Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Metatah (Upacara Yang Di Ganggu)
Putu Saraswati sedang duduk bersila di atas sebuah bale. Nafasnya terasa sesak, dan pandangannya menerawang ke sekelilingnya.
Sesekali ia melirik ke ujung balai.
Ia menggenggam ujung kebayanya. Wajahnya terlihat pucat, meskipun sudah di beri penawar doa, agar ia tidak merasa takut melakukan ritual nanti, tetapi ini cukup membuatnya gugup.
Di sampingnya, Kadek Dharma lebih terlihat tenang, dan mereka akan melakukan serangkaian adat ritual, yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Hari ini, mereka akan melaksanakan acara ritual metatah. Dimana gigi seri yang sudah tajam harus di kikir, dan biaya yang di keluarkan untuk acara ini tidak lah sedikit.
Sehingga para orangtua ada yang melakukannya secara massal, demi menghemat biaya tersebut.
Bagi orang tua di Bali, metatah adalah kewajiban yang tidak boleh di tinggalkan saat anak berusia remaja ataupun dewasa.
Hal ini dilakukan agar membuang sial seumur hidup, dan juga kemampuan mengontrol emosi.
"Kak, ini di pakai cincinnya. Kata bapak, agar tidak ada gangguan dari orang yang berniat jahat," Kadek Dharma menyerahkan sebentuk cincin pemberian dari dukun yang saat ini di tugaskan untuk menjaga agar upacara ritual nanti berjalan kondusif, tanpa gangguan apapun.
Sebenarnya, Putu Saraswati tidak percaya akan hal mistis, hanya saja, ia tak ingin menjadi anak durhaka, dengan menentang keinginan bapaknya.
Meski ada rasa malas, ia mengenakan juga cincin tersebut.
Sementara itu, sedari subuh sudah terlihat kejanggalan yang terus terjadi, dan sepertinya ada yang ingin menggagalkan acara tersebut.
Di dapur, Ibu Dharma sudah bolak-balik mengaduk lawar. Api sudah besar, belanga juga sudah panas, tapi daging tetap mentah, dan tak mau matang.
"Kenapa jadi begini? Api sudah sebesar ini, tetapi daging untuk lawar tak mau juga matang." gumamnya dengan perasaan gusar, dan tangannya tampak gemetar.
Komang Shinta merasa khawatir, sebab jika acara nanti selesai, tetapi masakan belum juga matang, maka ia akan merasa malu pada para tamu undangan, karena tidak akan ada makanan yang dihidangkan.
"Shin... Ini bagaimana? Sate lilitnya juga belum matang," Ketut Dewi juga merasakan ke kekhawatiran yang sama.
"Iya, Dew, aku juga gak tau kenapa bisa begini," sahut Komang Shinta. Mendadak ia merasakan bulu kuduknya meremang.
"Kok ada yang aneh ya?" gumamnya lagi.
Ia beranjak bangkit dari duduknya, meninggalkan rebusan daging yang tak juga mau empuk.
"Aku coba ganti pakai daging ayam saja. Mungkin daging babinya bermasalah," Komang Shinta menuju freezer.
"Masa iya bermasalah, kan dagingnya baru saja di antar tadi pagi, masih segar juga," sahut Ketut Dewi. Ia juga memperhatikan daging yang seperti tak berubah teksturnya.
Komang Shinta hanya mendengkuskan nafasnya, dan membuka freezer, tempat ia menyimpan semua stok daging.
Tak!
Pintu di buka, dan kepulan asap yang berasap dari kabut es menguap dengan rasa yang cukup dingin.
Akan tetapi, kedua matanya ikut membeliak. Ia diam terpaku, sembari menutup mulutnya.
Ia berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan, dan nafasnya terasa berat, seolah ada gumpalan di dalam dadanya.
"Wi...." suaranya begitu lirih, tetapi Ketut Dewi cukup mendengarnya.
Ia melihat ekspresi wajah kakaknya yang tampak tegang, dan ikut beranjak menghampiri.
Saat ia berada di tempat, wajahnya juga pucat, dan merasakan dadanya cukup sesak.
"Kenapa bisa begini? Sepertinya ada yang sedang mencoba masuk," bisik Ketut Dewi.
Saat bersamaan, Nyoman Rani datang menghampiri.
"Ada, apa, Komang?" tanyanya, sembari melihat ke arah freezer.
"Apakah Nyoman Rani tak melihat, jika belatung begitu banyak memenuhi freezer." tunjuk Ketut Dewi ke arah tempat dimana para belatung berkerumun pada daging ayam beku, seolah mereka tak terpengaruh pada suhu rendah tersebut.
Nyoman Rani menatap ke arah belatung yang berkerumun di sana. Ia tersentak kaget, dan mencoba tenang. "Kita buang belatungnya. Nanti daging ayamnya kita cuci bersih, dan di masak lagi," sahutnya.
"Sepertinya kita sedang di ganggu," sahut Komang Shinta.
"Jangan percaya hal begituan," tukas Nyoman Rani, lalu mengambil kantong plastik yang dipenuhi belatung sebesar butiran beras. "Kita punya Dewa, jangan terlalu takut." ia mencoba menenangkan keduanya. Kemudian membawa keluar kantong kresek tersebut, dan menyiram semua belatung.
Tampak sisa belatung merayap di bagian sisa daging beku, dengan aroma anyir yang bercampur busuk.
Hal yang membuat Komang Shinta dan juga Ketut Dewi merasa ketar-ketir.
"Aku akan menemui Kadek Arya, aku akan melaporkan kejadian ini padanya. Kamu tunggu dapur, dan perhatikan apapun yang mencurigai," pesannya pada adik keempatnya. Lalu berjalan menemui Kadek Arya-suaminya.
Ketut Dewi mengangguk, lalu mencoba membersihkan sisa belatung yang tampak merayap ke bagian box freezer.
Di luar rumah, Mangku Gede yang merupakan seorang balian (Dukun) sedang duduk bersila di atas sebuah bale.
Hari ini, ia di percaya oleh Kadek Arya sebagai penjaga dalam acara ritual sakral kedua anaknya, agar semua berjalan dengan lancar.
Mangku Gede terdiam. Ia berhenti membaca mantra. Tatapannya tertuju pada halaman rumah Kadek Arya, dimana terdapat banyak makhluk melata berupa ular kawat berukuran sangat kecil, dan panjangnya hanya sekitar sepuluh sampai lima belas centimeter saja. Bahkan ular itu dijuluki blind snake.
Ular kawat dalam jumlah banyak tampak merayap di halaman Pura Banjar, tempat dimana acara metatah massal dilakukan, dan itu merupakan pemandangan yang menjijikkan bagi siapa saja yang melihatnya.
Mangku Gede beranjak dari duduknya. Ia menghampiri paving yang dipenuhi oleh ular kawat tersebut.
Meski tergolong ular tidak berbisa, tetapi kehadirannya sebagai pertanda, jika itu adalah kiriman seseorang yang berusaha merusak acara hari ini, tujuannya hanya satu mengambil salah satu jiwa dari para peserta ritual metatah.
Mangku Gede berdiri tepat diantara para ular kawat yang berkerumun layaknya sebuah ternak berisi makhluk melata.
Tubuhnya yang hitam mengkilap, dengan kepalanya yang tidak terlihat, membuat Komang Shinta berhenti diambang pintu.
Tubuh wanita itu membeku. Belum hilang rasa takutnya, kini ia sudah dihadapkan dengan pemandangan yang mengerikan.
Mangku Gede menatap Komang Shinta, dan memberi isyarat agar diam ditempat.
Komang Shinta mengangguk patuh dengan wajah pucat.
Sedangkan Mangku Gede mengambil dupa, lalu membakarnya, dan membaca mantra, meminta bantuan pada Sang Hyang Widhi untuk membantu ia dalam mengusir segala gangguan yang ada, sembari menutup kedua matanya.
Mangku Gede merasakan tubuhnya gemetar, dan mendadak terdengar suara geraman dari balik tembok Pura Banjar.
Mangku Gede terus membaca mantranya, hingga perlahan ribuan ular-ular itu berubah menjadi asap hitam, lalu menghilang.
Mangku Gede merasakan keringat mengalir dari pelipisnya. Ia merasakan serangan yang cukup kuat, dan mencoba mendobrak benteng ghaib pertahanannya.
~Makanan khas Bali yang mirip dengan urap, hanya saja mendapatkan tambahan suwiran daging yang direbus, dan perasan jeruk limau.
~Leak selalu mengganggu acara metatah (Kikir gigi) dan juga pernikahan. Sebab kedua acara ini dianggap suci. Bila mereka dapat menggagalkannya, dan mendapatkan tumbal dari korban, maka kekuatan mereka akan semakin bertambah.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh