Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 hukum rimba dan terobosan berdarah
Dua puluh hari berlalu sejak Lin Chen menginjakkan kaki di Sektor Utara Hutan Pinus Berbisik. Waktu di tempat ini tidak diukur oleh perputaran jarum jam, melainkan oleh jumlah luka sayatan di tubuh dan ketebalan lapisan kapalan di kepalan tangannya.
Udara malam Hutan Pinus selalu membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Kendati demikian, tubuh pemuda yang tengah bertelanjang dada di bawah guyuran air terjun kecil itu justru memancarkan uap panas. Lin Chen duduk bersila di atas batu berlumut, membiarkan aliran air sedingin es menghantam kepala dan bahunya tanpa henti.
Di bawah kulitnya, aliran Qi kemerahan bergerak bagai naga kecil yang beringas. *Napas Karang Esensi* berputar pada kecepatan maksimal. Alih-alih mencari kenyamanan, Lin Chen sengaja menggunakan tekanan air terjun untuk menyiksa otot-ototnya, memaksa serat dagingnya robek secara mikro dan terbangun kembali menjadi lebih padat. Setiap tetes air yang jatuh menghantam tubuhnya terasa seperti pukulan palu kayu. Rasa sakit itu dikunyah mentah-mentah, ditelan, dan diubah menjadi bahan bakar pelebaran Dantiannya.
Sepuluh hari pertama di hutan ini adalah neraka yang sesungguhnya. Serigala Angin bukanlah hewan bodoh yang bisa dipancing dua kali menggunakan trik celah sempit yang sama. Mereka belajar, beradaptasi, dan mulai memburu Lin Chen secara berkelompok.
Untuk mendapatkan tiga tanduk tambahan yang kini tersimpan aman di dalam kantongnya, Lin Chen harus membayar harga yang sangat mahal. Paha kirinya sempat terkoyak taring Serigala Angin, memaksanya bersembunyi di atas pohon selama tiga hari penuh sambil mengunyah daun herbal pahit penahan darah. Ia tidak memiliki pil ajaib penyembuh instan. Kesembuhannya murni mengandalkan daya tahan fondasi *Napas Karang Esensi* dan kebulatan tekadnya untuk menolak mati.
Pemuda itu perlahan membuka mata. Uap panas di sekitar tubuhnya menipis. Ia melompat turun dari batu, mendarat dengan langkah ringan di atas tanah basah. Mengenakan kembali jubah abu-abunya yang kini dipenuhi bekas jahitan kasar, Lin Chen memeriksa kondisi tangan kanannya.
Buku-buku jarinya kini dilapisi oleh kulit setebal kulit badak, berwarna sedikit kemerahan secara permanen. Latihan menghancurkan batang pohon Pinus Kayu Besi setiap hari telah mengubah struktur tulang tangannya. Jurus 'Batu Tumbuk' dari fragmen *Tinju Pemecah Batu* tidak lagi melukai dirinya sendiri. Ledakan energi kini bisa dikonsentrasikan sempurna pada satu titik, tanpa setitik pun Qi yang terbuang percuma.
"Tinggal satu tanduk lagi untuk memenuhi kuota sekte," gumam Lin Chen seraya mengikat sabuknya erat-erat. "Kepadatan Qi di Dantianku sudah mencapai ambang batas tingkat dua. Kekuatanku rasanya tertahan oleh sebuah dinding tebal yang menolak runtuh hanya dengan meditasi biasa."
Jalan kultivasi di Alam Fana menuntut praktisinya untuk terus bergesekan dengan bahaya. Ketenangan adalah racun yang membunuh potensi. Lin Chen menyadari hal ini. Ia membutuhkan sebuah tekanan ekstrem dari luar, sebuah ancaman nyata yang bisa memicu insting bertahan hidupnya hingga batas maksimal, barulah dinding pembatas menuju Tahap Kondensasi Qi tingkat ketiga bisa dihancurkan.
Ia meraih pedang besi biasa hasil rampasannya dari Zhao Feng, menyarungkannya di pinggang sebagai senjata cadangan, lalu mulai melangkah membelah kabut pagi.
Hutan Pinus Sektor Utara sangat sunyi hari ini. Kicauan burung yang biasanya terdengar saling bersahutan seolah tertelan oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Insting Lin Chen yang telah terasah selama berminggu-minggu langsung mengirimkan sinyal peringatan. Bulu kuduknya meremang. Ada aura asing yang mengotori area perburuannya. Ini bukan aura binatang buas, melainkan niat membunuh yang sangat terstruktur milik manusia.
Lin Chen menekan hawa keberadaannya, melompat ke dahan pohon terdekat sehalus kucing hutan. Ia bergerak melintasi kanopi daun pinus, melacak sumber gangguan tersebut.
Lima ratus meter di arah barat daya posisinya, aroma darah menyengat udara. Lin Chen mengintip dari balik rimbunnya dedaunan dan menemukan sebuah pemandangan berdarah.
Seekor Serigala Angin dewasa yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari buruan Lin Chen sebelumnya, tergeletak mati di atas tanah bersimbah darah. Tanduk di kepalanya telah dipotong paksa. Di dekat bangkai tersebut, berdiri tiga orang pemuda mengenakan jubah abu-abu pelataran luar sekte. Mereka membawa senjata tajam yang masih meneteskan darah segar.
Ketiga orang itu bukan murid sembarangan. Fluktuasi energi yang memancar dari tubuh mereka menunjukkan tingkat kultivasi yang kokoh. Pemuda yang berdiri di tengah, bertubuh jangkung dengan bekas luka codet melintang di pipi kirinya, berada di Tahap Kondensasi Qi tingkat tiga puncak. Dua orang lainnya berada di tingkat tiga awal.
Mereka adalah komplotan pemburu liar sekte luar. Sering kali, murid-murid kuat menolak mengambil tugas resmi yang merepotkan. Mereka lebih suka berkeliaran di zona berbahaya, merampas hasil buruan murid penjaga perbatasan, atau membunuh siapa saja yang kebetulan lewat demi menguasai harta mereka. Di hutan sedalam ini, hukum sekte hanyalah omong kosong belaka. Mayat yang hilang tidak akan pernah dicari.
"Hanya Serigala Angin biasa. Inti hewannya terlalu kecil," ludah si pemuda bercodet dengan nada kecewa sambil menendang bangkai hewan tersebut. "Kita sudah berkeliling sektor utara ini selama dua hari. Penjaga area ini seharusnya memiliki setoran tanduk yang bisa kita ambil. Ke mana tikus penjaga itu bersembunyi?"
Salah satu pengikutnya yang bertubuh gempal tertawa sinis. "Kudengar dari Suang, penjaga sektor utara bulan ini adalah si sampah Lin Chen. Orang yang berani mematahkan lengan Zhao Feng di alun-alun. Kakak Ma, jika kita membawa kepala Lin Chen kepada Kakak Zhao, bukankah hadiahnya akan lebih besar daripada mengumpulkan tanduk busuk ini?"
Ma Kun, pemuda bercodet itu, menyeringai lebar. "Benar juga. Zhao Feng berasal dari keluarga kaya di kota fana. Dia pasti bersedia membayar mahal untuk pembalasan dendam. Ayo kita sisir area sekitar menara pengawas. Tikus itu tidak mungkin lari jauh."
Di atas dahan, mata Lin Chen menyipit tajam. Ketiga orang ini secara terang-terangan menargetkan nyawanya demi uang darah. Perbedaan kekuatan sangat jelas; melawan satu praktisi tingkat tiga puncak ditambah dua tingkat tiga awal adalah tindakan bunuh diri bagi seseorang yang masih terjebak di tingkat dua sepertinya. Bahkan keunggulan fisik dari *Napas Karang Esensi* tidak akan mampu menahan keroyokan tiga bilah pedang sekaligus.
Tepat saat Lin Chen mempertimbangkan rute pelarian yang paling aman, layar cahaya biru transparan berpendar membelah pandangannya.
**[Ancaman Mematikan Terdeteksi.]**
**[Musuh: Tiga Murid Pelataran Luar (1x Tingkat 3 Puncak, 2x Tingkat 3 Awal). Niat musuh: Eksekusi mati.]**
**[Silakan tentukan strategi pertahanan Anda:]**
**[Pilihan 1: Mundur perlahan, tinggalkan seluruh hasil buruan Anda di menara pengawas sebagai sesajen, lalu kabur kembali ke alun-alun sekte.
Hadiah: Anda kehilangan seluruh pencapaian bulan ini. Menerima hukuman cambuk dari Penegak Hukum karena meninggalkan pos. Anda bertahan hidup dengan status pengecut.]**
**[Pilihan 2: Melakukan serangan kejutan dari atas pohon, menargetkan Ma Kun (pemimpin kelompok).
Hadiah: Anda berhasil melukai Ma Kun, sebagai gantinya Anda akan dikepung dan dibunuh dalam waktu lima menit oleh dua pengikutnya. Tidak ada hadiah yang diberikan kepada mayat.]**
**[Pilihan 3: Manfaatkan area Jurang Kabut Beracun sejauh satu mil ke arah timur. Pancing mereka masuk, pecah belah formasi mereka menggunakan kebutaan lingkungan, dan habisi mereka satu per satu.
Hadiah: Tiga kantong penyimpanan tingkat rendah, Batu Roh Tingkat Menengah, dan Terobosan Kultivasi.]**
Membaca ketiga opsi tersebut, dada Lin Chen bergemuruh. Sistem Pilihan Takdir sekali lagi meletakkan pedang bermata dua di lehernya. Mundur berarti kehilangan segalanya yang telah ia bangun dengan darah dan keringat selama sebulan ini. Bertarung frontal adalah kebodohan murni.
Pilihan ketiga menawarkan hadiah yang luar biasa menggiurkan: terobosan tingkat dan harta rampasan. Risikonya sama mengerikannya. Jurang Kabut Beracun adalah zona mati. Udara di sana mengandung miasma alami yang mengacaukan panca indra dan mencekik paru-paru kultivator tingkat rendah. Memasuki area itu berarti bertarung melawan musuh sekaligus bertarung melawan batas ketahanan tubuhnya sendiri.
"Sebuah terobosan tidak akan datang dari kepengecutan," batin Lin Chen mengeraskan rahangnya. "Pilihan ketiga."
Layar biru memudar ditelan udara dingin.
Lin Chen tidak langsung melarikan diri. Jika ia berlari menjauh dalam diam, kelompok Ma Kun mungkin tidak akan mengejarnya ke arah timur. Ia harus membuat dirinya menjadi umpan yang terlalu manis untuk dilewatkan.
Pemuda itu sengaja menggeser posisi kakinya, menginjak sebatang ranting pinus kering dengan cukup keras.
*KRAK!*
Suara ranting patah itu menggema sangat jelas di tengah hutan yang hening.
Tiga kepala murid pelataran luar itu tersentak ke atas secara bersamaan, pandangan mereka mengunci tajam ke arah dahan tempat Lin Chen berdiri.
"Siapa di sana?! Turun!" teriak Ma Kun sambil mencabut pedangnya, matanya memancarkan kebuasan.
Lin Chen menatap mereka sekilas dari atas dahan, memastikan wajahnya terlihat jelas, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melesat melompat ke dahan pohon berikutnya dengan kecepatan penuh menuju arah timur.
"Itu Lin Chen! Sesuai dengan deskripsi Zhao Feng!" seru si murid gempal dengan nada gembira. "Dia tidak terlihat mematikan, hanya tikus yang ketakutan. Kejar dia!"
"Jangan biarkan hadiah kita lepas!" Ma Kun meraung memberi perintah. Ketiganya langsung mengerahkan Qi mereka ke kaki, melesat mengejar bayangan Lin Chen menembus rimbunnya Hutan Pinus.
Pengejaran itu berlangsung sangat intens. Lin Chen mengandalkan pengenalannya terhadap medan sektor utara. Ia berayun melintasi akar pohon gantung, menghindari sarang lebah beracun yang sengaja ia lewati dengan jarak beberapa sentimeter demi memperlambat laju musuhnya. Walaupun demikian, perbedaan tingkat kultivasi tidak bisa ditipu sepenuhnya. Jarak di antara mereka perlahan-lanya menyusut dari lima ratus meter menjadi tiga ratus meter.
"Kau tidak bisa lari dari kematianmu, Sampah!" gema suara tawa mengejek Ma Kun terdengar menembus udara, diikuti oleh desingan bilah angin yang sengaja dilontarkan dari pedangnya untuk menebang dahan-dahan yang diinjak Lin Chen.
Lin Chen mengabaikan provokasi tersebut. Matanya fokus ke depan. Pemandangan hutan mulai berubah. Pohon pinus yang tadinya rapat berangsur-angsur digantikan oleh bebatuan cadas tajam yang mencuat dari tanah bagai taring raksasa. Asap kelabu tebal menggantung rendah di atas tanah, menghalangi pandangan melebihi jarak sepuluh langkah. Udara di area ini berbau busuk seperti telur membusuk dicampur karat besi.
Jurang Kabut Beracun.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen melompat turun dari pohon terakhir dan terjun memasuki selimut kabut kelabu tersebut. Ia segera menutup jalur pernapasannya, memutar *Napas Karang Esensi* ke mode sirkulasi internal. Berbeda dengan teknik pernapasan biasa yang menyedot udara luar, metode karang ini memungkinkan Lin Chen mengolah sisa oksigen dalam darahnya sendiri secara tertutup selama waktu tertentu.
Beberapa detik kemudian, kelompok Ma Kun tiba di batas area kabut. Mereka menghentikan langkah secara serempak.
"Sialan. Anak itu gila," umpat murid gempal sambil menutup hidungnya. "Dia lari ke dalam miasma beracun. Tempat ini menguras Qi hanya untuk sekadar bernapas. Visibilitasnya hampir nol."
Ma Kun menatap tajam ke dalam lautan kabut, urat di dahinya menonjol. Ego dan keserakahannya menolak untuk menyerah pada mangsa yang sudah berada di depan mata.
"Dia hanya berada di tingkat dua. Berapa lama dia bisa bertahan menahan racun di dalam sana? Paling lama lima menit sebelum paru-parunya hancur," desis Ma Kun penuh perhitungan. "Kita berada di tingkat tiga. Kepadatan energi kita jauh melampauinya. Formasi menyebar! Jangan berjarak lebih dari lima langkah satu sama lain. Kita masuk, temukan mayatnya, potong kepalanya, lalu segera keluar."
Kedua pengikutnya mengangguk patuh. Mereka menyelimuti tubuh dengan pelindung Qi tipis dan melangkah masuk menembus tirai kabut beracun.
Kesunyian mematikan menyambut mereka. Suara langkah kaki mereka teredam oleh ketebalan miasma. Pandangan menjadi sangat sempit. Setiap bayangan batu cadas terlihat seperti monster yang bersiap menerkam.
Apa yang tidak Ma Kun ketahui adalah bahwa Lin Chen tidak sedang meregang nyawa akibat racun. Di balik sebuah bongkahan batu besar, Lin Chen berdiri menyatu dengan kegelapan. Ia telah melumuri tubuhnya dengan lumpur hitam dari rawa kecil di dekat situ, menghilangkan bau manusia dan suhu tubuhnya sepenuhnya. Detak jantungnya ditekan hingga ke titik terendah. Di lingkungan yang membutakan mata dan membingungkan penciuman ini, Lin Chen berubah menjadi roh pembunuh tanpa wujud.
*Srak... srak...*
Suara langkah kaki menginjak kerikil terdengar samar mendekat. Lin Chen memicingkan mata, membedakan siluet bayangan di balik kabut. Salah satu pengikut Ma Kun yang bertubuh kurus berjalan sedikit terlalu jauh ke sebelah kiri, terpisah jarak tujuh langkah dari formasi inti.
Kesalahan fatal.
Lin Chen tidak mencabut pedangnya. Suara gesekan logam terlalu mudah didengar. Ia mengalirkan Qi secara diam-diam ke kepalan tangan kanannya. Jurus 'Batu Tumbuk' bersiap dalam keheningan absolut. Buku jarinya memancarkan cahaya merah sangat redup yang tertutup oleh warna kabut.
Saat bayangan kurus itu melintas tepat di depan batu persembunyiannya, Lin Chen meledak keluar bagai pegas yang dilepaskan.
Tidak ada auman, tidak ada kata-kata. Pemuda kurus itu hanya sempat merasakan hembusan angin dingin menyentuh pipinya sebelum sebuah tinju sekeras granit menghantam rahang kirinya dari titik buta.
*KRAAAK!*
Tulang rahang pemuda kurus itu hancur berkeping-keping akibat dampak ledakan energi *Tinju Pemecah Batu*. Tubuhnya terpelanting ke udara, menabrak dinding karang tajam di belakangnya, dan merosot jatuh ke tanah tanpa sempat mengeluarkan jeritan sekecil apa pun. Ia mati seketika sebelum otaknya mampu memproses rasa sakit.
Lin Chen dengan cepat menangkap tubuh pemuda itu sebelum membentur tanah terlalu keras, meletakkannya tanpa suara, merampas kantong penyimpanannya, lalu kembali melebur ke dalam ketebalan kabut bagai hantu. Seluruh proses eksekusi ini berlangsung kurang dari dua detik.
Beberapa langkah dari sana, Ma Kun menghentikan langkahnya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Kesunyiannya terasa terlalu berat.
"Han? Han kurus, posisi!" panggil Ma Kun dengan suara tertahan.
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang memantul dari bebatuan.
Kepanikan mulai merayapi wajah murid gempal di sebelah Ma Kun. Ia mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. "K-Kakak Ma... kabut ini menguras Qi kita terlalu cepat. Di mana Han?"
"Tutup mulutmu dan pertajam telingamu. Tikus itu bersembunyi dan bermain trik," geram Ma Kun, walaupun keringat dingin mulai menetes di pelipisnya sendiri. Niat membunuh yang awalnya membara kini berubah menjadi paranoia. Mereka tidak sedang memburu seekor mangsa; mereka telah masuk ke dalam kandang predator.
Lin Chen mengamati kepanikan mereka dari atas sebuah tumpukan batu cadas setinggi tiga meter. Ia bernapas melalui pori-pori kulit berkat teknik *Napas Karang Esensi*. Meskipun efektif, racun miasma perlahan mulai meresap, membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang. Waktunya tidak banyak. Ia harus menyelesaikan pertarungan ini secepatnya.
Ia mengambil sebongkah batu seukuran kepalan tangan, lalu melemparkannya jauh ke arah kanan formasi musuh.
*Klotak!*
Suara batu jatuh memecah kesunyian.
Murid gempal yang urat sarafnya sudah menegang hingga batas maksimal bereaksi berlebihan. Ia berbalik sambil menebaskan pedangnya dengan panik ke arah suara tersebut. "Mati kau, brengsek!" teriaknya histeris, melepaskan gelombang Qi berbentuk tebasan setengah bulan yang hanya mengenai udara kosong dan membelah kabut.
Pergerakan tak terkontrol itu membuat posisi punggung si murid gempal terbuka lebar.
Lin Chen tidak melewatkan kesempatan emas tersebut. Ia meluncur turun dari atas batu tanpa suara. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia melesat maju menyapu jarak dalam sekejap mata.
Kali ini Lin Chen mencabut pedang besinya. Ia tidak menggunakan teknik pedang yang megah, melainkan tusukan lurus paling dasar yang difokuskan pada kecepatan dan presisi mematikan.
Kilatan bilah baja menembus kabut kelabu.
*Jleb!*
Ujung pedang Lin Chen menembus tepat di tengah punggung murid gempal itu, mengoyak organ vital dan menembus hingga ke dada depannya.
"Ugh..." Murid gempal itu menjatuhkan senjatanya. Matanya melotot menatap ujung pedang yang mencuat dari dadanya, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ma Kun memutar tubuhnya seketika saat mendengar suara tusukan. Matanya membelalak penuh kengerian melihat pengikut keduanya tewas di depan mata, ditikam oleh pemuda berjubah abu-abu kotor yang selama ini ia anggap sebagai sampah.
"KAU!" raung Ma Kun, campuran antara amarah absolut dan ketakutan. Ia mengerahkan seluruh sisa Qi tingkat tiga puncaknya. Pedangnya memancarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan. "Teknik Pedang Badai Topan!"
Ma Kun menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa. Pedangnya berputar membentuk pusaran angin bilah tajam yang menyapu kabut di sekitarnya. Serangan ini mengunci seluruh rute pelarian Lin Chen. Daya hancurnya mampu memotong batu cadas menjadi debu.
Menghadapi teknik serangan area dengan kekuatan jauh di atasnya, Lin Chen menarik pedangnya dari tubuh si murid gempal dan menendang mayat itu ke arah Ma Kun sebagai perisai sementara.
Ma Kun menebas mayat rekannya sendiri hingga terbelah dua tanpa belas kasihan. Pusaran pedangnya terus melaju mengincar leher Lin Chen.
Lin Chen menyilangkan pedang besinya di depan dada untuk menangkis.
*CLANG!*
Benturan logam yang sangat keras memekakkan telinga. Pedang besi biasa milik Lin Chen tidak mampu menahan tekanan teknik kultivasi. Bilah pedangnya retak dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam.
Gelombang kejut dari serangan Ma Kun menghantam tubuh Lin Chen, melempar pemuda itu sejauh lima meter ke belakang. Lin Chen jatuh bergulingan di atas tanah berbatu, memuntahkan segumpal darah segar. Dadanya terasa seolah dihantam godam raksasa. Pertahanan *Napas Karang Esensi* nyaris runtuh sepenuhnya.
"Mati! Jadilah debu!" teriak Ma Kun penuh kemenangan. Ia melompat ke udara, mengayunkan pedangnya ke bawah dalam sebuah tebasan vertikal mematikan yang menargetkan kepala Lin Chen yang tergeletak di tanah.
Kematian berjarak kurang dari satu jengkal.
Dalam momen sepersekian detik itu, seluruh dunia terasa melambat di mata Lin Chen. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, racun miasma yang merasuki darahnya, dan tekanan aura Ma Kun berkumpul menjadi satu dorongan kekuatan yang sangat masif. Dinding pembatas di dalam Dantiannya yang selama ini menolak runtuh, retak seketika di bawah tekanan kematian.
*BOOM!*
Sebuah ledakan energi spiritual tak kasat mata meletus dari dalam tubuh Lin Chen. Aliran Qi-nya berlipat ganda secara instan. Meridiannya melebar secara paksa, menyedot sisa-sisa esensi kehidupan di sekitarnya. Pusaran energi di perutnya memadat, memancarkan kualitas Qi yang jauh lebih murni dan tajam dari sebelumnya.
**Tahap Kondensasi Qi Tingkat Ketiga!**
Terobosan di tengah pertempuran. Kepadatan otot dan kecepatan refleks Lin Chen mengalami lonjakan drastis dalam sekejap mata.
Menghadapi pedang Ma Kun yang hampir membelah kepalanya, Lin Chen tidak lagi menangkis atau menghindar. Ia menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram tanah secara brutal, menghentak tubuhnya setengah bangkit, sementara tangan kanannya ditarik ke belakang.
Seluruh energi Qi tingkat tiga yang baru saja meledak, dialirkan tanpa sisa menuju kepalan tangan kanannya. 'Batu Tumbuk' diaktifkan melampaui batas maksimal. Kali ini, buku jarinya tidak hanya memancarkan warna merah redup, melainkan menyala terang bagai magma yang mendidih.
Ia meninju ke atas, menyambut tebasan pedang Ma Kun secara frontal hanya dengan kepalan tangan kosong.
Daging melawan baja murni.
*KRAK! TRANG!*
Kejadian yang tidak masuk akal tercipta. Pedang panjang milik Ma Kun, senjata yang ditempa khusus dengan logam spiritual, melengkung dan patah menjadi tiga bagian saat berbenturan dengan kepalan tangan Lin Chen yang dilapisi Qi tingkat tiga dan fondasi batu karang.
"B-bagaimana mungkin?!" Ma Kun membelalakkan mata, kewarasannya hancur melihat pedangnya patah oleh kepalan tangan telanjang. Tangannya sendiri patah tulang akibat efek balik pantulan energi.
Serangan Lin Chen tidak berhenti pada pedang yang hancur. Tinju magma itu terus melesat ke atas, menembus pertahanan Ma Kun yang terbuka lebar, dan menghantam tepat di tengah dada pemuda bercodet tersebut.
Tulang dada Ma Kun melesak ke dalam. Suara patahan beruntun terdengar mengerikan. Gelombang kejut dari *Tinju Pemecah Batu* meledak masuk menghancurkan organ dalam dan langsung merobek Dantian musuhnya.
Tubuh Ma Kun terhempas ke belakang layaknya layang-layang putus benang, menabrak pilar batu cadas dengan keras, lalu meluncur ke bawah meninggalkan jejak darah panjang di permukaan batu. Matanya menatap kosong ke langit-langit kabut, nyawanya telah melayang sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Pertarungan berakhir. Kesunyian kembali merajai Jurang Kabut Beracun.
Lin Chen ambruk berlutut, terbatuk keras memuntahkan darah hitam bercampur sisa racun miasma yang tertelan. Ia terengah-engah mencari udara, membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan kapasitas energi baru dari tingkat ketiga. Tulang-tulangnya terasa ngilu, kelelahan mentalnya mencapai batas akhir.
Layar biru berdenting pelan di benaknya, sebuah melodi kemenangan di tengah lautan mayat.
**[Pilihan 3 diselesaikan.]**
**[Hadiah didistribusikan: Anda telah mencapai Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga. Merampas 3 Kantong Penyimpanan Tingkat Rendah, 1 Batu Roh Tingkat Menengah (muncul di saku Anda).]**
Lin Chen menyeka sisa darah di sudut bibirnya. Ia menyeret tubuhnya yang berat, mengumpulkan ketiga kantong penyimpanan dari mayat komplotan Ma Kun. Ia tidak merasakan sedikit pun penyesalan. Di Alam Fana ini, kebajikan tanpa kekuatan adalah dongeng pengantar tidur; yang lemah menjadi pijakan, yang kuat membuat aturan.
Membuka salah satu kantong milik Ma Kun, mata Lin Chen sedikit bersinar. Di dalamnya terdapat belasan keping perak, beberapa botol pil penyembuh luka luar, dan dua tanduk Serigala Angin. Tambahan tanduk ini melengkapi misi bulanannya, membebaskannya dari keharusan memburu hewan iblis lagi dalam waktu dekat.
Lin Chen menelan dua butir pil penyembuh sekaligus, membiarkan efek hangatnya meredakan luka dalam. Ia menatap ke arah tiga mayat yang perlahan mulai dikerubungi oleh kabut mematikan. Alam akan segera menghancurkan bukti pertempuran ini, membersihkan jejak pembunuhan tanpa meninggalkan sisa.
Pemuda itu mengikat kantong rampasan di pinggangnya, menggenggam erat Batu Roh Tingkat Menengah yang baru ia dapatkan, dan berjalan gontai meninggalkan Jurang Kabut Beracun. Ia telah bertahan hidup melewati bulan paling mematikan dalam sejarah kultivasinya. Hutan Pinus Berbisik telah membentuk ulang tulang dan jiwanya. Sosok yang akan kembali melangkahkan kaki ke pelataran luar esok hari bukanlah Lin Chen sang murid buangan yang lemah, melainkan seorang pemangsa bayangan yang perlahan mengincar posisi di puncak rantai makanan Tiga Alam.
Kini, langit pelataran dalam sekte tidak lagi terasa terlalu tinggi untuk digapai. Langkah menuju keabadian terus berlanjut, satu mayat, satu terobosan, satu keputusan di ujung pedang.