Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Selalu Melindungimu
Eva berada di meja kerjanya, fokus pada pekerjaan, tapi sebenarnya pikirannya masih tertuju pada Byan. Dan teman kerjanya yang sering meminta mengerjakan tugasnya, juga belum sampai di meja kerjanya.
"Eva, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau dia sering memberikan tugasnya padamu"
Eva menoleh pada Ibu Rumi, dia tersenyum dan menggeleng pelan. "Em, saya juga tidak -"
Brak... Wanita yang datang dan langsung menggebrak meja kerjanya dengan keras. Membuat Eva langsung terlonjak kaget.
"Jadi kau sengaja ngadu ke Tuan Byan tentang ini. Aku cuma minta kau membantu, bukan memaksa"
"Kak, maaf, aku bukannya bermaksud-"
"Semua gara-gara kamu, dan sekarang aku di pecat!" teriaknya sambil menarik rambut Eva dengan kuat. "Sekarang kau harus tangung jawab!"
Eva memegang tangan wanita itu yang menjambak rambutnya, dia mencoba melepaskan cengkraman kuat di rambutnya. "Kak sakit, aku minta maaf. Aku juga tidak bermaksud untuk membuat Kakak di pecat"
"Dasar tidak tahu diri!"
Ibu Rumi langsung menahan bawahannya ini, memegang dia yang terus ingin menyerang Eva. Karyawan yang lain juga sudah sigap menahannya.
"Kamu yang salah dalam hal ini, bukannya malah menyalahkan orang lain"
"Aa,,Dasar wanita sialan"
Plak.. Satu tamparan keras mendarat di pipi Eva, lalu tubuhnya terjatuh karena dorongan kuat. Dua orang karyawan yang menahannya juga Ibu Rumi tidak cukup, karena dia sudah dikuasai amarahnya.
"Ada apa ini?"
Martin yang kebetulan lewat, langsung menghampiri keributan itu. Dia melihat Eva yang terjatuh di lantai sambil memegang pipinya.
"Eva, apa yang terjadi?"
"Itu..."
Baru saja Eva ingin menjelaskan, dia sudah melihat seseorang yang berjalan ke arahnya dari kejauhan. Langkah kaki yang tegap dengan wajah dingin dan tatapan yang tajam. Membuat semua orang yang menyadari kehadirannya langsung menyingkir. Termasuk wanita tadi yang marah-marah pada Eva.
"Apa yang kalian lakukan!"
Byan menatap wanitanya terduduk di lantai dengan wajah memerah, dia ingin membantunya, tapi Eva menggeleng pelan, seolah memberikan isyarat jika Byan tidak boleh membongkar hubungan mereka sekarang, apalagi di saat seperti ini pastinya akan semakin membuat semuanya rumit.
Akhirnya Byan hanya diam, mengepalkan tangannya yang sudah terulur untuk membantu Eva. Melihat ada pria lain di sampingnya yang membantu Eva untuk berdiri. Byan menatap tajam pria itu, merasa tidak suka akan kedekatannya.
"Jadi, apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Byan, menatap satu persatu dari semua orang yang berada disana. Dan semuanya langsung menunduk takut.
Byan berjalan ke arah karyawan wanita yang baru saja dia pecat. Menunjuknya dengan wajah dingin. "Kau! Sudah aku jelaskan apa saja kesalahanmu sampai kau di pecat, tapi masih menyalahkan orang lain yang jelas sudah di rugikan karena kau memberikan pekerjaanmu padanya. Memang seharusnya manusia sepertimu di tendang dari Perusahaan ini! Hanya parasit yang tidak mau kalah, ingin mendapatkan karier tapi tidak bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri!"
"Ma-maaf Tuan, saya minta maaf"
"Bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini! Jangan pernah menunjukan wajahmu lagi di sini!" ucap Byan, dengan suara yang rendah namun penuh penekanan.
Semua orang tidak ada yang berani menjawab, ketika Byan sudah bertindak maka Bara saja tidak akan bisa menghentikannya. Pria yang hangat, ramah dan selalu menyapa para karyawan, tidak mudah dikendalikan saat amarahnya memuncak seperti ini.
Eva juga hanya bisa diam saja, bukan tidak ingin menenangkan Byan dari amarahnya. Tapi, dia sadar disini terlalu banyak orang. Sementara belum ada satu pun yang tahu tentang hubungan mereka.
"Kau, ikut ke ruanganku!" Menunjuk Eva dan dia langsung berjalan pergi.
Eva yang terkejut, namun segera sadar jika ini adalah perintah. Dia pergi mengambil ponselnya dan pergi mengikuti Byan. Tidak tahu lagi apa yang terjadi di ruangan tadi. Ketika masuk lift, Eva menghembuskan napas pelan. Melihat urat tangan Byan yang mengepal kuat, terlihat jika pria itu masih di kuasai dengan amarahnya.
"Sayang, kamu jangan marah lagi"
Byan menghembuskan napas pelan, dia meraih tangan Eva dan mengenggamnya lembut. Mengecup punggung tangan gadis itu. "Kenapa kau tidak bicara tentang ini? Wanita itu sudah banyak membuatmu tertekan bekerja disini. Sialan, apa yang sudah dia lakukan padamu?"
Byan mengelus pelan pipi Eva yang masih meninggalkan bekas kemerahan. Rahangnya masih mengeras, amarah yang masih cukup menguasainya.
"Aku tidak papa, sekarang kamu yang harus menenangkan diri"
Byan mengangguk pelan, saat pintu lift terbuka dia langsung membawa Eva ke ruangannya. Duduk di sofa dan Byan menarik tangan Eva sampai gadis itu terjatuh dalam pangkuannya.
Eva cukup tertegun dengan ini, apalagi saat Byan memeluknya dengan erat dari belakang. Merasakan dia bersandar di bahunya, hembusan napas hangatnya mengenai leher Eva.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Aku hanya tidak suka ada yang menyakitimu seperti itu"
Eva terdiam, hatinya berdesir hangat. Ternyata Byan benar-benar sangat mencintainya. Dia begitu tulus pada setiap hal yang dilakukan untuk Eva.
"Aku tidak papa, sekarang 'kan dia sudah di pecat dan apa yang pernah dia lakukan tidak akan pernah ada lagi yang berani melakukannya, karena kamu sudah memberikan pelajaran untuk mereka"
Byan melerai pelukannya, dia sedikit mengubah posisi duduk Eva agar menghadap padanya. Masih berada di atas pangkuannya.
"Berani sekali dia menamparmu seperti ini! Aku benar-benar ingin membalas tamparan lebih keras padanya"
"Jangan, nanti akan semakin rumit masalahnya. Yang terpenting aku baik-baik saja sekarang"
Byan menghela napas pelan, tersenyum melihat senyuman Eva yang selalu menenangkan. "Mulai sekarang, jika ada yang menggangumu lagi, bicara padaku. Jangan sampai ada yang menyakitimu seperti ini lagi"
"Iya, terima kasih ya karena sudah menjadi pahlawan nyata untukku"
Sejak bersama Byan, maka Eva merasa sangat di lindungi oleh pria itu. Byan selalu memastikan Eva dalam keadaan baik-baik saja. Dan ketika tahu ada yang mengganggunya, maka Byan akan langsung bertindak untuk melindunginya.
Eva memeluk kekasihnya, menyandarkan dagunya di bahu Byan. "Sejak Ibuku meninggal, belum ada lagi yang membelaku sampai seperti ini. Dan sekarang kamu hadir untuk melindungiku. Terima kasih ya"
"Sayang, pokoknya selama masih ada aku, maka kamu akan baik-baik saja. Jika aku perlu melakukan sesuatu besar hanya untuk melindungimu, maka akan aku lakukan itu. Meski mungkin itu akan sangat menghancurkanku"
Sebuah janji yang Eva yakin ini terucap tulus dari dalam hati. Membuatnya hanya tersenyum dan semakin erat memeluk Byan.
Bersambung