Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 15
“Nadia, tolonglah...” suara Raka terdengar memelas.
Nadia memejamkan mata sejenak.
Tubuhnya terasa lelah.
Bukan hanya fisik, tetapi juga hatinya.
“Aku lelah, Mas. Mau tidur.”
“ Nad...” bisik Raka.
Nadia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan membelakangi suaminya.
Ia menarik selimut hingga menutupi bahunya.
Seolah ingin membangun tembok yang tak bisa ditembus siapa pun.
“ Nad...” panggil Raka sekali lagi.
Namun Nadia tidak menjawab.
Perempuan itu hanya memejamkan mata rapat-rapat.
Air mata yang sejak tadi ditahan kembali merembes membasahi bantal.
Melihat itu, Raka mengembuskan napas panjang.
Dadanya terasa sesak.
Ia berdiri perlahan lalu melangkah keluar kamar.
“Kenapa jadi ribet begini?” gumamnya frustrasi.
Raka mengusap wajahnya kasar sebelum berjalan menuju kamar Yuni.
Tok.
Tok.
Tok.
“Mah, ini Raka,” ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban.
“Mah, Raka mau ngomong penting.”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Yuni menatap putranya dengan wajah kecewa.
“Mau apa lagi?” tanyanya ketus.
“Mah, kita ngobrol di dalam.”
Yuni membuka pintu lebih lebar.
Raka masuk terlebih dahulu.
Setelah itu Yuni menutup pintu kamar.
Ia tahu pembicaraan ini bukan hal sepele.
Raka duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepala.
Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri.
Wajahnya tampak frustrasi.
“Mah, kenapa jadi ribet seperti ini, Mah?” keluhnya.
“Salah kamu. Kenapa belum juga menghamili Nadia?”
Raka mengangkat wajah.
Rahangnya mengeras.
“Ratna memang keterlaluan, Mah.”
“Dia memang keterlaluan. Tapi kamu harus ingat, Ratna itu ibu kandung Nanda.”
Raka langsung mengangkat telunjuknya.
“Pelan-pelan, Mah. Nanti Nadia dengar.”
Yuni mendengus kesal.
“Lagian kenapa sih kamu bodoh sekali? Mau-maunya membuat perjanjian bodoh dengan Ratna.”
Raka mengusap wajahnya lagi.
“Mah, aku yakin aku subur. Sekali saja aku melakukannya dengan Ratna, dia langsung hamil. Makanya aku membuat perjanjian kalau Nadia tak kunjung hamil, aku akan menikahi dia.”
Suasana mendadak hening.
Hanya terdengar suara detak jam dinding yang terus berdetak.
Tik.
Tik.
Tik.
“Sudahlah, Raka. Anggap saja itu sudah takdir Nadia. Kalau Nadia minta cerai, ya tinggal ceraikan saja. Salah sendiri kenapa enggak punya anak. Hampir setiap hari aku suruh dia supaya cepat hamil, tapi tak kunjung hamil. Berarti dia mandul.”
Yuni mengucapkannya dengan enteng.
Namun kalimat itu justru membuat Raka semakin gelisah.
“Mah, aku masih mencintainya.”
Yuni menatap putranya tajam.
“Kalau mencintainya, kenapa kamu mau selingkuh dengan Ratna?”
“Mah, aku dijebak.”
“Dijebak? Tapi tetap saja kamu mau terus dikendalikan Ratna.”
Raka menundukkan kepala.
Tak mampu membantah.
“Mah, aku melakukan ini semua demi Nanda. Bagaimana kalau Ratna mengatakan yang sebenarnya? Kalau Nanda anak di luar nikah? Aku enggak mau Nanda sedih, Mah.”
Suara Raka terdengar serak.
Ia benar-benar frustrasi.
Yuni menghela napas panjang.
“Kamu ini ribet banget jadi orang. Jangan ikuti perasaan kamu. Ikuti kepentingan kita. Keluarga kita hanya tinggal aku dan kamu. Kamu harus punya keturunan, Raka. Karena Nadia tidak bisa memberimu keturunan, ya sudah, ceraikan saja.”
“Mamah enak bilang begitu.”
Raka menjambak rambutnya sendiri.
Matanya memerah karena stres.
“Mamah tahu sendiri bagaimana Nanda sangat dekat dengan Nadia. Ketimbang Ratna, Nadia jauh lebih layak jadi sosok ibu buat Nanda, Mah.”
Yuni terdiam.
Untuk sesaat ia tidak bisa membantah.
Ia tahu Nadia merawat Nanda dengan penuh kasih sayang.
Namun tetap saja, Nadia bukan ibu kandung Nanda.
“Tidurlah. Sudah malam. Besok kamu kerja,” ucap Yuni akhirnya.
Nada suaranya sedikit melunak.
“Masalah ini tidak bisa diputuskan dengan tergesa-gesa. Kamu harus menenangkan diri dulu, Raka.”
Raka mengembuskan napas berat.
“Baiklah, Mah.”
Ia bangkit lalu keluar dari kamar ibunya.
Langkahnya terhenti di depan kamar Nadia.
Tangannya sempat terangkat hendak membuka pintu.
Namun ia mengurungkan niatnya.
“Nadia perlu sendiri.”
Raka membalikkan badan lalu berjalan menuju kamar Nanda.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat anak itu tidur pulas.
Wajahnya damai.
Tenang.
Raka tersenyum tipis.
Namun ia tidak jadi masuk.
Ia takut membangunkan Nanda.
“Astaga, ini rumahku. Bahkan sekarang aku bingung harus tidur di mana.”
Raka tertawa pahit.
Akhirnya ia memilih tidur di sofa ruang tamu.
Tubuhnya direbahkan begitu saja.
Matanya menatap langit-langit rumah.
“Kenapa hidupku jadi rumit seperti ini, Tuhan?”
Tak ada jawaban.
Hanya kesunyian malam yang menemani.
Perlahan matanya terpejam.
Untuk saat ini, tidur adalah pilihan terbaik.
Waktu terus bergerak.
Pagi pun tiba.
Seperti biasa, Nadia bangun lebih dulu.
Meski semalam menangis hingga larut, ia tetap menjalankan rutinitasnya.
Ia menyiapkan sarapan untuk Nanda.
Saat melewati ruang tamu, matanya sempat melihat Raka yang masih tertidur di sofa.
Namun Nadia tidak berniat membangunkannya.
Ia hanya berlalu begitu saja.
Azan Subuh berkumandang.
Nadia melaksanakan salat Subuh dengan khusyuk.
Setelah selesai, ia melangkah menuju kamar Nanda.
Andai tidak ada Nanda, mungkin ia sudah pergi meninggalkan rumah yang lebih banyak memberinya luka daripada kebahagiaan.
Perlahan Nadia membuka pintu kamar.
Langkahnya langsung terhenti.
Nanda sedang memakai mukena kecil berwarna putih.
Kedua tangannya menengadah.
Bibir mungilnya bergerak memanjatkan doa.
Sayup-sayup Nadia mendengar suara itu.
“Ya Allah, semoga Bunda selalu sehat.”
Jantung Nadia langsung menghangat.
Matanya berkaca-kaca.
Di tengah semua kepedihan yang ia rasakan, hanya Nanda yang mampu membuat hatinya kembali hidup.
“Bunda!”
Suara ceria Nanda membuyarkan lamunannya.
Nadia segera memeluk anak itu erat-erat.
Nanda yang masih mengenakan mukena tampak kebingungan.
“Nanda tadi doa apa?” tanya Nadia pelan.
“Nanda doa supaya Papah sama Bunda selalu sehat,” jawab Nanda ceria.
Hati Nadia terasa perih sekaligus hangat.
Ada yang mengatakan, jika seseorang selalu disebut dalam doa, berarti orang itu sangat berarti.
Dan bagi Nanda, dirinya serta Raka adalah dunia anak itu.
“Amin,” jawab Nadia lirih.
Senyumnya tetap terukir.
Meski hatinya menangis.
Nadia membantu Nanda berpakaian.
Setelah itu mereka berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah ada Yuni dan Raka.
“Selamat pagi, cucu Oma,” sambut Yuni sambil tersenyum.
“Pagi juga, Oma.”
“Pagi, anak Papah paling cantik,” ujar Raka.
“Pagi juga, Papah,” jawab Nanda riang.
Nadia mengembuskan napas perlahan.
Raka dan Yuni benar-benar pandai menjaga perasaan Nanda.
Tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa semalam rumah ini dipenuhi pertengkaran.
Setelah sarapan selesai, Nanda mencuci tangan lalu bersalaman dengan Yuni dan Raka.
Seperti biasa, Nadia mengantar Nanda ke teras menunggu mobil jemputan.
Tak lama kemudian mobil itu datang.
Nanda memeluk Nadia erat.
“Bunda, Nanda sekolah dulu ya. I love you, Bunda.”
Nadia tersenyum lebar.
Meski matanya kembali terasa panas.
“Love you too, Sayang.”
Nanda masuk ke dalam mobil.
Melambaikan tangan dari balik jendela.
Nadia membalas lambaian itu sampai mobil benar-benar menghilang dari pandangannya.
Begitu jalanan kembali sepi, senyumnya perlahan memudar.
Ia mengembuskan napas panjang.
“ Aku enggak bisa kehilangan senyuman Nanda.”
Nadia mengepalkan tangannya perlahan.
Tatapannya berubah tegas.
Dan saat itu juga ia membuat keputusan.
Bagaimanapun caranya...
Ia akan memenangkan hak asuh Nanda.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪