NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Malam itu terasa begitu panjang, sunyi, dan mencekam bagi Denial.

Pria itu sama sekali tidak beranjak dari ruang ICU. Bahkan setelah dokter mengatakan kondisi Adera mulai sedikit membaik dan stabil, Denial tetap setia duduk di samping brankar, menggenggam tangan dingin adiknya erat-erat seakan itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Wajahnya tak lepas dari wajah gadis itu yang masih tertutup masker oksigen.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Dia benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Takut sekali kehilangan Adera.

“Adera kuat, kan Dok?” tanya Denial pelan pada dokter jaga saat sedang mengecek laporan, suaranya terdengar bergetar memohon kepastian.

“Untuk sementara kondisinya mulai membaik dan stabil. Tapi pasien terlihat sangat kelelahan secara fisik, dan daya tahan tubuhnya turun drastis,” jelas Dokter Jaga dengan nada hati-hati dan serius.

Denial mengernyitkan dahi, bingung dan tidak terima.

“Turun drastis?” tanyanya heran. “Gimana bisa? Adera itu gadis yang sehat dan aktif.”

Dia tidak mengerti. Adera memang gadis yang ceria, aktif, dan kadang bertingkah sembarangan, tapi adiknya itu jarang sekali sakit separah ini. Apalagi sampai hampir kritis dan harus masuk ICU.

“Mungkin pasien terlalu banyak pikiran, atau sedang mengalami stres berat belakangan ini. Secara medis, pikiran bisa sangat memengaruhi imunitas tubuh,” lanjut dokter itu pelan, namun kalimatnya begitu tajam menusuk hati.

Kalimat itu membuat Denial terdiam kaku. Jantungnya terasa dicengkeram kuat. Entah kenapa, firasat buruknya semakin kuat dan tidak enak. Ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, dan dia yakin itu bukan sekadar sakit biasa.

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menyentuh pelan wajah pucat Adera.

Kelopak mata gadis itu bergerak-gerak pelan, berat dan perih, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya dengan susah payah.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah Denial yang tertidur duduk di kursi samping ranjang. Kepala kakaknya condong ke depan, namun tangannya masih menggenggam tangan Adera dengan sangat erat, seolah takut jika dilepas sedikit saja gadis itu akan hilang lenyap.

Adera menatap wajah kuyu dan lelah itu cukup lama. Lalu, perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang sangat lemah dan getir.

“Kak…” panggilnya lirih, suaranya serak dan pelan sekali.

Denial langsung terbangun kaget, matanya terbuka lebar seketika.

“Adera?” seru Denial, napasnya tertahan di kerongkongan.

Wajah pria itu langsung berubah menjadi lega luar biasa, seakan beban dunia terangkat dari pundaknya. Air mata bahkan hampir jatuh tapi ia tahan kuat-kuat.

“Kamu sadar… syukurlah kamu sadar, Dera…” ucap Denial parau, tangannya gemetar mengusap pelan kepala adiknya.

Adera mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski bibirnya kering dan pecah-pecah.

“Tadi bikin semua orang panik tahu gak?” kata Denial, suaranya terdengar berat dan serak karena semalaman tak tidur.

Adera hanya tersenyum tipis, tak bersemangat seperti biasanya.

Namun beberapa detik kemudian, gadis itu mengernyitkan dahi kecil, seolah ada sesuatu yang mengganggu indranya.

“Aroma obat…” ucap Adera pelan, wajahnya tampak tidak suka.

Denial menghela napas panjang, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bercanda meski hatinya masih cemas.

“Ya iyalah. Ini rumah sakit, Dera. Bukan restoran bintang lima yang wangi masakan,” canda Denial pelan.

“Emm… sepertinya enak makan di resto bintang lima ya. Ayo kita pulang, Kak,” ucap Adera dengan nada membujuk yang lemah.

“Belum boleh. Kamu harus observasi dulu di sini,” tolak Denial lembut tapi tegas.

“Aku gak betah di sini, Kak. Gak ada aroma ikan gurame kesukaan aku,” celetuk Adera, masih sempat-sempatnya bercanda meski suaranya lemas.

Meski jawaban Adera terdengar lucu, namun hati Denial justru terasa perih. Dia menangkap pesan tersirat di sana. Adera tidak betah di rumah sakit. Dia ingin pergi dari sini.

Bagi Denial, ini aneh bahkan sangat aneh.

Biasanya Adera adalah orang yang paling nyaman berada di rumah sakit. Bahkan terlalu nyaman sampai semua perawat dan dokter mengenalnya. Tempat ini dulunya seperti dunia kedua baginya, tempat di mana dia bisa bertemu orang yang dicintai.

Tapi sekarang… Gadis itu terlihat benar-benar tidak suka, bahkan seolah takut berada di sana.

Tak lama kemudian, dua orang perawat masuk untuk memeriksa tanda-tanda vital dan mengganti infus Adera.

Begitu melihat gadis itu sudah sadar dan membuka mata, mereka langsung tersenyum lega.

“Non Adera akhirnya bangun juga. Bikin kaget semuanya tahu,” ucap Perawat dengan nada ramah seperti biasa.

Biasanya, Adera akan langsung cerewet membalas, bercerita ini-itu, atau menggoda mereka.

Namun kali ini… Gadis itu hanya tersenyum tipis. Sangat tipis. Tidak ada cahaya riang di matanya.

“Saya mau pulang, Sus…” celetuk Adera tiba-tiba, membuat kedua perawat itu terkejut.

Kedua perawat itu saling berpandangan, wajahnya tampak heran setengah mati.

“Tumben gak betah di rumah sakit, Non?” tanya Perawat itu pelan.

“Iya nih,” sahut Perawat satunya sambil terkekeh kecil, masih mengira itu bercanda. “Biasanya malah paling betah di sini, sampai lupa pulang.”

Adera hanya tertawa kecil.

Tapi tawanya terdengar berbeda, begitu hampa, datar. Tidak seceria dan semenggebu-gebu seperti dua tahun belakangan ini.

Denial yang memperhatikan sejak tadi mulai merasa yakin. Ada sesuatu yang benar-benar berubah dari adiknya. Sesuatu yang retak dan hancur di dalam sana.

Setelah kedua perawat keluar, ruangan kembali sunyi.

“Adera,” panggil Denial pelan, suaranya lembut namun menekan.

“Hm?” jawab Adera singkat, memalingkan wajah ke arah jendela.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Denial curiga, matanya menatap lekat-lekat mencari jawaban di wajah adiknya.

Adera menoleh dengan wajah polos, seolah tidak mengerti apa-apa.

“Apanya, Kak?” ucap Adera berpura-pura bodoh.

“Kamu tidak bisa menyembunyikan semua dari Kakak, Adera! Kakak tahu kamu bukan tipe orang yang sakit parah gini tanpa sebab!” seru Denial mulai tidak sabar, suaranya meninggi sedikit karena khawatir.

Gadis itu terdiam sebentar, jari-jarinya bermain selimut dengan gugup. Sebelum akhirnya tersenyum kecil lagi.

“Adera kan gak main petak umpet, Kak. Untuk apa bersembunyi…” jawab Adera berbelit.

“Bukan itu!” sergah Denial cepat.

Pria itu menatapnya lekat-lekat, mencoba menerobos tembok pertahanan yang sedang dibangun adiknya.

“Kakak tidak akan memaksa kamu untuk berbicara sekarang. Kakak mau kamu sehat dulu, pulihkan tenaga kamu,” ucap Denial akhirnya melunak, suaranya bergetar menahan kesedihan.

Untuk sepersekian detik, mata Adera tampak goyah dan berkaca-kaca. Terlihat seakan dia ingin sekali menangis dan menceritakan segalanya.

Namun sedetik kemudian, dia kembali memasang topeng senyum kecilnya yang menyakitkan untuk dilihat.

“Jika aku terus berada di sini… mana bisa aku cepat sehat, Kak. Ayo bawa aku pergi dari sini,” pinta Adera lagi, kali ini dengan nada yang lebih memohon.

“Kakak mau mandi dulu sebentar, dari tadi malam belum sempat. Kamu baik-baik di sini ya, jangan kemana-mana,” kata Denial sambil berdiri, berusaha terlihat tegas.

Saat pintu tertutup, Adera akhirnya menunduk dalam.

Sampai saat ini, dia tetap tidak mau jujur pada Denial. Gadis itu menyimpan lukanya dengan sangat rapat, menguncinya rapat-rapat di dalam hati. Padahal Denial sudah menduga kuat… bahwa penyebab sakitnya yang parah ini bukan hanya karena virus, tapi karena hati yang sedang hancur lebur.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!