"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Terserah kakek mau bilang apa saja!, saya memang anak penderita odgj, dan itu nyata, tidak bisa di pungkiri dengan apapun juga kek, tapi ingat kek, penderita odgj itu tidak pernah ada niat untuk mencelakai orang lain, menghancurkan usaha orang lain, menghalalkan segala cara, dia jauh lebih mulia dari pada orang yang merasa paling mulia di Dunia ini, tapi pekerjaan nya menghancurkan hidup orang lain!" suara Kaenan ikut meninggi.
"Pergi!… pergi kau dari sini, aku tidak ingin lagi melihat wajah mu, pergi!" suara tuan besar Baskoro menggema di ruangan itu.
Beberapa orang pembantu, meringkuk di belakang, gemetar karena ketakutan mendengar suara kemarahan tuan besar Baskoro.
Sementara itu, nyonya Carla hanya menangis tersedu sedu, ingin ikut campur, tetapi tidak punya keberanian sedikitpun juga.
Kaenan bangkit berdiri, berjalan masuk ke kamar nya, sementara tuan besar Baskoro juga masuk kedalam ruang kerjanya.
Keesokan harinya, pukul setengah delapan pagi, Kaenan tidak juga keluar dari kamar nya.
Sementara itu, tuan besar Baskoro melamun di teras depan sambil menatap ke arah taman depan Rumah nya, pandangan nya seperti hampa.
Nyonya Carla naik ke kamar Kaenan, mengetuk pintu nya berapa kali, namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Kae!, bangun nak!, sudah siang!" suara nyonya Carla membangunkan Kaenan.
Tetapi tidak juga ada jawaban apapun dari dalam kamar itu.
Nyonya Carla membuka pintu kamar Kaenan, didalam kamar itu terlihat tertata rapi, seolah olah tidak ada tanda tanda jika ada orang disitu. Bahkan pintu kamar mandi pun terbuka, pertanda tidak ada orang didalam nya.
Di atas nakas terlihat selembar kertas bertuliskan, "maafkan Kae nek!, Kae pergi!, jangan cari Kae, ini Kae lakukan, demi kebaikan kita semua, Kae sayang nenek!" ....
Lemah dengkul nyonya Carla, hingga menekuk keatas lantai, perlahan air mata nya jatuh berlinangan, air mata yang semenjak tadi malam berusaha dia tahan, kini jatuh juga pada akhirnya.
Dengan sekuat daya, wanita cantik itu bangkit berdiri, menuruni anak tangga satu demi satu, yang terasa begitu panjang dan jauh. Dia tidak berhenti di ruang depan, tapi terus berjalan ke arah pos sekuriti di dekat pintu gerbang.
"Pak! Hanif!, tadi melihat Kae keluar kah?" tanya wanita cantik itu kepada sekuriti Rumah nya.
"Tadi subuh sekitar pukul empat pagi, tuan muda keluar dengan motor metik nya nyonya, saya kira ke Mushola, jadi saya diamkan saja!" sahut pak Hanif.
Nyonya Carla melangkah masuk dengan wajah menunduk, kembali memasuki kamar tidur Kaenan.
Semua pakaian yang dibelikan oleh nya, tidak dibawa Kaenan , hanya pakaian yang semula dia bawa saja yang dibawa nya, bahkan semua kartu ATM yang diberikan nyonya Carla, di tinggal nya di dalam lemari nya.
Nyonya Carla kembali mengunci lemari itu, lalu berjalan keluar dari kamar tidur sang cucu, turun kebawah dan mengunci diri nya di dalam kamar tidur nya sendiri.
Sementara itu, tuan besar Baskoro hanya diam merenung menatap taman, entah merasa menyesal atau malahan masih marah, tidak ada yang tahu, bahkan nyonya Carla pun tidak mau perduli, dia lebih banyak mengurung diri nya di dalam kamar tidurnya sendiri.
Seminggu berlalu begitu cepat, mang Hamit beberapa kali menghubungi Kaenan, niat mau menanyakan pekerjaan, tapi nomor telepon nya tidak lagi bisa di hubungi. Bahkan Niken sendiri pun tidak tahu kabar anak muda itu lagi.
Diam diam, tuan besar Baskoro ke Rumah Kiai Nuruddin, menanyakan tentang Kaenan, namun jawaban sang Kiai justru membuat pria angkuh itu bertambah kecewa.
"Maaf tuan Baskoro, terakhir ke Rumah ini seminggu yang lalu, dia mengembalikan motor Aisyah, saya tanyakan mau kemana, dia hanya bilang ingin meniti takdir nasib nya sendiri, maaf saya tidak bisa banyak membantu tuan, nomornya pun sudah tidak lagi bisa saya hubungi!" jawab pria berwajah teduh itu.
Sebesar apapun kekuasaan mu, tidak akan bisa membuat semua orang tunduk atas kehendak dan perintah mu.
Sementara itu, di ibu kota, riuh rendah kesibukan kota megapolitan, tetap berjalan menurut rute alami nya, tak ada yang berubah sedikitpun juga. Tak juga berhenti dan menanti, tetap berlari, meninggalkan dan menggilas yang tak siap berkompetisi.
Disebuah gang kecil, Kaenan berjalan seorang diri, mencari Rumah Kong Ali, seorang juragan kontrakan.
Setelah bertanya sana sini, akhirnya seorang anak mengantarkan Kaenan ke Rumah Kong Ali, sebuah rumah sederhana, namun memiliki pekarangan yang sangat luas, di penuhi dengan aneka macam tanaman buah buahan.
"Kong!, kong!, ada yang nyariin engkong!" terdengar teriakan anak itu di depan pagar Rumah Kong Ali.
Seorang pria tua, usia sekitar tujuh puluhan tahun, berjalan sambil menunduk kearah gerbang Rumah nya.
"Heh Mat!, Ade ape elo teriak teriak?" tanya Kong Ali membukakan pintu pagar Rumah nya.
"Ini kong ada nyang nyariin engkong!" sahut Mamat, anak kecil yang mengantarkan Kaenan tadi.
"Assalamualaikum kong, saya Kaenan, mau menanyakan, masih ada kamar kosong tidak?" tanya Kaenan lembut.
"Ade, ade, mau Nyang sewa bulanan, ape nyang kontrakan?" tanya Kong Ali.
"Sewa bulanan berapa? dan yang kontrakan berapa?" tanya Kaenan.
"Nyang sewa bulanan enam ratus perbulan, kalau kontrakan per enam bulanan sebesar tiga juta, nyang setaun enam juta, mau nyang mane?" tanya Kong Ali.
"Yang setahun saja Kong!" sahut Kaenan.
"Baiklah, ayo kita lihat rumah nye dulu dah" ujar Kong Ali mengambil anak kunci di dalam rumahnya.
Rumah kontrakan kong Ali tidak jauh dari rumah nya sendiri, blok pertama ada sepuluh pintu yang saling berhadapan, menghadap ke lorong blok selebar tiga meter, semua nya ada lima blok di sisi kiri gang.
Kaenan memilih kamar paling ujung blok, dekat tembok.
Setelah melihat lihat keadaan Kamar nya, Kaenan langsung mentransfer sejumlah uang untuk satu tahun.
Kamar kontrakan itu cukup besar, satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan satu ruang makan merangkap dapur, lalu kamar mandi merangkap WC, dan ruang terbuka dibelakang tempat jemuran.
Setelah menerima kunci kamar nya, Kaenan keluar untuk membeli perlengkapan memasak, makan, hingga kasur kecil. Tidak lupa Kaenan juga membeli penanak nasi elektrik.
Sebelum mandi, Kaenan memasukan beras ke panci penanak nasi, mencuci nya lalu memasukan kedalam rice cooker, lalu dia tinggal mandi.
Selesai mandi dan ganti pakaian, Kaenan memasak air diatas kompor gas dua tungku yang dia beli tadi, untuk membuat kopi.
Tidak sampai lima menit, air mendidih, dan segelas kopi panas pun jadi.
Di teras depan kontrakan nya, ada sebuah bangku panjang yang disediakan pemilik kontrakan untuk setiap kamar nya.
Kaenan duduk di bangku panjang itu sambil menikmati segelas kopi panas nya.
Pintu kontrakan di sebelah kanan kontrakan Kaenan terbuka, keluar seorang pemuda kira kira usia sembilan belas tahun.
"Pindahan baru mas?" tanya pemuda itu kepada Kaenan sambil menenteng gelas kopinya.
"Eh iya mas, baru siang tadi masuk" jawab Kaenan.
Pemuda itu melangkahi tembok setinggi enam puluh sentimeter sebagai pembatas teras masing masing bedakan, lalu duduk di samping Kaenan.
"Kenalkan, saya Joko dari pulau tengah" ujar pemuda tadi.
"Saya Kaenan mas, dari timur pulau" sahut Kaenan.
"Rencana nya mau sekolah?, kuliah?, apa kerja?" tanya Joko lagi.
"Rencana nya sih, tahun depan kuliah, jika ada lowongan, sekalian kerja juga buat biaya kuliah" sahut Kaenan.
"Oooh begitu, saya juga kuliah, sudah semester empat" ....
"Mas Joko hebat, sebentar lagi lulus, kuliah apa mas?" ....
"Ekonomi!" ....
Seorang pemuda seumuran dengan Joko muncul dari dalam kontrakan dan duduk di sebelah Joko.
"Ini Agus teman satu kontrakan saya, dia juga kuliah satu kampus dengan saya, hanya saja beda fakultas, dia PGSD!" Joko memperkenalkan Agus kepada Kaenan.
Dari wajah nya, Kaenan menilai jika Agus orang yang ramah dan humoris.
"Penghuni baru kah?" tanya Agus mengulurkan tangan nya.
"Iya mas, saya baru pindah siang tadi, nama saya Kaenan mas" ....
"Nama saya Agus, lengkapnya Agus surapno, atau lebih lengkap lagi Agus surapno saja" ujar Agus sambil terkekeh.
"Dia mau kuliah tahun depan Gus, kata nya mau Nyambi kerja juga" kata Joko menjelaskan.
"Kalau mau kerja, tanya sama mas Diwan sama mas Manto saja Mal, mereka berdua kerja OB di kantor, mungkin ada lowongan!" saran dari Agus.
"Di bedakan kita ini juga kah?" tanya Kaenan.
"Iya Mal, di sebelah bedakan kami, kalau yang diseberang itu, cewek semua Mal, ada yang kuliah, ada pula yang bekerja" mas Joko menjelaskan.
Kebetulan salah seorang pemuda itu keluar dari bedakan nya, dan ikut ngumpul di depan bedakan Kaenan.
"Nah ini mas Manto nya Kae, beliau cleaning servis di kantor perusahaan terkenal!" ujar mas joko.
"Ada apa ya?" tanya mas Manto.
"Ini Kaenan, anak baru di komplek kita ini, dia mau kuliah, tetapi sementara mau nyari kerja dulu katanya mas" ujar mas Joko.
"Apa ada lowongan ya mas, kerja apa aja deh, asal halal" tambah Kaenan.
"Hmm, di kantor sih belum ada lowongan, tapi kemarin bos minta Carikan orang untuk kerja di kafe, jadi pramusaji, kalau minat bisa buat surat permohonan, ijazah nya ada kan?" tanya mas Manto.
"Ada mas, lengkap semua, tapi surat permohonan kerja saya tidak bisa buat mas, bisa dibantu kan?" tanya Kaenan.
"Bisa bisa, kebetulan dahulu aku membuat surat permohonan kerja cukup banyak, tunggu aku ambil dulu!" mas Manto kembali ke bedakan nya, beberapa saat kemudian, datang lagi dengan membawa selembar kertas folio.
"Ini contoh surat lamaran kerjanya nya, sertakan pula pas photo ukuran tiga kali empat tiga lembar, fotocopy ijazah, ingat nama cafe nya Clarizon cafe, Senin ikut saya ke kantor, karena cafe itu milik bos saya" ujar mas Manto lagi.
"Terimakasih mas ya, duduk duduk dulu deh, saya buatkan kopi" Kaenan bergegas masuk kedalam bedakan nya, membuatkan dua gelas kopi lagi untuk mas Agus dan mas Manto.
Ke esokan hari nya, mumpung hari Minggu, Kaenan Kaenan segera mempersiapkan segala keperluan untuk membuat surat permohonan kerja, dibantu oleh mas Manto.
...****************...