NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Terserah kakek mau bilang apa saja!, saya memang anak penderita odgj, dan itu nyata, tidak bisa di pungkiri dengan apapun juga kek, tapi ingat kek, penderita odgj itu tidak pernah ada niat untuk mencelakai orang lain, menghancurkan usaha orang lain, menghalalkan segala cara, dia jauh lebih mulia dari pada orang yang merasa paling mulia di Dunia ini, tapi pekerjaan nya menghancurkan hidup orang lain!" suara Kaenan ikut meninggi.

"Pergi!… pergi kau dari sini, aku tidak ingin lagi melihat wajah mu, pergi!" suara tuan besar Baskoro menggema di ruangan itu.

Beberapa orang pembantu, meringkuk di belakang, gemetar karena ketakutan mendengar suara kemarahan tuan besar Baskoro.

Sementara itu, nyonya Carla hanya menangis tersedu sedu, ingin ikut campur, tetapi tidak punya keberanian sedikitpun juga.

Kaenan bangkit berdiri, berjalan masuk ke kamar nya, sementara tuan besar Baskoro juga masuk kedalam ruang kerjanya.

Keesokan harinya, pukul setengah delapan pagi, Kaenan tidak juga keluar dari kamar nya.

Sementara itu, tuan besar Baskoro melamun di teras depan sambil menatap ke arah taman depan Rumah nya, pandangan nya seperti hampa.

Nyonya Carla naik ke kamar Kaenan, mengetuk pintu nya berapa kali, namun tidak ada sahutan sama sekali.

"Kae!, bangun nak!, sudah siang!" suara nyonya Carla membangunkan Kaenan.

Tetapi tidak juga ada jawaban apapun dari dalam kamar itu.

Nyonya Carla membuka pintu kamar Kaenan, didalam kamar itu terlihat tertata rapi, seolah olah tidak ada tanda tanda jika ada orang disitu. Bahkan pintu kamar mandi pun terbuka, pertanda tidak ada orang didalam nya.

Di atas nakas terlihat selembar kertas bertuliskan, "maafkan Kae nek!, Kae pergi!, jangan cari Kae, ini Kae lakukan, demi kebaikan kita semua, Kae sayang nenek!" ....

Lemah dengkul nyonya Carla, hingga menekuk keatas lantai, perlahan air mata nya jatuh berlinangan, air mata yang semenjak tadi malam berusaha dia tahan, kini jatuh juga pada akhirnya.

Dengan sekuat daya, wanita cantik itu bangkit berdiri, menuruni anak tangga satu demi satu, yang terasa begitu panjang dan jauh. Dia tidak berhenti di ruang depan, tapi terus berjalan ke arah pos sekuriti di dekat pintu gerbang.

"Pak! Hanif!, tadi melihat Kae keluar kah?" tanya wanita cantik itu kepada sekuriti Rumah nya.

"Tadi subuh sekitar pukul empat pagi, tuan muda keluar dengan motor metik nya nyonya, saya kira ke Mushola, jadi saya diamkan saja!" sahut pak Hanif.

Nyonya Carla melangkah masuk dengan wajah menunduk, kembali memasuki kamar tidur Kaenan.

Semua pakaian yang dibelikan oleh nya, tidak dibawa Kaenan , hanya pakaian yang semula dia bawa saja yang dibawa nya, bahkan semua kartu ATM yang diberikan nyonya Carla, di tinggal nya di dalam lemari nya.

Nyonya Carla kembali mengunci lemari itu, lalu berjalan keluar dari kamar tidur sang cucu, turun kebawah dan mengunci diri nya di dalam kamar tidur nya sendiri.

Sementara itu, tuan besar Baskoro hanya diam merenung menatap taman, entah merasa menyesal atau malahan masih marah, tidak ada yang tahu, bahkan nyonya Carla pun tidak mau perduli, dia lebih banyak mengurung diri nya di dalam kamar tidurnya sendiri.

Seminggu berlalu begitu cepat, mang Hamit beberapa kali menghubungi Kaenan, niat mau menanyakan pekerjaan, tapi nomor telepon nya tidak lagi bisa di hubungi. Bahkan Niken sendiri pun tidak tahu kabar anak muda itu lagi.

Diam diam, tuan besar Baskoro ke Rumah Kiai Nuruddin, menanyakan tentang Kaenan, namun jawaban sang Kiai justru membuat pria angkuh itu bertambah kecewa.

"Maaf tuan Baskoro, terakhir ke Rumah ini seminggu yang lalu, dia mengembalikan motor Aisyah, saya tanyakan mau kemana, dia hanya bilang ingin meniti takdir nasib nya sendiri, maaf saya tidak bisa banyak membantu tuan, nomornya pun sudah tidak lagi bisa saya hubungi!" jawab pria berwajah teduh itu.

Sebesar apapun kekuasaan mu, tidak akan bisa membuat semua orang tunduk atas kehendak dan perintah mu.

Sementara itu, di ibu kota, riuh rendah kesibukan kota megapolitan, tetap berjalan menurut rute alami nya, tak ada yang berubah sedikitpun juga. Tak juga berhenti dan menanti, tetap berlari, meninggalkan dan menggilas yang tak siap berkompetisi.

Disebuah gang kecil, Kaenan berjalan seorang diri, mencari Rumah Kong Ali, seorang juragan kontrakan.

Setelah bertanya sana sini, akhirnya seorang anak mengantarkan Kaenan ke Rumah Kong Ali, sebuah rumah sederhana, namun memiliki pekarangan yang sangat luas, di penuhi dengan aneka macam tanaman buah buahan.

"Kong!, kong!, ada yang nyariin engkong!" terdengar teriakan anak itu di depan pagar Rumah Kong Ali.

Seorang pria tua, usia sekitar tujuh puluhan tahun, berjalan sambil menunduk kearah gerbang Rumah nya.

"Heh Mat!, Ade ape elo teriak teriak?" tanya Kong Ali membukakan pintu pagar Rumah nya.

"Ini kong ada nyang nyariin engkong!" sahut Mamat, anak kecil yang mengantarkan Kaenan tadi.

"Assalamualaikum kong, saya Kaenan, mau menanyakan, masih ada kamar kosong tidak?" tanya Kaenan lembut.

"Ade, ade, mau Nyang sewa bulanan, ape nyang kontrakan?" tanya Kong Ali.

"Sewa bulanan berapa? dan yang kontrakan berapa?" tanya Kaenan.

"Nyang sewa bulanan enam ratus perbulan, kalau kontrakan per enam bulanan sebesar tiga juta, nyang setaun enam juta, mau nyang mane?" tanya Kong Ali.

"Yang setahun saja Kong!" sahut Kaenan.

"Baiklah, ayo kita lihat rumah nye dulu dah" ujar Kong Ali mengambil anak kunci di dalam rumahnya.

Rumah kontrakan kong Ali tidak jauh dari rumah nya sendiri, blok pertama ada sepuluh pintu yang saling berhadapan, menghadap ke lorong blok selebar tiga meter, semua nya ada lima blok di sisi kiri gang.

Kaenan memilih kamar paling ujung blok, dekat tembok.

Setelah melihat lihat keadaan Kamar nya, Kaenan langsung mentransfer sejumlah uang untuk satu tahun.

Kamar kontrakan itu cukup besar, satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan satu ruang makan merangkap dapur, lalu kamar mandi merangkap WC, dan ruang terbuka dibelakang tempat jemuran.

Setelah menerima kunci kamar nya, Kaenan keluar untuk membeli perlengkapan memasak, makan, hingga kasur kecil. Tidak lupa Kaenan juga membeli penanak nasi elektrik.

Sebelum mandi, Kaenan memasukan beras ke panci penanak nasi, mencuci nya lalu memasukan kedalam rice cooker, lalu dia tinggal mandi.

Selesai mandi dan ganti pakaian, Kaenan memasak air diatas kompor gas dua tungku yang dia beli tadi, untuk membuat kopi.

Tidak sampai lima menit, air mendidih, dan segelas kopi panas pun jadi.

Di teras depan kontrakan nya, ada sebuah bangku panjang yang disediakan pemilik kontrakan untuk setiap kamar nya.

Kaenan duduk di bangku panjang itu sambil menikmati segelas kopi panas nya.

Pintu kontrakan di sebelah kanan kontrakan Kaenan terbuka, keluar seorang pemuda kira kira usia sembilan belas tahun.

"Pindahan baru mas?" tanya pemuda itu kepada Kaenan sambil menenteng gelas kopinya.

"Eh iya mas, baru siang tadi masuk" jawab Kaenan.

Pemuda itu melangkahi tembok setinggi enam puluh sentimeter sebagai pembatas teras masing masing bedakan, lalu duduk di samping Kaenan.

"Kenalkan, saya Joko dari pulau tengah" ujar pemuda tadi.

"Saya Kaenan mas, dari timur pulau" sahut Kaenan.

"Rencana nya mau sekolah?, kuliah?, apa kerja?" tanya Joko lagi.

"Rencana nya sih, tahun depan kuliah, jika ada lowongan, sekalian kerja juga buat biaya kuliah" sahut Kaenan.

"Oooh begitu, saya juga kuliah, sudah semester empat" ....

"Mas Joko hebat, sebentar lagi lulus, kuliah apa mas?" ....

"Ekonomi!" ....

Seorang pemuda seumuran dengan Joko muncul dari dalam kontrakan dan duduk di sebelah Joko.

"Ini Agus teman satu kontrakan saya, dia juga kuliah satu kampus dengan saya, hanya saja beda fakultas, dia PGSD!" Joko memperkenalkan Agus kepada Kaenan.

Dari wajah nya, Kaenan menilai jika Agus orang yang ramah dan humoris.

"Penghuni baru kah?" tanya Agus mengulurkan tangan nya.

"Iya mas, saya baru pindah siang tadi, nama saya Kaenan mas" ....

"Nama saya Agus, lengkapnya Agus surapno, atau lebih lengkap lagi Agus surapno saja" ujar Agus sambil terkekeh.

"Dia mau kuliah tahun depan Gus, kata nya mau Nyambi kerja juga" kata Joko menjelaskan.

"Kalau mau kerja, tanya sama mas Diwan sama mas Manto saja Mal, mereka berdua kerja OB di kantor, mungkin ada lowongan!" saran dari Agus.

"Di bedakan kita ini juga kah?" tanya Kaenan.

"Iya Mal, di sebelah bedakan kami, kalau yang diseberang itu, cewek semua Mal, ada yang kuliah, ada pula yang bekerja" mas Joko menjelaskan.

Kebetulan salah seorang pemuda itu keluar dari bedakan nya, dan ikut ngumpul di depan bedakan Kaenan.

"Nah ini mas Manto nya Kae, beliau cleaning servis di kantor perusahaan terkenal!" ujar mas joko.

"Ada apa ya?" tanya mas Manto.

"Ini Kaenan, anak baru di komplek kita ini, dia mau kuliah, tetapi sementara mau nyari kerja dulu katanya mas" ujar mas Joko.

"Apa ada lowongan ya mas, kerja apa aja deh, asal halal" tambah Kaenan.

"Hmm, di kantor sih belum ada lowongan, tapi kemarin bos minta Carikan orang untuk kerja di kafe, jadi pramusaji, kalau minat bisa buat surat permohonan, ijazah nya ada kan?" tanya mas Manto.

"Ada mas, lengkap semua, tapi surat permohonan kerja saya tidak bisa buat mas, bisa dibantu kan?" tanya Kaenan.

"Bisa bisa, kebetulan dahulu aku membuat surat permohonan kerja cukup banyak, tunggu aku ambil dulu!" mas Manto kembali ke bedakan nya, beberapa saat kemudian, datang lagi dengan membawa selembar kertas folio.

"Ini contoh surat lamaran kerjanya nya, sertakan pula pas photo ukuran tiga kali empat tiga lembar, fotocopy ijazah, ingat nama cafe nya Clarizon cafe, Senin ikut saya ke kantor, karena cafe itu milik bos saya" ujar mas Manto lagi.

"Terimakasih mas ya, duduk duduk dulu deh, saya buatkan kopi" Kaenan bergegas masuk kedalam bedakan nya, membuatkan dua gelas kopi lagi untuk mas Agus dan mas Manto.

Ke esokan hari nya, mumpung hari Minggu, Kaenan Kaenan segera mempersiapkan segala keperluan untuk membuat surat permohonan kerja, dibantu oleh mas Manto.

...****************...

1
Was pray
buah berasa manis dan pahit serta asam tumbuh dari tanah yg sama, ketulusan hati juga bisa tumbuh dari semua manusia yg mempunyai nurani, banyak sidok manusia yg punya hati tapi tanpa nurani maka akan jadi buah yg asam bahkan pahit, tapi jadi buah yg manis jika sosok manusia itu punya hati nurani sehingga akan muncul empati tanpa menuntut untuk dihargai,, tetap jadi manusia yg punya nurani kae agar dirimu tetap jadi buah yg manis bagi siapa saja
Night Watcher
beda ya 'memaafkan' dgn 'melupakan' pebuatan kejam terhadap kita, walau bisa memaafkan blm tentu bisa melupakannya, bahkan bisa 100 X lipat sulitnya..
Night Watcher
lah, ternyata emaknya safea gila jg, tp suka ngatain kae anak org gila..😇😇
Night Watcher
katanya yg punya kakeknya safea,
Night Watcher
coba mampir, kayane ngenes temen mbok..
Was pray
anak Sholeh gak harus mengalah terus dan mengandalkan nasib pada takdir tab ikhtiar, cocok sama sikap kae menolak perjodohan dan melepaskan semua harta warisan dan hidup mandiri
Was pray
kalau dari dulu kamu tolak perjodohan dengan Grace maka kejadiannya gak serunyam sekarang kae, kau terlalu lemah mental sih, sok mau jadi pahlawan untuk keluarga kandungmu yg cuma Mikirin harta doang, apagunanya kamu sholat istikharah dulu? kalau kamu tetap salah waktu mengambil keputusan?
Was pray
betul... kae yg blo'on mesti gampang dikubulin.. di iming2u masuk surga kae udah pasrah nyerahin segalanya, mungkin disuruh bunuh diri kalau diembel embi masuk surga mesti kae lakukan, kae terlalu polos mesti mudah dikubulin... 🤣🤣
Was pray
tapi mau dijodohkan sama biancabe cabean ya sama juga bo'obg kae, kau pengecut , gak punya ketetapan hati, itu bukan tipe muslim yg Sholeh tapi orang Islam yg plin-plan tapi bersampul m/berkedok sholeh
Was pray
ke.....ce....wa.... mau kasih jempol jadi gak semangat
Was pray
kecewa.......... kae menerima perjodohan, berkorban buat keluarga itu mulia tapi bila dia sendiri masuk ke jurang kesengsaraan ya konyol.... jadi males nerusin bacanya
Was pray
aku mau denger bagaimana keputusan kaenan dalam menyikapi urusan perjodohan. menerima dan jadi orang kaya tapi masuk lubang neraka dunia atau tnenolak tapi tetap hidupnya damai walau miskin. menerima tawaran perjodohan ibarat dirinya jadi umpan buaya rakus. berkorban untuk orang tamak gak ada mashkahatnya
Was pray
inti cerita novel ini menjadikan kae sianak Sholeh jadi tumbal ya Thor? dulu waktu belum tau Arifin itu ortu kandungnya jadi bahan kekerasan, sekarang setelah tau tetap berubah tetap jadi tumbal, jadi tumbal keserakahan, padahal kae emang Sholih tapi gak punya keberanian melawan dengan dalih takdir dan nasib
Was pray
berharap tanpa tindakan berarti pemalas, ibarat mau kenyang tapi gak mau menyuapkan ke mulut, semua butuh tindakan rreaistis kae
Was pray: aku suka baca karya cetak dan teks digital, terkadang iseng buat syair, puisi dan skrip lagu, cuma buat menyalurkan hobi corat-coret sederhana, untuk piknik otak kok bang
total 4 replies
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!