Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bian Wijaya
Dua hari setelah pernikahan, Bayu dan Andin memutuskan pindah ke apartemen Bayu di wilayah elit Jakarta. Keduanya meminta izin saat sarapan bersama keluarga besar Andarsono, sehari sebelumnya. Semua orang awalnya tidak memberi respon positif, tetapi anggukan singkat dari sang kakek sebagai tetua paling dihormati tidak bisa dibantah oleh semua orang.
Apartemen itu sangat mewah dan luas. Terletak di lantai atas perumahan elit yang dihuni orang-orang kaya Jakarta. Apartemen yang dibeli Bayu sejak lama sesuai permintaan Annisa. Isinya sangat lengkap. Ada dua kamar tidur, dapur, ruang tamu, ruang tengah, ruang olahraga, perpustakaan juga ada taman kecil dengan kursi empuk tempat bersantai.
Tidak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya yang akan tidur dalam satu kamar. Keduanya tetap pada rencana awal, yaitu pisah kamar.
Suasana hari pertama di Apartemen itu sungguh canggung. Dua orang asing yang akan kikuk ketika berada dalam satu ruangan yang sama.
Pukul 09.00 pagi, keduanya sama-sama keluar dari kamar masing-masing, yang letaknya berdekatan. Saat mata mereka bertemu, Andin langsung memalingkan wajah, pura-pura melihat ke arah lain. Sedangkan Bayu langsung hendak masuk kembali ke kamar miliknya. Tepat saat itu, Andin memanggil pelan.
“Mas.”
“Iya.” Bayu yang sudah selangkah didalam kamar, berbalik kembali, wajahnya penuh pertanyaan.
“Kita harus bicara.” Andin bersuara pelan.
“Baiklah.” Bayu menjawab sembari keluar dan menutup pintu kamar. Keduanya lalu berjalan bersisian menuju ruang tengah. Mereka duduk di sofa yang sama dengan jarak saling berjauhan, pemandangan yang sangat aneh untuk pasangan suami istri dalam masa pengantin baru.
“Mas, kita sebaiknya membuat kontrak pernikahan.” Andin membuka suara, setelah diam hampir 2 menit.
“Kontrak pernikahan, yaa.” Bayu mengulang kalimat itu, seperti menimbang-nimbang. “Baiklah, saya memang berniat mendiskusikannya dengan mu. Syukurlah kamu meminta lebih awal.”
“Eeem, mas. Sebelum itu, ada sesuatu yang harus saya sampaikan.” Andin terlihat gusar saat kalimat itu meluncur dari bibirnya.
“Apa itu, Andin?” Tanya Bayu.
“Itu… S-saya sebenarnya memiliki kekasih.”
DEG
Untuk sesaat, jantung Bayu terasa terhimpit sesuatu yang sangat berat. Lelaki itu bahkan sedikit kesulitan bernapas.
“Maksudnya, kamu punya pacar, Din?”
“I-iya mas. Namanya Bian Wijaya.”
“Bian… Wijaya…” Bayu lagi-lagi mengulang nama itu. “Namanya seperti tidak asing.” Lanjutnya pelan.
“A-apa mas?” Tanya Andin.
“Bukan apa-apa, Din. Tapi, pernikahan ini, apakah dia sudah tahu?”
“Belum mas. Aku harap dia belum tahu.”
“Kapan kamu berencana memberitahunya?”
“S-saya…. Emm.. eeee… mungkin…”
“Jadi… kamu berencana untuk merahasiakan pernikahan ini, ya?” Tebak Bayu tepat sasaran.
“I-iya, mas.”
“Alasannya??” Selidik Bayu.
“Karena…. Kita akan bercerai dalam dua tahun.” Andin menjawab lugas.
“Begitu yaa…” Kalimat itu terlontar dari bibir Bayu pelan, sedangkan dibawah sana kedua tangannya mengepal kuat.
“Andin, saya ada urusan mendesak. Kontrak pernikahan itu…. Kita akan bicarakan lain waktu. Saya harus segera pergi.” Pamit Bayu
“B-baik mas.”
Kemudian, tanpa berkata apapun, Bayu keluar dari apartemen itu. Andin yang sedikit meliriknya terkejut, sebab wajah Bayu kelihatan sangat kaku, ekspresinya juga sedingin es.
BRAKKK
Pintu apartemen tertutup dengan suara yang membuat Andin terlonjak kaget.
“Astaga!!!! O-orang itu kenapa sih?? Apa dia marah?” Katanya, sambil mengelus dadanya. “Aneh banget, mas Bayu.” Beo-nya sambil berdiri. Gadis itu merasa harus mandi untuk menghilangkan ketegangannya.
…..
Bayu berjalan super cepat menuju mobilnya di basement. Sejak tadi, tangannya tidak berhenti mengepal. Jika diperhatikan lebih teliti, warna matanya yang hitam kelam, perlahan berubah kecoklatan. Kedua warna itu silih berganti dengan tempo yang sangat singkat.
Setibanya di basement, Bayu segera masuk kedalam mobilnya dan menguncinya. Suara debum pintu mobil yang tertutup keras, bergema di lantai basement yang sepi.
“Fuck! Fuck! Fuck!” Bayu berteriak penuh amarah. Napasnya terdengar begitu cepat, mirip orang yang habis lari berpuluh-puluh kilometer. Dan kini, warna matanya sempurna berubah coklat.
“Anjing!!” Teriaknya, lebih mirip raungan hewan buas.
…..
Sementara didalam kamarnya yang nyaman di apartemen, Andin yang selesai mandi menerima sebuah pesan singkat. Dari kekasihnya, Bian.
“Aku turut berdukacita atas kematian Kak Nisa, yang. Maaf belum bisa datang. Aku lagi sibuk banget disini. Pasiennya banyak banget.” Andin tersenyum riang saat membacanya, senyum langka yang hanya ditujukan untuk Bian seorang.
Dengan cepat, gadis itu membalas pesan sang kekasih.
“Iya, gapapa, aku paham kok. Jangan lupa makan yah sayangku.” Kalimat itu diketik dengan wajah sumringah, dan langsung dikirim. Balasannya hanya emot senyum dan love dari Bian. Andin hampir berteriak saat menerima pesan itu.
….
Bayu yang masih di basement kini sudah cukup tenang, juga mengambil telpon genggamnya. Dalam satu panggilan yang langsung tersambung, lelaki itu berbicara tanpa basa-basi.
“Cari informasi tentang Bian Wijaya. Saya tunggu hasilnya malam ini juga.” Dan sambungan terputus.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/