Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Singkirkan!
“Cepat singkirkan bayi ini dari hadapanku!”
Suara itu menggema keras di dalam rumah megah yang beberapa menit lalu membuat Kemala terpukau. Langkah Kemala langsung terhenti. Jantungnya berdegup tidak nyaman.
Di tengah kemewahan yang nyaris seperti istana, suara penuh kebencian itu terasa begitu kontras. Kemala tanpa sadar menoleh ke arah Bastian. Pria yang semula berjalan tenang itu langsung berubah tegang.
Tampak jelas di wajahnya, rahang Bastian mengeras. Tatapan mata yang biasanya sudah terlihat tegas itu menajam.
Untuk pertama kalinya, Kemala melihat emosi yang begitu jelas di wajah pria dingin tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Bastian mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Kemala yang sejak tadi diminta mengikutinya otomatis ikut berjalan di belakang.
Begitu pintu ruangan didorong terbuka, pemandangan di dalam membuat Kemala membeku. Seorang bayi kecil terbaring di ranjang bayi berwarna putih. Tubuh mungil itu tampak jauh lebih kecil dibandingkan bayi-bayi yang pernah Kemala lihat.
Kulit bayi mungil itu pucat. Tangannya begitu kurus. Dadanya naik turun pelan seolah setiap tarikan napas membutuhkan perjuangan.
Di dekat ranjang bayi berdiri seorang wanita cantik berpenampilan mewah. Gaun mahal membalut tubuh wanita itu. Perhiasan berlian menghiasi leher dan telinganya. Berlawanan dengan kecantikannya, ekspresi kesal terlihat sangat jelas.
Di samping wanita itu, seorang pelayan paruh baya sedang mengangkat bayi itu dari ranjang dengan gerakan yang membuat Kemala refleks menegang. Begitu kasar untuk bayi serapuh itu.
Sementara dua baby sitter berdiri tak jauh dari sana. Mereka tampak menunduk ketakutan. Tak satu pun dari mereka berdua berani bersuara.
“Apa yang kamu lakukan?” Suara Bastian terdengar rendah. Namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan langsung membeku.
Pelayan paruh baya itu langsung berbalik melihat sumber suara tadi. Wajah pelayan itu pucat seketika.
“T-Tuan Bastian ….”
“Letakkan bayi itu!” perintah Bastian.
Pelayan itu segera menuruti perintah.
Dengan tangan gemetar, pelayan itu meletakkan kembali bayi tersebut ke ranjangnya.
Ruangan mendadak menjadi begitu sunyi. Bastian yang sudah menahan amarahnya sejak tadi melangkah mendekat. Tatapan pria tegap itu terasa sangat dingin dan menusuk.
“Siapa yang menyuruhmu menyentuh bayi ini?”
Pelayan itu menelan ludah.
“N-Nyonya Raline, Tuan.”
Kemala melihat wanita cantik itu mendengkus kesal. Tak tergambar sedikitpun perasaan menyesal di wajahnya.
“Kenapa kau menanyainya?” Wanita itu mengernyitkan dahi tidak suka. “Aku yang memerintahkannya.”
Bastian langsung menoleh.
“Raline,” panggil Bastian penuh penekanan. “Sudah kukatakan sebelumnya. Kalau kau tidak menyukai bayi ini, kau tidak perlu datang ke ruangan ini.”
Wanita bernama Raline itu tertawa sinis.
“Gak suka?” tanya Raline begitu sinis sambil menyilangkan tangan di dada.
“Kau membawa makhluk entah dari mana ke dalam rumah Rothmere dan mengharapkanku diam saja?” lanjut Raline mengekspresikan kebenciannya begitu jelas.
Kemala mengernyit.
Makhluk?
Apakah wanita berbalut gaun mewah sedang membicarakan bayi yang terlihat sedang berjuang untuk hidup itu?
“Jaga ucapanmu,” tukas Bastian tegas.
“Kenapa?” balas Raline tajam. “Apa aku salah?”
Bastian menatap Raline tanpa berkedip. Sedangkan Raline justru semakin tersulut dengan tatapan Bastian yang terasa merendahkannya.
“Rumah ini rumah Keluarga Rothmere,” sambung Raline ditengah amarahnya.
“Dan?” tanya Bastian singkat.
“Anak itu bukan siapa-siapa!” bentak Raline semakin meninggi.
Suasana ruangan langsung membeku. Bahkan para pelayan tampak menahan napas. Kemala sendiri sampai menggenggam ujung bajunya. Entah kenapa hati Kemala ikut sakit mendengar kata-kata itu. Tatapan Kemala perlahan beralih kepada bayi kecil di ranjang.
Bayi yang tampak kecil. Jelas sangat terlihat begitu rapuh. Bayi yang seharusnya menerima semua kasih sayang yang ada di dunia, justru menerima kebencian sebesar itu.
Persis seperti putra Kemala. Putra yang bahkan belum sempat Kemala beri nama. Putra yang seolah ditolak dunia sejak pertama kali lahir.
“Cukup.” suara Bastian memotong semuanya.
Sama sekali tak keras. Nada rendah yang keluar dari Bastian justru membuat seluruh ruangan terdiam.
“Raline, aku tidak akan mengulang peringatanku untuk kedua kalinya.”
Tatapan Raline berubah dingin.
“Kau mengancamku?” tanya Raline semakin merasa diremehkan.
“Aku sedang memberitahumu tentang batasan,” tukas Bastian sederhana.
“Kau selalu membela anak itu!” Raline hanya terus membantah Bastian.
“Karena dia tidak bisa membela dirinya sendiri,” jelas Bastian mencoba memberikan pemahaman kepada Raline.
Raline terkekeh pelan. Alih-alih terdengar ramah, tawa Raline justru sarat sindiran yang membuat udara di ruangan itu terasa menyesakkan.
“Luar biasa.” Raline berdiri dari kursinya. “Sekarang kau bahkan lebih peduli pada bayi itu daripada istrimu sendiri.”
Bastian tak menjawab. Sikap diam Bastian justru membuat wajah Raline semakin merah karena marah.
“Baik.” Wanita dengan gaun mewah itu meraih tas mahalnya.
“Aku keluar!” teriak Raline langsung berbalik menuju pintu.
Pelayan setia Raline segera mengikuti di belakang. Namun ketika hendak melewati Kemala, langkah Raline mendadak terhenti. Tatapan mata Raline bergerak dari ujung rambut hingga kaki Kemala. Memandang penampilan sederhana Kemala dengan jijik yang tak disembunyikan sama sekali.
“Kau siapa?”
Kemala sedikit gugup.
“S-Saya ...”
“Gak penting!”
Raline bahkan tidak memberi Kemala kesempatan menjawab. Wanita yang menenteng tas mahal itu mendecak pelan.
“Sudah memasukkan bayi entah dari mana.” Tatapan Raline semakin tajam. “Sekarang membawa masuk gelandangan gak jelas!”
Kemala langsung menunduk. Dadanya terasa panas. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, bahu Kemala ditabrak cukup keras saat Raline melewatinya. Kemala sampai kehilangan keseimbangan sesaat.
Raline hanya menatap sinis tanpa sedikit pun terdengar meminta maaf. Lalu berlalu pergi. Pelayan setia Raline mengikuti di belakang.
Pintu tertutup keras.
Brak!
Ruangan kembali sunyi.
Kemala masih menunduk. Berusaha menelan rasa malu yang mulai memenuhi dadanya. Namun suara Bastian kembali terdengar.
“Jaga bayi ini baik-baik,” ucap Bastian sambil menatap kedua baby sitter. “Kalau ada apa pun, laporkan langsung kepadaku.”
“Baik,Tuan.” Kedua baby sitter itu menjawab serempak.
Bastian lalu menoleh kepada Kemala.
“Ikut saya.”
Beberapa menit kemudian, Kemala berada di sebuah ruangan yang bahkan lebih besar daripada rumah keluarganya di desa. Ruang kerja pribadi Bastian. Rak buku memenuhi satu sisi dinding. Meja kerja besar berdiri di tengah ruangan. Pemandangan kota Jakarta terlihat jelas dari jendela kaca yang menjulang tinggi.
Kemala duduk kaku di sofa. Sedangkan Bastian berdiri sambil berbicara melalui telepon.
“Segera kirimkan tim medis.”
Suara pria yang berdiri tegap itu terdengar tegas.
“Ya. Lengkap.” kata Bastian sambil melirik Kemala. “Pemeriksaan menyeluruh.”
Setelah telepon ditutup, Bastian berjalan mendekat.
“Kemala.”
“Iya, Pak?”
“Aku akan membuat kontrak kerjamu.”
Kemala langsung duduk lebih tegak.
“Kalau hasil pemeriksaan kesehatanmu memenuhi syarat, kamu bisa langsung menandatanganinya.”
Kemala mengangguk cepat.
“Baik, Pak.”
“Untuk sementara tunggu di ruangan sebelah.”
Ruangan sebelah ternyata lebih nyaman daripada yang dibayangkan Kemala. Belum lima menit duduk, seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman.
“Silakan dimakan, Nona Kemala.”
Kemala langsung gugup.
“Eh, terima kasih.”
Pelayan itu tersenyum ramah. Lalu pergi. Kemala menatap meja di depannya. Ada sup hangat, roti, buah-buahan, dan teh hangat. Kemala sampai bingung harus memulai dari mana.
Pakaian Kemala bahkan terlihat jauh lebih lusuh dibandingkan seragam para pelayan di rumah ini. Namun tak seorang pun memperlakukan Kemala dengan buruk. Hal itu justru membuat Kemala semakin canggung.
Belum sempat menghabiskan makanannya, beberapa orang berpakaian medis masuk ke ruangan.
“Selamat sore, Bu Kemala.”
Kemala langsung berdiri.
“S-Selamat sore.”
“Kami akan melakukan pemeriksaan kesehatan,” ujar seorang pria baya yang merupakan seorang dokter.
Jantung Kemala langsung berdebar.
“Sekarang?”
“Ya,” jawab dokter itu singkat.
Kemala mengangguk pelan. Dalam diri Kemala mulai berkecamuk kecemasan yang memenuhi pikirannya.
Bagaimana jika hasilnya buruk? Bagaimana jika tubuhnya tidak memenuhi syarat? Bagaimana jika Bastian berubah pikiran? Bagaimana jika setelah ini ia kembali terlantar di jalanan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya selama pemeriksaan berlangsung.
Tim medis melakukan beberapa tes pemeriksaan. Mulai dari tekanan darah, sampel darah, pemeriksaan fisik, dan berbagai tes lainnya.
Kemala bahkan tidak bisa duduk tenang.
Satu jam kemudian. Kemala kembali duduk di depan meja kerja Bastian. Tangan Kemala yang terlihat begitu ramping itu saling menggenggam erat.
Sementara dokter yang memimpin tim medis menyerahkan sebuah map kepada Bastian. Pria yang sudah duduk tenang di kursi kerjanya itu membukanya.
Bastian mulai membaca beberapa lembar laporan seksama. Kemala sampai menahan napas.
“Bagaimana, Dok?” tanya Bastian sambil tetap melihat hasil laporan tesnya.
Dokter itu tersenyum.
“Semua dalam kondisi baik.”
Kemala langsung menatap dokter itu.
“Sungguh?” tanya Bastian memastikan lagi.
“Ya.” Dokter mengangguk.
“Ibu Kemala hanya mengalami kelelahan akut akibat kurang istirahat dan stres berlebihan,” sambung dokter itu menjelaskan.
Wajah Kemala langsung tampak memerah.
“Selain itu, semuanya sangat baik.”
Bastian menutup map tersebut. Lalu mengangkat pandangan.
“Kemala,” panggil Bastian menatap Kemala.
“Iya, Pak?”
“Semua tes sudah dilalui,” jelas Bastian.
Kemala menelan ludah.
“Dan semuanya memenuhi syarat,” sambung Bastian.
Jantung Kemala langsung berdegup kencang. Menegangkan sekujur tubuh Kemala. Bastian mengambil satu dokumen dari mejanya. Kemudian mendorongnya ke arah Kemala.
“Sesuai janjiku,” ucap Bastian penuh kemantapan dalam nada suaranya.
Tatapan Kemala jatuh pada dokumen itu.
Kontrak kerja.
“Silakan ditandatangani.”
Tanpa berpikir panjang, Kemala segera mengambil pulpen. Tangan Kemala sedikit gemetar. Namun tanda tangannya tetap tergores jelas di atas kertas. Begitu selesai, rasa lega langsung memenuhi dadanya dan menghilangkan seluruh ketegangan yang ada di tubuh kurusnya.
Kemala berhasil. Setidaknya untuk hari ini, Kemala berhasil bertahan.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan mengantar Kemala menuju kamar yang telah disiapkan. Kemala mengikuti mereka melewati koridor panjang. Perasaan Kemala sudah jauh lebih ringan dibandingkan pagi tadi.
Kemala memiliki tempat tinggal, pekerjaan, dan harapan untuk menemukan bayi kecilnya.
Sementara itu, jauh di sisi lain kediaman Rothmere. Raline berdiri di balkon kamarnya sambil menggenggam ponsel. Wajah cantiknya dipenuhi amarah.
“Kamu kerja bagaimana sih?!” bentak Raline penuh amarah. “Beberapa hari tidak bisa dihubungi!”
“Ada apa, Nyonya?” Suara di seberang telepon terdengar bingung.
Raline menggertakkan gigi.
“Kenapa bayi itu bisa masuk ke kediaman Rothmere?!”
Hening sejenak.
“Bukankah aku sudah memerintahkan untuk melenyapkannya?” lanjut Raline dengan pertanyaannya.
Orang di seberang telepon terdengar semakin kebingungan. “Nyonya ... bayi itu masih ada di sini.”
Raline membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Apa?”
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉