Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MALAIKAT MAUT DI GEDUNG TUA
Gerimis tipis mulai mengguyur pinggiran kota saat jarum jam merayap ke angka dua dini hari. Di sebuah kompleks gedung tua terbengkalai bekas pabrik tekstil, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam. Tiga mobil SUV hitam tanpa pelat nomor terparkir rapi di balik semak-semak liar, menyembunyikan kehadiran puluhan pria berbadan tegap dengan pakaian taktis serba hitam yang bergerak senyap layaknya hantu di dalam kegelapan.
Dafa Mahardika berdiri di bawah naungan atap beton yang retak, membiarkan angin malam yang dingin menerpa kemeja putihnya yang kini dilapisi jaket kulit hitam. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah lantai dua gedung utama, di mana seberkas cahaya lampu minyak tampak menyala remang-remang dari balik celah jendela yang pecah.
Aura predator dari sang CEO malam itu berada di puncaknya. Ia tidak membawa polisi. Bagi Dafa, jika musuhnya sudah berani menyusupkan racun ke dalam rumahnya dan mengancam ketenangan wanita yang dicintainya, maka penyelesaiannya harus dilakukan dengan cara Mahardika: pembalasan mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
Mikael melangkah mendekat dari balik kegelapan, memegang sebuah alat penangkap suara frekuensi radio. "Pak Dafa, tim satu sudah mengunci seluruh titik pelarian di lantai bawah. Ada delapan orang anak buah Baskoro Sanjaya di dalam, semuanya bersenjata tajam dan dua di antaranya memegang senjata api rakitan. Keluarga Rendy... Lastri dan dua anaknya, ditahan di sudut ruangan dalam kondisi terikat."
Dafa memeriksa isi silinder pistol berperedam suara miliknya dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. "Lalu di mana Rendy?"
"Rendy dipisahkan di ruangan tengah, Pak. Dari penyadapan audio, orang-orang Baskoro sedang memaksanya untuk menandatangani surat pernyataan palsu di bawah ancaman pisau," jawab Mikael dengan suara rendah. "Begitu surat itu ditandatangani, mereka akan mengeksekusi Rendy dan keluarganya untuk membuat skenario bunuh diri massal."
Dafa menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin di sudut bibirnya. "Baskoro benar-benar mengira aku akan membiarkannya menulis skenario murahan ini sampai selesai. Gerakkan tim. Jangan biarkan ada satu pun dari tikus-tikus itu yang meloloskan diri."
Di dalam ruangan lantai dua yang berbau apak dan lembap, Rendy terduduk di atas kursi kayu dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya dipenuhi lebam kebiruan akibat hantaman popor senjata. Di depannya, selembar kertas putih telah ternoda oleh tetesan darah dari hidungnya yang patah.
Seorang pria berbadan kekar dengan tato ular di lehernya mencengkeram rambut Rendy dengan kasar, memaksa pria itu untuk mendongak. "Tanda tangan sekarang, bodoh! Tulis dengan jelas kalau Dafa Mahardika yang menjebak ibumu dan memeras keluargamu sampai kalian tidak punya pilihan selain mati!"
"T-Tapi... tapi ini bohong..." ratap Rendy dengan suara parau yang ketakutan. "Jika aku menandatangani ini, kalian tetap akan membunuhku dan ibuku!"
Dari sudut ruangan lain, terdengar suara tangisan Lastri yang tersedat karena mulutnya yang dililit lakban hitam, menyaksikan anak laki-lakinya sedang berada di ujung maut.
"Kamu tidak punya pilihan, Rendy," desis pria bertato ular itu sembari menempelkan ujung pisau komando yang dingin ke leher Rendy. "Tanda tangan sekarang, atau aku akan menguliti ibumu terlebih dahulu di depan matamu!"
BRAK!
Pintu kayu tebal ruangan itu mendadak hancur berantakan menjadi serpihan kecil akibat hantaman tendangan yang luar biasa keras dari luar. Sebelum orang-orang di dalam ruangan sempat menyadari apa yang terjadi, tiga buah tabung gas air mata dilemparkan masuk, meledak dengan suara mendesis tipis dan langsung memenuhi ruangan dengan asap putih yang pekat dan menyengat mata.
"Uhuk! Serangan! Ada serangan!" teriak salah satu anak buah Baskoro panik, mencoba mengokang senjata apinya di tengah kebutaan.
PHUT! PHUT!
Dua suara tembakan berperedam yang sangat halus menggema membelah kabut asap. Dua orang anak buah Baskoro yang memegang senjata api seketika tumbang ke lantai dengan lubang peluru tepat di tengah kening mereka. Mereka mati bahkan sebelum sempat menarik pelatuk senjata mereka sendiri.
Dafa Mahardika melangkah masuk menembus kepulan asap dengan langkah kaki yang teramat tenang namun dominan. Di tangan kanannya, pistol berperedam suara itu masih mengeluarkan asap tipis. Aura dingin yang memancar dari tubuh tegap pria itu seketika merenggut seluruh keberanian sisa-sisa anak buah Baskoro yang masih hidup.
Pria bertato ular yang memegang pisau refleks menarik tubuh Rendy, menjadikannya sebagai perisai manusia di depannya sembari menodongkan pisau ke arah dada Rendy. "Jangan bergerak! Satu langkah saja kamu maju, Mahardika... aku akan merobek jantung orang ini!"
Dafa menghentikan langkahnya sekitar tiga meter di depan mereka. Ia sama sekali tidak menurunkan senjatanya, sepasang mata elangnya menatap pria bertato ular itu dengan pandangan meremehkan yang teramat sangat kental. "Kamu pikir nyawa serangga di tanganmu itu memiliki nilai di mataku? Sifat posesifku hanya berlaku untuk istriku, Nazya. Pria di depanmu itu... hanyalah sampah masa lalu yang tidak ada bedanya dengan mayat di lantai ini."
Mendengar kalimat Dafa yang begitu dingin dan tanpa beban, pria bertato ular itu seketika goyah. Pegangan tangannya pada pisau sedikit melonggar karena rasa takjub dan takut yang luar biasa melihat kekejaman sang CEO.
Celah sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi Dafa. Dengan kecepatan menembak yang luar biasa terlatih, Dafa menggeser sedikit sudut senjatanya dan menarik pelatuk.
PHUT!
Peluru melesat akurat menembus pergelangan tangan kanan pria bertato ular itu hingga hancur. Pisau komandonya terlepas jatuh ke lantai bersamaan dengan raungan kesakitan yang melengking keras dari mulutnya.
Sebelum pria itu sempat terjatuh, dua orang anggota tim taktis Mahardika sudah lebih dulu melesat maju, menekuk tubuh pria bertato ular itu ke lantai batu dan mengunci pergerakannya sepenuhnya dengan borgol besi yang tebal.
Mikael dan anggota tim lainnya dengan cepat bergerak memotong tali pengikat yang melilit tubuh Lastri dan kedua anak laki-lakinya. Begitu lakban di mulutnya dilepas, Lastri langsung merosot jatuh di depan kaki Dafa, menangis histeris dengan tubuh yang gemetar hebat menahan rasa syok yang teramat dalam.
"Pak Dafa... tolong ampuni kami... kami salah... kami yang bodoh karena mau menerima uang dari orang-orang Sanjaya..." ratap Lastri sembari mencoba menyentuh ujung sepatu kulit Dafa dengan tangannya yang kotor. "Kami tidak tahu kalau mereka mau meracuni Pak Handoko... kami bersumpah, Pak! Tolong jangan bunuh kami..."
Dafa menarik kakinya mundur selangkah, enggan membiarkan ujung sepatunya disentuh oleh wanita tua yang telah berulang kali menyiksa batin Nazya di masa lalu. Ia menatap keluarga Rendy dari atas dengan pandangan yang teramat dingin dan menindas.
"Kalian selamat malam ini murni karena aku tidak ingin Nazya kembali menangis jika melihat mantan suaminya menjadi mayat," ucap Dafa, suaranya terdengar begitu berat dan mutlak di dalam ruangan yang sunyi itu. "Mikael, bawa mereka semua ke markas kepolisian pusat sekarang juga. Serahkan mereka langsung ke tangan Kepala Reserse bersama seluruh dokumen palsu yang dibuat oleh orang-orang Baskoro sebagai bukti tambahan."
Dafa berjalan mendekati jendela, menatap ke luar arah kegelapan malam. "Malam ini juga, pastikan seluruh media nasional menyiarkan berita tentang penangkapan anak buah Sanjaya Group atas kasus percobaan pembunuhan massal dan konspirasi kriminal."
"Baik, Pak Dafa. Semuanya akan beres sebelum subuh," jawab Mikael tegas, lalu memberikan instruksi kepada timnya untuk menyeret keluarga Rendy dan sisa-sisa anak buah Baskoro yang masih hidup keluar dari gedung tua tersebut.
Setelah ruangan itu kembali sunyi, Dafa merogoh ponselnya dari dalam saku jaket kulitnya. Ia menekan nomor kontak Direktur Rumah Sakit Pusat Mahardika. "Bagaimana kondisi istriku dan Ayah Handoko?"
"Melaporkan, Pak Dafa," suara direktur rumah Sakit terdengar penuh hormat dari seberang telepon. "Profesor spesialis dari Jerman baru saja tiba sepuluh menit yang lalu menggunakan helikopter medis di helipad rumah sakit. Beliau saat ini sudah masuk ke dalam ruang ICU untuk melakukan observasi lanjutan pada Pak Handoko. Kondisi Ibu Nazya sendiri terpantau masih tertidur lelap di kamar VIP di bawah pengaruh obat penenang ringan."
Dafa menghela napas panjang, ketegangan di pundak tegapnya perlahan-lahan mengendur mendengar kabar tersebut. "Jaga mereka dengan baik. Aku dalam perjalanan kembali."
Pria itu mematikan ponselnya, melangkah lebar keluar dari gedung tua terbengkalai itu menembus gerimis malam yang semakin deras. Badai di luar sudah hampir bersih total ia selesaikan, kini saatnya ia kembali untuk mendekap wanitanya di rumah sakit.
Namun, tepat ketika mobil Alphard hitam milik Dafa baru saja melaju meninggalkan area kompleks gedung tua sejauh satu kilometer, sebuah truk kontainer raksasa berukuran besar tanpa lampu depan tiba-tiba melesat kencang dari arah persimpangan jalan yang gelap, memotong jalur dengan kecepatan penuh dan menghantam langsung bagian samping mobil mewah antipeluru yang ditumpangi Dafa hingga terpental hebat di atas aspal jalanan yang basah.