Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPANIKAN DI BALIK DINDING EMAS
Aula megah Istana Kerajaan Silversnow malam itu dipenuhi oleh kilauan cahaya lampu gantung kristal dan aroma anggur kelas atas. Musik klasik mengalun indah, mengiringi tawa dan obrolan para bangsawan yang mengenakan pakaian terbaik mereka.
Pesta malam ini diadakan khusus untuk merayakan keberhasilan Putri Alicia sang genius baru kerajaan yang baru saja memantapkan posisinya di Penyihir Lingkaran 3, sekaligus merayakan pengumuman resmi pembatalan pertunangan Elena yang "cacat".
Di tengah aula, Pangeran Mahkota Julian berdiri dengan gagah, mengenakan setelan kerajaan berwarna biru tua berhias sulaman emas. Di sampingnya, Alicia bersandar dengan manja, mengenakan gaun sutra merah muda yang senada dengan warna rambutnya.
"Julian, apakah menurutmu para ksatria yang kamu utus sudah menyelesaikan tugas mereka di Frozen Abyss?" bisik Alicia sambil menyesap anggur di gelasnya, matanya berkilat penuh kelicikan. "Aku hanya ingin memastikan bahwa si pembawa aib itu benar-benar tidak akan pernah kembali menodai nama baik keluarga kita."
Julian tersenyum meremehkan, lalu mengusap rambut Alicia dengan lembut. "Jangan khawatir, Alicia sayang. Jangankan manusia tanpa mana seperti Elena, ksatria elit sekalipun tidak akan bertahan satu jam di dalam hutan terlarang itu.
Saat ini, tubuhnya pasti sudah dicabik-cabik oleh monster atau mati membeku menjadi bongkahan es tak berguna. Kamu tidak perlu memikirkan sampah seperti dia lagi."
Raja Alistair von Silversnow yang duduk di atas tahta emasnya di ujung aula tampak mengangguk puas melihat kebersamaan mereka. Baginya, Elena hanyalah sebuah noda hitam dalam sejarah panjang kerajaan penyihir es mereka. Membuangnya adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat.
Namun, kedamaian dan kemewahan pesta itu mendadak hancur berantakan.
BANG!
Pintu gerbang ganda aula istana yang berlapis baja tebal tiba-tiba didorong terbuka dengan paksa dari luar. Bunyi dentuman itu begitu keras hingga membuat musik klasik seketika terhenti. Seluruh bangsawan di dalam aula menoleh ke arah pintu dengan ekspresi terkejut dan marah.
"Siapa yang berani mengacaukan pesta kerajaan—" Kata-kata perdana menteri tersangkut di tenggorokannya saat melihat sosok yang merangkak masuk.
Itu adalah Gavin.
Ksatria muda itu berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Zirah perak beratnya yang berlogo mawar es telah hancur dan retak di berbagai tempat. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya membiru, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Yang paling mengerikan adalah seonggok kabut hitam keunguan berbentuk tato mawar es yang berdenyut di balik dadanya yang terekspos karena zirahnya pecah.
"T-Tolong... Yang Mulia..." Gavin merangkak di atas lantai marmer istana yang mengkilap, meninggalkan jejak es tipis berwarna hitam di setiap tempat yang disentuhnya.
"Gavin?!" Julian melangkah maju dengan kening berkerut dalam, matanya memancarkan kemarahan. "Kenapa kamu kembali sendirian dalam kondisi menjijikkan seperti ini?! Di mana Kapten dan ksatria lainnya?!"
Raja Alistair berdiri dari tahtanya, aura menakutkan seorang Penyihir Lingkaran 6 langsung menekan seluruh ruangan. "Bicara, Ksatria! Apa yang terjadi di Frozen Abyss?!"
Gavin mendongak, menatap Julian dan Raja dengan mata yang dipenuhi ketakutan yang begitu murni hingga membuat beberapa bangsawan wanita di aula bergidik ngeri.
"P-Putri Elena..." suara Gavin bergetar hebat, giginya gemeretak karena kedinginan yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri. "Dia... dia belum mati..."
"Apa?!" Alicia memekik, gelas anggur di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di lantai. Wajah cantiknya seketika mengeras.
"Jangan bicara omong kosong! Dia tidak punya mana! Bagaimana mungkin dia bisa bertahan hidup di dalam Frozen Abyss?!"
"Saya tidak berbohong, Putri Alicia!" jerit Gavin, air matanya menetes namun langsung membeku menjadi butiran es sebelum menyentuh dagunya.
"Dia bukan lagi putri yang lemah! Rambutnya... rambutnya berubah menjadi putih perak berkilau! Dan energinya... energinya sangat mengerikan!
Kapten dan tiga ksatria lainnya... mereka semua tewas... dihancurkan dalam satu detik... hanya dengan satu gerakan jarinya!"
Mendengar kata "dihancurkan dalam satu detik", aula istana yang tadinya bising langsung menjadi sunyi senyap bagaikan kuburan. Ksatria elit yang dikirim oleh Julian semuanya adalah Penyihir Kesatria Lingkaran 2 dan 3. Untuk menghabisi mereka semua dalam satu detik, kekuatan macam apa yang dibutuhkan?
"Sihir tingkat tinggi..." Raja Alistair bergumam, matanya menyipit tajam. "Lingkaran berapa sihir yang digunakannya hingga bisa membunuh ksatria elitku dengan begitu mudah?!"
"L-Lingkaran 6... Tahap Puncak, Yang Mulia Raja..." jawab Gavin dengan tubuh yang mulai kaku.
BUM!
Kata-kata Gavin bagaikan petir di siang bolong yang menghantam seluruh isi istana. Lingkaran 6 Tahap Puncak?! Itu adalah tingkat kekuatan yang sama dengan sang Raja sendiri! Bagaimana mungkin seorang gadis remaja yang terlahir tanpa mana tiba-tiba melompat menjadi salah satu makhluk terkuat di benua ini dalam waktu beberapa hari setelah dibuang?
"Kau pasti sudah gila, Gavin! Berani-beraninya kau membual untuk menutupi kegagalan tugasmu!" bentak Julian dengan wajah memerah karena murka. Ia menghunus pedang sihirnya dan mengarahkannya ke leher Gavin. "Katakan yang sebenarnya, atau aku sendiri yang akan memenggal kepalamu di sini!"
"S-Saya bersumpah demi jiwa saya, Pangeran Julian!" tangis Gavin semakin histeris. Tubuhnya kini mulai dipenuhi oleh garis-garis es hitam yang merambat dari dadanya menuju leher. "Putri Elena... dia menitipkan sebuah pesan untuk Anda dan Putri Alicia..."
"Pesan apa?!" tanya Julian berang.
Gavin menarik napas pendek yang menyiksa, ingatan akan senyuman dingin Elena di tengah badai salju kembali berputar di otaknya. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, ia meneriakkan kata-kata yang diperintahkan oleh sang Ratu Es:
"Dia berkata... 'Elena yang tidak berguna telah mati. Dan maut kalian baru saja lahir. Kembalilah dan katakan pada Julian dan Alicia... hitung mundur kehancuran kerajaan kalian telah dimulai sejak hari ini.'"
Begitu kata terakhir selesai diucapkan, tato mawar es hitam di dada Gavin mendadak menyala terang benderang.
CRACK... CRACK... CRACK!
"AAAGHHH!" Gavin menjerit memilukan saat es hitam pekat menjalar ekstrem keluar dari dalam kulitnya. Hanya dalam hitungan dua detik, seluruh tubuh ksatria muda itu membeku total, berubah menjadi sebuah patung es hitam legam yang berdiri kaku di tengah aula pesta yang mewah.
Dan kegelapan tidak berhenti sampai di situ.
PRANG!
Patung es Gavin tiba-tiba meledak, hancur berkeping-keping menjadi debu hitam yang langsung menguap ke udara, tidak meninggalkan satu pun sisa dari tubuh sang ksatria selain rasa ngeri yang luar biasa bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Kutukan Es Jantung Dewa telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna.
Alicia jatuh terduduk ke lantai, tubuhnya gemetar hebat melihat bagaimana seorang ksatria hancur menjadi debu di depan matanya sendiri. Ketakutan mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang sombong. "Julian... bagaimana ini... apakah Elena benar-benar akan datang untuk membunuh kita?"
Julian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan yang luar biasa membakar dadanya, menutupi rasa takut yang mulai menggelitik nuraninya. "Diam, Alicia!
Aku yang telah membuangnya, dan aku pula yang akan memastikannya mati untuk kedua kalinya! Ayah, kita tidak bisa membiarkan penyihir sesat seperti dia mengancam tahta kita!"
Raja Alistair berdiri tegak, auranya dingin dan penuh otoritas mutlak, meskipun ada sedikit kilatan kecemasan di matanya. "Perdana Menteri, batalkan pesta ini sekarang juga! Kumpulkan seluruh Jenderal Kerajaan dan umumkan status siaga satu. Kita akan mengirim pasukan salju skala penuh untuk mengepung Frozen Abyss. Siapa pun atau apa pun yang ada di dalam hutan itu... harus dimusnahkan tanpa sisa!"
Malam itu, kemewahan Kerajaan Silversnow resmi berakhir, digantikan oleh bayang-bayang ketakutan dari sang Ratu Es yang sedang mengintai mereka dari kegelapan utara.