NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06[ Kesalahan Satu Malam ]

Tempat hiburan malam....

"Bodoh! Kamu sungguh sangat bodoh! Itukah Wanita yang selama ini kamu damba-dambakan? Itukah Wanita yang selama ini kamu cintai melebihi dirimu sendiri? Itukah Wanita yang kamu anggap tulus tapi faktanya ia malah tega mengkhianatimu? Itukah cinta yang kamu anggap tulus?"

Meneguk satu botol lagi sudah tak terhitung berapa banyak botol yang ia jadikan pelampiasan akibat penghianatan yang ia alami.

"Cukup!"

Dihempaskan botol itu hingga pecah berserakan dilantai. Lelaki itu terlihat menangis, namun terlihat pula tersenyum dan tertawa.

"Gantara! Kamu tuh apa-apaan ngapain pakai acara mabuk? Buang! Ini tidak bagus untuk kesehatan kamu, buang!"

"Tiga tahun aku menjalani hubungan ini dengan ketulusanku.., tapi aku baru sadar kalau selama ini aku b0d0h! Aku bodoh telah percaya dengan gadis sok polos seperti dia, aku sungguh b0d0h! b0d0h!"

"Kadang aku heran dengan kesempurnaan yang dimiliki gadis itu sampai-sampai kamu korbankan diri kamu seperti ini? Benar kata kamu, kamu memang sangat bodoh!"

Gantara berjalan hendak keluar dari ruangan ini dengan sempoyongan, Gantara terlihat hilang kendali setelah meminum alk0hol itu.

Bahkan dirinya yang hendak ingin masuk keluar mobil terlihat kebingungan dan kesusahan, Nayla datang dan membantu merangkulnya.

"Kamu tidak bisa pergi sendiri dalam kondisi seperti ini, kamu mabuk yang ada kamu malah bakal celaka, tetaplah disini, aku bakal antarkan kamu pulang."

Sesampainya

Mereka sudah kembali di kediaman yang ditempati Gantara, kebetulan kediaman ini jarang dipakai keluarga Gantara jadi hanya ada mereka berdua disini, Nayla membantu merebahkan tubuh Gantara diatas r4nj4ng itu.

" Apa kamu se'cinta ini padanya sampai-sampai kamu mengorbankan dirimu seperti ini?"

Nayla berbalik arah. Niat Nayla akan pergi dari ruangan ini. Selangkah dia akan pergi, tangan kekar Gantara meraih tangan Nayla dengan paksa.

Akibat tarikan yang kencang keduanya tak bisa terhindar dan sama-sama terjatuh diatas r4nj4ng bermotif putih itu.

"Kenapa kamu tega menyakiti hatiku? Kenapa kamu tega mengkhianati ku..

Kenapa? Aku mohon jangan pergi! Jangan pergi!"

Gantara yang dalam kesadaran agak berkurang berfikir jika dihadapannya ialah Cantika, dipeluk tubuh gadis itu yang dalam bayang-bayang Gantara masihlah nampak jelas jika Cantika lah yang muncul.

...............

Beberapa Jam Kemudian....

Mata Gantara perlahan terbuka dengan pelan menunjukkan jika dirinya akhirnya tersadar setelah beberapa beberapa jam terbaring di ranjang.

Disampingnya ia temani sesosok Wanita yang ia kenal, melihat tubuh keduanya tanpa adanya sehelai pakaian yang tertempel membuat Lelaki itu tak percaya atas apa yang barusan ia lakukan pada Wanita itu.

Terdengar suara tangisan yang menggema disampingnya. Pria yang tadinya tertidur pulas kini kedua kelopak matanya terbuka dengan lebar sadar dengan kondisi tubuhnya yang bertelanjang, melihat wanita yang ia kenal menangis disampingnya dirinya seketika bangkit.

"Ti ...tidak! Ini tidak mungkin? Aku ... Aku tidak mungkin melakukannya... tidak!"

"Kamu...?" Bingung Gantara yang ingin mengatakan apa.

"Jahat! Kenapa kamu bisa sejahat ini merebut kesucian yang sudah aku jaga? Kamu jahat, Ga! Kamu sangat jahat!" tangisnya pecah sambil memeluk tubuhnya sendiri.

"Nay, maafin aku! Aku sungguh tidak ingat apa-apa bahkan apa yang terjadi tadi sungguh aku juga tidak ingat, itu diluar kendali dan kesadaran ku..."

"Apa kamu semudah itu bilang tidak ingat dan kejadian tadi diluar kendalimu? Aku tanya apa kamu pikir dengan kata maaf, kamu mampu membalikkan kesucian yang selama ini aku jaga mati-matian? Aku sudah tidak suci, jika tiba-tiba aku hamil tanpa suami, gimana tanggapan Mama dan Papa? Gimana tanggapan orang-orang? Aku pasti akan dicap sebagai Wanita nakal! Kamu jahat, Ga! Kamu jahat!"umpatnya yang terus-menerus memukul-mukul dadanya sendiri, tindakannya itupun dicegah oleh Gantara.

"Aku mohon maafin aku! Aku janji akan bertanggung jawab, aku pastikan aku tidak akan ingkar janji, aku janji!"

"Apa hanya dengan kata-kata kamu mampu menepatinya?"

"Aku siap jika harus menikah kamu, sekali lagi maaf, jika aku harus mengorbankan kamu akibat kebodohanku ini... maaf!"

"Aku ..." Kata Nayla sambil menangis.

Nayla kehabisan kata-kata, Gantara tak tau harus berbuat apa ia akhirnya membekap tubuh Nayla berharap cara ini mampu menenangkannya.

"Kamu sungguh sangat b0d0h, Ga! B0d0hnya kamu karena lebih mempercayaiku jika kamu memang telah menodai ku... bodohnya kamu... Karena kamu tidak mencari tau akan kebenaran kenapa Cantika sudah menjadi istri kedua dari lelaki kaya raya... kamu sungguh sangat bodoh!"

Nayla membatin, membalas pelukan Gantara, senyuman licik tak henti-hentinya Nayla tunjukkan. Bahkan secara diam-diam pula Nayla meletakkan kamera tersembunyi umpan balik yang bisa ia gunakan untuk membodohi Gantara tak termasuk menjadikannya sebagai alat untuk melemahkan semangat Cantika.

Dikediaman mewah yang kini menjadi tempat tinggal baru Cantika, Cantika menyisir setiap inci bagian rumah mewah yang saat ini masih sepi lantaran orang-orang belum kembali.

Kaki Cantika berhenti setelah berpapasan dengan foto keluarga kecil yang bisa dibilang memiliki banyak anggota keluarga mulai dari Mama, Papa, Istri, saudara hinga anak perempuan berusia 10 tahunan yang digadang-gadang anak yang disebutkan Adrian yang telah meninggal akibat kecelakaan

Cantika mengambil album itu dan memperhatikannya lebih dekat, memandangi foto keluarga itu, tak lupa ia mengusapnya beberapa kali.

"Keluarga ini dulunya bisa dikatakan keluarga yang sempurna, Anggota keluarga yang masih utuh mulai dari orang tua... Saudara bahkan hadirnya anak perempuan dan calon bayi kedua mereka dipastikan keluarga ini keluarga yang sangat sempurna, Kak Adrian memiliki semuanya, tapi dalam hitungan jam dan akibat kecerobohan Nayla membuat keluarga ini kehilangan segalanya termasuk mimpi-mimpi yang sudah mereka dambakan dulunya. Benar, banyak kekayaan dimiliki Adrian, tapi apa gunanya semua kekayaan ini, jika hidup mereka masih belum ada kedamaian dan ketenangan, sesungguhnya nasib mereka sangat menyedihkan."

Kedatangan Adrian tanpa sengaja Cantika malah menjatuhkan hingga jatuh pecah.

"Brengsek! Berani anda menjatuhkan foto keluargaku? Anda cari mati!"

Umpatan yang Adrian layangkan , lelaki itu terlihat marah besar, tapi tak bisa disalahkan pula jika Cantika sendiri ikut bersalah akibat kecerobohannya.

Bahkan dorongan tak lupa Adrian layangkan pada sang istri hingga tubuh istri keduanya tersungkur bersimpuh dilantai, tapi Cantika tau kali ini memang ia pantas disalahkan akibat kecerobohannya ini.

"Mas, apa yang kamu lakukan?" Monika datang dan langsung membantu Cantika berdiri, datangnya Adrian bersama sosok Wanita mengherankan Cantika apa ini wanita sekaligus istri pertama Adrian.

"Kamu tidak apa-apa?"tanya Monika sedikit cemas.

"A-aku baik-baik saja, mbak siapa? Apa mbak ini Istri pertama Tuan Adrian?"

monika mengangguk, ia memberikan jabat tangannya sembari menunjukkan senyumannya.

"Iya, aku Istri pertama Adrian, kenalin namaku Monika Giana Putri."

"Namaku Cantika Alkyara Putri, mbak bisa memanggilku dengan sebutan Cantika."

"Sayang... hatimu itu terbuat dari apa sih? Kamu lupa dia ini orang yang sudah mengakibatkan kedua anak kamu tiada? Dia seorang pembunuh! Kamu lupa itu?"tegas Adrian tak terima sang Istri masih bersikap baik pada seseorang yang digadang-gadang pembunuh kedua Putri mereka.

"Iya Kak, dia itu pembunuh! Dia harusnya tidak pantas diperlakukan manis seperti tadi, Kak Monika sungguh tidak kehilangan akal kan?"tegur Adik iparnya ikut tak menyetujui.

"Yang dikatakan Suami dan Adik iparmu memanglah benar! Dia bukanlah Wanita yang pantas kamu maafkan semudah itu, dia itu pembunuh! Gara-gara dia, kita kehilangan calon pewaris dan cucu-cucuku, kamu lupa itu?" Mamanya ikut bersuara.

"Sekarang aku tanya sampai kapan kalian akan menyimpan dendam ini? Apa dengan kalian menyimpan dendam bahkan memusuhinya anak-anakku bisa kembali lagi di pelukan aku? Tidak kan?"ujarnya.

"Aku tidak tau harus berkata apa? Kamu tidak boleh menyalahkan mereka apa yang dikatakannya memanglah benar aku tidaklah pantas dimaafkan apalagi diperlakukan seperti ini, kamu seorang ibu, akulah orang yang telah menghancurkan kebahagiaan kamu, aku...."

"Bagiku menyimpan dendam hanya akan menimbulkan masalah yang lebih besar, kita sekarang satu suami, jadi kita harus bisa berbagi kesedihan. Aku tidak mau gara-gara aku menyuruh suamiku menikah lagi kamulah yang akan menjadi bulan-bulanan mereka, aku tidak mau dan tidak akan membiarkan."

"Sudahlah Mama tidak tau kamu entahlah Wanita bodohnya ataukah sangking baiknya kamu, ya sudah Mama permisi Mama malas bertatapan dengan si pembunuh itu."

"Aku juga malas, ayo kita pergi, Ma."

Mama dan Adiknya pergi tanpa memperdulikan sosok Wanita yang mereka cap sebagai seorang pembunuh. Adrian ikut tak bersuara ia pula memilih mengabaikan dan pergi.

"Aku sangat berterima kasih kamu sudah mau memaafkan aku, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, sekali lagi terima kasih."

Ungkapan rasa terima kasih dan permohonan maaf yang dilayangkan Cantika kepada Monika, Monika mengelus pucuk kepala Cantika seolah sudah dianggap sudah seperti saudaranya sendiri dan bukanlah musuh, namun ada fakta lain ternyata Cantika hanya ia jadikan sebagai alat.

"Ini hanya permulaan. Kamu juga bukanlah penghancur hidupku, tapi kamulah benang merah yang bisa aku manfaatkan untuk mempererat hubunganku dengan Adrian dan menjadikan kamu sebagai alat agar Adrian tetaplah mencintaiku seperti awal rencana yang sudah aku susun, putriku sayang... maafkan Mamamu ini karena telah melibatkan kamu dalam kebodohan dan keserakahan Mama sampai kamu tiada... Maafkan Mama... Maafkan Mama...,"batinnya dengan tersenyum licik.

BERSAMBUNG

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!