NovelToon NovelToon
Sistem Lempar Dadu Monopoly

Sistem Lempar Dadu Monopoly

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.

Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.

Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui celah ventilasi dan menyinari wajah Budi.

Budi membuka matanya perlahan dan meregangkan seluruh otot tubuhnya di atas kasur tipis itu.

Tidur malamnya terasa sangat nyenyak dan bebas dari mimpi buruk tentang tumpukan utang.

Kejadian semalam saat dia berhasil menggertak Bang Jali benar benar memberikan kepuasan mental yang luar biasa.

Budi segera duduk bersila dan mencuci mukanya dengan air mineral sisa semalam agar lebih segar.

Fokus utamanya pagi ini bukanlah sarapan melainkan mengecek hasil pendapatan dari kedai barunya.

'Sistem, tunjukkan padaku hasil panen dari kedai Pak Mamat semalam.'

Ting.

Suara mekanis yang khas itu berbunyi merdu di dalam kamar kos yang sunyi.

Layar hologram biru seketika terbuka dan memancarkan cahaya yang menenangkan mata Budi.

Papan permainan Monopoli itu terlihat semakin mengkilap seolah olah ikut merasakan kesuksesan pemiliknya.

Mata Budi langsung melesat ke arah pojok kanan atas layar untuk melihat kolom Saldo Sistem.

Angka yang tertera di sana membuat rahang Budi seakan mau jatuh ke lantai.

Tiga juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah.

Budi mengucek matanya berkali kali untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi di pagi hari.

"Tiga juta."

"Hanya dalam satu malam kedai itu memberikanku pendapatan pasif sebesar tiga juta rupiah."

Budi berteriak kegirangan hingga suaranya sedikit serak.

Sebuah kotak notifikasi penjelasan muncul di bawah angka saldo tersebut.

Sistem mendeteksi lonjakan pelanggan yang luar biasa di Kedai Nasi Goreng Spesial Pak Mamat berkat ulasan viral.

Kedai beroperasi hingga subuh dan berhasil mencetak keuntungan bersih sebesar enam puluh juta rupiah dalam satu malam.

Lima persen dari enam puluh juta rupiah adalah tiga juta rupiah yang langsung masuk ke Saldo Sistem pengguna.

Budi tertawa terbahak bahak sambil memukul mukul bantal gulingnya yang sudah kempes.

"Hahaha, sistem gila."

"Kalau setiap hari begini, aku bisa melunasi sisa utang Bang Jali jauh lebih cepat dari janjiku."

Budi segera menutup layar sistem itu dan melompat dari kasurnya dengan semangat membara.

Hari ini dia memutuskan untuk mulai memperbaiki penampilannya agar tidak terus menerus direndahkan di kantor.

Budi mandi dengan cepat dan memakai kemeja kerjanya yang paling bersih meskipun warnanya sudah memudar.

Perjalanan menuju kantor hari ini terasa sangat berbeda dari biasanya.

Udara pagi Jakarta yang biasanya terasa penuh polusi kini terhirup seperti udara pegunungan yang segar di hidung Budi.

Sesampainya di gedung perkantoran, Budi langsung menuju ruang divisi administrasi.

Suasana ruangan masih cukup sepi karena ini baru pukul tujuh lewat tiga puluh menit.

Hanya ada Reno yang sedang menyeruput kopi panas dari cangkir kertasnya.

"Pagi Bud, cerah sekali mukamu hari ini."

Reno menyapa sahabatnya itu dengan senyum ramah.

"Pagi Ren, tentu saja cerah karena beban pikiranku sudah sedikit berkurang."

Budi meletakkan tasnya di atas meja dan langsung duduk menghadap layar komputernya.

"Bagaimana urusanmu semalam dengan penagih utang itu Bud."

Reno bertanya dengan nada sedikit berbisik dan raut wajah khawatir.

"Semuanya aman terkendali Ren."

"Aku sudah buat kesepakatan baru dengan dia dan bunganya tidak akan mencekikku lagi."

Mata Reno sedikit membesar mendengar jawaban Budi.

"Syukurlah kalau begitu Bud, aku bangga kau berani tegas sama preman preman itu."

"Kalau terus terusan diinjak, mereka pasti akan semakin semena mena."

"Benar sekali Ren, makanya aku harus mulai menunjukkan taringku sedikit."

Tidak lama kemudian Siska melangkah masuk ke ruangan dengan suara hak sepatunya yang berisik.

Trak trak trak.

Siska langsung melirik tajam ke arah Budi dan Reno yang sedang asyik mengobrol.

"Pagi pagi sudah bergosip saja kalian berdua."

"Gaji pas pasan tapi kelakuan seperti direktur yang banyak waktu luang."

Budi hanya tersenyum tipis dan tidak berniat membalas sindiran Siska sama sekali.

Dia sudah tahu kelemahan perempuan itu dan tidak perlu lagi membuang energi untuk berdebat.

Tepat pukul delapan pagi, pintu ruangan kaca Pak Anton terbuka lebar.

Pak Anton berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat sangat ramah, sebuah pemandangan yang sangat langka.

"Budi, tolong ke ruangan saya sebentar."

Suara Pak Anton terdengar sangat lembut dan bersahabat.

Seluruh karyawan di ruangan itu langsung menoleh ke arah Budi dengan tatapan penuh keheranan.

Budi menahan napasnya sejenak dan menatap mata Pak Anton dari kejauhan.

'Ini dia, rencana busuk bos korup ini pasti akan segera dimulai.'

"Baik Pak Anton, saya segera ke sana."

Budi bangkit dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam ruangan kaca tersebut.

Pak Anton langsung menutup pintu ruangannya rapat rapat begitu Budi sudah berada di dalam.

Dia mempersilakan Budi duduk di kursi tamu yang ada di seberang meja kerjanya.

"Duduk Budi, ada hal penting yang mau saya bicarakan denganmu."

"Terima kasih Pak Anton."

Budi duduk dengan punggung tegak dan memasang wajah senaif mungkin.

Pak Anton menyodorkan sebuah map tebal berwarna merah ke hadapan Budi.

"Budi, saya sangat terkesan dengan kecepatan dan ketelitian kerjamu saat menyalin nota tempo hari."

"Kamu terbukti punya kemampuan analisis data yang jauh lebih baik dari Siska atau yang lainnya."

Budi hanya mengangguk pelan menerima pujian palsu tersebut.

"Terima kasih Pak Anton, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai karyawan Bapak."

"Bagus, karena itu saya ingin memberikan tanggung jawab yang lebih besar untukmu bulan ini."

Pak Anton menunjuk map merah itu dengan pena mahalnya.

"Ini adalah draf pengajuan dana operasional divisi kita untuk proyek pengadaan tiga bulan ke depan."

"Saya mau kamu yang memproses pencairannya ke bagian keuangan pusat siang ini."

Budi mengerutkan keningnya dengan sangat natural seolah olah dia tidak mengerti apa apa.

"Maaf Pak Anton, tapi bukankah urusan pencairan dana besar seperti ini biasanya ditangani langsung oleh Siska."

Pak Anton mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya.

"Siska sedang banyak pekerjaan lain yang mendesak Budi."

"Lagipula saya butuh orang yang teliti seperti kamu untuk memastikan tidak ada angka yang salah di bagian keuangan nanti."

"Kamu hanya perlu menandatangani dokumen ini sebagai staf penanggung jawab pengajuan dan menyerahkannya ke loket."

Jantung Budi berdetak lebih cepat mendengar kalimat penanggung jawab pengajuan.

'Jelas sekali dia ingin namaku yang tercatat di sistem keuangan pusat sebagai pemohon dana itu.'

'Kalau nanti selisih dana operasionalnya ketahuan, aku yang akan langsung diseret ke penjara.'

"Bagaimana Budi, kamu sanggup mengambil tanggung jawab ini."

Pak Anton menatap Budi dengan tatapan penuh harap yang sangat licik.

Budi mengulurkan tangannya dan menarik map merah itu ke hadapannya.

"Kalau memang Bapak yang menugaskan, saya pasti sanggup Pak Anton."

"Akan saya pelajari dulu angkanya sebentar sebelum saya bawa ke bagian keuangan siang nanti."

Senyum lebar langsung mengembang di wajah bulat Pak Anton.

"Bagus sekali Budi, saya tahu saya bisa mengandalkan kamu."

"Silakan kembali bekerja dan pastikan dokumen itu sudah masuk ke loket sebelum jam istirahat selesai."

Budi berdiri dan sedikit membungkukkan badannya dengan sopan.

"Baik Pak Anton, saya permisi dulu."

1
Rickielessta
baguss...lanjutkan...semangat yaaa thoorr
Just Nokk
semangat 💪
irena
lanjut thor
Gege
baru juga 100jt kurang sebulan bud... masih belom milyarder namanya...🤣🤭 buka saja usaha sesuai kemampuan. misal bikin aplikasi kasir menengan kebawah tidak mahal tapi lengkap dan mudah via bahasa Excel. target 1 juta UMKM yang pakai beli..omset prediksi milyaran sebulannya...contoh lho bud...Yen cocok.
Ahmadi 241215: itu orang kantoran apa supir kantor murah apa gajihnya🤣
total 2 replies
Wega Luna
hidupnya berputar disitu saja ,kerja, supermarket,nasi goreng,kost ,main sistem🤭.GK ada suasana yang lain kah
Just Nokk
mangat Thor
Yui: makasih kak😊
total 1 replies
Gege
disini kesalahan othor. jelas jelas semalam dapat pengetahuannya, Eeh mengklaim nya kemarin siang...🤭🤣
Yui: terimakasih atas koreksinya/Applaud/
total 1 replies
adib
dua vote meluncur efek hari ni update banyak
Yui: Terimakasih kak🤭
total 1 replies
Gege
kita....othor aja kalee😄🤣🤭
Yui: Kita/Smile/
total 1 replies
Gege
kereen Thor.. dibawa ringan santai ceritanya... Yoo mas Budi lemparan dadu kedua dapat semilyar..🤣🤣
Gege
asik ringan ngalir ceritanya
Gege
gass lagi thorrr 10k kata
Gege
laah sisa 200k + 500k dibelanjakan 40k.. sisanya yaa 660k doong bud... sekolah engga ini..😄🤭
Alarycs: waduh
total 2 replies
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!