Bercerita tentang CEO dingin yang menikahi gadis cantik 19 tahun. Awal pernikahan yang tak diinginkan, karena pernikahan yang hanya sebuah tuntutan dari ibu Kenan. Ya dia adalah Kenan Adnanjaya, pengusaha muda yang sukses dan seorang king mafia. Seiring berjalannya waktu mereka saling mencintai. Dan konflik mulai terjadi diantara keduanya, tiba-tiba musuh Kenan yang sesama anggota mafia mulai melakukan penyerangan dan masa lalu Kenan mulai hadir kembali membawa kisah lama mereka.
Kenan akan dihadapkan dengan musuh dan kisah masa lalu.
sanggupkah Kenan memilih? bertahan atau meninggalkan.
jangan lupa like dan coment guys!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hera Hera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Pagi hari di mansion Kenan.
“huaaaa... nyenyak sekali tidurku, jam berapa ya?”
Rara melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul 04: 47, Rara beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan muka lalu mandi. Rara sudah terbiasa bangun pagi karena ia harus bekerja dan menyiapkan keperluannya sendiri. selesai mandi ala Rara, ia menuju dapur.
“maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?”tanya Rara.
“tidak usah nona, nona tunggu saja di meja makan” pelayan 1.
“iya nona, nanti kami bisa dimarahi tuan muda bila melihat anda disini” pelayan 2.
“tidak akan apa-apa, aku bosan biarkan aku membantu kalian, lagian aku juga sudah terbiasa”
“tapi nona” bik Surti menyahuti nona mudanya.
“tidak apa-apa bik”
“baiklah”
Rara membantu para pelayan menyiapkan makanan, lebih tepatnya pelayan yang dibantu Rara. Rara sangat cekatan dalam memasak, mungkin karena ia telah terbiasa. Hingga pukul setengah 6 lewat makanannya sudah jadi dan tinggal di tata di meja makan.
“wah nona, hebat sekali bisa memasak berbagai macam menu” puji siti anak bik Surti.
“aku sudah terbiasa bik”
“wah tidak salah tuan muda Kenan memilih anda sebagai calon istrinya selain cantik nona juga pintar masak” pelayan 1.
“terima kasih, bik aku minta tolong di tata makanannya di meja makan ya, aku mau mandi rasanya badanku lengket-lengket”
“tentu nona”
Rara meninggalkan dapur dan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Ia bergegas membersihkan diri, karena ia harus merawat Kenan lagi, tidak mungkin ia menemui Kenan dengan bau badan yang bisa membuat Kenan memarahinya lagi. Selesai Membersihkan diri ia menuju lemari.
“astaga, banyak sekali pakaiannya”
“aku harus pakai yang mana semuanya sangat bagus”
Rara mencoba satu persatu baju yang dia pilih sambil melihat penampilannya di kaca dengan bergerak ke kanan ke kiri dan berputar. Seperti ballerina saja. Hihi... hingga pilihan terjatuh pada blouse merah muda.
Rara mengikat rambutnya, dan meninggalkan kamarnya menuju kamar kenan untuk membangun monsternya itu.
Hahah..
Tok ..tok...
Rara membuka pintu kamar Kenan yang ternyata tidak di kunci, mendekati Kenan sambil memandang wajah Kenan yang terlelap tidur, tanpa sadar Rara menyentuh pipi Kenan.
“tampan andai saja dia tidak suka marah-marah” sambil terus merabah wajah Kenan.
Kenan merasa terganggu dengan gerakan tangan Rara, dia mengerjapkan matanya.
“eh kau mau apa kesini” tanya Kenan dengan raut wajah bangun tidur, Sangat imut.
“itu... em aku ingin membangunkanmu”
“hem”
“bantu aku mandi”
“apaaaa” teriak Rara.
“jangan teriak-teriak bisa budeg telingaku” sarkas Kenan.
“maaf, habisnya kamu bilangnya gitu”
“dasar otak kecil yang mesum, maksudku bantu aku keramas saja”
“eh kan yang sakit kakimu bukan tanganmu”
“cih, terus saja menolak akan ku gantung kau”
“eh jangan, iya aku akan membantumu mandi”
Rara memapah Kenan menuju kamar mandi, sampai kamar mandi Kenan melepas pakaiannya kini hanya tersisa kolor saja. Rara sangat malu melihat pemandangan di depannya. Tapi Kenan tidak peduli ia masuk ke dalam bathup.
“cepat bantu aku keramas”
“iya”
Rara sangat canggung bagaimanapun ia baru pertama kali membantu laki-laki keramas apalagi Kenan hanya memakai kolor, muka Rara memerah. Dia terus membantu Kenan keramas sampai akhirnya kenan selesai dan menyuruh Rara keluar.
“huhhh... bebas” Rara bernafas lega.
Tidak lama kemudian Kenan keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
“aaaaaaaa” teriak Rara keras.
“hei udik jangan teriak-teriak, nggak pernah liat orang ganteng ya?”
“bukan itu, kamu kenapa hanya pakai handuk saja?”
“ooo.. ternyata kamu kagum dengan roti sobekku ya?” goda Kenan.
“eng...enggak kok”
“kalau mau sentuh juga nggak papa, kita sebentar lagi menikah”
“dasar mesum” teriak Rara.
“hahah...” tawa Kenan pecah.
“ganti bajumu, kamu sendiri saja aku tak mau menodai mata ku yang indah dan suci ini karena melihat tubuhmu yang jelek”
“apa jelek” pelotot Kenan pada Rara.
“kamu berani-beraninya\, di luar sana para wanita saja ingin melihat ku te*****jang” emosi Kenan mulai naik
“cihh... menjijikan” remeh Rara.
“wanita diluar sana bukan ingin melihat tubuhmu yang jelek, tapi ingin uangmu yang banyak itu tauuuu!!!”
“benar juga katamu”
“katamu tubuhku jelek, boleh aku melihat tubuhmu tanpa penghalang pakaian jelek itu?” goda Kenan kembali.
“jangan.. pergi kamu dede**t” Rara mundur karena Kenan mulai mendekat ke arahnya.
“jangan mendekat tetap di tempatmu atau” Rara gugup.
“atau apa?” tanya Kenan dengan tersenyum tipis karena melihat muka Rara yang memerah.
“atau aku akan... aaaaa” Rara terjatuh diatas kasur sambil menarik tangan Kenan, kini mereka di posisi yang sangat intim, Kenan di atas tubuh Rara.
“cantik, aku suka” dalam hati Kenan.
“apa ini, ternyata ia sangat tampan jika dilihat dari dekat” Rara berbicara dalam hatinya.
Deg.. deg.. deg..
"kenapa hati ku?” tanya mereka berdua dalam hati.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu keromantisan keduanya.
“maaf, aku harus membukakan pintu” dorong Rara, Kenan bangkit dan mengambil baju yang telah disiapkan Rara dan menggantinya di depan Rara.
“dasar monster yang tak punya malu” umpat Rara yang masih didengar Kenan, tapi Kenan tak peduli, toh juga mereka akan segera menjadi suami istri pikirnya.
Rara membukakan pintu ternyata itu adalah Siti.
“maaf nona, makanannya sudah siap” kata Siti.
“iya siti, nanti aku ke bawah”
“baik nona”
Siti berlalu meninggalkan kamar tuannya.
“Ken, kau akan makan di bawah atau disini saja?”
“disini saja”
“baiklah”
Rara turun ke bawah mengambilkan makanan untuk Kenan.
“mau dibawa kemana nona?” tanya bik Surti.
“Kenan mau makan di kamarnya bik”
“mau saya bantu nona?” tawar bik Surti.
“tidak usah bik”
Kenan mengambilkan lauk pauk untuk Kenan, lalu ia membawanya ke atas. Rara meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur ini.
“suapi aku” kata Kenan.
“apa?”
“kamu tuli ya?, suapi aku”
“baiklah”
Suapan 1
“enak” puji kenan dalam hati.
“siapa yang memasaknya?” tanya Kenan.
“aku, kenapa tidak enak?”
“tidak terlalu buruk”
“cih.. bilang saja masakanku sangat enak, apa susahnya sih!”
Rara menyuapi Kenan dengan sangat hati-hati, jangan sampai ia kena semprot omongan Kenan lagi.
“aku mau minuum” rengek Kenan.
“cih...” sewot Rara tapi tetap mengambilkan Kenan minuman. Kenan menerimanya, acara suap-menyuapi kembali berlanjut hingga makannya habis.
“nah sudah habis, bayi besarku” ejek Rara.
“hem... terima kasih”
“aku mau mengantar bekas makananmu ke bawah, kamu mau dibawakan apa ?”
“tidak ada, dan cepat kembali”
Rara menuju lantai bawah menuju dapur.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT YA GUYS
APA YANG TERJADI?
//TBC//
yg sabar yah Ra.
qu pada mu ...😊😊😊
lagi seru" nya nih.
pasti Rara sedih,karna suaminya lupa sama Rara.😭
tapi gk bisa harus nunggu episode 11 doloe ..
semangat kk yaa ..