NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambruk

Ziano membenarkan kaos partai yang ia kenakan. Warnanya putih dominan biru dengan nomor kosong dua. Bahannya jelas tak nyaman, tapi dibanding tak ganti baju tentu lebih tak enak. Biasa mengenakan pakaian branded dengan bahan seratus persen katun sekarang malah memakai kaos gratisan hasil bagi-bagi calon penguasa saat mencari suara, seratus delapan puluh derajat jomplang. Dibadan bikin gerah, panas. Beralih menatap ke celana, Ziano hanya bisa menghela nafas panjang.Untuk sekedar menatap pantulan dirinya di cermin pun rasanya tak sudi.

"Emang dasarnya ganteng mau pake baju apa pun tetap ganteng." puji Ambu saat Ziano masuk ke warung.

Siang itu keadaan warung cukup ramai, pembeli datang silih berganti meski pun tak seramai tadi pagi. Aki Dikun tak terlihat di sana, yang ada hanya Ambu dan lelaki yang tadi pagi membawa mobil Aki.

"Aki nggak ada, Ambu?" tanya Ziano.

"Kalo jam segini Aki pergi ke sawah. Kamu mau nyusul ke sawah?" bukan ambu, melainkan Yudi yang menjawab.

Pemuda dengan kaos hitam dan celana kolor pendek serta rambut potongan wolf cut itu menghampirinya dan mengulurkan tangan, "Yudi, bang."

"Zi.."

"Bang Nono kan?" sela Yudi, "Aki udah cerita soal Abang. Nanti aku ajarin deh kerja disini biar nggak salah mulu." lanjutnya.

"Ziano, bukan Nono. Seenaknya aja ganti nama." ketus Ziano.

"Namanya juga udah tua, bang. Maklumin aja lah."

CK! Ziano menghela nafas panjang. Kalo dipikir sudah berapa banyak hal yang harus ia maklumi? dari mulai semalam tempat duduknya malah di ambil alih oleh cucu Aki, dirinya sudah diminta maklum. Sekarang harus maklum lagi saat namanya diganti seenaknya.

"Perkara nama doang bang, jangan diambil hati!" ucap Yudi, "ke sebelah sana yuk bang! aku ajarin nimbang mentega." lanjutnya.

Apa? nimbang mentega? seumur-umur Ziano baru tau kalo mentega juga ditimbang. Bukannya mentega itu kalengan yah? emang ada mentega kiloan? namun semua pertanyaan itu tertahan di hati, sekedar untuk bertanya pun ia malas. Belum lagi tubuhnya juga kehabisan energi, andai bisa ia ingin tidur saja. Dari semalam nggak tidur di tambah kerja rodi dan makanan yang disediakan tak masuk dalam kriterianya. Alhasil saat sarapan tadi ia hanya menenguk air putih.

Ziano duduk di kursi plastik kecil, di depannya ada timbangan elektrik yang sudah dialasi dengan platik. Diamatinya Yudi yang baru saja membuka ember besar berwarna putih, mirip dengan ember cat yang isi dua puluh lima kilo. Dengan cekatan Yudi mengeluarkan mentega dari dalam sana.

"Beneran mentega, gue kira cat tembok." ucap Ziano, "ada yah mentega segede itu." lanjutnya.

"Ada lah bang, ini buktinya." Yudi membuka plastik pembungkus mentega. Ia memindahkan timbangan yang semula di depan Ziano menjadi di hadapannya.

Mengambil spatula plastik dan mulai memotong mentega secukupnya. Memindahkan benda berwarna kuning itu ke dalam plastik di atas timbangan.

"Lihat angkanya bang. Kalo udah lima ratus gram kita bungkus. Nah kalo ini kan kelebihan dua puluh lima gram nih, kita colek dikit, kira-kira aja." dengan telalen Yudi mengambil sedikit mentega itu dan mengembalikannya ke wadah.

Ziano menggelengkan kepala, "dua puluh lima gram doang, Yud. Biarin aja lah. Bonus dikit buat pembeli."

"Heu! pantesan Aki ngomel!"

"Ribet banget, Yud."

"Ya namanya dagang, bang. Dua puluh lima gram juga kalo kali seratus udah dua kilo setengah, bang." jelas Yudi sambil melipat plastik pembungkus mentega hingga berbentuk persegi dan rapi.

"Abang perhatiin nih cara bungkusnya juga. Sekali salah lipat malah bikin nambah kerjaan." lanjutnya.

"Dah lah gue nggak bisa, Yud."

"Coba dulu, bang!"

Terpaksa Ziano mencobanya. Dari mulai mengambil mentega, menimbang hingga membungkus. Lama, sangat lama. Karena untuk memastikan timbangannya pas saja sulit.

"Halah! diambil jadi kurang, ditambahin jadi lebih." gerutunya.

"Ribet lah, Yud. Kagak bisa gue." akhirnya Ziano menyerah.

"Makanya belajar bang. Dulu aku juga kayak gitu,lama-lama bisa."

"Udah lo aja yang ngerjain, gue nggak bakat jadi kang timbang." Ziano memberikan mentega hasil bungkusannya yang abstrak.

"Gimana kalo abang belajar nimbang yang lain aja?"

"Apaan lagi yang mau ditimbang?"

"Banyak, bang. Minyak, beras, terigu, gula." Yudi menujuk deretan barang di gudang.

"Biar aku kasih contoh dulu." lanjutnya.

Pada akhirnya Yudi menyerah mengajari Ziano. Disuruh nimbang minyak nggak bisa, disuruh ngiket pun malah tumpah.

"Abang mending bantu nuruni barang aja deh. Kalo kayak gini malah payah, aku bisa dimarahin Aki nih, bakal rugi."

Ziano mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum polos, "kan gue udah bilang dari tadi kalo gue nggak bisa."

"Gini aja deh,Yud. Lo ada duit nggak dua juta? gue pinjem dulu. Begitu gue sampe rumah ntar langsung gue ganti deh." lanjutnya malah niat ngutang buat pulang.

"Nggak ada bang."

"Kalo gitu satu juta deh." Ziano menurunkan jumlahnya.

Yudi merogoh saku kolornya, Ziano sudah tersenyum penuh harap. Tapi begitu melihat uang yang dikeluarkan Yudi, senyumnya lenyap sudah.

"Adanya goceng bang. Mau?"

"Ngejek gue lo, Yud!"

"Aki juga cerita soal abang mau pinjem uang."

"Ember banget aki-aki." gumam Ziano.

"Abang harusnya bersyukur loh, Aki Dikun mau nampung abang yang nggak jelas asal usulnnya."

"Eh sembarangan lo ngatain gue nggak jelas asal usulnya. Asal lo tau aja, gue tuh-"

"Ya sekarang KTP abang mana coba? nggak ada kan?" sela Yudi.

Ziano menghela nafas, "ada di dompet tapi dompet gue ilang. Sama tas gue juga ketinggalan di gerbong."

"Gitu? nggak ngejamin abang bukan penipu."

"Heh!"

"Abang harus bersyukur Aki mau nampung. Harusnya abang balas dengan kerja yang bener. Pasti nanti dibayar sama Aki. Malah niat nipu."

Hih! Ziano mengacak ramputnya sendiri. Pusing.

Tak habis pikir kenapa semua orang menganggap dia mau nipu? apa wajah gantengnya ini ada aura-aura penipu?

Ziano makin menghela nafas panjang karena alih-alih mendapatkan pinjaman, dirinya malah memperoleh siraman rohani dari bocah yang bisa ia tebak baru lulus SMA.

"Abang denger aku ngomong nggak?"

"Iya, denger. Gue udah paham, dah lo jangan ngoceh terus. Mending lanjut nimbangin mentega sana. Gue agak kleyengan ini." jawab Ziano.

"Kok jadi abang nyuruh-nyuruh aku?" protes Yudi, "kita kan sama-sama kerja disini. Berhubung abang nggak bisa nimbang, mending abang standby di depan deh. Bentar lagi barang belanjaan Aki dari Kebumen bakal datang. Nah abang turunin belanjaannya nanti."

Ziano mengusap wajahnya dengan kasar, "an jir gue bakal jadi kuli panggul lagi ini?" batinnya.

"Bang! abang! malah bengong!"

"Iya, iya gue denger kok."

Belum selesai pembicaraan mereka, Ambu sudah memanggil. Meminta keduanya ke depan karena belanjaan dari Kebumen sudah datang.

Ziano menelan ludah melihat mobil yang terparkir di depan warung, truk besar. Tadi pagi saja hanya menurunkan belanjaan setengah kolbak dia sudah kelelahan, kali ini malah satu truk.

"Ayo bang!" ajak Yudi.

"Iya." jawab Ziano meski tak yakin. Belum mulai saja kepalanya sudah kleyengan dengan pandangan yang dihinggapi kunang-kunang.

Karung pertama aman, meskipun mendapat omelan dari Yudi karena Ziano meletakannya terlalu keras. Katanya sih isinya emping, kalo dibanting bisa remuk dan turun harga jualnya, tentu akan berakibat kerugian lagi.

"Inget bang nyimpennya pelan aja, ntar ancur lagi. Bisa potong gaji." ulang Yudi menegaskan.

"Iya siap." Namun kata siap itu tak sesuai dengan kenyataan karena pada panggulan kedua Ziano malah ambruk begitu saja.

"Bang! ah beneran kena omel Aki ini kita nanti." seru Yudi yang kemudian turun dari bak truk untuk membantu Ziano tapi Ziano malah diam tak berkutik.

"Bang! Bang! Bang Nono!"

"Ambu, ini bang Nono nggak sadar!" teriak Yudi.

Ambu Yayat langsung berlari keluar. Dibantu supir truk Yudi mengangkat Ziano ke dalam rumah. Cukup lama ditunggu tapi Ziano tak juga sadar. Ambu meminta Yudi memanggil pak mantri untuk memeriksa Ziano, sementara dirinya kembali ke warung.

Ziano membuka matanya perlahan, netranya bersitatap dengan sosok cantik yang tersenyum begitu anggun. "Gue udah di surga apa gimana nih? cakep banget." ucapnya lirih tapi berhasil membuat gadis di depannya tersipu dan berteriak memanggil Ambu Yayat.

1
Ummah Intan
digerbek beneran.. langsung dinikahkan sj
Ummah Intan
digrebek ga ya mereka apalagi ziano pake buka baju segala
Ummah Intan
Marcel kamu ga akan bs misahin mereka
Ummah Intan
langsung ditemukan
Ummah Intan
razia sayang banget ma adeknya
Ummah Intan
siap nunggu
RiriChiew🌺
wahhh parah banget si acell, siap² yaa nanti Ara tau dan kecewa sama kelakuan kamu inii 🙈 parahhh bgt
Septi
ngeri kalau yang ditaruhkan nyawa
Septi
waduh... jangan jadi orang yang mengecewakan Dimata Ara.. kamu yang akan nyesel
Septi
ternyata Marcel di dukung author🤭
Febri Nayu
Marcel mendadak bodoh lek ngene..
awakmu ngerti cerito akhirnya kepiye cel ? tetep awakmu seng kalah
Maria Kibtiyah
wah di kawinin mereka nih
sum mia
Marcel.... bego banget sih kamu , dengan adanya mereka di gerebeg bukannya mereka malah di nikahkan ya . kamu terlalu picik Marcel . hanya karena rasa cemburu yang menggerogoti hatimu . kamu tega melakukan itu pada Ara .
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
sikepang
aku malah berdoa mereka di nikahkan loh marcel 🤣🤭
MACA
di kampung mah auto di nikahin... salah perhitungan cel🤣🤣
MACA
bener itu...di kampung gt...
Shee_👚
salah besar yang ada malah di kawinin, dan kami bakalan gigit jari😏😏

si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
Shee_👚
typo kak
contok~contoh
Shee_👚: pantes,

begadang jangan begadang kalau tak ada artinya🎶🎶
total 5 replies
Shee_👚
udah abah diem aja🤣🤣🤣
Shee_👚
tapi warung madura selalu menolong di saat tengah malam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!