Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Utari dan Yavuz
Masjid Jami' Dusun Teduh.
Tampak jamaah pria, berbondong-bondong keluar dari masjid setelah melaksanakan salat Jumat.
Di jalan, Azra dan Linda berboncengan menuju rumah Pak Wandi. Hari itu mereka berencana bersih-bersih rumah Azra sepulang dari Pustu.
"Assalamu'alaikum, Bu Dokter," sapa bapak-bapak yang berpapasan dengan Azra.
"Wa'alaikumussalam," jawab Azra dan Linda bersamaan.
Sepanjang jalan, ucapan salam terus mengalir untuk mereka.
"Tuh kan, Lin. Dibilangi nanti aja ke rumah Pak Wandi, kamunya ngeyel minta sekarang. Jadi nggak enak kan papasan sama orang pulang Jumatan," omel Azra jengkel.
"Selow, Kak. Selow aja. Enak lah didoain orang banyak. Selamat dan berkah hidup kita. Aamiin." Linda menjawab sambil melajukan sepeda motor lebih cepat.
"Jangan ngebut!" Azra menepuk pundak Linda.
"Hehe ..." Linda terkekeh.
Setelah melalui beberapa belokan, sampailah mereka di depan rumah Pak Wandi.
"Lurus aja ke belakang, Linda. Sebelah sana!" tunjuk Azra ke arah rumah sederhana yang terletak di sebelah kanan rumah Pak Wandi agak ke belakang.
"Nah, berhenti saja di sini." Azra turun dari motor, melangkah membuka pagar kayu yang tidak terkunci.
Linda membawa motor matic-nya memasuki halaman rumah berdinding bata merah yang nampak asri dan terawat bersih.
"Assalamu'alaikum," salam Azra sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam, tunggu bentar," jawab suara gadis dari dalam rumah.
Suara derit pintu terbuka. Muncul seorang gadis mengenakan tanktop dengan celana legging warna hitam. Azra terdiam, memandang heran gadis di depannya. Bukan Sari.
"Cari siapa ya?" tanya gadis itu dengan suara ketus. Ditatapnya Azra dari atas sampai bawah dengan pandangan remeh.
"Anda siapa?" tanya Linda tiba-tiba nyelonong di depan Azra.
"Saya pacar Mas Azzam," jawab gadis itu tegas sambil mengangkat dagunya, angkuh. "Kalian berdua siapa?"
Azra membulatkan bibirnya, "Ooo ..." sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Lain halnya Linda ...
Krak!
Linda kaget, hatinya patah lagi. Lagaknya yang marah saat pertama kali datang tiba-tiba menghilang. Tanpa berkata-kata dia berbalik badan, lalu melangkah keluar halaman menuju rumah Pak Wandi.
Azra berusaha tenang, "Azzam-nya, mana?"
"Ngapain kamu tanya-tanya Mas Azzam. Kamu siapanya Mas Azzam?" ujar gadis itu masih dengan nada ketusnya.
"Nita! Ada siapa?" suara Sari terdengar dari dalam. Dengan langkah tergopoh dia keluar dari dalam rumah.
"Lho, Mbak Rara?" sapa Sari terkejut.
"Masuk, Mbak. Sama siapa? Nita, awas. Kasih jalan Mbak Rara masuk." Sari menarik tubuh gadis yang bernama Nita dari depan pintu.
Azra memasuki rumah menatap Sari sambil menaikkan alis matanya.
"Ini temanku, Mbak. Hari ini mau mengerjakan tugas kelompok. Maaf kalau membuat Mbak Rara tidak nyaman," Sari berujar dengan canggung.
"Aku mau menginap di sini dengan Linda, ya, Sari. Kemarin malam aku sudah kasih tahu Azzam ..."
"Hei! Aku duluan ya yang menginap di sini!" Nita kembali maju menghadang Azra.
Tangannya bersedekap di dada sambil berkata lantang, "Kamu siapa, datang-datang langsung bilang mau nginap. Asal kamu tau, Mas Azzam tidak pernah mengizinkan perempuan sembarangan menginap di sini kecuali, Aku!" potong Nita cepat.
Azra menatap Nita datar. Belum sempat Sari bicara ...
"Ehhem! Enek opo iki?" Pak Wandi sudah berdiri di ambang pintu dengan Linda mengekor di belakangnya.
Sari kelabakan, begitupun Azra. Dia menjadi sungkan dengan kehadiran Pak Wandi saat situasi kurang menguntungkan.
Gadis yang bernama Nita mundur beberapa langkah, bersembunyi di belakang tubuh Sari. Matanya takut-takut menatap Pak Wandi.
Pak Wandi menyapu sekitar dengan pandangan tajam, membuat ruangan membeku.
"Sari?" panggil Pak Wandi dengan suara berat.
"Inggih, Mbah. Sari hanya kebetulan satu kelompok sama Nita. Jadi harus mengerjakan tugas bersama," jelas Sari tanpa diminta. Sedangkan Nita menarik-narik lengan baju Sari, ingin mengatakan sesuatu.
"Pindah ke rumah, Simbah!" perintah Pak Wandi tegas.
Sari mengangguk, lalu menarik tangan Nita untuk mengambil barang-barangnya dari dalam kamar.
"Tidak apa-apa, Mbah. Lagipula Sari ..." belum selesai Azra berbicara, tangan Pak Wandi sudah terangkat.
"Istirahatlah. Sari biar ngerjakan tugas di rumah. Kalau di sini, tidak akan selesai tugasnya. Linda, masuklah. Istirahat di dalam!" Pak Wandi berjalan meninggalkan rumah Azra.
Azra menghela napas, ketika Sari dan Nita meninggalkan rumahnya. Azra mengempaskan tubuh di atas sofa abu-abu di ruang tamu yang bernuansa monokrom itu. Sedangkan Linda duduk di ujung sofa. Matanya menatap berkeliling.
"Kenapa harus bilang Mbah Wandi, Linda?" tanya Azra sembari memijat pangkal hidungnya.
"Hah?? Aku nggak bilang apa-apa ke Mbah Wandi, Kak."
Azra membetulkan posisi duduknya. Pandangannya lurus ke mata Linda minta penjelasan.
"Tadi aku memang mau ke rumah Mbah Wandi. Mau istirahat di sana. Belum sampai ke rumah, aku ketemu Mbah Wandi pulang dari Jumatan. Nanyain, Kakak di mana? Ku bilang, di sini. Terus terjadilah kejadian tadi." jelas Linda.
"Sudahlah, ayo salat zuhur. Setelah itu aku ingin tidur. Besok saja beberesnya."
Azra beranjak, diikuti Linda. Ada-ada saja, batin Linda kesal.
________
Azzam duduk di hadapan Sari. Suasana tegang. Insiden di rumah Azra sudah diceritakan Pak Wandi kepada Azzam.
"Maaf, Mas. Aku beneran tidak bisa menolak. Guru yang memilihkan kelompoknya. Dan Nita memaksa mengerjakan di rumah kita ..."
"Rumah Mbak Rara!" tegas Azzam penuh penekanan.
"Iya, aku tahu." jawab Sari sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Hati-hati dalam berteman. Kamu anak gadis. Kamu tanggung jawab Mas. Kalau Ayah dan ibu tahu, habislah kamu!" ujar Azzam sambil berlalu dari hadapan Sari.
Gadis itu berjalan menunduk menuju dapur. Menyelesaikan tugas yang tadi dipesan sama Mbah Wandi. Menggoreng singkong.
Sementara itu, di halaman rumah Azra, Pak Wandi berdiri dengan jari bertaut di belakang tubuh, menatap bunga Anggrek bulan di teras rumah.
Cahaya bohlam kekuningan, memberi kesan temaram dalam keheningan malam. Dan dari tepi danau terdengar gesekan pohon bambu yang tertiup angin malam, menemani lamunan Pak Wandi.
Flashback On
"Mas, Yavuz bilang suka sama aku. Dia ingin menikahiku!" ujar Utari malam itu di rumah Wandi.
Bagai disambar petir di siang bolong, berita itu menghanguskan hatinya dalam sekejap.
Wandi menatap manik mata Utari dalam-dalam. Tidak ada kah tempat untukku di hatimu, batin Wandi pedih.
"Mas, gimana?" tanya Utari dengan sorot mata penuh kebahagiaan. Khas orang jatuh cinta.
Pemuda Wandi berusaha menekan rasa yang bergejolak dalam dadanya.
"Kamu mencintainya?" tanya Wandi tegas.
Utari mengangguk mantap.
"Menurut Mas Wandi bagaimana? Bolehkah aku menikah dengan Yavuz?"
"Kenapa harus tanya aku? Kamu kan masih punya orang tua, tanyakan orang tuamu, setuju atau tidak?"
ucap Wandi dengan nada sedikit ketus.
"Aku sudah menganggapmu Masku. Tempat aku berlindung dan meminta pertimbangan. Kalau kamu setuju, bapak dan ibu pasti setuju," desak Utari sambil menggoyangkan lengan Wandi.
Pemuda itu menghirup napas dalam-dalam. Dia hanya menganggapku sebagai kakak, aku saja yang terlalu berlebihan berharap banyak darinya, batin Wandi penuh luka.
"Pikirkan saja dulu. Aku juga belum bisa menjawabnya malam ini!"
Pemuda itu berlalu meninggalkan Utari di teras rumahnya. Pergi menaiki motor Astrea dengan membawa luka jiwanya.
Flashback Off
Azra dan Linda diam mematung di belakang Pak Wandi. Mereka mengamati pria sepuh itu berkali-kali mengambil napas dalam-dalam.
Saat Pak Wandi berbalik badan, dia kaget melihat dua gadis sudah berdiri di belakangnya. "Sudah berapa lama kalian di sini?"
"Baru saja, Mbah." jawab Azra tersenyum. "Masuk, Mbah"
Kini mereka bertiga sudah duduk di sofa berbentuk L, yang terdapat di ruang tamu Azra.
Ada kue talam, pisang rebus dan seteko kecil kopi terhidang di meja. Pak Wandi mencomot kue talam, dan menyantapnya pelan.
"Enak, siapa ini yang masak?"
"Saya, Mbah." jawab Linda.
"Pinter masak, kamu?"
"Alhamdulillah, semenjak ada Linda, makanku jadi teratur," ujar Azra memuji Linda.
Yang dipuji tersenyum malu-malu.
Pak Wandi tersenyum sambil kembali memasukkan potongan kue talam ke mulutnya.
"Mbah, lanjut ceritanya, dong!" pinta Linda tiba-tiba.
"Cerita apa?" Mbah balik bertanya.
"Cerita Utari, yang kemarin ada turis main ke danau Widas!"
"Oooo ..." Mbah Wandi meminum kopi dari cangkir yang dihidangkan.
Mengatur napas sejenak, lalu berkata, "Yaa, waktu itu, ada turis dari kota yang datang ke dusun Teduh. Ingin melihat danau Widuri Asri yang konon penuh aura magis. Karena dia tidak lancar berbahasa Indonesia, dan Mbah tidak bisa bahasa Inggris, jadi Mbah panggilkan Utari untuk menemaninya."
Alis Pak Wandi bertaut, seperti memikirkan sesuatu. "Apa ya namanya, yang nemeni turis, get? Apa, Ra?"
"Guide, Mbah," jawab Azra.
"Lha, kuwi. Yo wis ngono kuwi. Utari menemani turis ini ngobrol. Singkat cerita, mereka kenalan. Nama turis ini Yavuz, dari Turki."
Azra memandang bingkai foto di dinding, ada gambar nenek dan kakeknya di sana.
Mbah Wandi memperhatikan pandangan Azra, "Lha, yo kuwi wonge. Utari dan Yavuz," tunjuk Mbah Wandi ke foto yang ada di dinding.
"Oooo ..." Linda mengangguk paham.
"Piye, ayu lan ganteng toh?"
"Iya!" jawab Linda singkat.
"Terus, Mbah?"
"Assalamu'alaikum ..." suara lelaki menginterupsi cerita mereka.