Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusasaan Zidan
Kuasa hukum Zidan mencoba menyela dengan suara ragu. "Yang Mulia, klien kami memohon agar proses pembagian harta bersama dapat dipertimbangkan kembali secara kekeluargaan, mengingat sebagian aset—"
"Keberatan, Yang Mulia!" potong Arya dengan suara lantang dan penuh penekanan. Ia berdiri tegap, menatap lurus ke arah hakim dan tim kuasa hukum lawan. "Tergugat telah terbukti secara sah menyalahgunakan dana bersama rumah tangga untuk membiayai perzinahan dan fasilitas pihak ketiga. Kami telah melampirkan seluruh mutasi rekening, bukti transaksi, serta rekaman yang menunjukkan aliran dana illegal tersebut. Tidak ada lagi porsi yang layak bagi Tergugat atas harta gono-gini tersebut!"
Hakim Ketua menyimak argumen Arya sembari meneliti lampiran mutasi bank yang diajukan. "Keberatan diterima. Seluruh bukti arus kas akan menjadi pertimbangan utama majelis hakim dalam putusan penyitaan aset."
Zidan yang mendengarnya makin terpukul. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia tidak hanya terancam kehilangan Amanda, tetapi seluruh harta, rumah, kendaraan, dan tabungan yang selama ini ia banggakan akan dirampas habis secara hukum.
"Amanda..." panggil Zidan lirih dari kursi tergugat saat majelis hakim sedang mencatat poin-poin persidangan. Suaranya serak dan memelas. "Tolong... jangan hancurkan aku sampai seperti ini..."
Amanda sama sekali tidak menoleh. Ia tetap menatap depan dengan kepala tegak, menyerahkan seluruh proses kepada Arya yang berdiri kokoh melindunginya.
Hakim Ketua mengetuk palu sekali. "Sidang ditunda hingga minggu depan dengan agenda penyerahan bukti tambahan dan putusan sela mengenai penyitaan jaminan aset Tergugat. Sidang hari ini selesai dan ditutup."
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Palu berbunyi nyaring. Saat majelis hakim meninggalkan ruangan, Arya segera mendampingi Amanda berdiri. Zidan mencoba bangkit untuk mendekati Amanda, namun dua petugas kepolisian langsung memasang badan dan menahannya untuk kembali dibawa ke tahanan penjara terkait kasus pidana perzinahan.
"Amanda! Maafkan aku, Amanda!" teriak Zidan histeris saat diseret keluar dari ruang sidang.
Amanda berjalan keluar ruang sidang dengan langkah mantap di samping Arya. Teriakan penyesalan Zidan hanya menjadi angin lalu yang tak lagi sanggup menyentuh hatinya.
Di luar gedung pengadilan, angin siang berembus cukup kencang membawa kesegaran. Suasana hiruk-pikuk awak media yang sempat menunggu kini perlahan terurai saat Arya dengan cekatan membimbing Amanda melewati kerumunan menuju area parkir.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan menyisakan ketenangan di dalam kabin, Amanda menghela napas panjang. Beban berat yang tadinya mengimpit pundaknya seolah menguap bersama ketukan palu hakim di ruang sidang tadi.
Tiba-tiba, suara halus memecah keheningan. "Aku lapar," ucap Amanda lirih sembari menoleh ke arah Arya, mengulas senyum tipis yang jujur tanpa beban. "Ayo kita cari makan."
Arya terkekeh pelan. Binar matanya berbinar cerah menatap Amanda. Suasana kaku sebagai pengacara dan klien di ruang sidang tadi seketika meleleh berganti kehangatan dua insan yang saling memahami.
"Siap, Tuan Putri," goda Arya santai sembari menyalakan mesin mobil. "Hari ini kamu berhasil melewati babak pertama dengan sangat luar biasa. Kamu berhak memilih makanan apa saja yang kamu mau."
"Aku mau sup daging hangat di warung langganan kita zaman kuliah dulu," jawab Amanda tanpa ragu. "Masih ada tidak, ya?"
Arya tersenyum makin lebar, mengingat warung makan sederhana dekat kampus yang dulu sering mereka kunjungi bersama teman-teman seangkatan. "Masih buka. Tempatnya tidak berubah sama sekali. Ayo kita ke sana."
Mobil sedan hitam itu pun melesat membelah lalu lintas kota menuju sudut kenangan mereka. Di perjalanan, Amanda menatap keluar jendela dengan pendar mata yang memancarkan kehidupan baru. Rasa lapar yang ia rasakan bukan lagi sekadar lapar fisik, melainkan pertanda bahwa jiwanya yang sempat mati rasa kini telah kembali bernapas dan siap menikmati setiap momen sederhana dalam hidupnya.