NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

​Siska memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menjerit sekeras-kerasnya, mencoba mengusir pemandangan mengerikan yang baru saja tersaji di depan matanya. Keringat dingin bercampur air mata membasahi seluruh wajahnya. Tangannya yang gemetar terus memukuli kepalanya sendiri, berharap dia bisa segera terbangun dari mimpi buruk yang teramat sangat menyiksa ini.

​"Siska! Siska, bangun! Kamu kenapa, Sis?!"

​Sebuah guncangan keras di bahunya membuat Siska tersentak. Dia membuka matanya dengan napas yang memburu, seperti orang yang baru saja tenggelam dan berhasil menghirup udara kembali. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.

​Cahaya matahari siang yang cerah langsung menusuk matanya. Siska menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Dia tidak lagi berada di lantai bawah menyandar pada lemari rias kuno. Dia sedang duduk di atas sofa ruang tengah. Di depannya, televisi masih menyala menampilkan acara bincang-bincang siang yang ramai.

​Ferdi, kakaknya, duduk di sampingnya dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas. Tangannya masih memegangi pundak Siska. Di sebelah Ferdi, Selfi juga duduk sambil memegangi sebuah cangkir teh hangat. Perut buncit Selfi masih terlihat besar dan utuh di balik daster kuningnya. Tidak ada darah, tidak ada bau anyir yang busuk, dan tidak ada makhluk berkaki bengkok dengan mata merah menyala.

​Siska melongo. Dia melihat ke arah kedua tangannya sendiri yang basah oleh keringat. Ponselnya tergeletak dengan tenang di atas meja kaca, tidak ada riwayat panggilan darurat yang gagal.

​"Mas... Mbak Selfi..." bisik Siska dengan suara yang serak dan bergetar. "Mbak Selfi belum melahirkan?"

​Ferdi mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum lega sambil mengusap kepala adiknya. "Melahirkan bagaimana, toh? Kamu itu ketiduran di sofa dari jam sebelas tadi, Sis. Mas pulang cepat karena ada barang yang ketinggalan, pas Mas sampai rumah, kamu sudah teriak-teriak histeris sambil nangis merem. Kamu mimpi buruk, ya?"

​Selfi ikut mengangguk, lalu menggeser duduknya mendekati Siska. Dia meletakkan cangkir tehnya dan mengusap lengan Siska dengan tangan kirinya. "Iya, Siska. Mbak dari tadi di sini nemenin kamu tidur. Perut Mbak emang agak kencang dari pagi, tapi belum ada tanda-tanda mau melahirkan kok. Kamu pasti kecapekan karena bantuin pindahan kemarin."

​Siska menatap kakak iparnya dengan pandangan kosong. Rasa lega yang sempat mampir di hatinya tiba-tiba menguap ketika pandangannya turun ke arah tangan kanan Selfi.

​Tangan kanan wanita hamil itu disembunyikan di balik daster, namun dari balik lipatan kain tersebut, Siska bisa melihat kilauan tipis berwarna merah tua. Siska tahu, cincin itu nyata. Cincin yang tidak bisa dilepas itu benar-benar ada di jari manis Selfi.

​Jadi... yang tadi itu cuma halusinasi? Cuma mimpi karena aku ketakutan? batin Siska mencoba menghibur dirinya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum juga normal.

​"Iya... mungkin Siska cuma kecapekan, Mas, Mbak," kata Siska akhirnya, mencoba memaksakan sebuah senyuman agar kakak dan iparnya tidak semakin cemas.

​"Ya sudah, kamu cuci muka dulu sana. Terus kita makan siang bareng, Mas sudah beli ayam bakar di depan lorong," ujar Ferdi sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.

​Selfi tersenyum lembut pada Siska sebelum menyusul suaminya ke dapur. Siska menatap punggung kedua orang yang sangat disayanginya itu. Dia benar-benar berharap bahwa apa yang dia lihat sebelumnya murni karena daya imajinasinya yang terlalu liar akibat ucapan-ucapan misterius orang-orang di sekitar rumah ini.

​Siska berjalan ke kamar mandi yang terletak di dekat area tangga bawah. Dia memutar keran, menampung air dingin dengan kedua telapak tangannya, lalu membasuh wajahnya berulang kali. Rasa dingin air itu sedikit memberikan kesegaran di kepalanya yang terasa berat.

​Saat dia mendongak untuk melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi, Siska mendadak membeku.

​Di atas permukaan cermin yang sedikit berembun, Siska melihat ada sesuatu yang aneh di belakang pantulan dirinya. Di sudut kamar mandi yang agak gelap, dekat dengan ember penampungan air, terdapat sebuah bayangan hitam kecil yang samar.

​Siska membalikkan badannya dengan cepat. Jantungnya kembali berdegup kencang. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Sudut kamar mandi itu kosong. Hanya ada ember plastik dan dinding semen yang agak berlumut.

​Siska menarik napas panjang. Cukup, Siska. Jangan paranoid. Kamu cuma kurang tidur, bisiknya pada diri sendiri, mencoba menguatkan logikanya sebagai seorang mahasiswi yang rasional.

​Setelah makan siang bersama yang berlangsung hangat, Ferdi kembali berpamitan untuk pergi ke kantornya lagi guna menyelesaikan pekerjaan setengah hari yang tersisa. Kali ini, Siska memastikan dirinya tetap terjaga. Dia menolak untuk tidur siang lagi karena takut terseret kembali ke dalam mimpi buruk yang sama.

​Sore harinya, sekitar pukul empat, cuaca di luar mulai berubah. Langit pinggiran kota yang tadinya cerah berangsur-angsur ditutupi oleh awan mendung yang tebal dan berwarna abu-abu gelap. Angin mulai bertiup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di sekitar halaman rumah dengan suara desau yang bising.

​Siska sedang berada di ruang tengah, membaca beberapa lembar diktat kuliahnya untuk mengalihkan pikiran. Sementara itu, Selfi berada di dalam kamar utama, katanya ingin meluruskan punggungnya karena pinggangnya terasa sangat pegal.

​Suasana rumah terasa sangat sunyi, hanya ditemani oleh suara embusan angin dari luar yang sesekali membuat pintu jendela bergetar halus.

​Tiba-tiba, dari dalam kamar utama, Siska mendengar suara rintihan pelan.

​"Aduh... Mas Ferdi..."

​Siska langsung meletakkan kertas kuliahnya. Dia berdiri dan berjalan mendekati pintu kamar utama yang terbuka setengah. Dia mengintip ke dalam. Selfi sedang berbaring miring di atas ranjang, membelakangi pintu. Kedua tangannya memegangi perutnya.

​"Mbak Selfi? Mbak nggak apa-apa?" tanya Siska dengan suara lembut dari ambang pintu.

​Selfi tidak menjawab. Dia hanya terus merintih pelan. Namun, perhatian Siska beralih pada suara lain yang mendadak muncul dari sudut kamar yang remang-remang.

​Di bawah lemari rias kuno berbahan kayu jati yang terletak di pojok ruangan, suasana tampak sangat gelap karena terhalang oleh bayangan tempat tidur. Dari balik kegelapan di bawah lemari rias itu, sayup-sayup terdengar sebuah suara yang sangat halus namun konstan.

​Srek... srek... srek...

​Siska merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir. Bulu kuduk di lehernya berdiri tegak sembilan puluh derajat. Suara itu bukan berasal dari atas plafon lagi. Suara itu berasal dari lantai, tepat di dalam kamar tidur utama tersebut.

​Itu adalah suara gesekan sesuatu yang berat di atas lantai semen.

​Siska melebarkan matanya, mencoba menembus kegelapan di bawah lemari rias. Perlahan tapi pasti, dari balik kolong lemari yang sempit itu, muncul sesuatu yang bergerak keluar.

​Awalnya hanya sebuah bayangan kecil berbentuk bulat. Namun, ketika bayangan itu bergerak maju mendekati area yang terkena sedikit pantulan cahaya lampu luar, Siska bisa melihat dengan jelas sebuah bentuk kepala mungil yang pucat keabu-abuan.

​Kepala itu milik sesosok bayi.

​Tetapi, makhluk kecil itu tidak menangis. Dia merangkak keluar dengan posisi kaki yang meliuk ke dalam dengan cara yang salah, menciptakan suara seretan srek... srek... srek... yang mengerikan setiap kali tubuhnya bergeser. Ketika makhluk itu berhenti merangkak, dia mendongakkan kepalanya yang besar lurus ke arah Siska yang berdiri membeku di depan pintu.

​Kedua bola mata makhluk itu terbuka lebar. Dua titik cahaya merah darah menyala terang di dalam kegelapan kamar tidur, menatap Siska dengan tatapan yang dingin, kosong, namun penuh dengan ancaman nyata.

​Siska ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Kali ini, dia tahu dia sedang tidak tertidur di atas sofa. Kali ini, matanya terbuka lebar, dan teror yang sesungguhnya baru saja resmi dimulai di rumah tua.

jangan lupa like dan komen ya suy 🤗 biar author semangat nulisnya 🥰

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!