Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6 Gadis Angkuh
Kabar tentang Raden Ayu Anggraini meninggalkan Puri Timur dengan mata merah menyebar lebih cepat daripada bau dupa.
Menjelang siang, Anindya sudah mendengar tiga versi. Versi pertama mengatakan Pangeran Mahkota murka karena Anggraini menyinggung Putri Mahkota. Versi kedua mengatakan Anggraini sengaja menangis agar dikasihani. Versi ketiga, yang paling berbahaya, menyebut Anindya sebagai istri baru yang cemburu.
Wulan menutup pintu kamar dengan wajah kesal. "Mereka berani sekali, Gusti Putri. Padahal semua terjadi di depan mata hamba."
Anindya menutup buku catatannya. "Di keraton, yang terjadi tidak selalu penting. Yang diceritakan orang sering lebih kuat."
"Lalu Gusti akan diam saja?"
"Untuk hari ini, iya."
Ia tidak ingin terlihat sibuk membela diri pada saat baru memasuki Puri Timur. Namun ia mengambil selembar kertas kecil dan menulis tiga nama dayang yang membawa kabar berbeda. Wulan melihatnya, lalu mengerti tanpa perlu diperintah.
"Cari tahu dari dapur mana kabar itu keluar," kata Anindya.
"Baik, Gusti."
Dadanya tetap terasa tidak nyaman. Kalimat Arjuna kemarin masih terngiang, tetapi desas-desus pagi ini mengingatkannya bahwa perlindungan seorang pangeran pun bisa berubah menjadi pisau bila orang lain memutar ceritanya.
Seorang abdi dalem datang memberi hormat. "Gusti Putri, Raden Ayu Sinta datang."
Wulan langsung menegang.
Anindya mengenal nama itu. Putri muda dari cabang keluarga kerajaan, dimanjakan sejak kecil, dan kabarnya tidak pernah menyembunyikan keinginannya terhadap Arjuna.
"Ia datang untuk apa?"
"Memberi salam, Gusti. Ia berkata masih kerabat istana, jadi tidak perlu menunggu undangan."
Anindya hampir tersenyum. Orang yang berkata tidak perlu menunggu izin biasanya justru datang untuk menguji batas.
"Terima di taman depan. Jangan di kamar dalam."
***
Raden Ayu Sinta masuk seperti seseorang yang yakin semua mata memang seharusnya mengikutinya.
Kebayanya merah terang, gelang emas bertumpuk di pergelangan, dan dagunya terangkat sedikit. Ia tidak menunduk serendah Anggraini. Ia memberi hormat kepada Anindya hanya cukup untuk disebut sopan, tidak cukup untuk disebut hormat.
"Gusti Putri ternyata lebih sederhana daripada yang kubayangkan," katanya sambil duduk sebelum dipersilakan.
Wulan menahan napas.
Anindya menuangkan teh dengan tenang. "Kesederhanaan membuat orang lebih mudah bergerak."
Sinta menatapnya dari ujung kepala sampai tangan. "Atau membuat orang mudah dilupakan."
Sebelum Wulan sempat bereaksi, suara Arjuna terdengar dari belakang.
"Siapa yang mudah dilupakan?"
Sinta langsung berdiri. Wajahnya berubah cerah seolah matahari baru masuk ke taman. "Yang Mulia."
Arjuna berjalan mendekat, diikuti Adi. Tatapannya menyapu meja, cangkir teh, posisi Anindya, lalu berhenti pada Sinta.
"Raden Ayu Sinta, siapa yang memberi izin masuk ke Puri Timur?"
Senyum Sinta membeku sebentar. "Hamba masih keluarga istana. Hamba hanya ingin memberi salam kepada istri baru Yang Mulia."
"Puri Timur punya gerbang dan aturan."
"Apakah sekarang hamba dianggap orang luar?"
"Setiap orang yang datang tanpa izin dianggap tidak menghormati tuan rumah."
Pipi Sinta memerah. Ia jelas tidak terbiasa ditegur di depan orang lain. Namun ia tetap mencoba tertawa kecil.
"Yang Mulia terlalu kaku. Sejak kecil hamba bebas keluar masuk banyak puri. Dulu Yang Mulia tidak pernah keberatan."
Dulu ia memang tidak peduli. Ketidakpeduliannya memberi ruang bagi terlalu banyak orang untuk merasa berhak.
"Mulai sekarang aku keberatan."
Sinta menoleh pada Anindya. "Apakah karena Gusti Putri?"
Anindya meletakkan cangkirnya. Ia tahu pertanyaan itu diarahkan untuk memancingnya terlihat kecil.
Arjuna menjawab lebih dulu. "Karena ini rumahku."
Sinta menggigit bibir. "Yang Mulia berubah."
"Bagus jika kau menyadarinya."
Kalimat itu membuat taman sunyi.
Sinta akhirnya memberi hormat kaku. "Kalau begitu, hamba mohon pamit. Semoga Gusti Putri betah di Puri Timur."
Anindya menangkap racun di kata betah, tetapi ia hanya mengangguk. "Terima kasih, Raden Ayu."
Setelah Sinta pergi, Wulan mengembuskan napas tertahan. Adi berpura-pura memandangi kolam.
Anindya menatap Arjuna. "Yang Mulia membuat dua wanita bangsawan pulang dengan hati terluka dalam dua hari."
"Lebih baik hati mereka terluka sekarang daripada pedang mereka mendekatimu nanti."
"Apakah semua wanita yang mendekati Puri Timur berbahaya?"
"Tidak semua." Arjuna menatapnya lebih lembut. "Tetapi dua orang ini, iya."
Anindya ingin bertanya bagaimana ia bisa seyakin itu. Pertanyaan itu sudah berada di ujung lidah, tetapi ia menahannya. Arjuna menyimpan sesuatu. Ia belum tahu apakah rahasia itu akan menyelamatkannya atau menelannya.
***
Malamnya, Garuda datang melalui pintu rahasia ruang kerja.
"Ada kabar tentang Raden Ayu Sinta," katanya. "Setelah keluar dari Puri Timur, ia tidak langsung pulang. Ia berhenti di dekat Gedung Wayang Enam."
Mata Arjuna menjadi dingin.
Gedung Wayang Enam.
Tempat itu tampak seperti gedung pertunjukan biasa, penuh gamelan, dalang, dan tamu kaya yang ingin menonton wayang sampai larut malam. Dalam kehidupan lalu, ia baru tahu terlalu lambat bahwa halaman belakangnya menjadi pintu keluar masuk orang-orang Baskara.
"Dengan siapa ia bertemu?"
"Seorang pelayan Puri Baskara. Belum jelas namanya."
"Cari tahu semua kepemilikan gedung itu. Nama pemilik, jalur uang, siapa saja yang menyewa ruang belakang."
"Siap."
"Jangan sentuh Sinta dulu. Biarkan ia merasa bebas."
Garuda menunduk lalu menghilang.
Di luar Puri Timur, Sinta duduk di keretanya dengan wajah merah karena marah. Dayangnya mencoba menenangkan, tetapi ia menepis tangan itu.
"Dia mempermalukanku demi wanita itu," desis Sinta.
"Raden Ayu, sebaiknya kita pulang."
Sinta menatap gerbang Puri Timur yang tertutup. Matanya menyala oleh iri yang belum pernah ditolak sekeras itu.
"Kalau dia tidak menikahiku, akan kupastikan wanita itu tidak bisa tetap menjadi istrinya."