

​Madara tidak menjawab. Dia melangkah naik ke atas perahu kayu itu, duduk di kursi bagian belakang dengan tenang. Dia kembali menyilangkan tangannya di dada.

​Beberapa bajak laut dengan cepat mendorong perahu itu ke perairan yang lebih dalam, lalu melompat naik. Mereka mengambil dayung kayu dan mulai mendayung sekuat tenaga, mengabaikan rasa sakit di otot dan tulang mereka.

​Air laut memercik di sisi perahu. Jarak antara pantai dan kapal utama semakin dekat.

​Madara memejamkan matanya, merasakan angin laut yang berhembus.

​Matahari mulai bergerak turun di ufuk barat, memberikan warna jingga keemasan pada permukaan laut. Cahaya sore itu menyinari wajah Madara yang damai namun memancarkan aura dominasi mutlak.

​Dia telah mendapatkan transportasi. Dia telah mendapatkan pion-pion yang bisa mengerjakan tugas kasar.

​Langkah selanjutnya adalah mencari informasi. Dia harus tahu aturan main di dunia ini. Dia harus tahu seberapa luas lautan ini. Dia harus mencari tempat di mana para penguasa sejati berkumpul.

​Dunia bajak laut yang kejam ini telah menyambutnya dengan tarian yang membosankan dan kepatuhan yang konyol. Namun Madara tahu, di balik lautan yang tenang ini, pasti ada monster-monster lain yang menunggu untuk diuji kekuatannya.

​'West Blue, Grand Line, Buah Iblis...'

​Kata-kata yang dia curi dengar dari teriakan kapten bajak laut tadi mengambang di pikirannya.

​Madara membuka sebelah matanya, menatap lautan luas di hadapannya.

​“Mari kita lihat, seberapa banyak dunia ini bisa menghiburku,” gumamnya pelan.

​Perahu kayu itu akhirnya menabrak sisi lambung kapal utama. Suara benturan kayu terdengar pelan. Para bajak laut segera melemparkan tali dan tangga kayu ke bawah.

​Madara berdiri. Dia tidak menunggu tangga kayu itu diturunkan sepenuhnya.

​Hanya dengan satu tolakan ringan dari kakinya, tubuhnya melesat ke atas, melompati pagar pembatas kapal setinggi beberapa meter, dan mendarat dengan suara tapak kaki yang sangat pelan di atas geladak kayu kapal Bajak Laut Taring Berkarat.

​Tarian pertama telah usai. Sang Hantu Uchiha kini secara resmi menginjakkan kakinya di arena permainan dunia One Piece.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!