Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Senin pagi di kantor Baskara Group, biasanya berjalan seperti mesin yang diminyaki dengan baik. Sunyi, efisien, dan dingin. Namun, langkah kaki Kirana yang mengetuk lantai marmer lobi hari itu terasa berbeda. Ada beban tak kasat mata yang bergelayut di pundaknya sejak makan malam di rumah Sofia Baskara dua hari lalu.
Kalimat Sofia terus terngiang-ngingang di kepalanya.
"Tolong jaga dia untuk Ibu ya"
Kirana mengembuskan napas panjang saat melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, atmosfernya mendadak berubah. Beberapa staf dari divisi kreatif dan humas yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis langsung bungkam. Mereka memandang Kirana dengan mata melebar, lalu buru-buru berpura-pura sibuk membolak-balik dokumen kosong.
Kirana mengernyit. Sebagai sekretaris utama, dia memiliki radar yang sangat sensitif terhadap gosip kantor. Dan pagi ini, radarnya berbunyi tajam.
"Selamat pagi, Mbak Kirana" sapa Tika, dia staf di bagian administrasi yang menyapa dengan senyum yang dipaksakan dan nada suara yang naik satu oktav. Terlalu ramah untuk ukuran di hari Senin.
"Selamat pagi, Tika. Ada apa ya? Kenapa semuanya melihat ke saya seolah-olah saya ini baru saja menang lotre?" tanya Kirana langsung tanpa basa-basi lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Tika menelan ludah, melirik ke kiri dan ke kanan sebelum berbisik.
"Mbak Kirana belum buka grup *chat* internal non-resmi ya?" tanya Tika.
Kirana buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku. Dan benar saja, ada ratusan notifikasi yang sengaja sia bisukan sejak semalam. Begitu dia membuka salah satu ruang obrolan, jantungnya terasa mau melompat keluar. Di sana terlampir sebuah foto buram, namun sangat jelas menunjukkan dua orang yang mengenakan jas hujan plastik tipis, satu warna hijau neon dan satu warna merah muda, terlihat sedang berjalan berhimpitan di bawah guyuran hujan deras di kawasan perumahan elite tempat tinggal Sofia Baskara.
Keterangan fotonya tertulis.
"CEO Baskara Group terciduk jalan kaki pakai jas hujan sepuluh ribuan demi antar jemput Sekretaris Kaku? Fix, ini plot twist terbesar tahun ini!"
Kirana memejamkan matanya rapat-rapat.
"Sial. Radit benar-benar pembawa sial" rutuk Kirana dalam hati.
"Mbak Kirana. Itu beneran Mbak Kirana, kan? Jadi rumor kalau Mbak sama Pak Radit ada 'sesuatu' itu... nyata?" tanya Tika dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
Sebelum Kirana sempat menyusun kalimat penolakan yang diplomatis dan profesional, pintu ruangan CEO terbuka lebar. Radit keluar dengan setelan jas hitam yang rapi, rambut yang tertata mulus menggunakan minyak pomade, dan wajah yang segar bugar. Sama sekali tidak terlihat seperti pria yang dua hari lalu mendapatkan cubitan yang pahanya membiru.
"Kirana! Bagus, kamu sudah datang" panggil Radit dengan suara lantang, sengaja membuat seluruh orang di lantai itu mendengar. "Masuklah ke ruanganku sekarang. Ada hal serius yang harus kita bahas mengenai... 'proyek' kita" lanjutnya.
Kirana menarik napas dalam-dalam sambil memperbaiki posisi kacamatanya, lalu dia berjalan masuk ke ruangan Radit dengan langkah tegap, meskipun di dalam hati dia sudah menyusun rencana untuk menenggelamkan bosnya itu ke dasar laut.
Brak!
Kirana menutup pintu ruangan Radit dengan sedikit hentakan. Dia langsung meletakkan ponselnya yang masih menampilkan foto mereka berdua di atas meja kerja Radit.
"Bisa Anda jelaskan apa ini, Pak Radit?" ucap Kirana dengan nada menuntut, dia kembali menggunakan panggilan formal karena tingkat kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun.
Radit melirik ponsel itu, lalu terkekeh tanpa dosa. Dia duduk di kursi kebesarannya sambil menyilangkan kaki.
"Wah, sudut pengambilan gambarnya bagus juga. Aku kelihatan tinggi dan seperti sosok pelindung banget di situ, iya kan?" ucap Radit dengan santainya.
"Pak Radit, ini bukan waktunya bercanda" ucap Kirana memukul meja dengan ujung jarinya. "Foto ini sudah menyebar di seluruh grup karyawan. Reputasi saya sebagai sekretaris profesional yang berintegritas bisa hancur dalam semalam. Mereka akan mengira saya memanfaatkan posisi saya untuk menggoda Anda" lanjutnya.
Radit mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit lebih serius. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan.
"Kirana, dengar. Pertama, foto itu diambil oleh salah satu tetangga ibuku yang kebetulan lewat, lalu entah bagaimana bisa bocor ke staf kita. Kedua, ini justru menguntungkan kita" ucap Radit.
"Menguntungkan dari mana? " ucap Kirana kesal.
"Kontrak kita" ucap Radit santai. "Ingat Pasal 5 tentang validitas hubungan di depan publik? Dengan adanya foto ini, seluruh dunia termasuk mata-mata ibuku atau kolega bisnis yang mau menjodohkanku akan percaya kalau kita benar-benar pacaran. Hubungan kita bukan cuma rekayasa di atas kertas, tapi ada 'bukti nyata' kalau kita sedekat itu sampai rela hujan-hujanan bersama. Ini namanya 'organic marketing'."ucap Radit.
Kirana tertegun. Logika Radit yang aneh itu sialnya selalu masuk akal jika dilihat dari sudut pandang bisnis. Namun tetap saja, ego dan harga diri Kirana memberontak.
"Tapi tetap saja Pak Radit, saya yang menjadi sasaran gosip di kantor ini" ucap Kirana, suaranya melembut, menyiratkan rasa lelah dan prustasi.
Radit menatap Kirana, ada kilat penyesalan yang melintas cepat di matanya sebelum dia kembali memasang senyum usilnya. "Tenang saja. Tidak akan ada yang berani merundung atau meremehkanmu di kantor ini. Kalau ada yang macam-macam, aku tinggal potong bonus tahunan mereka. Beres, kan?" ucap Radit.
Kirana hanya bisa menghela napas pasrah. Berdebat dengan Raditya Baskara adalah olahraga otak yang paling menguras energi.
____
Tepat jam sebelas siang, interupsi lain datang. Telepon di meja Kirana berdering.
"Mbak Kirana, ada kurir di bawah yang mengantarkan paket besar. Katanya ini paket khusus yang harus diantarkan langsung ke ruangan Pak Radit dan harus diterima oleh Mbak Kirana juga" lapor resepsionis dari lantai bawah.
"Paket? Dari siapa?" tanya Kirana kening berkerut.
"Pengirimnya... Nyonya Sofia Baskara, Mbak."
Mendengar nama itu, Kirana langsung siaga satu. Dia segera menyuruh kurir tersebut naik. Beberapa menit kemudian, seorang petugas keamanan kantor membantu membawa sebuah kotak kayu besar yang diikat dengan pita merah muda rapi ke dalam ruangan Radit.
Radit yang sedang memeriksa laporan keuangan langsung berdiri dari kursinya dengan wajah heran.
"Ibu kirim apa lagi ini? Bom waktu kah? " ucap Radit.
"Jangan bicara sembarangan, Pak. Ini dari Ibu Anda" tegur Kirana.
Dengan menggunakan gunting besar, Radit memotong pita dan membuka tutup kotak kayu tersebut. Begitu tutupnya terbuka, keduanya langsung mematung.
Di dalam kotak tersebut terdapat dua buah barang yang diletakkan berdampingan:
Sebuah stroller bayi super mewah berwarna hitam bercampur emas dengan merek Silver Cross yang harganya setara dengan motor matic baru.
Sebuah buku tebal berjudul 'Panduan Sukses Program Hamil dan Memiliki Anak Kembar secara Alami'.
Di atas buku tersebut, ada selembar kartu ucapan dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan elegan. Radit mengambil kartu itu dan membacanya keras-keras.
"Untuk Radit dan Kirana tersayang. Ibu tahu kalian sibuk bekerja, tapi masa depan tidak boleh ditunda. Ibu sudah membelikan stroller bayi versi terbaik sebagai pancingan doa agar cucu kembar tiga Ibu cepat hadir. Buku ini tolong dibaca bersama setiap malam ya. Ibu tunggu kabar baiknya bulan depan. Love, Ibu"
Ruangan CEO itu seketika menjadi hening dan senyap. Bahkan suara AC yang berdengung halus pun terdengar jelas.
Kirana menatap stroller bayi itu, lalu beralih menatap buku panduan hamil, dan terakhir menatap Radit dengan pandangan mata yang bisa membunuh seekor beruang dewasa.
"Anak kembar tiga..." ucap Kirana, nada suaranya rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang tertahan. "Pasar malam, renovasi sayap rumah..." lanjutnya
Radit menelan ludah dengan susah payah. Dia perlahan mundur satu langkah saat melihat Kirana mulai berjalan mendekatinya sambil memegang buku panduan program hamil yang cukup tebal untuk membuat seseorang pingsan jika dipukulkan ke kepala.
"Kirana... t_tenang dulu, Kirana. Ini... ini di luar kendaliku! Ibuku cuma terlalu bersemangat" ucap Radit mengangkat kedua tangannya, mencoba membela diri.
"Ini semua karena rencana konyol Anda malam itu, Raditya" ucap Kirana, untuk pertama kalinya dia melupakan semua batasan panggilan formal maupun kontrak. "Sekarang lihat apa yang dilakukan ibu Anda! Beliau mengirimkan stroller bayi ke kantor! Ke kantor, Radit! Bagaimana saya harus menjelaskan ini pada staf yang melihatnya?" lanjutnya dengan nada yang naik satu oktaf.
"Kita... kita bilang saja ini... donasi untuk yayasan?" ucap Radit asal, yang langsung dihadiahi tatapan maut oleh Kirana.
"Jangan bercanda. Kita harus menghentikan ini sebelum kebohongan kita melangkah terlalu jauh ke arah pernikahan fiktif!" ucap Kirana sambil meletakkan buku itu kembali ke dalam kotak dengan hentakan keras. "Saya tidak mau terlibat dalam skenario program hamil palsu" lanjutnya.
Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di satu sisi, dia merasa situasi ini sangat kocak dan pusing di saat yang bersamaan. Namun di sisi lain, melihat Kirana yang wajahnya memerah karena marah sekaligus malu, entah mengapa membuat dada Radit terasa hangat. Sekretarisnya yang biasanya sedingin es dan sekaku papan cucian, hari ini terlihat sangat hidup dan menggemaskan.
"Oke, oke, aku minta maaf" ucap Radit lembut, membuat Kirana agak terkejut dengan perubahan nadanya. Radit berjalan mendekati kotak itu, lalu menutupnya kembali. "Aku yang akan bicara pada Ibu malam ini. Aku akan bilang kalau kita mau fokus karier dulu dan jangan kirim barang-barang aneh lagi ke kantor. Aku berjanji akan membereskan semuanya" lanjutnya.
Kirana menatap Radit, dia mencoba mencari kebohongan di mata pria itu. Namun yang dia temukan hanyalah kesungguhan yang jarang ditunjukkan sang CEO itu.
"Benar ya? Anda harus membereskannya" ucap Kirana, suaranya mulai mereda.
"Iya, aku janji. Tapi dengan satu syarat" ucap Radit dengan tersenyum usil, sifat aslinya kembali keluar.
"Apa lagi?" ucap Kirana menghela nafas.
"Makan siang nanti, kamu harus menemaniku makan di kantin karyawan bawah. Kita harus menunjukkan pada semua orang yang menggosipkan kita kalau... yah, bos mereka ini memang sedang bucin setengah mati pada sekretarisnya" ucap Radit.
Kirana memejamkan mata, merutuki nasibnya yang entah bagaimana bisa terikat kontrak dengan pria paling random di Jakarta yang luas ini.
"Baik. Tapi Anda yang bayar" ucap Kirana.
"Tentu saja, Sayang. Apapun untuk calon ibu dari anak kembar tigaku" goda Radit dengan tertawa lepas, lalu segera berlari menghindar sebelum Kirana sempat melemparnya dengan hekter di atas meja.