Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 — Aku Tidak Mau Kehilanganmu
Sejak telepon dari ayah Reno siang itu, suasana hati pria tersebut berubah drastis.
Ia menjadi lebih diam.
Tatapannya tidak setenang biasanya, seolah ada banyak hal yang sedang ia pikirkan.
Sementara Alya mulai merasa gelisah.
Ucapan ayah Reno terus terngiang di kepalanya.
"Jangan bikin masalah lagi gara-gara perempuan itu."
Perempuan itu.
Maksudnya dirinya.
Dan Alya tidak suka cara keluarga Reno memandangnya seolah ia adalah masalah.
Malam harinya, Reno mengantar Alya pulang seperti biasa. Namun sepanjang perjalanan, suasana mobil terasa jauh lebih sunyi.
Alya beberapa kali melirik Reno diam-diam.
Pria itu tampak lelah.
“Kalau capek, kamu nggak perlu nganter aku,” ucap Alya pelan.
“Aku nggak capek.”
“Kamu dari tadi keliatan banyak pikiran.”
Reno tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Aku cuma nggak mau keluarga aku ganggu kamu.”
Deg.
Jantung Alya terasa aneh mendengar kalimat itu.
“Memangnya mereka bakal ngapain?”
Reno diam beberapa detik.
“Itu yang lagi aku usahain supaya nggak terjadi.”
Jawaban itu justru membuat Alya semakin tidak tenang.
Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen Alya. Namun saat Alya hendak turun, Reno tiba-tiba menahan tangannya pelan.
“Alya.”
Wanita itu menoleh.
Tatapan Reno terlihat serius.
“Kalau suatu hari nanti keadaan jadi rumit…” Reno menarik napas pelan. “Kamu percaya sama aku, ya?”
Alya mengernyit bingung.
“Kamu ngomong kayak mau perang.”
Reno tertawa kecil, tapi matanya tetap menyimpan kegelisahan.
“Janji dulu.”
Untuk beberapa detik, Alya hanya menatap wajah pria di depannya.
Pria yang dulu paling ia benci.
Pria yang pernah membuat hidupnya penuh luka.
Namun sekarang…
Justru menjadi orang yang paling sering membuat jantungnya berdebar.
“Aku coba,” jawab Alya lirih.
Senyum Reno perlahan muncul lagi.
Dan tanpa Alya duga, pria itu mengangkat tangan lalu menyentuh pelan kepalanya.
Gestur sederhana.
Tapi berhasil membuat wajah Alya langsung memanas.
“Good night, Alya.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya tertidur sambil memikirkan Reno bukan dengan kebencian—
melainkan kerinduan kecil yang mulai tumbuh diam-diam.
Keesokan paginya, suasana kantor mendadak heboh.
Beberapa karyawan terlihat sibuk membicarakan sesuatu sambil melihat layar ponsel mereka.
“Alya!” Siska datang tergesa-gesa dengan wajah panik. “Kamu lihat berita belum?”
“Berita apa lagi?”
Siska langsung menunjukkan layar ponselnya.
Dan dalam sekejap, wajah Alya memucat.
Sebuah artikel berita menampilkan foto dirinya bersama Reno saat keluar dari restoran semalam.
Judulnya jauh lebih buruk.
Calon Menantu Mahardika Group Dikabarkan Dekat dengan Wanita Misterius.
Di bawah artikel itu, ribuan komentar mulai bermunculan.
"Pasti cuma perempuan pengincar harta."
"Nggak sekelas sama keluarga Mahardika."
"Kasihan Vanessa kalau benar diselingkuhi."
Tangan Alya langsung gemetar.
Dadanya terasa sesak membaca semua komentar itu.
Padahal mereka bahkan belum punya hubungan apa-apa.
Namun orang-orang sudah menghakiminya tanpa tahu kenyataan.
“Alya…” Siska terlihat khawatir. “Kamu nggak apa-apa?”
Belum sempat Alya menjawab, suasana kantor mendadak hening.
Semua orang menoleh ke arah pintu masuk.
Reno datang.
Namun kali ini wajahnya benar-benar dingin.
Tatapannya langsung mencari Alya.
Dan begitu melihat wanita itu pucat sambil memegang ponsel, rahang Reno langsung mengeras.
Tanpa peduli tatapan semua orang, Reno berjalan cepat menghampiri Alya.
“Alya.”
“Aku nggak apa-apa,” jawab Alya cepat meski suaranya pelan.
Reno mengambil ponsel dari tangan Alya lalu membaca artikel itu sekilas.
Ekspresinya langsung berubah penuh amarah.
“Kurang ajar…”
Untuk pertama kalinya, Alya melihat Reno semarah itu.
“Aku bakal urus ini,” ucap Reno tegas.
“Reno, nggak usah”
“Aku nggak suka mereka nyakitin kamu.”
Tatapan Reno melembut saat melihat mata Alya yang mulai berkaca-kaca.
Dan tanpa peduli orang-orang di sekitar mereka, Reno menggenggam tangan Alya pelan.
“Aku nggak akan biarin siapa pun jatuhin kamu lagi,” bisiknya lirih.
Deg.
Kalimat itu menghantam hati Alya begitu dalam.
Karena dulu Reno adalah orang yang paling sering menjatuhkannya.
Namun sekarang, pria yang sama justru berdiri di depannya seperti seseorang yang siap melindunginya dari seluruh dunia.
Alya menatap tangan Reno yang masih menggenggam tangannya erat.
Hangat.
Entah sejak kapan sentuhan pria itu tidak lagi terasa menakutkan.
Namun tatapan orang-orang di kantor mulai membuat Alya tidak nyaman. Ia perlahan menarik tangannya pelan.
“Semua orang lihat,” bisiknya gugup.
Reno menoleh sekilas ke sekitar, lalu kembali menatap Alya.
“Biarin.”
Jawaban singkat itu justru membuat jantung Alya semakin kacau.
Siska yang berdiri tak jauh dari mereka sampai menahan napas karena suasananya terasa seperti adegan drama romantis.
Namun Alya masih terlalu bingung dengan perasaannya sendiri untuk menikmati semua itu.
“Reno, aku nggak mau jadi alasan masalah antara kamu sama keluargamu.”
Tatapan Reno langsung berubah serius.
“Kamu bukan masalah.”
“Tapi jelas keluarga kamu nggak suka sama aku.”
“Mereka nggak kenal kamu.”
Alya tertawa kecil pahit. “Orang kayak keluargamu pasti penginnya perempuan sempurna buat jadi pasangan kamu.”
Reno mengernyit.
“Menurut kamu, aku peduli?”
“Kamu mungkin nggak peduli.” Alya menunduk pelan. “Tapi aku peduli.”
Suasana mendadak hening.
Reno bisa mendengar keraguan dalam suara Alya.
Dan ia tahu penyebabnya bukan hanya keluarga Mahardika.
Melainkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
“Alya.” Reno melangkah lebih dekat. “Lihat aku.”
Perlahan Alya mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
“Aku tahu aku pernah jadi alasan terbesar kamu terluka,” ucap Reno pelan. “Dan aku nggak bisa hapus masa lalu itu.”
Mata Alya mulai memanas.
“Tapi sekarang…” suara Reno melembut, “aku cuma mau jadi orang yang bikin kamu bahagia.”
Deg.
Kalimat itu terasa terlalu tulus.
Terlalu hangat.
Dan berbahaya untuk hati Alya yang perlahan mulai runtuh.
“Aku takut,” bisik Alya lirih tanpa sadar.
Reno terlihat sedikit terkejut.
“Takut apa?”
“Takut percaya sama kamu.”
Jujur.
Untuk pertama kalinya Alya mengatakannya secara langsung.
Reno menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil penuh kesedihan.
“Itu wajar.”
Pria itu lalu mengangkat tangan perlahan, seolah ingin menyentuh wajah Alya, tetapi berhenti di tengah jalan.
“Aku nggak akan paksa kamu.”
Tatapan Reno begitu lembut hingga membuat dada Alya terasa sesak.
“Tapi aku bakal tetap di sini sampai kamu percaya.”
Dan entah kenapa…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alya ingin mencoba mempercayai seseorang yang dulu paling ia hindari.
Namun sebelum suasana menjadi semakin emosional, suara langkah heels terdengar mendekat.
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan tiba-tiba berdiri di depan mereka.
Wajahnya cantik, tetapi tatapannya dingin dan tajam.
Seluruh kantor langsung mendadak sunyi.
Reno seketika menegang.
“Ma…”
Jantung Alya langsung berdegup keras.
Karena dari cara wanita itu memandangnya, Alya tahu satu hal..
Ibu Reno tidak datang membawa niat baik.