NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~06

Suasana kamar Ndalem kembali ramai. Setelah seluruh pekerjaan dapur selesai, beberapa santri tampak langsung merebahkan diri di atas lantai, sementara yang lain bersiap-siap untuk mandi.

"Tolong ambilin handuk, Ran," pinta Sindi.

Ia berdiri sambil mendekap seluruh peralatan mandinya. Tubuhnya yang mungil membuat Sindi kesulitan menjangkau gantungan yang tinggi.

Beruntung ada Rani, sahabatnya yang tinggi dan bisa meraih apa saja tanpa perlu bantuan tongkat.

"Nih," ujar Rani sambil menyodorkan handuk berwarna merah.

"Makasih, cintaku, pahlawanku..." sahut Sindi dengan mode dramatis yang mendadak aktif.

"Iya, iya. Cepat sana," jawab Rani santai.

"Aku mandi duluan, ya. Sebelum udara sore ini makin menusuk tulang. Tubuh ringkihku ini tidak akan kuat menahan gempuran air yang dinginnya merasuki jiwa," ucap Sindi lagi, kali ini sambil mengangkat satu tangan ke udara seolah sedang berpuisi di atas panggung teater.

"Lebay! Mulai deh dramanya," sahut Sinta yang gemas melihat tingkah sahabatnya itu.

Sindi hanya menyengir lebar. "Maaf, Sin. Duluan ya, Assalamu'alaikum!"

"Waalaikumsalam..." jawab mereka serentak

Di tengah riuhnya suasana, Zia mendadak muncul di ambang pintu dengan wajahnya tampak sangat lemas.

"Assalamualaikum," sapa Zia lirih.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seisi kamar kompak.

"Kok lemas banget, Mbak? Kenapa?" tanya Sindi yang sebenarnya sudah siap melangkah ke kamar mandi, tetapi mendadak penasaran.

Zia hanya menghela napas panjang sebelum duduk bersandar.

"Kenapa? Cerita dong di sini," tawar Rara yang ikut khawatir melihat wajah lesu kakak seniornya.

"Iya, Mbak, ada apa? Apa yang Abah sampaikan sampai kamu jadi seperti remahan kerupuk gini? Jangan-jangan kamu disuruh menikah cepat ya? Saranku jangan dulu, Zi! Kami masih mau bersama kamu di sini!" cerocos Ratna tanpa titik koma. Mereka semua memang sudah tahu perihal panggilan Abah tadi, karena Zia sudah berizin tidak ikut ke dapur.

"Bukan begitu," kata Zia sambil selonjoran untuk melemaskan otot-kaki yang tegang.

Ia pun mulai menceritakan semua rentetan peristiwa yang terjadi di ruang tamu bersama Abah dan Zizan.

"MasyaAllah, Mbak! Aku yakin kamu pasti bisa!" seru Sindi bangga setelah mendengar cerita itu.

"Iya, Mbak. Kita ikut seneng dengarnya," sahut Rara menimpali.

Lagian, kenapa harus sedih? Kamu, kan, sudah menguasai segalanya. Jangankan Nahwu Shorof, semua kitab fikih pun pasti bisa kamu babat habis. Siapa, sih, yang bisa mengalahkan juara bertahan kita ini?" gumam Ratna sambil menepuk-nepuk pundak Zia dengan semangat berapi-api.

"Betul itu! Kenapa harus takut, Mbak? Semua materi itu, kan, sudah di luar kepala," Sindi menambahkan.

"Apaan, sih, kalian ini. Aku nggak bisa apa-apa," ujar Zia merendah.

"Kalau kamu yang jenius gitu ngerasa nggak bisa apa-apa, lalu kami ini apa? Butiran debu?" canda Sindi.

"Udahlah, kita yakin kamu pasti bisa. Semangat!"

Zia kembali menghela napas panjang. "Saingannya pasti berat banget." Ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan lesu.

"Pokoknya, siapapun lawanmu nanti, kamu pasti menang! Kamu pasti bisa, dan kita akan selalu dukung kamu!"

Mereka berempat pun langsung berhamburan untuk berpelukan.

Sebuah momen hangat penuh haru tercipta cukup lama, sampai akhirnya hidung Zia menangkap aroma yang sangat menyengat dan asing di hidungnya.

Ueekk!!

"Hih, kalian belum pada mandi, ya?!" Zia langsung melepaskan pelukan hangat bercampur aroma "sangit" yang sangat memabukkan itu.

"Memang belum, wleee!" jawab mereka serentak tanpa rasa berdosa, lalu langsung berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Zia yang terdiam sendirian.

"Dasar kalian! Awas, ya!" teriak Zia kesal.

***

Beberapa saat kemudia setelah lamanya Zia sendirian. Salsa masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah kantong kresek hitam berisi kotak makanan.

"Assalamualaikum, Zia," sapa Salsa.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zia lembut. "Kamu dari mana, Mbak Sal? Kok bawa kresek? Isinya apa, tuh? Aromanya harum sekali."

"Iya, ini memang buat kamu." Salsa menyodorkan kantong kresek berisi martabak manis tersebut kepada Zia.

"Serius? Wah, terima kasih banyak!" Zia menerimanya dengan senyum semringah. "Tahu saja kalau aku sedang lapar."

Salsa terkekeh geli sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang sukses membuat jantung Zia berdegup kencang.

Namun, sebelum membuka kotak tersebut, Zia sempat menginterogasi sahabatnya.

"Kamu beli di mana?"

"Aku tidak beli. Itu dari Mas Charis untuk calon istrinya," goda Salsa.

Seketika wajah Zia memanas, dan rona merah langsung menjalar di pipinya.

"Serius? Kok bisa? Dia bilangnya bagaimana?" tanya Zia bertubi-tubi, mencoba menahan rasa penasaran yang membuncah.

"Iya, jadi begini. Tadi saat aku sedang berjalan-jalan di depan kompleks, aku lihat Jihan, adiknya Mas Charis keliatan kebingungan. Aku tanya, dia bilang mau ketemu Mas Charis karena pesan kemarin itu, tetapi takut kalau sendirian. Akhirnya dia minta aku buat temani sampai urusannya selesai. Padahalkan sebenarnya nggak ditemani pun nggak masalah cuma dia bingung aja. Terus karena aku disana, Mas Charis nitipin martabak ini lewat aku buat kamu," jelas Salsa panjang lebar.

"Oh, gitu? Jadi, kamu bertiga bersama Mas Charis dan Jihan?" tanya Zia, berusaha bersuara setenang mungkin. Walaupun di dalam lubuk hatinya ada sedikit riak cemburu yang menggelitik, ia mencoba menepis perasaan itu agar tidak salah paham pada sahabatnya.

"Iya, maaf banget, ya. Aku nggak macam-macam kok di sana. Aku cuma duduk di pojokan sambil baca buku. Serius!" Salsa menjelaskan dengan mengacungkan dua jari membentuk tanda damai sekaligus isyarat janji.

"Iya, iya, aman. Kamu, kan, sahabat terbaikku, nggak mungkin bertingkah aneh sama calon suamiku," ucap Zia menenangkan.

"Lagipula, aku justru berterima kasih sama kamu. Kemarin kamu udah bantu menyampaikan pesan ke Jihan, sekarang kamu bantu dia lagi saat kebingungan. Malah aku yang dapat jatah jajan. Harusnya kotak ini buat kamu aja." Zia menyodorkan kembali kotak makanan itu ke hadapan Salsa.

"Ih, apa-apaan, sih! Santai aja, kamu kan sahabatku," tolak Salsa tegas.

"Khusus untuk martabak ini, maaf ya, ini mandat suci dari calon suami untuk calon istri. Jadi, wajib kamu yang makan. Oke?"

Zia tertawa kecil. Pipinya kini sudah merona hebat karena salah tingkah.

Di tengah obrolan asyik mereka, Sindi yang sudah selesai mandi melangkah masuk ke kamar.

"Hmm... bau apa ini?" Hidung Sindi mendadak sangat aktif jika menyangkut urusan makanan. Matanya langsung tertuju pada kotak bergambar koki di depan Zia.

"Wah, wah, ada makanan enak, nih! Bagi dong, Mbak," goda Sindi.

"Ini khusus untuk Zia, ya. Namamu tidak terdaftar di daftar makanan ini," ketus Salsa bercanda membela Zia.

"Tidak apa-apa, ayo kita makan bersama," ajak Zia.

"Huuu, tuh dengar! Sama pemiliknya aja boleh kok, Mbak," ejek Sindi ke arah Salsa dengan raut wajah penuh kemenangan.

Zia kemudian membuka tutup kotak martabak tersebut. Namun, begitu kotak terbuka, Zia hanya menatap nanar isinya. Ia sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menyodorkan kotak itu ke depan Salsa dan Sindi tanpa mengambil satu potong pun.

"Kenapa, Mbak? Kok nggak diambil?" tanya Sindi heran.

"Kalian duluan aja," ujar Zia. Ia mencoba tetap tersenyum meskipun hatinya agak terenyuh. “Kenapa rasa keju, sih? Mas Charis, kan, tahu kalau aku nggak suka keju,” batin Zia sedih sekaligus sedikit kecewa.

"Ayo, Zi, ambil satu!" Salsa mengambil sepotong martabak dan menyodorkannya tepat di depan bibir Zia, berusaha menyuapinya.

Zia refleks memundurkan kepalanya sedikit. "Kamu kan tahu sendiri, Mbak Sal, aku nggak suka keju," jawab Zia lemas.

Sindi yang melihat itu langsung mengambil alih situasi dengan mata berbinar-binar.

"Apa? Kamu nggak suka keju? Kalau begitu, nasib martabak malang ini bagaimana? Biar aku saja yang mengamankannya dari kemubaziran! Oke deh, aku siap mengorbankan lambungku demi menghabiskan makanan selezat ini!" ucap Sindi kembali dramatis seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah sedang memimpin upacara kemerdekaan.

Salsa langsung melirik Sindi dengan tatapan datar, lalu menyentil dahi Sindi pelan dengan ujung jarinya. "Doa mulu dari tadi biar Zia beneran nggak doyan, kan? Lagian, judulnya 'mengorbankan lambung' tapi muka kamu seketika secerah masa depan gitu, Sin! Itu namanya modus berkedok aksi kemanusiaan!" ketus Salsa yang langsung membuat Sindi menyengir tanpa dosa.

"Hehehe, tahu aja Mbak Sal. Kan mubazir kalau didiemin, nanti martabaknya nangis," sahut Sindi membela diri sembari tangannya sudah gerak cepat mencomot potongan martabak yang kedua.

Salsa yang paham akan kekecewaan di wajah Zia segera mencoba menenangkannya. "Oh iya, Zi! Aku lupa. Nanti aku bilang ke Mas Charis ya, biar diganti yang baru," tawar Salsa prihatin.

"Enggak, nggak usah. Dia ingat buat beli ini aja aku udah sangat berterima kasih. Itu tandanya dia perhatian. Kalau masalah rasa keju ini, mungkin dia lupa karena pekerjaannya lagi banyak," jawab Zia, mencoba membela sang calon suami demi menghibur hatinya sendiri.

"Ehem, romantisnya..." sindir Sindi yang mulutnya sudah penuh karena sedang mengunyah potongan martabak yang ketiga.

"Silahkan dihabisin aja. Lagipula, keju ini kan rasa favoritmu, Mbak Sal. Makanlah," pinta Zia, tahu betul bahwa Salsa adalah pencinta keju garis keras.

"Wah, terima kasih banyak, Zia!" Salsa tersenyum lebar dan langsung menyantapnya dengan bahagia.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!