NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 16

Rumah Sakit Fujiwara Medical Center.

Gedung rumah sakit itu berdiri dengan sangat megah dan menjulang tinggi di kawasan pusat kota, menampilkan desain arsitektur modern yang dipadukan dengan pencahayaan lampu putih yang bersih dan steril. Tempat itu merupakan salah satu dari sekian banyak aset kekayaan yang dimiliki oleh keluarga besar Fujiwara, sebuah jaringan rumah sakit ternama yang cabangnya sudah tersebar luas di seluruh penjuru negeri. Demi kenyamanan Lucy, Kaito sama sekali tidak memilih kamar perawatan biasa, melainkan langsung memesan sebuah ruang VVIP yang terletak di lantai paling atas gedung.

"Kaito, kamu tidak bisa terus-menerus berada di dalam ruangan ini..." Seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih khas dokter tampak sedang berdiri di ambang pintu masuk. Usianya diperkirakan berkisar di angka empat puluh tahunan, dengan rambut hitam yang sudah mulai dihiasi oleh beberapa helai uban di bagian pelipisnya. Garis wajah pria itu terlihat sangat mirip dengan struktur wajah Kaito, mulai dari bentuk rahang yang tegas hingga tulang pipi yang tinggi. Namun pancaran sepasang matanya terasa jauh lebih hangat.

"Paman." Kaito sama sekali tidak repot-repot untuk menolehkan kepalanya. Dia tetap setia duduk di atas sebuah kursi besi yang diletakkan tepat di samping ranjang pasien, dengan kedua tangannya yang terus menggenggam erat jemari tangan Lucy yang terasa dingin. "Aku tidak akan pernah pergi dari tempat ini."

Paman Ryo, adik kandung dari ayah Kaito yang bekerja sebagai salah seorang dokter spesialis senior di rumah sakit ini sekaligus merupakan satu-satunya anggota keluarga Fujiwara yang benar-benar tulus memedulikan kondisi Kaito, hanya bisa menghela napas panjang melihat kedegilan keponakannya. "Kamu bahkan belum menyentuh makananmu sedikit pun sejak tadi, dan kamu juga sama sekali belum beristirahat. Ini sudah berlalu selama empat jam penuh, Kaito."

"Aku tidak merasa lapar, dan aku juga tidak merasa lelah."

"Kaito, dengarkan Paman..."

"Aku bilang aku tidak akan pernah pergi meninggalkan dirinya sendiri."

Paman Ryo menatap lekat ke arah keponakannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sosok Kaito yang selama ini dia kenal adalah seorang anak laki-laki yang berwatak dingin, kaku, dan tidak pernah membiarkan dirinya dekat dengan siapa pun, terlebih lagi dengan seorang perempuan. Luka trauma mendalam yang ditinggalkan oleh kepergian ibu kandungnya dahulu telah membuat Kaito memilih untuk menutup rapat-rapat seluruh akses menuju ke pintu hatinya. Namun sekarang anak laki-laki yang keras kepala itu justru sedang menggenggam erat tangan seorang gadis seolah-olah keberadaan gadis itulah yang menjadi satu-satunya alasan yang menahan dirinya untuk tetap waras.

"Kamu ternyata benar-benar mencintai gadis ini," ujar Paman Ryo dengan nada suara yang sangat pelan. Kalimat itu sama sekali bukan merupakan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah kesimpulan mutlak.

Kaito memilih untuk tidak memberikan respons apa pun, namun cengkeraman tangannya pada jemari Lucy tampak semakin mengerat dari sebelumnya.

"Tim dokter tadi sudah selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisiknya. Dia hanya mengalami gejala gegar otak ringan akibat benturan. Luka robek yang ada di bagian kepalanya juga sudah dibersihkan dan dibalut dengan perban steril. Dia dipastikan akan segera siuman dalam waktu dekat." Paman Ryo melangkah mendekat, lalu menepuk pelan bahu Kaito. "Dia akan baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir yang berlebihan lagi."

"Paman tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Paman ini adalah seorang dokter profesional, jadi Paman tahu betul mengenai kondisi pasien."

Suasana di dalam ruangan VVIP itu kembali berubah menjadi hening selama beberapa saat, sebelum Kaito akhirnya kembali bersuara dengan nada yang hampir menyerupai bisikan. "Dia itu sangat berbeda dari gadis lainnya, Paman. Dia sama sekali tidak seperti mereka."

Paman Ryo menyunggingkan sebuah senyuman tipis mendengar pengakuan jujur itu. "Paman tahu hal itu. Paman bisa melihat ketulusan itu dari caramu menatap dirinya sejak tadi." Dia kembali menepuk bahu keponakannya sebanyak dua kali sebelum akhirnya melangkah lebar menuju ke luar ruangan. Tepat di depan pintu, langkahnya sempat terhenti sejenak. "Paman sangat berharap kalian berdua bisa terus bersama, Kaito. Kamu sudah sangat layak untuk mendapatkan kebahagiaanmu sendiri."

Pintu kayu mewah itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan Kaito yang kini kembali sendirian di dalam kamar bersama dengan Lucy.

Dia menatap lekat ke arah wajah gadis itu, wajah yang tampak begitu pucat dengan bagian kepala yang terbungkus rapi oleh balutan perban putih serta sepasang mata yang terpejam rapat. Penampilan Lucy saat ini tampak polos tanpa adanya penggunaan softlens berwarna, kacamata, ataupun segala bentuk kepura-puraan lainnya. Namun Kaito sama sekali tidak memedulikan semua hal itu. Dia ingat betul kalau dia sudah pernah melihat sepasang mata berwarna biru indah itu sebelumnya, tepatnya pada malam hari di bawah pendaran lampu jalanan kota, dan sejak saat itu dia tidak pernah bisa melupakan pesonanya.

"Kamu tahu," ujar Kaito dengan nada suara yang sangat pelan dan dalam. "Selama hidupku, aku tidak pernah membiarkan satu orang pun untuk bisa berjalan mendekat ke dalam kehidupanku, terlebih lagi jika orang itu adalah seorang perempuan. Ibu kandungku sendiri yang sudah menghancurkan segala bentuk rasa percaya di dalam diriku. Dia berhasil membuatku percaya bahwa semua perempuan di dunia ini memiliki tabiat yang sama, bahwa mereka hanya mengincar materi dari dalam diriku, mulai dari status sosial, kekayaan harta, hingga nama besar keluarga Fujiwara." Cowok itu sempat menelan ludahnya sejenak demi menahan gejolak rasa sesak di dadanya. "Namun kamu... kamu sama sekali tidak pernah meminta apa pun dariku. Kamu justru menjadi satu-satunya orang yang selalu memberi."

Kaito menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemari tangan Lucy yang terasa mungil di dalam genggaman kedua tangannya yang kokoh.

"Setiap hari penampilanmu selalu saja berubah, mulai dari warna rambutmu, warna matamu, hingga caramu menunjukkan senyuman. Aku jujur tidak tahu bagaimana cara kamu melakukan semua keajaiban itu, dan aku juga tidak tahu mengenai siapa sebenarnya identitas dirimu yang sesungguhnya. Namun aku..." Suara Kaito mendadak terdengar pecah menahan tangis. "...aku sama sekali tidak memedulikan semua misteri itu. Aku saat ini hanya ingin kamu bisa segera membuka matamu kembali, aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja."

Kaito perlahan membawa jemari tangan Lucy mendekat ke arah dahinya, menempelkannya di sana dengan penuh rasa khidmat.

"Aku berjanji kepadamu bahwa aku akan terus berada di sampingmu sampai kapan pun juga. Aku tidak akan pernah membiarkan satu orang pun memiliki kesempatan untuk menyakitimu lagi di dunia ini, tidak Hana, ataupun orang lain. Aku yang akan bertindak untuk melindungimu, Lucy, meskipun kamu tidak pernah memintanya dariku, dan meskipun kamu sebenarnya tidak menginginkan perlindungan ini. Aku... aku..."

Kaito tidak sanggup lagi untuk menyelesaikan untaian kalimat janjinya, namun setetes air mata ketulusan perlahan luruh dari pelupuk matanya dan jatuh tepat di atas punggung tangan Lucy.

Sementara itu, jauh di dalam dimensi kesadarannya, Lucy tampak sedang duduk santai di atas sebuah kursi malas berbahan beludru mewah sambil menatap lurus ke arah sebuah layar hologram besar yang menampilkan visualisasi Kaito yang sedang berada di samping ranjang perawatannya. Tangannya tampak memegang sebuah gelas berkaki yang berisi cairan anggur berkualitas tinggi, dan sepasang matanya menatap layar tersebut dengan ekspresi yang cenderung datar tanpa emosi.

"Kenapa ya?" tanya Lucy kepada Lili yang saat ini sedang meringkuk nyaman di atas pangkuannya.

"Memangnya kenapa?"

"Kenapa cowok manusia itu bisa bersikap sampai sejauh ini?" Lucy mengarahkan jari telunjuknya ke arah layar hologram. "Aku kan di sini hanya berpura-pura terjatuh dari atas tangga, dan kondisi fisik tubuhku yang sebenarnya sama sekali tidak mengalami luka yang serius. Namun dia... dia justru sampai menangis tersedu-sedu seperti itu hanya untuk meratapi kondisiku."

"Hal itu bisa terjadi karena dia sudah benar-benar jatuh cinta kepadamu secara tulus."

"Tapi bukankah hal itu memang sudah menjadi rencana awal kita? Membuat dia menyukaiku demi bisa mengumpulkan poin rasa suka sebanyak-banyaknya? Itu adalah sebuah strategi bisnis." Lucy menghela napas panjang, menaruh gelas anggurnya ke atas meja. "Namun situasi yang sekarang ini... dia terlihat benar-benar merasa terluka secara batin. Aku bisa menangkap gurat kesedihan itu dari pancaran matanya. Ini sudah bukan lagi sekadar urusan poin rasa suka biasa."

"Apa jangan-jangan kamu sekarang sudah mulai merasakan sebersit rasa bersalah kepadanya?"

Lucy terdiam seribu bahasa mendengar pertanyaan retoris dari sistemnya. Dia kembali melayangkan pandangannya menatap layar hologram, memperhatikan bagaimana Kaito masih terus menundukkan kepalanya di samping tubuh manusianya sembari meratapi tetesan air mata yang jatuh membasahi tangannya.

"Tidak," jawab Lucy akhirnya dengan nada suara yang mantap. "Aku sama sekali tidak merasakan rasa bersalah apa pun. Karena ini semua bukanlah merupakan babak akhir dari cerita kita. Aku dipastikan akan menjamin kalau dia akan mendapatkan akhir cerita yang bahagia nantinya. Dia tidak akan ditakdirkan mati mengenaskan seperti yang tertulis di dalam alur cerita novel aslinya, dan dia juga tidak akan berubah menjadi seorang penjahat kejam dengan tingkat kejahatan menyentuh angka sembilan puluh sembilan persen. Akulah yang akan menyelamatkan garis takdir hidupnya."

"Jadi kamu melakukan semua sandiwara rumit ini demi kebaikan dirinya?"

"Aku melakukan semua hal ini murni demi kepuasan diriku sendiri, demi kesenanganku dalam bermain peran." Lucy menyunggingkan sebuah seringai tipis di sudut bibirnya, namun kali ini seringai tersebut tidak terlihat setajam dan sekejam biasanya. "Namun... ya bisa dibilang begitu. Mungkin ada sedikit porsi yang sengaja kulakukan demi kebaikan cowok itu. Dia... dia ternyata tidak seburuk apa yang aku bayangkan sebelumnya."

Lucy kembali memfokuskan pandangan matanya ke arah layar hologram di depannya. Sosok Kaito masih setia berada di sana, masih terus menggenggam erat jemari tangannya tanpa berniat untuk melepaskannya, masih terus setia menunggu sebuah keajaiban datang.

"Biarkan tubuh manusiaku tetap dalam kondisi tidak sadarkan diri selama satu jam ke depan," perintah Lucy kepada Lili. "Aku ingin membuat dia merasakan penderitaan dan kekhawatiran yang cukup terlebih dahulu sebelum aku terbangun. Anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran berharga untuk dirinya."

"Pelajaran berharga mengenai hal apa?" tanya Lili penasaran.

"Pelajaran berharga agar dia tidak pernah berani mencoba untuk jatuh cinta kepada seorang Dewi."

Lili langsung mendengus pelan mendengar alasan narsistik itu. "Itu adalah sebuah jenis pelajaran yang aku yakini tidak akan pernah bisa dia pelajari sepanjang hidupnya."

Lucy memilih untuk tidak memberikan respons balik atas ucapan sistemnya. Dia hanya terus menatap layar hologram di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan, menyesap kembali cairan anggur di dalam gelasnya, dan membiarkan keheningan malam mulai mengisi seluruh sudut ruangan dimensi kesadarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!