NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Kedatangan Kembali dan Rencana di Balik Senyum

Waktu berlalu sekitar dua minggu sejak kejadian di depan gedung itu. Selama masa itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa: datang tepat waktu, berjaga dengan penuh kewaspadaan, membantu siapa saja yang membutuhkan, dan berusaha menjaga agar tidak ada yang curiga akan kekuatan asliku. Anindya juga terlihat berubah sikapnya terhadapku — tidak lagi menatap dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang menyelidik, melainkan diganti dengan tatapan yang lebih lembut, penuh rasa hormat, dan seolah ada pengertian mendalam yang hanya dia yang tahu. Kadang saat berpapasan, dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk, tanpa banyak bertanya, dan itu justru membuatku merasa lebih tenang.

Namun, ketenangan itu seolah tidak pernah diizinkan berlangsung lama. Pagi itu, saat langit baru saja cerah dan sinar matahari mulai menyinari halaman gedung, suara deru mesin mobil yang sangat keras kembali terdengar dari kejauhan. Suara itu sudah sangat kukenal — sama seperti yang terdengar saat kedatangan pertama kali dua minggu lalu.

Aku berdiri tegak di pos jaga, menatap ke arah jalan masuk. Benar saja, mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu melaju masuk dengan kecepatan yang masih terlalu tinggi untuk ukuran area halaman gedung, lalu berhenti mendadak persis di tempat yang sama seperti sebelumnya. Debu beterbangan, dan beberapa karyawan yang baru datang langsung menyingkir sambil menatap dengan wajah cemas.

Pintu mobil terbuka, dan dua pengawal kekar yang sama segera turun dan berdiri mengapit pintu belakang. Tidak lama kemudian, Rafael Wijaya melangkah keluar. Hari ini dia terlihat lebih rapi, mengenakan jas berwarna abu-abu tua yang terlihat lebih mahal dari sebelumnya, kacamata hitam yang menutupi matanya, dan sepatu yang mengkilap memantulkan cahaya matahari. Senyumnya terukir di bibir, terlihat sopan dan ramah dari luar, tapi matanya yang terlihat sekilas di balik kacamata itu menyimpan sesuatu yang gelap dan berbahaya.

Dia meluruskan kerah bajunya, lalu menatap sekeliling dengan pandangan yang masih terasa meremehkan, meski kali ini dia berusaha menutupinya lebih rapi. Saat pandangannya tertuju padaku, senyumnya sedikit melebar — bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyiratkan tantangan dan niat buruk yang sudah dipersiapkan matang-matang.

Aku tetap berdiri di tempatku, tidak bergerak maju maupun mundur, hanya menatapnya dengan pandangan tenang dan waspada.

Rafael melangkah mendekat, diikuti kedua pengawalnya yang berjalan di belakangnya. Begitu sampai di hadapanku, dia melepas kacamata hitamnya perlahan, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang menyelidik tajam.

“Selamat pagi, Pak Satpam…” ucapnya dengan nada yang terasa menyindir, lalu terkekeh pelan. “Atau sebaiknya aku panggil dengan sebutan lain? Siapa tahu kau bukan sekadar orang yang menjaga pintu ini saja, ya?”

Aku tetap tenang, menjawab dengan nada datar dan sopan. “Selamat pagi, Pak. Panggil saja aku Kaito. Aku memang hanya petugas keamanan di sini. Silakan lapor ke buku tamu atau hubungi Mbak Anindya jika ingin masuk ke dalam gedung.”

Rafael mendengus pelan, lalu melangkah sedikit lebih dekat, suaranya dibuat lebih rendah agar hanya terdengar olehku saja. “Masih berpura-pura ya? Baiklah, silakan saja. Tapi ingat satu hal: aku sudah tahu sedikit banyak tentang dirimu. Meskipun rahasiamu dijaga ketat, bukan berarti aku tidak bisa mencari celah untuk menjatuhkanmu.”

Aku hanya mengangkat alis sedikit, tidak terkejut mendengar ancaman itu. “Aku tidak mengerti maksud Bapak. Selama aku bekerja sesuai aturan dan tidak menyakiti siapa pun, tidak ada alasan untuk menjatuhkanku.”

“Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?” bisiknya lagi, senyumnya makin miring. “Kita lihat saja nanti. Hari ini aku datang bukan hanya untuk bertemu tunanganku, tapi juga untuk memastikan bahwa tempat ini akan menjadi milikku sepenuhnya. Dan selama ini, tidak ada orang asing yang tidak dikenal yang bisa menghalangi jalanku — apalagi orang yang menyembunyikan kekuatan yang tidak wajar sepertimu.”

Belum sempat aku menjawab, suara langkah kaki cepat terdengar dari dalam lobi. Anindya keluar dengan pakaian kerja yang rapi, wajahnya terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Rafael yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Rafael? Kenapa datang pagi-pagi sekali dan tidak memberitahu aku lebih dulu?” tanya Anindya, berjalan mendekat dengan nada yang tidak terlalu antusias.

Begitu melihat Anindya, sikap Rafael berubah seketika bagaikan menyalakan saklar lampu. Wajahnya yang tadinya dingin dan penuh ancaman langsung berubah menjadi lembut, penuh perhatian, dan senyumnya terlihat sangat tulus. Dia segera melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Anindya, tapi Anindya dengan halus memindahkan tangannya untuk merapikan rambutnya, menghindari sentuhan itu.

“Aku datang secara tiba-tiba supaya bisa memberimu kejutan, sayang,” jawab Rafael dengan nada lembut, seolah tidak ada percakapan tajam yang baru saja terjadi di hadapanku. “Lagipula, ada banyak hal penting yang perlu kita bicarakan dan persiapkan untuk acara pengumuman pertunangan kita bulan depan. Aku ingin semuanya berjalan sempurna, tidak ada satu pun hal yang mengganggu atau menjadi masalah.”

Anindya mengangguk pelan, lalu menoleh ke arahku dan memberi isyarat agar aku tetap tenang dan melanjutkan tugas. “Baiklah, kalau begitu mari kita bicara di ruang kerjaku saja. Tidak enak dibicarakan di sini.”

“Tentu saja, sayang. Ayo kita masuk,” jawab Rafael sambil mengulurkan tangannya seolah ingin memapah Anindya, tapi lagi-lagi Anindya berjalan lebih dulu, meninggalkan dia yang berjalan di belakang sambil melirik ke arahku sekali lagi dengan pandangan tajam yang penuh peringatan.

Begitu mereka masuk ke dalam gedung dan pintu kaca tertutup rapat, aku menghela napas panjang. Aku tahu kedatangan Rafael kali ini bukan hanya soal urusan pertunangan. Dari tatapan matanya dan kata-katanya yang menyindir tadi, aku bisa merasakan bahwa dia sudah mulai mengetahui ada sesuatu yang tersembunyi pada diriku, dan dia pasti sudah menyusun rencana untuk memanfaatkan hal itu atau bahkan menjatuhkanku.

Sementara itu, di dalam ruang kerja Anindya yang luas dan tertata rapi, suasana mulai terasa memanas meski pintu dan jendela tertutup rapat. Begitu duduk di kursi masing-masing dan tidak ada orang lain selain mereka berdua, senyum lembut Rafael perlahan memudar, digantikan ekspresi yang lebih serius dan penuh perhitungan.

“Anin, aku datang hari ini bukan hanya untuk membahas persiapan acara saja,” buka Rafael dengan nada yang lebih tegas. “Aku juga ingin membahas soal manajemen keamanan di gedung ini. Menurutku, sistemnya terlalu longgar dan tidak terkontrol dengan baik.”

Anindya mengerutkan dahi, menatapnya dengan pandangan bingung. “Kenapa kamu bicara begitu? Selama ini keamanan di sini berjalan baik. Tidak ada laporan pencurian atau gangguan berarti. Pak Suryo dan timnya bekerja cukup rajin.”

“Bekerja rajin? Mungkin begitu,” jawab Rafael sambil menepuk-nepuk meja dengan ujung jarinya, gerakannya terasa tidak sabar. “Tapi apakah mereka benar-benar orang yang bisa dipercaya? Ambil contoh satpam baru itu, Kaito Nakamura. Dia orang asing, baru datang beberapa bulan, dan tiba-tiba bisa mendapatkan pekerjaan di sini dengan mudah. Kita bahkan tidak tahu siapa keluarganya sebenarnya, apa latar belakangnya yang sesungguhnya.”

Anindya langsung menegakkan badannya, nadanya menjadi tegas. “Aku sudah memeriksa dokumen-dokumennya secara lengkap. Semua izinnya sah dan resmi. Dia bekerja dengan jujur, tidak pernah melanggar aturan, bahkan beberapa kali sudah menyelamatkan orang dan mencegah kerusakan yang lebih parah. Alasan apa lagi yang membuatmu meragukannya?”

Mendengar jawaban itu, senyum tipis terukir di bibir Rafael. Dia sudah menduga bahwa Anindya akan membela orang itu, dan justru itu yang dia harapkan — agar dia bisa mengemukakan alasan yang lebih kuat sesuai dengan apa yang baru saja dia ketahui.

“Memang dokumennya terlihat sah, tapi Anin, dalam dunia bisnis dan keamanan, dokumen bisa saja dipalsukan atau diatur sedemikian rupa,” katanya dengan nada meyakinkan. “Aku sudah mencoba mencari tahu lebih dalam tentang dia, ingin memastikan agar kita tidak salah percaya pada orang yang salah. Tapi tahukah apa yang terjadi? Begitu aku meminta orang kepercayaanku untuk melacak riwayat hidupnya, kami langsung mendapatkan peringatan keras dari lembaga keamanan internasional. Bahkan akses ke data itu langsung diblokir total.”

Anindya tertegun sejenak, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Dia tahu hal itu, tapi dia tidak menyangka Rafael juga sudah mencoba melakukan hal yang sama. “Lalu apa artinya itu? Kalau dia orang yang buruk atau berbahaya, pasti dia akan dilarang masuk ke negara ini, bukan malah dilindungi?”

“Justru itu yang mencurigakan!” seru Rafael sedikit meninggikan suaranya, lalu segera menurunkan nadanya kembali seolah berusaha terlihat khawatir. “Kenapa identitasnya harus dijaga sedemikian rapat? Kalau dia orang biasa, apa yang perlu disembunyikan? Ada banyak kemungkinan, Anin. Bisa saja dia adalah mata-mata dari organisasi rahasia, bisa saja dia memiliki kekuatan berbahaya yang bisa mengancam orang-orang di sekitarnya, atau bahkan dia adalah orang yang sedang bersembunyi dari kejahatan besar yang pernah dia lakukan di negaranya sendiri.”

Dia melangkah mendekat ke sisi meja Anindya, suaranya dibuat terdengar lebih lembut dan penuh perhatian, seolah dia benar-benar khawatir akan keselamatan wanita itu.

“Anin, aku mengatakan ini bukan karena ingin mencari musuh atau membenci orang itu. Aku melakukannya karena aku peduli padamu, peduli pada keselamatanmu dan nama baik perusahaan kita. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia menunjukkan sisi aslinya? Bagaimana kalau kekuatan yang dia miliki itu justru digunakan untuk menyakiti orang-orang di sini, atau bahkan untuk mengambil alih aset kita? Kita tidak bisa menaruh nyawa dan harta benda kita pada orang yang tidak kita kenal sepenuhnya, apalagi orang yang identitasnya sengaja disembunyikan dari dunia.”

Anindya mendengarkan dengan tenang, hatinya bergolak mendengar setiap kata yang diucapkan Rafael. Dia tahu apa yang dikatakan itu sebagian benar — ada rahasia besar yang tersembunyi dalam diriku — tapi dia juga tahu bahwa rahasia itu bukanlah kejahatan, melainkan amanah yang dijaga selama ribuan tahun. Namun, dia tidak bisa menceritakan hal itu pada Rafael, karena dia juga sudah diperingatkan untuk tidak membocorkan apa pun.

“Rafael, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi selama ini dia sudah membuktikan dirinya dengan tindakan nyata. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun, selalu menolong, dan menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Kita tidak bisa menuduh seseorang hanya karena masa lalunya tertutup rapat, tanpa bukti kesalahan apa pun,” jawab Anindya dengan tegas, meski di dalam hatinya dia merasa sulit untuk menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya.

Jawaban itu membuat Rafael semakin geram di dalam hati, tapi dia tetap mempertahankan sikap tenangnya. Dia tahu dia tidak bisa memecatku secara langsung lewat kekuasaan Anindya, maka dia harus mencari jalan lain. Dia harus menciptakan situasi yang membuatku terlihat bersalah, atau membuatku terlibat dalam masalah yang tidak bisa dihindari, sehingga Anindya pun tidak punya pilihan selain menyingkirkanku.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menghormati keputusanmu untuk saat ini,” kata Rafael sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, tapi matanya berkilat penuh perhitungan. “Tapi ingatlah pesanku ini, Anin. Kepercayaan itu harus diberikan kepada orang yang benar-benar layak menerimanya. Jangan sampai suatu hari nanti kita menyesal karena sudah terlalu percaya pada orang yang salah.”

Dia kemudian berjalan menuju jendela, menatap ke bawah tepat ke arah pos jaga tempatku berdiri. Dari balik kacamata hitamnya yang dia kenakan kembali, tatapannya terasa menusuk tajam. Di dalam hatinya, rencana-rencana gelap mulai disusun dengan rinci dan sistematis.

“Kau ingin hidup tenang dan menyembunyikan kekuatanmu, ya? Baiklah, aku akan buat situasi di mana kau tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan kekuatan itu secara terang-terangan. Begitu kau melakukannya, aku akan membuat semua orang melihatmu sebagai ancaman, sebagai makhluk berbahaya yang harus dijauhi dan ditangkap. Lalu rahasiamu yang selama ini dijaga rapat itu justru akan menjadi alasan untuk menjatuhkanmu selamanya. Dan saat kau sudah tersingkir, tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalanku untuk mendapatkan Anindya, perusahaan ini, dan bahkan kekuatan yang kau miliki itu sendiri.”

Rafael berbalik kembali menghadap Anindya, senyumnya kembali terukir sempurna di wajahnya. “Sudahlah, kita bicarakan soal lain saja. Besok aku akan membawa tim keamanan tambahan dari Jakarta untuk memeriksa seluruh sistem keamanan gedung ini. Aku ingin memastikan semuanya aman dan siap sebelum acara besar kita nanti. Tidak ada salahnya kalau kita memperketat pengawasan, bukan?”

Anindya mengangguk ragu, merasa ada yang tidak beres, tapi tidak bisa menolak alasan yang terlihat masuk akal itu. “Baiklah, kalau itu yang kamu anggap perlu.”

“Bagus,” jawab Rafael sambil berjalan mendekat dan memegang bahu Anindya dengan lembut, kali ini Anindya tidak sempat menghindar. “Percayalah padaku, Anin. Semua yang aku lakukan ini hanya untuk kebaikan kita bersama. Tidak ada yang akan mengganggu rencana kita, dan tidak ada orang asing yang akan menjadi penghalang di antara kita.”

Di luar ruangan, di lantai dasar, aku masih berdiri di pos jaga sambil terus mengawasi keadaan. Meskipun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, perasaanku yang tajam selama ribuan tahun bisa merasakan bahwa suasana di dalam ruangan itu tidaklah baik. Ada niat jahat yang terasa semakin kuat dan semakin mendekat.

Aku tahu, dengan kedatangan Rafael kali ini, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dia tidak akan berhenti hanya dengan ancaman kata-kata. Dia akan mencari segala cara untuk menjatuhkanku, memanfaatkan segala kelemahan yang dia pikir aku miliki. Dan aku harus tetap waspada, menjaga rahasia kekuatanku, melindungi orang-orang yang ada di gedung ini, serta memastikan bahwa kebaikan dan keadilan tetap berdiri tegak meski berbagai rencana jahat berusaha menghancurkannya.

Matahari terus naik lebih tinggi, menyinari seluruh bagian gedung, tapi bayangan gelap dari niat buruk itu seolah menutupi sebagian cahayanya. Aku menarik napas panjang, menegakkan punggungku, dan memantapkan hati. Apapun yang akan terjadi ke depannya, aku akan menghadapinya dengan kepala dingin dan hati yang teguh — sesuai dengan ajaran yang telah diwariskan oleh leluhurku selama seribu tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!