Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Obat Khusus
Angin malam berembus pelan di gang sempit kawasan selatan itu. Lampu rumah tua Sambudi berkedip redup seperti hampir mati. Suasana sekitar sunyi, hanya suara jangkrik dan musik dangdut samar dari warung jauh di ujung gang.
Sambudi masih berdiri di ambang pintu sambil menatap Maya tanpa berkedip. “Siapa lo sebenarnya?” timpalnya.
Maya tidak langsung menjawab. Dia malah melirik Bobby sekilas. “Tunggu di luar.”
“HAH?” Bobby langsung protes kecil. “Lah gue ditinggal?”
“Takut?” tanya Maya.
“Bukan takut…” Bobby melirik sekitar dengan wajah pucat. “Cuma tempat beginian tuh vibes-nya kayak lokasi mayat dibuang.”
Sambudi akhirnya membuka suara dingin. “Dia nggak boleh masuk.”
Bobby langsung makin tidak nyaman. “Nah kan?!”
Maya mendecakkan lidah malas. “Udah, tunggu aja.”
“Kalau kalian ternyata anggota sekte?”
“Kalau iya, lu udah jadi tumbal dari tadi.”
“ASTAGA!”
Maya mengabaikannya lalu kembali menatap Sambudi. Tatapan pria muda itu masih penuh curiga. Jelas dia belum percaya.
Akhirnya Maya menghela napas kecil lalu berkata pelan,
“Burung gagak terbang jam tiga.”
Seketika wajah Sambudi berubah. Matanya langsung membelalak tipis.
Maya melanjutkan tanpa ekspresi. “Kalau hujan turun sebelum subuh…”
Sambudi refleks menjawab lirih, “…semua jalur dibersihkan sebelum matahari muncul.”
Hening menyelimuti suasana.
Bobby melongo bergantian ke arah mereka. “Apa-apaan tuh? Kalian kayak NPC mafia.”
Namun Sambudi sama sekali tidak peduli pada Bobby sekarang. Tatapannya menancap penuh kecurigaan pada Maya.
“Itu…” ujar Sambudi. “Kode lama…”
Maya menyilangkan tangan santai. “Cuma ada dua orang yang tahu kode itu.”
Wajah Sambudi perlahan menegang. “Gue dan Priska.”
Maya tersenyum tipis.
Deg.
Untuk pertama kalinya sejak membuka pintu tadi, Sambudi terlihat benar-benar terguncang. “K-kenapa lo tahu itu?” tanyanya perlahan.
Maya menatap lurus ke matanya. “Karena gue Priska!"
Bobby hampir keselek ludah sendiri. “Hah?!”
Sambudi langsung menyipitkan mata tajam. “Omong kosong! Priska udah mati!"
Tatapan Maya berubah datar. “Iya,” jawabnya tenang. “Dia dibunuh.”
Angin malam terasa makin dingin. Bobby langsung menatap Maya seperti melihat orang kesurupan. “Eh bentar…” katanya. “Gue makin nggak ngerti.”
Namun Maya tetap fokus pada Sambudi. “Jiwanya sekarang di tubuh ini.”
Sunyi panjang langsung menggantung. Sambudi tertawa kecil tak percaya. “Gila!”
“Kalau gue bukan Priska,” lanjut Maya santai, “gue nggak bakal tahu soal ruang bawah tanah markas utara.”
Ekspresi Sambudi langsung membeku. “Gue juga tahu lo pernah nyaris mati gara-gara salah racik stimulan buat kelompok Serigala Merah.”
Kali ini Sambudi benar-benar diam total.
“Itu…” suaranya mengecil sedikit. “…cuma gue dan Priska yang tahu.”
Maya mengangkat bahu santai. “Makanya jangan pasang muka bloon.”
Bobby menatap Maya dengan mulut terbuka. “Astaga…”
Sambudi masih terdiam lama sekali. Tatapannya turun naik memperhatikan Maya dari kepala sampai kaki. Tubuh gadis SMA biasa. Tapi aura dingin dan cara bicara itu terlalu mirip. Akhirnya Sambudi membuka pintu lebih lebar.
“Masuk!”
Maya langsung melangkah masuk tanpa ragu.
“Eh gue?” tanya Bobby.
“Di luar.”
“Lah?!”
Pintu langsung ditutup di depan muka Bobby. “Sialan...”
...***...
Bagian dalam rumah Sambudi jauh lebih aneh dibanding luar. Bau bahan kimia samar memenuhi udara. Rak-rak penuh botol kaca berjajar di dinding. Ada cairan warna-warni, bubuk aneh, dan alat laboratorium seadanya berserakan di meja. Lampu neon putih berkedip redup di langit-langit.
Maya berjalan santai sambil melihat sekitar. “Masih berantakan kayak dulu.”
Sambudi berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil terus memperhatikan.
“Kalau lo emang Priska…” ucap Sambudi, “harusnya lo tahu gue nggak gampang percaya.”
Maya menoleh kecil. “Di laci kanan meja lo ada pistol rakitan isi dua peluru.”
Sambudi langsung refleks menegang.
“…dan satu lagi di bawah wastafel.”
Hening lagi.
Maya menyeringai tipis. “Masih mau tes gue?”
Sambudi akhirnya tertawa kecil lirih. Tawa tidak percaya. “Gila…” ujarnya sembari mengusap wajah. “Beneran lo ya…”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi dingin Sambudi sedikit runtuh. Priska, orang paling berbahaya sekaligus paling aneh yang pernah dia kenal di dunia mafia. Gadis yang dulu selalu datang dengan tubuh penuh luka sambil memesan obat seolah sedang beli permen. Sekarang dia berdiri di depannya dalam tubuh anak SMA.
“Ini kacau banget,” komentar Sambudi.
“Biasain!" sahut Maya?
Sambudi akhirnya duduk di kursi kayu dekat meja racik. “Jadi…” tatapannya kembali serius. “Ngapain lo nyari gue?”
Maya ikut duduk santai di seberangnya. “Aku butuh obat.”
“Obat apa?”
Maya menopang dagu sambil tersenyum tipis. “Obat yang bisa bikin kelamin laki-laki nggak berfungsi.”
Sambudi langsung batuk keras. “UHUK— HAH?!”
“Yang efeknya cepat.”
“LO MAU NGERACUN SIAPA?!”
Maya memutar mata malas. “Bukan racun.”
“Itu udah mendekati teror biologis!”
Maya terkekeh kecil. “Gue cuma mau bikin seseorang kapok.”
Tatapan Sambudi perlahan menyipit paham. “Ngapain dia?”
Maya diam beberapa detik. Lalu menjawab pendek, “Predator.”
Ekspresi Sambudi langsung berubah datar. Sebagai orang dunia bawah, dia tahu persis maksud tatapan seperti itu. Tatapan orang yang sedang menahan keinginan membunuh.
Sambudi menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Lo mau efek berapa lama?”
“Permanen kalau bisa."
“Gila lo!” Sambudi melotot.
Maya nyengir tipis. “Orang kayak dia ya pantas digituin. Dari pada gue gorok lehernya. Harusnya dia bersyukur nggak gue bantai!”
Sambudi menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil tak percaya. “Lo masih sama aja.”
“Ya iyalah.”
Sambudi bangkit lalu berjalan ke rak belakang. Tangannya mulai mencari beberapa botol kecil.
“Gue punya campuran tertentu,” katanya sambil mengambil cairan bening. “Efeknya bikin tubuh drop dan fungsi hormonal kacau.”
Maya menyilangkan tangan santai. “Cepat kerjanya?”
“Kalau dosis penuh, makin cepat."
“Bagus.”
Sambudi meliriknya. “Efek samping?”
“Bukan urusan gue.”
“Hah…” Sambudi terkekeh kecil. “Iya, ini baru Priska.”
Dia mulai menuangkan beberapa cairan ke tabung kecil. Bau pahit langsung menyebar di udara.
“Kasih ke minuman atau makanan,” jelasnya. “Nggak ada rasa.”
Maya memperhatikan dengan tenang. “Dan kalau kebanyakan?” tanyanya.
Sambudi tersenyum miring. “Masuk UGD.”
Maya mengangguk puas. Setelah beberapa menit, Sambudi menyerahkan botol kaca kecil berisi cairan bening pada Maya.
“Pakai dengan bijak.”
Maya langsung tertawa pendek. “Kata paling lucu yang pernah keluar dari mulut bandar obat ilegal.”
“Diam lo!”
Maya memasukkan botol itu ke saku jaketnya.
Sambudi lalu menatapnya serius lagi. “Lo mau balik ke dunia lama?”
Pertanyaan itu membuat Maya diam sebentar. Tatapannya turun pelan. “Dunia lama nggak pernah benar-benar ninggalin gue,” jawabnya lirih.
Hening sejenak. Sambudi memperhatikan Maya cukup lama. Meski sekarang tubuhnya berbeda, dia tetap bisa melihat sesuatu yang sama di mata itu. Kelelahan dan kemarahan yang tidak pernah padam.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara Bobby berteriak panik.
“MAYAAA!”
Brak!
Pintu depan langsung terbuka kasar. Bobby masuk sambil ngos-ngosan dengan wajah pucat.
“MAYA ADA ORANG DATENG!” teriaknya.
Sambudi langsung refleks mengambil pistol dari bawah meja.
Maya berdiri tenang. “Siapa?”
Bobby menunjuk keluar dengan panik.
“Mobil hitam… banyak!”
Suasana rumah langsung berubah tegang dalam sekejap.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔