Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAGUM BERAT
Pevita tak sengaja melihat pop up layar ponsel Kala saat si empunya sedang mandi, ada pesan dari nama kontak Ayun. Pevita mengerutkan dahi, karena nama kontak itu mengirim 5 pesan. Kalau gak penting gak mungkin kirim sebanyak itu.
"Ponsel kamu bunyi terus, berisik!" protes Pevita sedikit sewot, apalagi Ayun tak hanya kirim pesan melainkan sempat missed call juga. Kala tak perlu menjawab, melihat ponselnya sebentar, lalu melemparnya ke kasur. Pevita melihat sang suami tak ada niatan untuk membalas. Apa mungkin karena Pevita sudah tahu ponselnya berbunyi terus, jadi Kala mengabaikan pesan itu untuk sementara.
"Kenapa gak dibalas? Yang chat cewek? Gak usah sungkan sama gue, kalau memang mau balas," Pevita ingin tahu omongan Kala bisa dipegang gak, soal kesetiaan.
"Hanya teman, ribet amat dia. Malas buat balas!" jawab Kala. Pevita mengedikkan bahu saja. Dia melihat Kala yang mengenakan kaos dan celan jeans, sepertinya dia mau keluar. Tiba-tiba otak Pevita menaruh curiga, jangan-jangan teman cewek Kala itu mengajak kencan. Maklum senin besok, masa perkuliahan sudah dimulai.
"Mau keluar?" tanya Pevita. Kala mengangguk. "Ke mana?"
"Cari keperluan kuliah," jawab Kala cuek. Memang settingan Kala sebenarnya cuek, ditambah omongan Pevita sering sekali meremehkan dirinya karena alasan usia.
"Sama teman kamu tadi?" tanya Pevita lagi. Entah kenapa dia amat kepo dengan pertemanan Kala dengan perempuan itu. Apalagi si cewek terkesan agresif sekali. Pevita bisa membayangkan, sebaik-baiknya laki-laki kalau terus dipepet ya bisa saja luluh.
"Enggak, sendiri," jawab Kala. "Atau Mbak mau ikut? Sekalian kencan?" tawar Kala sembari menebar senyum tanpa dosa. Ya masih usaha juga buat dekat dengan sang istri. Cuma kalau Pevita mode julid, Kala diam saja, tak peduli.
"Naik motor sendiri? Ogah!" tolak Pevita sewot.
"Emang mau aku bonceng?" sindir Kala, kan Pevita sendiri yang bilang gak usah ribet soal pernikahan. Kalau mau keluar sama Kala, ya harus mau dibonceng, atau kalau enggak ya naik motor sendiri. Pantang bagi Kala bawa mobil miliki papa mertuanya, meski diizinkan juga, sungkan saja. Fasilitas diberikan, malah dirinya terkesan mokondo malah.
"Naik mobilku aja!" ujar Pevita, "Bisa nyetir?" Kala mengangguk. Bahkan dia sudah punya sim A kok.
Keduanya sudah siap keluar, kalau berjalan beriringan begini terlihat seperti kakak adik, "Kencan nih ye," Tante Lily meledek ponakan dan anak tirinya saat keduanya pamit mau pergi.
"Ya dong, masa' cuma bunda sama papa yang bisa kencan," ucap Pevita sembari mencium tangan ibu tirinya tersebut.
"Aku ikut boleh?" pinta Dio, adik Pevita yang baru berusia 8 tahun. Langsung dicegah oleh Tante Lily, jangan sampai sang putra merecoki pengantin baru yang entah sampai kapan bisa akur.
"Nanti keluar sama bunda dan papa saja ya Dio," ujar Tante Lily, dan Dio hanya bisa cemberut saja. Memang dia sangat dekat dengan Pevita, ya maklum selama ini Pevita anak tunggal, dan saat usia 10 tahun sang papa baru menikah lagi dengan Tante Lily, jadi saat Dio lahir, Pevita bahagia sekali, serasa punya teman main padahal terpaut 12 tahun dengan si anak gemoy itu.
Kala dan Pevita berangkat menuju mall, mode akur terlihat jelas keduanya, apalagi di dalam mobil mereka bernyanyi bersama menirukan bait lagu yang diputar.
Bahkan sebuah keajaiban, Pevita mengajak selfie sang suami saat lampu merah. Suasana akrab tersebut terpaksa buyar karena ponsel Kala berdering. Tertulis nama Ayun lagi.
"Dia siapa sih, Cil? Kok sering banget telepon lo. Bukannya tadi pagi juga telepon? Ada kepentingan apa?" tanya Pevita lama-lama risih juga. Kala hanya mengedikkan bahu.
"Aku juga gak tahu. Spam chat juga, malas buat balas. Kalau mau tahu angkat aja," ujar Kala saat ponselnya diletakkan di holder dashboard.
"Gak pa-pa?" tanya Pevita memastikan, jiwa pelindung istri dari pelakor mendadak aktif, diberikan izin untuk mengangkat telepon dari teman wanitanya, tidak akan Pevita sia-siakan, daripada jadi bisul.
"Angkat aja!" Kala mempersilahkan, dan Pevita langsung menekan tombol terima, tak lupa loudspeaker dinyalakan juga.
"Iya halo!" sapa Pevita sembari melirik Kala yang masih fokus di jalan.
"Halo? Kok? Ini ponselnya Kalandra bukan?" tanya Ayun memastikan.
"Iya ini ponsel Kalandra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pevita gemas juga, jiwa mak lampirnya ingin segera melabrak, tapi ia masih waras untuk jaga image. Jangan sampai Kala menganggap Pevita cemburu.
"Kamu siapa? Kok bisa pegang ponselnya Kala?" tanya Ayun dengan nada sedikit sewot, Kala dan Pevita saling tatap sebentar. Sungguh, Pevita sudah tak tahan mau berkata kasar.
"Aku istrinya!" jawab Pevita tegas. Rasanya jantung Kala berdegup kencang, wajah memang dikontrol agar tidak terlihat bahagia, dan lagi bibir ingin tertawa bahagia juga ditahan, agar Pevita tak canggung dan ngomel. Kala tahu gengsi sang istri masih setinggi gunung Himalaya.
"Oh istrinya. Jadi benar ya Kala sudah menikah, aku kira Kala hanya mengarang saja. Ya maklum dia ganteng banget, pasti banyak cewek yang naksir dia."
Pevita mengerutkan dahi, penjelasan Ayun kok bikin dirinya ingin mengomel ya. Masalahnya Ayun baru kenal Kala sudah seberani ini, apa kabar kalau sudah sering kerja kelompok, makin menjadi pasti.
"Bukannya dia saat malam inagurasi sudah bilang kalau punya istri ya. Kayak gak percaya banget, atau kamu sangat mengharap buat jadi ceweknya Kala? Sekarang sudah tahu kan kalau dia sudah punya istri, saya harap sadar aja buat gak cari perhatian ke suami orang!"
"Ya pokoknya jangan batasi saja Kala buat berteman, lagian masih muda banget kenapa harus menikah sih. Kamu hamil duluan?" makin berani saja Ayun ngomong gak jelas.
"Yun. Yang sopan, lo orang luar gak patut lah sok tahu pernikahan gue!" terpaksa Kala bersuara. Mendengar ocehan Ayun, telinganya ikut panas.
"Kala, please!"
"Kalau mau caper. Cari cowok lain aja ya Mbak, daripada aku viralin dengan sebutan pelakor!" sahut Pevita mode jutek.
"Gak usah lebay, Mbak. Palingan juga gak lama pernikahan kalian."
"Mulut! Lo ngeselin banget jadi cewek!" sentak Pevita ikut marah juga kalau disumpahi cerai, padahal sampai saat ini, mereka saja belum menjalani pernikahan seperti pasangan pada umumnya.
"Emang lo ngapain aja sih sama dia, bisa-bisanya dia naksir berat gitu sama lo!" setelah memutus panggilan, giliran Kala yang diomeli Pevita.
"Aku gak ngapa-ngapain. Mungkin pesonaku yang terlalu beraura, sampai cewek pun mendekati dengan sendirinya!"
"Terus lo bangga?"
"Biasa aja."
"Awas saja kalau lo menanggapi cewek agresif kayak dia, gue bakal marah dan gak bakal percaya sama tabiat lo!" ancam Pevita sudah mulai mengakui bahwa Kala adalah suaminya, dan tak boleh ada yang mengganggu atau menggodanya.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh