NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Serena

Undangan arisan itu datang dari Serena, tapi dikirim melalui grup keluarga Liem.

Papa Liem hanya menulis satu kalimat.

Datang. Jangan membuat keluarga malu.

Senja membaca pesan itu di kursi belakang mobil Wijaya, dengan Pak Hadi duduk di depan seperti biasa. Di layar, Serena sudah mengirim lokasi: sebuah lounge privat di Hotel Mulia, tempat para istri dan putri keluarga konglomerat biasa berkumpul dengan tas mahal di atas meja dan senyum yang lebih tajam daripada perhiasan mereka.

"Nyonya yakin ingin hadir?" tanya Pak Hadi.

Senja mengangkat wajah. Dari kaca mobil, Jakarta siang hari terlihat terang, terlalu terang untuk sesuatu yang membuat perutnya melilit.

"Papa Liem yang meminta."

Pak Hadi tidak langsung menjawab. "Tuan muda belum diberi tahu."

Tangan Senja berhenti di atas ponsel. Menurut daftar aturan, dia harus memberi tahu jika menghadiri acara sosial. Tetapi jika dia mengirim pesan kepada Rayhan sekarang, apa yang harus dia tulis?

Aku akan datang ke tempat Serena mungkin mempermalukanku.

Tolong izinkan aku.

Kalimat itu terlalu menyedihkan bahkan untuk diketik.

"Ini hanya arisan keluarga," kata Senja, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku tidak akan lama."

Pak Hadi menatapnya melalui kaca spion. Sorot matanya tenang, tetapi Senja merasa pria itu melihat lebih banyak daripada yang dia katakan.

"Kalau Nyonya merasa tidak nyaman, telepon saya. Saya akan menunggu di lobby."

"Terima kasih, Pak Hadi."

Lounge privat itu wangi bunga segar dan parfum mahal. Anggrek ungu disusun tinggi di meja tengah, dikelilingi kue-kue kecil, teh, kopi, dan gelas-gelas kristal berisi infused water. Perempuan-perempuan di dalamnya berbicara dengan suara lembut, tertawa pendek, dan menilai orang lain tanpa perlu menatap terlalu lama.

Begitu Senja masuk, percakapan menurun setengah nada.

"Itu dia," bisik seseorang, cukup keras untuk didengar. "Istri Rayhan Wijaya yang baru."

"Yang dari keluarga Liem?"

"Katanya bukan anak kandung."

Senja merapikan jemarinya di depan tubuh. Dia memakai dress biru muda yang dipilih sendiri, sederhana dibandingkan gaun-gaun di ruangan itu. Di jarinya, cincin platinum dari Rayhan menangkap cahaya.

Serena duduk di sofa tengah, dikelilingi tiga perempuan seusianya. Dia tampak seperti tuan rumah meski arisan itu bukan miliknya. Rambutnya ditata rapi, tas Chanel kecil terletak di samping cangkir kopinya.

"Senja!" serunya manis. "Akhirnya datang juga. Kami pikir Nyonya Wijaya terlalu sibuk untuk bertemu keluarga lama."

Beberapa perempuan tertawa pelan.

Senja berjalan mendekat. "Aku datang karena Papa Liem meminta."

"Ah, tetap patuh seperti biasa." Serena menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk sini. Jangan berdiri seperti staf hotel."

Senyum beberapa orang melebar.

Senja duduk. Punggungnya tegak, lutut dirapatkan, tangan di atas pangkuan. Dia bisa merasakan setiap mata di ruangan itu seperti jarum kecil di kulit.

Seorang perempuan berkalung mutiara, mungkin istri pengusaha properti, mencondongkan badan. "Senja, ya? Selamat atas pernikahannya. Cepat sekali, kami sampai kaget."

"Terima kasih, Tante."

"Keluarga Wijaya memang tertutup," perempuan lain menimpali. "Tapi biasanya untuk pernikahan pewaris tunggal, acaranya besar. Kenapa kemarin kecil sekali?"

Karena pernikahan ini bukan perayaan, pikir Senja.

Karena semua orang ingin kontrak ini rapi dan cepat.

Tetapi dia hanya menjawab, "Keluarga memilih acara yang lebih privat."

"Privat atau disembunyikan?" Serena berkata sambil mengaduk teh.

Ruangan kembali hening setengah detik, lalu beberapa orang pura-pura sibuk mengambil kue.

Senja menatap Serena. "Apa maksudmu?"

Serena mengangkat alis, wajahnya polos. "Aku hanya bercanda. Jangan sensitif begitu. Sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Wijaya, harus terbiasa dengan obrolan sosial."

"Obrolan sosial tidak harus melukai orang."

Kalimat itu keluar lebih cepat daripada yang Senja rencanakan.

Salah satu perempuan muda di seberang meja menahan napas kecil. Serena menatap Senja, senyumnya tidak berubah, tetapi matanya menajam.

"Wah," katanya. "Pernikahan dua hari langsung membuatmu pintar menjawab."

Senja menunduk ke cangkir tehnya. Dia tahu jika pertengkaran meledak di sini, Serena akan memutarnya menjadi cerita bahwa Senja sombong setelah menikah dengan Rayhan. Papa Liem akan marah. Keluarga Wijaya mungkin akan terganggu. Sanggar bisa ikut terseret jika media kecil mulai menggali.

Dia tidak boleh memberi Serena senjata.

"Aku hanya tidak ingin salah paham," jawab Senja pelan.

Serena tertawa pendek. "Salah paham? Semua orang di sini sudah paham, kok."

Dia mengambil ponselnya, membuka sesuatu, lalu memperlihatkan layar kepada perempuan di sebelahnya. Foto Senja turun dari mobil Wijaya muncul di sana.

"Lihat. Baru dua hari jadi istri orang kaya, sudah diantar mobil seperti putri kerajaan."

"Mobil Wijaya memang beda," gumam seseorang.

"Tentu beda," Serena menimpali. "Untuk orang yang dulu bahkan harus menghemat ongkos Grab, ini pasti seperti mimpi."

Tawa pelan menyebar.

Senja merasakan telapak tangannya dingin.

Dia ingat ruang latihan, kata Ko Jefri tentang orang yang ingin hidup dengan caranya sendiri. Dia ingin berdiri dan pergi. Ingin mengatakan bahwa mobil itu bukan kebanggaan, melainkan bagian dari daftar aturan yang tidak dia minta.

Tetapi yang keluar hanya napas panjang.

"Aku tidak pernah meminta mobil itu," katanya.

"Tapi kamu menikmatinya, kan?"

"Serena," suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar dari ujung sofa. "Sudahlah."

Serena tersenyum kepada perempuan itu. "Tante, aku hanya menggoda adikku. Kami memang dekat dari kecil."

Adik.

Kata itu membuat Senja ingin tertawa.

Sejak kecil, Serena tidak pernah memanggilnya adik kecuali saat ada orang lain yang mendengar.

"Benar, Senja?" Serena menyentuh lengan Senja dengan lembut. Sentuhan itu terlihat sayang dari luar, tapi kukunya menekan kulit. "Kita dekat, kan?"

Senja memandang tangan itu.

Jika dia menarik diri terlalu kasar, dia akan terlihat tidak sopan. Jika dia diam, Serena akan terus menekan.

Dia memilih mengangkat cangkir teh dengan tangan lain, membuat lengan Serena terlepas tanpa perlu mendorong.

"Kita tumbuh di rumah yang sama," kata Senja.

Jawaban itu halus. Tidak membantah. Tidak membenarkan.

Serena menyipitkan mata.

Perempuan berkalung mutiara kembali bicara, kali ini lebih hati-hati. "Senja, setelah menikah kamu masih menari?"

"Masih, Tante."

"Menari apa?"

"Tari kontemporer dengan dasar gerak Jawa. Saya berlatih di Sanggar Tari Jefri."

"Oh, sanggar." Serena meletakkan cangkirnya. "Aku kira setelah menjadi Nyonya Wijaya, kamu akan berhenti melakukan pekerjaan seperti itu."

Senja menatapnya. "Menari bukan pekerjaan seperti itu."

"Lalu apa? Hobi?"

"Hidupku."

Kali ini Senja tidak menunduk.

Ada jeda di ruangan. Beberapa perempuan tampak terkejut, mungkin karena suara Senja tetap pelan tetapi tidak retak.

Serena menahan senyum, lalu bertepuk tangan kecil. "Manis sekali. Semoga Rayhan mengizinkan. Pria seperti dia pasti punya standar untuk istrinya."

Nama Rayhan disebut seperti kartu terakhir.

Dada Senja menegang.

Sampai saat itu, Rayhan memang belum pernah berkata dia menghargai tari. Dia hanya bertanya jadwal dan melarangnya naik Grab. Jika suatu hari dia melarang Senja menari, apa yang bisa Senja lakukan?

Serena melihat keraguan itu dan menikmatinya.

"Kamu tahu, kan," katanya lebih pelan, cukup untuk meja mereka, "keluarga Wijaya tidak membutuhkan penari. Mereka membutuhkan istri yang tahu tempat."

Tangan Senja di atas cangkir mengencang.

Sebelum dia menjawab, ponselnya bergetar.

Rayhan.

Nama itu muncul di layar seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang.

Semua mata di dekatnya bergerak ke ponsel itu.

Senja sendiri terkejut. Rayhan tidak pernah meneleponnya.

Dia mengangkat dengan jantung berdebar. "Halo?"

Suara Rayhan masuk, rendah dan datar. "Kamu di mana?"

Senja menelan ludah. "Hotel Mulia."

"Dengan siapa?"

Dia bisa berbohong. Tetapi ruangan terlalu sunyi, dan kebohongan terasa lebih berat daripada malu.

"Serena. Arisan keluarga."

Ada diam singkat di seberang.

"Pak Hadi menunggu?"

"Iya."

"Pulang sebelum pukul empat."

Tidak ada pertanyaan apakah dia baik-baik saja. Tidak ada nada khawatir. Hanya perintah.

Tetapi di ruangan itu, efeknya berbeda.

Serena melihat layar ponsel Senja seolah ingin memastikan nama yang muncul benar-benar Rayhan. Perempuan-perempuan lain bertukar pandang.

"Baik," jawab Senja.

"Dan Senja."

"Ya?"

"Jangan minum apa pun yang mengandung kacang almond."

Telepon terputus.

Senja menurunkan ponsel perlahan.

Seseorang berbisik, "Dia tahu alerginya?"

Wajah Serena berubah sangat sedikit. Terlalu sedikit untuk orang lain, tapi cukup untuk Senja.

Untuk pertama kalinya siang itu, Serena kehilangan kendali atas suasana.

Namun dia cepat memulihkannya. Dia berdiri sambil mengambil tas.

"Aku harus pergi. Ada urusan lain." Serena mencondongkan badan ke arah Senja, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Senja. "Kamu pikir menikah dengan Rayhan membuatmu bisa menang?"

Senja tidak menjawab.

Serena tersenyum.

"Kamu pikir masuk ke keluarga Wijaya membuatmu bisa naik kelas? Jangan bermimpi, Senja. Pengganti tetap pengganti."

Lalu Serena berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum manis dan tatapan para perempuan yang tiba-tiba tidak lagi berani menertawakan Senja sekeras tadi.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!