NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makam Tanpa Nama

"Mengapa kau lama sekali membuka pintu, Valerian?!" bentak Damian parau, menyambar kedua bahu istrinya dengan cengkeraman kasar yang menuntut penjelasan.

Valerian mendongak, memaksakan sepasang taring ketegasannya untuk tetap tegak berdiri meski jantungnya masih berdegup gila akibat sisa keintiman panas bersama Aksa beberapa detik lalu.

"Aku sedang tidur, Damian! Dan kau datang mendobrak pintu seperti orang kesurupan hanya untuk meluapkan sifat temperamentalmu? Cukup! Aku muak dengan pengawasan gilamu ini!" Dengan satu sentakan kuat, Valerian mengempaskan tangan suaminya, lalu berjalan menuju ranjang dan memunggunginya—sebuah taktik cerdas untuk menyembunyikan deru napasnya yang belum sepenuhnya teratur.

Damian mengepalkan tangan di tempatnya berdiri. Ia melirik ke arah luar balkon yang gelap, lalu beralih menatap Valerian dengan seringai sinis.

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya naik ketika Aksa sudah berada di dalam mobil selebritis hitamnya yang melaju membelah jalanan pinggiran ibu kota. Di sampingnya, Valerian—yang diam-diam berhasil menyelinap keluar memanfaatkan celah pergantian penjaga pengawal Damian di subuh buta—duduk dengan wajah pucat namun sarat akan ketegasan yang berani.

Hari ini adalah hari peringatan kematian ibu kandung Aksa, satu-satunya wanita yang menjadi alasan mengapa pria itu menjelma menjadi Dave, sang predator yang siap meruntuhkan takhta Wardhana.

Kau yakin Damian tidak akan menyadari kepergianmu, Vale ?" tanya Aksa parau.

Dia sedang bersiap menuju kantor pusat untuk rapat pleno lanjutan. Dia mengira aku masih mengurung diri di kamar karena mual kehamilan awal," bisik Valerian lirih.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah pemakaman elite yang tenang di perbatasan kota. Tempat di mana bertahun-tahun ini Aksa selalu datang untuk menumpahkan lara dan air mata batinnya di depan sebuah pusara marmer putih bertuliskan nama ibunya, istri kedua Tuan Bagian Wardhana yang terbuang.

Aksa menuntun langkah Valerian menyusuri jalanan setapak yang basah oleh embun pagi, membawa sebuket bunga lili putih kesukaan sang ibu. Namun, begitu mereka sampai di titik koordinat yang sangat dihafalnya, langkah kaki Aksa mendadak terkunci rapat.

Pusara marmer itu... telah rata dengan tanah. Tidak ada batu nisan, tidak ada rumput hijau yang terawat. Yang tersisa hanyalah gundukan tanah merah kosong yang tampak baru saja digali kembali.

Ada apa, Aksa?" Valerian mengerutkan kening, menangkap perubahan drastis pada aura tubuh Aksa yang seketika berubah sedingin es.

Sebelum Aksa sempat menjawab, seorang petugas makam paruh baya dengan pakaian seragam lusuh berjalan mendekati mereka dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus ketakutan.

"Maaf... Apakah Anda Tuan Aksa?" tanya petugas itu dengan suara yang gemetar.

Aksa menoleh lambat, sepasang netra gelapnya menyempit pekat. "Ya. Di mana nisan ibuku? Kenapa tempat ini dihancurkan?!"

Petugas makam itu menelan ludah dengan susah payah, lalu mundur satu langkah. "Ampun, Tuan... Saya terpaksa mengatakan ini karena hati kecil saya tidak tenang setelah menerima uang bungkam dari keluarga besar Anda kemarin.

Sebenarnya... pusara ini kosong, Tuan. Bertahun-tahun ini, tidak pernah ada jenazah Nyonya besar di bawah tanah ini. Anda... Anda sepertinya telah dibohongi seutuhnya."

Kata-kata petugas itu bagaikan hantaman gada besi yang seketika meruntuhkan seluruh dunia Aksa. Seluruh tubuh jangkungnya kaku membeku. "Apa maksudmu kosong?! Aku sendiri yang melihat foto pemakamannya! Aku selalu datang ke sini selama bertahun-tahun!"

Saat pemakaman itu terjadi lima puluh tahun lalu, Anda sedang berada di dalam ruang operasi di London untuk memulihkan wajah Anda akibat kecelakaan pesawat maut itu, bukan?" bisik petugas itu dengan suara rendah.

"Tuan Bagian Wardhana... beliau yang memerintahkan kami untuk membangun makam palsu ini. Beliau tidak pernah memakamkan istri keduanya di sini. Jenazah ibu Anda... kami tidak pernah tahu di mana keberadaannya yang asli."

Brak!!!

Pintu ruang kerja pribadi Tuan Bagian Wardhana di kediaman utama dihantam terbuka hingga jebol menumbuk dinding. Aksa melangkah masuk dengan aura pembantaian yang begitu pekat dan mengerikan.

Di belakangnya, Valerian berlari kecil mencoba menahan lengan kekar Aksa yang sudah menegang tajam dengan urat-urat yang menonjol hebat hingga ke leher.

Tuan Bagian yang sedang membaca dokumen bisnis di balik meja eksekutifnya tersentak, lalu berdiri dengan wajah yang mengeras dipenuhi wibawa seorang kepala keluarga yang terusik. "Aksa! Jaga sopan santunmu! Apa-apaan kelakuan berengsekmu ini?!"

Di mana ibuku, Bagian Wardhana?!" geram Aksa parau, suaranya bergetar hebat oleh dendam dua dekade yang meledak hancur berantakan. Ia melangkah lebar, mencengkeram kerah kemeja mahal ayahnya sendiri di balik meja dan menyentakkannya dengan kekuatan gila

"Lepaskan tanganmu, anak durhaka!" bentak Tuan Bagian, wajah tuanya memerah padam menahan amarah.

Kau membohongiku! Kau membuat makam palsu dan membiarkanku menangis di atas tanah kosong selama bertahun-tahun saat aku sedang sekarat di meja operasi London!" teriak Aksa gila, cengkeramannya kian mencekik leher pria tua itu.

"Katakan padaku sebelum aku menghancurkan seluruh aliansi bisnis dan takhta Wardhana Group esok pagi... DI MANA JENAZAH IBUKU YANG SEBENARNYA?!"

Tuan Bagian Wardhana terbatuk, wajahnya kian memerah akibat cengkeraman tangan jangkung Aksa yang begitu kuat dan sarat akan tenaga pembunuhan pekat.

Namun, alih-alih menunjukkan rasa takut atau bersalah, pria tua yang telah puluhan tahun mengendalikan tirani bisnis itu justru menyunggingkan senyum sinis yang teramat dingin di sela-sela napasnya yang tertahan.

Kau... kau pikir kau sudah memegang semua kartu as di rumah ini, Aksa?" bisik Tuan Bagian parau, suaranya terdengar begitu merendahkan batin adiknya. "Jika aku memberi tahumu di mana wanita itu berada... kau tidak akan pernah kuat menanggung fakta di balik kematiannya."

KAU BAJINGAN, BAGIAN WARDHANA!" teriak Aksa gila, amarahnya pecah seutuhnya hingga gema suaranya meruntuhkan keheningan koridor lantai dua.

Prok... Prok... Prok...

Aksa dan Valerian seketika menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu yang telah jebol, Damian berdiri bersedekap dengan setelan jas kerjanya yang rapi.

Sungguh panggung sandiwara yang luar biasa di subuh buta," kekeh Damian sinis, langkah kakinya terdengar begitu santai namun menuntut kepatuhan mutlak saat berjalan mendekati meja kerja ayahnya.

"Aku baru saja berniat mencari istriku yang tercinta ke kamarnya untuk memberikan perhatian manis bagi kandungan minggu keempatnya. Tapi siapa sangka, aku justru menemukan Nyonya Wardhana sedang mendampingi adik iparnya.

Bagaimana, Aksa? Atau haruskah aku memanggilmu adikku yang berbakti?" kekeh Damian, sinisme dalam suaranya begitu kental hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar meremang. "Kau begitu cerdik menyusup ke dalam barisan saham perusahaan, membangun citra sebagai penyelamat investasi dari London.

Tapi kau lupa, di bawah hukum pernikahan, Valerian adalah hak mutlak milikku. Setiap jengkal tubuhnya, setiap tarikan napasnya, dan setiap rahasia yang ia sembunyikan di dalam rahim itu... adalah properti bisnisku selama surat cerai belum kutandatangani."

Valerian meremas ujung meja marmer dengan begitu erat hingga kuku-kukunya yang terawat rapi memutih seputih tembok.

Rasa mual akibat kehamilan minggu keempat yang sempat memudar kini kembali menghantam ulu hatinya dengan gelombang yang jauh lebih dahsyat, bercampur dengan rasa muak yang tak tertahankan pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

Aksa perlahan melepaskan kerah kemeja Tuan Bagian sepenuhnya, membiarkan pria tua itu terbatuk-batuk sambil memperbaiki dasinya dengan tangan gemetar.

Kau terlalu cepat merayakan kemenangan, Damian," desis Aksa dengan nada suara yang teratur, datar, namun sarat akan ancaman yang teramat mematikan. "Kau mengira dengan memegang video sialan itu, kau bisa mendikte setiap langkahku? Kau lupa satu hal tentang bagaimana cara pasar saham bekerja."

Di balik meja kerjanya, Tuan Bagian Wardhana akhirnya berhasil menguasai ritme napasnya. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan usia kini memancarkan aura dingin yang tak kalah pekat.

Pria tua yang melahirkan tirani bisnis ini menatap kedua anak laki-lakinya dengan pandangan menilai yang teramat tajam. Alih-alih melerai pertikaian moral tentang perselingkuhan menantunya, ia justru melihat celah kompromi yang bisa menyelamatkan muka keluarga di mata lingkaran sosial luar.

Cukup!" bentak Tuan Bagian, suaranya yang berat dan berwibawa seketika memotong perdebatan di antara dua saudaranya. Pria tua itu memukul permukaan meja dengan telapak tangannya. "Kalian berdua bertingkah seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan di tengah rumah yang sedang terbakar!

Tuan Bagian berdiri, berjalan perlahan mendekati Valerian yang masih mematung dengan tubuh gemetar. Tatapan mata pria tua itu beralih ke arah perut rata Valerian, sebuah tatapan yang sulit diartikan.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!