NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Fajar

 Suara bising klakson yang saling bersahutan, deru mesin angkutan umum yang memekakkan telinga, serta aroma khas udara Jakarta yang pekat oleh debu dan polusi, tidak lagi terasa akrab bagi indra penciuman Rangga. Tiga tahun menetap di belahan bumi utara dengan keteraturan kota London yang dingin telah menciptakan sebuah jarak sensorik yang kentara. Namun, di dalam kabin taksi yang membawanya membelah kemacetan jalanan ibu kota pagi itu, fokus Rangga sama sekali tidak terdistraksi oleh riuh rendah di luar jendela. Sepasang matanya yang tajam terus menatap lurus ke arah layar tablet digital di pangkuannya.

Angka-angka indeks saham bergerak fluktuatif dalam hitungan detik. Di sana, pada baris data yang menampilkan aset diler utama konsorsium otomotif Asia Tenggara—mitra strategis perusahaan tempat Rangga bernaung—warna merah pekat mendominasi layar. Grafik itu menukik tajam, merepresentasikan sebuah anomali pasar yang tidak wajar.

Keluarga Nicholas ternyata sama sekali tidak sedang menggertak. Mereka telah bergerak di bawah radar, memanfaatkan jaringan kapitalisme lama dan kedekatan mereka dengan para regulator korup di Jakarta untuk melakukan manuver potong kompas. Dengan menguasai diler lokal secara paksa, Nicholas berencana mencekik jalur distribusi logistik dari proyek kendaraan listrik yang selama tiga tahun ini dirancang oleh Rangga. Jika prototipe kendaraan tersebut tidak bisa menyentuh pasar, maka dewan komisaris di London akan menganggap proyek Rangga sebagai kegagalan total yang membuang-buang anggaran perusahaan.

Rangga menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Alih-alih panik atau memaki, dia justru menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi taksi. Tiga tahun bergulat dengan intrik korporasi Eropa di *The City of London* telah menempah cara berpikirnya. Dia bukan lagi anak jalanan dari SMA Bina Karya yang akan menyelesaikan masalah dengan kepalan tangan atau makian emosional. Di dunia dewasa yang kejam ini, senjata terbaik adalah ketenangan dan kemampuan membaca langkah musuh sebelum musuh itu sendiri menyadarinya.

"Lu pikir, dengan modal uang warisan bokap lu, lu bisa kuasai medan perang yang baru ini, Nich?" gumam Rangga lirih, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan kalkulasi dingin. "Gue bakal mastiin, agresi lu kali ini bakal jadi investasi terburuk yang pernah dilakukan keluarga lu."

Sementara itu, di sebuah ruang kerja yang sangat luas dan mewah di lantai teratas gedung pencakar langit kawasan Sudirman, suasana kemenangan telah merona. Ruangan bernuansa kayu jati itu dipenuhi aroma cerutu mahal dan denting es batu di dalam gelas kaca. Nicholas sedang duduk bersandar di kursi kulit besarnya dengan kaki yang sengaja diangkat ke atas meja, memutar-mutar segelas wiski dengan gestur penuh keangkuhan. Di hadapannya, sang ayah, Tuan Handoko, berdiri menatap layar monitor besar yang menampilkan laporan harian bursa efek Jakarta.

"Tiga puluh persen saham diler utama sudah masuk ke dalam kantong kita, Pah," ucap Nicholas sebelum meneguk wiskinya hingga tandas. Gurat dendam di wajahnya yang kini tampak lebih matang setelah beberapa tahun mengelola bisnis keluarga tidak pernah benar-benar pudar. Kekalahan memalukan yang dia alami di London, ditambah kenyataan pahit bahwa Rangga—anak jalanan yang dulu dia injak-injak—kini menjelma menjadi eksekutif muda berkuasa yang menyelamatkan finansial Tuan Kresna, telah menjadi duri yang terus menusuk harga diri Nicholas setiap malam.

"Rangga itu cuma buruh elitis di perusahaan bule," lanjut Nicholas dengan nada sinis yang penuh kebencian. "Dia pikir dia sudah jadi raja hanya karena memegang stempel keputusan di London. Dia lupa kalau di Jakarta, kita yang punya tanah, kita yang punya diler, dan kita yang punya kuasa atas regulasi. Begitu unit mobil listrik pertamanya tiba di pelabuhan Tanjung Priok bulan depan, diler kita akan menolak mendistribusikannya ke pasar. Tanpa angka penjualan, kontrak lima ratus juta euro itu akan batal demi hukum, dan para direktur Eropa itu akan memecat Rangga dengan tidak hormat seperti anjing kurap."

Tuan Handoko mengangguk puas, mengisap cerutunya dalam-dalam lalu mengembuskan asap tebal ke udara. Pria paruh baya itu tersenyum dingin. "Langkah yang bagus, Nicholas. Kita cekik pergerakan bocah ingusan itu dari akarnya. Jangan berikan dia ruang untuk bernapas di pasar lokal. Biar dia tahu diri, setinggi apa pun dia melompat di luar negeri, di tanah ini dia tetap bukan siapa-siapa dibanding keluarga kita."

Nicholas tertawa puas. Rasa superioritas yang sempat hilang kini kembali membuncah di dalam dadanya. Dia merasa berada di atas angin, yakin bahwa di atas tanah kekuasaan finansial ayahnya, Rangga tidak akan memiliki taji apa pun untuk melawan balik.

Namun, di belahan kota yang berbeda, siang itu Rangga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tuan sedang terpojok. Dia menolak kembali ke London lebih awal meskipun sekretarisnya terus mengirimkan pesan darurat. Rangga justru meminta Aldi untuk menjemputnya di lobi hotel. Penampilan Rangga hari itu sangat kontras: dia menanggalkan jas mahalnya, hanya mengenakan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku, dan duduk dibonceng oleh Aldi menggunakan sepeda motor matik sewaan yang biasa dipakai operasional bengkel "Bina Karya Motor".

Mereka membelah kemacetan Jakarta, menuju ke sebuah kawasan industri tua yang tampak terbengkalai di daerah Pulogadung. Motor berhenti di depan sebuah kompleks bangunan pabrik karoseri yang luas, namun dinding-dindingnya sudah kusam dan dipenuhi karat.

"Ngga, kita ngapain ke tempat ginian?" tanya Aldi sambil melepas helmnya, menyeka keringat di dahinya yang bercucuran akibat cuaca panas Jakarta. "Ini kan pabrik tua yang udah bangkrut dua tahun lalu. Lu gak mau sewa gedung yang lebih bagus apa buat kantor lu di sini?"

Rangga turun dari motor, merapikan kemejanya yang sedikit terkena abu jalanan tanpa peduli. Tatapannya menyapu seluruh area kompleks pabrik tersebut dengan pandangan yang penuh rencana.

"Nicholas mikir dia bisa nyekik jalur distribusi gue dengan cara menguasai diler konvensional, Al," jawab Rangga, suaranya terdengar sangat tenang namun berbobot. "Dia lupa kalau dunia otomotif sekarang bukan lagi soal ruang pameran diler yang mewah ber-AC dengan sales berpakaian rapi. Dunia udah berubah, dan gue gak akan sudi main di medan perang yang lama milik mereka."

Pintu gerbang besi pabrik tua itu mendadak berderit terbuka. Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian kasual namun memancarkan aura intelektual yang kuat melangkah keluar. Pria itu adalah Hendra Wijaya, seorang mantan kepala jurnalis investigasi senior bidang otomotif yang kini beralih haluan menjadi pimpinan tertinggi dari konsorsium *startup* logistik digital terbesar di Indonesia. Di belakangnya, tampak beberapa anak muda yang sibuk memegang gawai dan mengawasi lalu lintas data di layar monitor portabel.

"Selamat datang kembali di Jakarta, Tuan Rangga," sapa Hendra dengan senyuman penuh hormat yang sangat tulus. "Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan orang yang memiliki visi seberani Anda. Sesuai kesepakatan kita lewat panggilan video minggu lalu, seluruh sistem integrasi armada logistik berbasis aplikasi kami sudah selesai diuji coba. Kami memiliki akses instan ke lebih dari sepuluh ribu kurir mandiri dan jaringan gudang transit di seluruh kota besar di Asia Tenggara."

Rangga menjabat tangan Hendra dengan sangat kuat. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Kerja sama ini adalah kunci dari segalanya."

Rangga berbalik menatap Aldi yang masih kebingungan. "Al, perusahaan gue di London gak butuh diler mewah milik keluarga Nicholas untuk menjual unit kendaraan listrik kita. Mulai bulan depan, kita akan memotong seluruh jalur distribusi konvensional. Kita akan menjual produk kita langsung ke tangan konsumen lewat sistem *direct-to-consumer* menggunakan aplikasi digital milik Pak Hendra. Konsumen tinggal pesan lewat ponsel, dan unit mobil akan diantarkan langsung ke depan pintu rumah mereka oleh kurir logistik, lengkap dengan dokumen yang sudah diurus secara digital."

Aldi yang mendengar penjelasan itu langsung melongo dengan mulut terbuka lebar. Dia baru menyadari betapa geniusnya langkah yang diambil oleh sahabatnya. Rangga sama sekali tidak berniat menghabiskan energi untuk berebut saham diler melawan Nicholas. Rangga justru membuat diler-diler mewah yang dibeli mahal oleh Nicholas menjadi tidak berguna, karena jalur pasar yang baru telah diciptakan di atas ekosistem digital yang sama sekali tidak dipahami oleh para konglomerat tua.

Sementara itu, situasi di London justru bergerak tidak kalah menegangkan. Di dalam ruang kerjanya yang megah dengan dinding kaca yang menampilkan panorama menara Big Ben yang basah oleh rintik hujan, Cinta Alisya sedang berdiri termenung. Dia baru saja menerima salinan laporan mengenai agresi finansial keluarga Nicholas di Jakarta yang dikirimkan oleh tim analis bursa.

Pintu ruang kerja terbuka dengan cepat, dan Tuan Kresna melangkah masuk dengan langkah kaki yang terburu-buru. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi kecemasan yang mendalam. "Cinta... Nicholas benar-benar berniat menghancurkan Rangga. Ayahnya baru saja menggunakan koneksi politik mereka di kementerian untuk mempersulit izin analisis dampak lingkungan proyek perakitan kita di Jakarta. Kita tidak bisa tinggal diam, kita harus membantu Rangga menggunakan sisa koneksi bisnis papa."

Cinta berbalik secara perlahan. Penampilannya hari itu sangat anggun, namun ada perubahan drastis pada pancaran matanya. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi keraguan seorang putri ringkih yang harus selalu berlindung di balik punggung ayahnya. Tiga tahun penderitaan dan penantian telah membentuk Cinta menjadi sosok wanita tangguh yang siap bertarung demi masa depannya sendiri.

"Papa gak usah cemas," ucap Cinta, suaranya terdengar sangat tegas dan stabil. "Rangga yang sekarang bukan lagi cowok labil yang bisa dijatuhkan hanya dengan gertakan uang atau kekuasaan birokrasi lama. Dan aku juga tidak akan membiarkan dia bertarung sendirian di Jakarta."

Cinta berjalan mendekati meja kerjanya, lalu membuka sebuah laci rahasia yang terkunci rapat. Dari dalam laci tersebut, dia mengeluarkan sebuah diska lepas (*flashdisk*) berwarna perak yang berisi dokumen-dokumen keuangan krusial. Dokumen itu adalah data busuk mengenai manipulasi pajak, pemalsuan laporan keuangan, dan pencucian uang yang dilakukan oleh induk perusahaan milik keluarga Nicholas di Eropa saat mereka mencoba menarik modal dari perusahaan Tuan Kresna setahun lalu secara ilegal.

"Kalau Nicholas pikir dia bisa main kotor menggunakan hukum lokal di Jakarta, maka aku yang akan memastikan reputasi internasional perusahaannya hancur total dari bursa London minggu ini," lanjut Cinta dengan nada dingin yang sarat akan ketegasan. Dia menatap ayahnya dengan senyuman penuh keyakinan. "Perang ini bukan cuma milik Rangga, Pa. Ini adalah perang kita untuk merebut kembali hak hidup kita yang sempat mereka rusak."

Hari berikutnya di Jakarta, Nicholas menggelar konferensi pers besar-besaran di sebuah hotel bintang lima kawasan SCBD. Acara itu dihadiri oleh puluhan jurnalis dari berbagai media bisnis terkemuka. Nicholas berdiri di atas podium mewah dengan lampu kilat kamera yang terus menyorot wajahnya, mengumumkan keberhasilan akuisisi diler otomotif mereka dengan penuh keangkuhan.

"Kami ingin memastikan bahwa pasar otomotif tanah air hanya diisi oleh investasi yang menghormati pemain lokal," ucap Nicholas di depan mikrofon, matanya melirik sinis ke arah kamera, sengaja memberikan pesan tersirat untuk menyindir proyek kendaraan listrik yang dipimpin oleh Rangga. "Teknologi asing yang tidak adaptif dengan jaringan diler konvensional yang kami kuasai, tidak akan pernah mendapatkan tempat untuk menyentuh konsumen di negara ini. Proyek itu sudah mati sebelum dimulai."

Gemuruh tepuk tangan dari para kolega bisnisnya memenuhi aula mewah tersebut. Nicholas turun dari podium dengan senyuman kemenangan yang mengembang lebar di wajahnya. Dia merasa telah berhasil membalaskan dendamnya dan menghancurkan reputasi Rangga di mata dewan direksi London.

Namun, tepat saat langkah kakinya baru saja mencapai area *lounge* eksklusif di belakang panggung, ponsel di dalam saku jas mahalnya berdering dengan getaran yang sangat intens. Layar menampilkan nama ayahnya, Tuan Handoko.

Nicholas menggeser tombol hijau dengan santai. "Halo, Pah? Konferensi pers kita sukses besar. Semua media bakal muat berita kehancuran jalur distribusi si anak jalanan itu besok pagi—"

"Nicholas! Pulang ke kantor sekarang juga!" potong Tuan Handoko dari seberang telepon. Suara pria tua yang biasanya selalu tenang itu kini terdengar bergetar hebat, dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa berat hingga napasnya terdengar memburu.

Nicholas mendadak mengerutkan dahinya, langkah kakinya tertahan. "Ada apa, Pah? Kenapa Papa panik begitu? Kita kan baru saja menang—"

"Saham induk perusahaan kita di bursa London anjlok dua puluh persen dalam waktu satu jam ini!" teriak Tuan Handoko, memotong kalimat anaknya tanpa ampun. "Otoritas pengawas keuangan Eropa baru saja merilis dokumen investigasi resmi mengenai aliran dana gelap dan manipulasi pajak perusahaan kita di luar negeri! Semua investor asing panik dan melakukan aksi jual massal! Dan yang lebih mengerikan... perusahaan otomotif tempat Rangga bekerja di London baru saja merilis pengumuman global tentang kerja sama eksklusif dengan jaringan logistik digital terbesar di Asia Tenggara untuk menjual unit kendaraan listrik mereka secara langsung ke konsumen tanpa lewat diler kita sama sekali! Saham diler yang baru kamu beli itu sekarang gak lebih dari sekadar kertas sampah yang gak punya nilai!"

Kata-kata ayahnya terasa seperti hantaman gada besi yang telat mengenai kepala Nicholas. Seluruh darah di wajahnya seketika menyusut, membuat kulitnya berubah menjadi seputih kertas. Gelas wiski yang baru saja diambilnya dari meja pelayan hampir saja terlepas dari genggaman tangannya yang mendadak lemas dan gemetaran. Senyuman angkuh yang sejak tadi menghiasi wajahnya runtuh total tanpa sisa, menyisakan tatapan mata yang melotot penuh keterkejutan dan horor yang mendalam.

Nicholas membalikkan badannya dengan cepat, menatap ke arah pintu keluar lobi aula hotel mewah tersebut yang dipenuhi kaca transparan besar.

Di luar sana, di seberang jalan raya yang ramai, berdiri dua orang sosok yang sangat dia kenali. Aldi sedang duduk di atas motor matiknya sambil melipat tangan di dada dengan senyuman mengejek yang lebar. Dan di sebelahnya, berdiri Rangga.

Rangga tidak mengenakan setelan jas eksekutif mahalnya hari itu. Dia hanya mengenakan kemeja hitam kasual sederhana dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, menunjukkan lengan kekarnya yang kokoh. Pria muda itu berdiri tegak di bawah terik matahari Jakarta, menatap Nicholas dari balik dinding kaca hotel mewah dengan sepasang mata elang yang sangat dingin, tenang, namun memancarkan wibawa dominan seorang pemenang mutlak.

Rangga perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas. Di depan mata Nicholas yang sedang gemetaran ketakutan, Rangga menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk gestur horizontal yang tegas—sebuah simbol *skakmat* yang dingin, mengisyaratkan bahwa permainan catur bisnis yang dimulai oleh Nicholas telah resmi berakhir dengan kehancuran total di kubu keluarga konglomerat tersebut.

Serangan fajar yang dilancarkan Nicholas dengan modal uang judinya tidak hanya berhasil diredam dengan mudah oleh kejeniusan insting Rangga, namun kerja sama tak terlihat antara Rangga di Jakarta dan Cinta di London baru saja mengirimkan rudal balasan dari dua benua sekaligus yang siap meruntuhkan seluruh kekaisaran bisnis keluarga Nicholas hingga ke akar-akarnya. Perang kasta kini telah bermutasi menjadi pembantaian finansial yang elegan di tangan sang ksatria jalanan.

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!