Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Yang Posesif
"Om..." Bisikan Rina bergetar, nyaris tenggelam di antara deru napas Adrian yang kian memburu.
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata.
Pria matang itu perlahan menindih tubuh mungil berkulit putih mulus di bawahnya.
Ada kilat posesif yang pekat di sepasang matanya namun ia masih berusaha mengendalikan diri.
Adrian tahu benar gadis di bawah kungkungannya ini masih tergolong lugu dalam dunia dewasanya. Karenannya dia harus hati-hati pake banget.
Dengan sisa-sisa kesabaran yang beralaskan gairah yang menggebu, Adrian mulai memperlakukan Rina seolah gadis itu adalah porselen mahal yang rapuh.
Dia harus berusaha keras supaya gadis cantik ini tidak kesakitan apa lagi tak nyaman karena gairahnya yang sudah di ujung tiang bendera.
Sementara itu Rina sudah benar-benar mabuk akan ketampanan dan harta om tampan ini. Dia hanya diam saja saat Adrian mulai menyentuh setiap jengkal tubuhnya.
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk benar-benar tenggelam dalam lautan gairah yang primitif. Adrian mulai mengecup bibir Rina dan wanita cantik ini tidak menolak sedetik pun.
Setelah semua tercurah tubuh keduanya terkulai lemas dengan napas yang putus-putus dan dada yang naik turun tidak beraturan.
Rina benar-benar kehabisan daya. Kini ia tak sanggup lagi mengimbangi stamina stamina luar biasa dari om tampan yang tampaknya menolak untuk selesai.
"Udah ya, Om... aku pegel banget ini," keluh Rina yang benar-benar kelelahan.
Adrian terkekeh pelan, mengusap rambut Rina yang berantakan dengan sayang. "Siap, Sayang. Aku akan nurut apa katamu malam ini."
Malam yang penuh pergolakan itu akhirnya mengantar mereka ke dalam tidur yang sangat nyenyak.
Ketika Rina akhirnya terbangun, tirai jendela apartemen sudah menembuskan cahaya matahari yang bersinar terik.
Hari sudah tinggi.
Rina mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat.
Saat meraba sisi tempat tidur, ia mendapati sis tempat tidur di sebelahnya sudah kosong.
Kemana dia? batin Rina bertanya-tanya.
"Selamat pagi, Cantik. Yuk, sarapan dulu. Om sudah siapkan bubur ayam khusus buat kamu," ucap Adrian dengan lembut dan perhatian.
"Wah... Om yang buat sendiri?" tanya Rina, matanya berbinar. "Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Sayang. Yuk, kita makan bersuapan," jawab Adrian manis, duduk di tepi ranjang dan menyendokkan bubur hangat itu ke mulut Rina.
Rina menerima suapan itu dengan patuh.
Tanpa permisi tangan kekar Adrian merangsek maju meremas-remas dada Rina yang sedikit terekspos karena piyamanya melorot.
"Tadi malam kamu hot banget, Sayang. Om suka banget waktu posisi kamu nungging," bisik Adrian tanpa dosa, matanya berkilat nakal.
"Ih, Om ini! Apaan sih!" Rina spontan menjauhkan dadanya karena merasa tidak nyaman dengan bahan candaan Adrian yang terlalu vulgar di pagi hari.
Seketika wajah Rina berubah cemberut.
Adrian malah tertawa renyah melihat reaksi ketakutan Rina. "Jangan marah, dong. Kalau orang pacaran kan biasa ngomong kayak gitu. Grepe-grepe sedikit, cium-cium atau bahas adegan ranjang tadi malam itu hal yang biasa, Rina. Gak usah kaku begitu."
"Iya, aku tahu. Tapi tolong jangan bahas ini kalau di depan banyak orang ya, Om. Apalagi kalau di lingkungan kampus," sahut Rina. "Di sana ada Bu Eliza. Gimana kalau sampai dia tahu hubungan kita? Aku bisa mati berdiri."
"Ah, kamu ini berlebihan. Bu Eliza juga kan begitu sama mahasiswa bimbingannya.
"Hah?! Apa aku ngak salah denger, Om?"