NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. ALVIN HERMAWAN

"Bapak Alvin Hermawan... selamat datang!"

Harum buru-buru menjejalkan alat rias dan catokannya kembali ke dasar laci, lantas berjalan menyambut Alvin dengan gaya anggun dan resmi.

"Kamu... ibunya Sagara, kan?"

Alvin jelas-jelas mengabaikan sambutan Harum dan perhatiannya tertuju pada Erina.

Senyum Harum memudar, sementara pipi Erina semakin merah seakan terbakar.

"Y-ya...," Erina menyahut gugup. "Tapi... kenapa kamu bisa ada di sini...?"

"Oh... Pak Alvin dan Bu Erina sudah saling kenal, ya?"

Harum mencoba mengintervensi dengan ramah dan sopan, meski matanya yang berlapis lensa kontak hijau sempat melirik Erina dengan kesal sekaligus bertanya-tanya.

"Ya, kami bertemu di sekolah tadi--anak saya dan anak Bu Erina satu sekolah," jawab Alvin sambil terus menatap Erina. "Bu Erina juga bekerja di sini, rupanya?"

Erina terus terpana, sampai lupa mengangguk apalagi mengiyakan.

Harum berdehem kecil dan menyela, "Iya, Bu Erina ini admin marketing di kantor kami. Ia akan menjadi bawahan Anda, Pak Alvin. Kalian akan menjadi satu tim di Divisi Marketing."

Mulut Erina makin menganga--makin mirip ikan kakap merah yang baru saja kehilangan udara dan nyawa.

Aku... bawahan Alvin? Satu tim Divisi Marketing? Berarti, dia...

"Salam kenal, Bu Erina. Saya Alvin, Manajer Marketing yang baru. Mohon kerjasamanya ya."

Alvin mengulurkan tangan ramah, dan Erina menjabatnya dengan susah payah.

"Sa-saya Erina..."

Alvin tersenyum. Erina tak bisa tersenyum--entah mengapa ia jadi seperti pasien IGD yang mendadak kena serangan jantung, pucat dan hampir tak bernapas.

"Bu Erina sehat?"

Alvin kini menatapnya lekat dan agak khawatir.

"Se...sehat, sehat," jawab Erina terbata. "Maaf... cuma kaget... nggak nyangka ketemu Bapak lagi di sini..."

Alvin tertawa pelan.

"Ya, saya juga kaget. Dunia seakan sempit, ya?"

Erina membuka mulutnya dan tertawa tanpa suara--saking groginya.

Alvin menggeleng kecil--seakan geli melihat reaksi Erina, lantas mengalihkan netra cokelat jernihnya ke arah Harum.

"Anda Bu Harum, HRD kantor ini, ya?"

Harum seketika tersenyum lebar dan cerah.

"Benar. Saya Harum Nirmala. Panggil saja Harum, Pak Alvin. Selamat datang! Saya sudah menunggu Bapak dari tadi--saya pikir Bapak tersesat saat menuju tempat pinggiran seperti ini..."

"Ya, maaf terlambat. Seperti yang saya katakan tadi, ada urusan di sekolah anak saya, dan jarak tempuh ke tempat ini lumayan makan waktu, jadi saya baru bisa datang sekarang," ujar Alvin halus. "Tolong berikan saya surat dan berkas yang harus saya tanda tangani, dan setelah itu tolong antar saya bertemu dengan Pak Derek. Beliau pasti sudah menunggu saya juga di ruangan direktur..."

"Oh, tentu. Silakan duduk dulu, Pak Alvin. Saya akan siapkan semuanya untuk Anda, dan Anda bisa bertemu Pak Derek setelah ini... saya siap membantu Anda sepanjang hari, jangan khawatir!"

Harum memberi isyarat lembut agar Alvin masuk dan duduk di kursi yang tadi diduduki Erina. Ekspresinya sesaat berubah ketika melihat Erina masih mematung, dan berkata cepat nyaris tanpa suara, "Ngapain masih di sini? Balik posmu sana!"

Erina menarik napas dalam-dalam untuk mengalirkan energi ke sekujur tubuhnya, lantas bergegas meninggalkan ruang HRD dan menaiki tangga besi bercat biru menuju ruangan Divisi Marketing di lantai dua.

"Puji Tuhaaan, akhirnya kamu datang, Rin!"

Di mejanya, seorang wanita paruh baya berkacamata persegi, berblazer dan rok panjang warna hitam, dengan bedak tebal dan rambut lurus sebahu yang disemir merah menatap Erina dan menyeru kencang--seakan melihat malaikat penyelamat datang membawa tiket surga secara cuma-cuma.

"Maaf--Mami pasti repot ya handle kerjaan aku," gumam Erina seraya meletakkan tas di rak dokumen belakang mejanya. "Orderannya sudah ter-input dan terkoreksi semua? Ada masalah?"

"Banyaaak," Winnie, admin pengiriman yang dipanggil "Mami" karena paling tua dan keibuan di kantor, langsung menyahut sekaligus mengeluh. "Ini tadi banyak telepon masuk untuk order sekaligus komplain--udah Mami catet sih di buku besarmu. Nanti tolong kamu call back mereka, ya... Mami udah janjiin kamu bakal hubungi mereka habis makan siang. Terus pre-invoice order hari ini juga belum sempat Mami print semua... Mami juga belum sempat tracking proses picking dan packing anak-anak gudang sudah sampai mana... belum sempat bikin purchase order item khusus juga..."

Erina nyaris menggaruk kepalanya yang masih berdenyut-denyut. Dengan kata lain, kerjaannya menumpuk dan harus segera beres kalau tak mau mengundang masalah yang lebih besar.

"Oke... thanks, Mami. Aku handle dari sini. Mami bisa balik ke pos Mami ya... sekali lagi, thanks."

Winnie mundur dan dengan cepat meninggalkan ruangan Marketing, seakan tempat itu terkutuk dan menyebarkan penyakit menular.

Erina menarik napas panjang sebelum melakukan pekerjaannya. Ia membuka buku besar yang untuk hari ini saja sudah terisi catatan seputar orderan dan komplainan customer sebanyak dua puluh halaman--lalu dengan cepat ia mulai meng-input orderan yang belum sempat dimasukkan Winnie ke sistem komputer.

Saat bel istirahat berbunyi "teeett" lemah sekali, Erina mengabaikannya. Ia terus berkutat dengan orderan dan tracking system--menelusuri proses order hari ini dan di tanggal-tanggal sebelumnya sesuai orderan dan komplainan yang diterimanya, membuat catatan solutif, dan mencetak pre-invoice order untuk kiriman selanjutnya.

"Heh! Kerja mulu. Nggak bakal kaya juga. Makan siang dulu lah!"

Harum sudah memasuki ruangan Marketing dan mengetuk meja Erina, sorot mata dan ekspresinya kentara sebal.

"Kamu nggak jadi lunch date?"

Erina menatap Harum heran sambil melipat dan memisahkan lembaran pre-invoice order yang terasa hangat karena baru keluar dari mesin cetak dengan bunyi "kreek" renyah.

"Maunya," gerutu Harum. "Tapi doi nggak keluar juga dari ruangan Pak Derek..."

"Hah? Kamu ngomongin siapa sih?" Erina ternganga, tak paham.

"Pak Alvin. Siapa lagi?" dengus Harum.

Erina terperangah, lantas menepuk jidatnya.

"Jadi gebetan barumu Pak Alvin? Astaghfirullah... istighfar, Rum!"

"Kenapa aku harus istighfar?" Harum mengernyit, tak mengerti.

"Pak Alvin udah berkeluarga... dia udah punya anak! Kamu dengar sendiri tadi... dan nggak mungkin juga kamu nggak tahu!"

"Iya, aku tahu. Dia duda anak satu."

Erina mengerjap lambat.

"Duda...?"

"Istrinya udah lama meninggal. Dia udah menduda selama sepuluh tahun. Hebat ya bisa tahan melajang selama itu?" Harum menggeleng dan cekikikan. "Tapi kita lihat aja nanti, dia masih mau terus jadi duda nggak kalau kupepet dengan pesonaku..."

Erina memutar bola matanya, tak terkesan.

"Kamu serius mau nikah sama dia? Yakin bisa menaklukkan hati anaknya dan mau jadi ibu tiri juga?"

"Why not? Atau kamu mau taruhan?"

"Boleh," Erina menyeringai. "Kalau aku menang, THR-mu buat aku, ya!"

"Deal! Kalau aku menang, THR-mu buat aku, ya!" Harum menjabat tangan Erina, lantas keduanya tertawa.

"Lhoo, anak-anak cantik Mami nggak makan siang?"

Winnie yang baru saja selesai makan di pantry pun lewat dan menegur Erina dan Harum dari balik pintu kaca ruangan Marketing, tangannya membawa kotak bekal yang sudah bersih.

"Iya, Mi, habis ini kita ke pantry," sahut Harum santai. "Yuk, ah, Rin--temenin aku bikin Ind*mie!"

"Minta temenin atau nyuruh aku bikin?" dengus Erina.

Harum spontan tertawa.

"Kamu tahu aja. Kamu kan jago masak, Ind*mie buatanmu lebih enak dari buatanku..."

"Alasan! Bilang aja males bikin sendiri!"

"Ya hitung-hitung kompensasi lah... kamu nggak buka katering hari ini karena harus urus sidang anakmu, jadinya aku nggak punya lauk buat makan siang. Ayo bikinin aku Ind*mie goreng--yang versi Thailand, ya, pakai chili oil, jeruk nipis, dan irisan daun jeruk yang banyak!"

Obrolan dua sahabat itu pun berlanjut di pantry--yang sepi dan hanya ada mereka berdua, karena sebagian besar karyawan sudah selesai makan dan berpencar ke berbagai sudut gudang untuk sekadar rebahan atau sungguhan tidur siang.

"Tadi katanya mau lunch date... emang kamu mau makan apaan sama Pak Alvin kalau cuma bawa diri begitu?"

Erina setengahnya merasa sebal hingga menggerutu, namun tangannya tetap cekatan meracik dan mengaduk bumbu mie sesuai permintaan Harum.

"Ya diriku ini buat makan siang Pak Alvin," sahut Harum sambil membuka dan mengunyah sebungkus keripik jagung pedas dengan santai.

"Heh!" Erina langsung melotot.

"Bercandyaaa," Harum menimpali dan tertawa dengan nada. "Tadinya mau kutawarin makan siang bareng di luar... di restoran mana gitu. Atau kalau dia nggak mau keluar, ya kuorderin lewat aplikasi online. Dia kan belum tahu makanan enak di daerah sini, jadi pasti butuh rekomendasi..."

"Iya sih... dia kan baru aja balik dari luar negeri," gumam Erina seraya meniriskan mie yang baru matang dari panci.

"Kok kamu tahu?" Alis indah Harum langsung bertaut, tatapannya curiga.

"Tadi dia sempat bilang gitu di sekolah."

"Oooh. Emang gimana ceritanya kalian bisa ketemu? Udah ngobrol apa aja emang? Jawab jujur!"

Erina mendengus saat melihat ekspresi dan pertanyaan Harum yang mirip polisi tengah menginterogasi tersangka, tetapi ia tetap menjelaskannya dengan gamblang.

"Aduuuh, ternyata anakku jadi korban penganiayaan?! Dan anakmu yang udah nolongin anakku?! Luar biasa... bisa besanan kita suatu hari nanti!"

Reaksi Harum membuat Erina ingin mencubit ginjal sahabatnya itu, tetapi ia bisa menahan diri.

"Jujur aku nggak nyangka sih, ayahnya Nia--anak perempuan yang dibelain Saga itu--ternyata jadi bos baruku di sini," Erina menumpahkan uneg-unegnya setelah melahap beberapa suap mie-nya sendiri.

"Sama, aku juga!" Harum mengangguk. "Orang seperti Pak Alvin itu harusnya nggak jadi Manajer Marketing di kantor kecil ini... mencurigakan, malah."

Erina mengerutkan kening. "Mencurigakan gimana?"

Harum menelan makanannya. Ekspresinya berubah serius, dan suaranya tiba-tiba merendah.

"Kamu tahu, nggak? Pak Alvin itu..."

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!