NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Fajar Baru di Kampung Tummaritis

Embun pagi menyambut langkah lelah Cepot dan Dawala. Sinar matahari terbit membawa kehangatan baru di kampung.Sambutan Hangat Warga

Warga langsung berkerumun menyambut mereka.Isak tangis haru pecah di alun-alun.Semua orang mengagumi keberanian mereka.Sorak-sorai gembira menggema memecah pagi.

Penyimpanan Golek Pancasona

Sebelum pamit, Aki Sasmita menyerahkan golek itu. Pusaka tersebut kini resmi diamanatkan kepada mereka berdua."Jaga baik-baik pusaka ini," pesan Aki."Kalian adalah pelindung sejati" kampung ini.Cepot menerima golek dengan tangan bergetar.Golek Kuning tersenyum memancarkan aura damai.

Candaan di Sela Lelah

Suasana haru segera mencair menjadi tawa renyah. Warga berbondong-bondong menyuguhkan makanan hangat untuk mereka.Dawala langsung ambruk di bale-bale bambu.

Aduh, pinggang urang asa potong," keluh Dawala.

Cepot malah asyik membual di depan warga."Ki Burak langsung takutan" melihat ketampananku!" klaim Cepot.

Dawala melempar kulit singkong ke muka Cepot."Muka huntu monyong begitu" dibilang tampan!

ejek Dawala.

Pamitan Aki Sasmita

Di tengah kegembiraan warga, Aki Sasmita tersenyum. Beliau perlahan berjalan mundur meninggalkan keramaian tersebut.Aki kembali ke pertapaan dengan hati tenang.Tugasnya menuntun anak muda telah selesai.Langkah kakinya menghilang di balik kabut fajar.

Kedamaian Tummaritis kini aman di tangan mereka.

Utusan dari Desa Sindangasih

Tiga bulan setelah kedamaian kembali ke Kampung Tummaritis, Cepot dan Dawala kini dikenal sebagai penjaga kampung yang disegani. Namun, takdir tampaknya belum mengizinkan kedua bersaudara ini untuk bersantai terlalu lama di atas bale-bale bambu.

Kedatangan Tamu Asing

Sore itu, saat Cepot sedang asyik memetik kecapi dan Dawala terkantuk-kantuk,

seorang pemuda asing berlari terengah-engah memasuki halaman rumah mereka.

Napas pemuda itu memburu dengan tubuh penuh luka goresan ranting.Pakaiannya yang khas menandakan ia berasal dari luar wilayah Tummaritis.

Ia langsung bersujud di depan kaki Cepot yang sedang memegang singkong bakar.

Tolong kami, Kang Cepot, Kang Dawala..." rintih pemuda itu sebelum pingsan.

Misteri Desa yang Tertidur

Setelah diberi minum dan ditenangkan, pemuda yang mengaku bernama Ujang itu menceritakan petaka yang menimpa desanya,

Desa Sindangasih.Seluruh warga desa tertidur serempak sejak gerhana bulan tiga bulan lalu.Hanya Ujang yang selamat karena saat itu sedang merantau di hutan seberang.

Mereka tidak bisa dibangunkan meski tubuhnya diguncang atau disiram air.Aura hitam pekat perlahan mulai menyelimuti batas desa setiap malam tiba.

Panggilan Jiwa Pahlawan

Dawala saling berpandangan dengan Cepot. Mereka menyadari bahwa peristiwa ini terjadi tepat di malam yang sama saat mereka mengalahkan Ki Burak di Bukit Tengkorak.

Golek Pancasona di dalam kamar tiba-tiba bergetar dan memancarkan cahaya hangat.

Ieu pasti sisa-sisa" kejahatan Ki Burak yang pindah tempat," tebak Dawala serius.

Wah, teu bisa diantep!" seru Cepot sambil mengikat kain kepalanya kencang-kencang.

Cepot mengambil Golek Pancasona dan menyelipkannya dengan aman di pinggang.

Perjalanan Baru Dimulai

Tanpa membuang waktu, Cepot dan Dawala mengemas perbekalan ala kadarnya.

Mereka menatap jalan setapak yang menuju ke arah barat, menembus hutan rimba yang belum pernah mereka jamah.

Dawala membawa galah bambu andalannya untuk berjaga-jaga.

Cepot berjalan paling depan sambil mengunyah sisa singkong bakarnya.

Siap-siap, Dawala! Urang hunting" jurig deui!

seloroh Cepot mencoba mengusir gugup.Langkah kaki mereka mantap meninggalkan Tummaritis demi menepati janji pada Aki Sasmita.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!