NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Laura berdiri membeku di bawah aliran air shower yang deras, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tapi oleh bayang-bayang kenangan mengerikan tentang preman yang sempat menjamahnya.

Air yang mengalir seolah mencoba membersihkan luka itu, tapi ketakutan itu tetap melekat di kulitnya, menyesakkan dada.

Tiba-tiba, dua tangan kuat melingkari tubuhnya dari belakang, membuat napasnya terhenti sesaat.

"Dimana tadi Nigel menyentuhmu? Bukankah sudah aku bilang? Aku ingin kamu pulang ke rumah naik bis, kenapa malah diantar oleh Nigel?" suara Luis pecah oleh amarah yang membara, seolah setiap kata adalah cambukan yang menghantam hati Laura.

Laura berusaha mengangkat wajahnya, ingin menjelaskan bahwa di dalam bis itulah ia hampir menjadi korban, bahwa Nigel-lah yang menyelamatkannya dari tangan-tangan kotor itu dan mengantarnya pulang dengan selamat.

Namun, sebelum kata-kata itu keluar, tangan Luis yang penuh kemarahan malah meremas dadanya, membuatnya tertekan dan terdiam.

Matanya menatap kosong ke cermin di depan, ia bisa melihat bayangan Luis yang asik memegang dadanya dan mencium lehernya.

Air mata dan air shower bercampur membasahi pipinya.

Rasa takut dan bingung berputar liar di dalam pikirannya, terperangkap antara rasa syukur pada Nigel dan kemarahan serta cemburu Luis yang membakar.

Jantung Laura berdegup keras, seolah tubuhnya berontak melawan kenyataan yang menyakitkan ini, saat Luis terus membisikkan kata-kata yang menyakiti hatinya.

Tiba-tiba tangan Luis menjalar ke bagian tubuh bawahnya, tangan bergerak liar mengusap bagian bawahnya yang tertutup celana dalam.

Saat tangan Luis ingin masuk ke dalam celana dalam, Laura berteriak histeris. "Jangan ... Aku mohon ... " Ujarnya dengan nada takut.

Bahkan tubuhnya nampak bergetar, sontak saja Luis menjauhkan tangannya.

Ia menatap Laura dari pantulan cermin, wajah Laura terlihat begitu kasihan.

Tapi tiba-tiba ingatannya memperlihatkan wajah Arina yang menyedihkan, dan wajah Nigel yang menyebalkan.

Tangannya pun kembali bergerak liar, tanpa ragu langsung menembus ke dalam kain celana dalamnya.

Laura berteriak, bahkan matanya melotot tajam saat jari telunjuk pria itu mulai menusuk ke tengah tempurung.

"Akh ... Kak Luis, sakit!!" Teriak Laura kesakitan, bahkan gadis itu nampak menangis histeris dan tubuhnya meronta melepaskan diri dari Luis.

Luis melihat Laura terduduk di dalam bath tub, lantas ia berjalan mendekat.

Tapi saat tangannya terulur, ia melihat ujung jari telunjuknya berdarah.

Lalu tatapannya melihat ke arah Laura dengan tatapan rumit. "Nggak mungkin kalau kamu masih segel?" Ujarnya dalam hati.

Laura sendiri benar-benar terguncang, ia memeluk lututnya sendiri, terlihat ada sedikit noda darah yang menempel dari celana dalamnya.

Setelah melihat itu, Luis memilih bergegas untuk keluar kamar mandi.

Laura menatap punggung Luis yang menghilang dari pintu kamar mandi dengan tatapan penuh kebencian, potongan ingatan masa lalunya sedikit kembali.

Dalam potongan ingatannya, ia melihat kalau kehidupannya dari kecil begitu bahagia.

Tapi sayangnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang tuanya.

Laura yang kedinginan memilih segera mandi, dan tidur.

Di atas ranjang, tubuhnya menggigil kedinginan, ia menutup seluruh tubuhnya dengan dua selimut, terlihat seperti kepompong.

"Ya Tuhan, kenapa hidupku begitu menyakitkan?" Ujarnya lirih, dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.

Ia merasa marah dan terhina, orang yang menyakitinya adalah orang yang ia cintai. Jadi sakitnya luar biasa bertambah berkali-kali lipat.

Tak berselang lama, ia pun tertidur.

*****

Ke esokan harinya, Laura bangun tidur dengan tubuh yang sangat lemas.

Ia melirik ke arah jam di dinding.

"Astaga jam 12 siang, bukankah harusnya aku berangkat ke sekolah?" gumam Laura tanpa sadar.

Lalu ia bangkit dan pergi menuju kamar mandi, mencuci muka lalu turun ke ruang makan.

Di ruang makan, pelayan rumahnya yang sebelumnya dipecat oleh Luis semuanya kembali.

"Nona Laura, makan dulu! Bibi sudah memasak makanan kesukaan nona," ujar bibi Siti, pelayan yang paling baik untuk. Laura.

Laura mengangguk senang. Tanpa banyak berpikir ia langsung makan.

Tak berselang lama, Luis masuk ruang makan. Masih memakai seragam sekolahnya.

Sontak saja Laura yang sebelumnya lahap makan, langsung menghentikan aksinya, tubuhnya membeku.

Rasa sakit dan takut bercampur dalam hatinya.

"Kamu sudah bangun?" Kata Luis seraya membelai rambut Laura.

Sontak tubuhnya langsung menegang, bahkan wajahnya berubah pucat.

Laura yang merasa jika sikap Luis berubah-ubah, hal itu membuatnya takut.

Luis yang melihat ekspresi Laura, sontak dahinya mengerut.

"Kamu kenapa?" tanya Luis.

Sementara bibi Siti yang tahu sikap Luis selama ini pada Laura, ingin membela nonanya.

Tapi sebelum bisa mengucapkan sepatah kata, pelayan itu sudah disuruh Luis pergi.

Bibi Siti hanya pelayan, jadi ia tidak bisa menentang perintah Luis. Ia pun langsung pergi tanpa ragu.

Laura menatap pintu saat bibi Siti berlalu, tubuhnya gemetar menahan gelombang kecemasan yang tiba-tiba membuncah.

Dengan napas tertahan, ia perlahan bangkit dari kursi, niatnya tegas untuk meninggalkan ruang makan yang terasa semakin sesak.

"Kak Luis, aku sudah selesai makan," suaranya nyaris bergetar, mencoba menjaga jarak.

Namun, sebelum langkahnya sempat menjauh, tangan Luis sudah meraih lengannya, menarik Laura ke pangkuannya dengan kekuatan yang tak terduga.

Jantung Laura serasa berhenti berdetak, kepanikan menguasai setiap sudut pikirannya ketika tangan Luis menyelinap ke dalam bajunya, meremas dadanya dengan kasar.

Desahan kecil terlepas dari bibir Laura, campuran antara takut dan ketidakberdayaan.

Luis tak memberi kesempatan baginya untuk menolak.

Tubuhnya terangkat, posisi Laura terbalik—duduk di atas meja makan, dalam ruang yang seharusnya aman kini berubah menjadi jebakan.

Bibir Luis menempel paksa, melumat bibirnya tanpa ampun, lalu perlahan menyusur ke dada yang telah disentuhnya.

Tangan lainnya menjelajahi bagian bawah tubuh Laura, menggenggam dengan kepemilikan yang penuh tekanan.

Matanya menyiratkan dominasi, sementara Laura terpaku, terperangkap dalam keheningan yang membungkam suara hatinya yang memohon untuk bebas.

Luis sama sekali tidak peduli.

Laura duduk di atas meja makan, tubuhnya kaku dan wajahnya memerah menahan sakit.

Matanya membulat menatap tajam ke arah Luis yang dengan kasar mengarahkan jari telunjuknya ke celana dalamnya. "Kak Luis, tolong jangan. Sakit dan perih," suaranya pecah, menyimpan kepedihan yang sulit diungkapkan.

Itu adalah benteng terakhir yang ia pertahankan, sebuah ruang kecil yang ingin ia jaga agar tetap utuh.

Luis mengerutkan dahi, ekspresinya campur aduk antara rasa penasaran dan keinginan menguasai.

Jarinya tetap menyusup, mencari tanda yang selama ini ia yakini bisa membuktikan sesuatu.

Sekali lagi, bercak darah merah menempel di ujung jarinya.

Namun alih-alih berhenti, Luis malah semakin mendesak, seolah mengabaikan jeritan kecil dari tubuh Laura yang tak mampu lagi menyembunyikan rasa sakitnya.

Tiba-tiba ponsel Luis bergetar di meja. Lengan bajunya bergerak cepat meraih, wajahnya berubah tegang saat melihat nama yang terpampang di layar.

"Ibu," gumamnya dengan nada berat, lalu ia melepaskan tangan dari tubuh Laura tanpa sepatah kata.

Telepon itu seolah menjadi penyelamat yang tak terduga, membawanya menjauh dari kekerasan yang mulai mengancam batas kesabaran Laura.

Luis mengangkat telepon, lalu meninggalkan Laura yang masih duduk diatas meja makan begitu saja.

Laura menatap Luis dengan tatapan penuh kebencian dan juga perhitungan.

Sementara itu, Dylan yang melihat rekaman cctv itu dari luar negeri, hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Tanpa perintah dari Wilson, ia tidak bisa melakukan apapun.  Mengingat tindakan Luis sudah di luar batas, padahal sudah berkali-kali ia mengingatkan Luis atas perintah Luis.

"Tuan Wilson masih belum sadarkan diri! Bagaiman aku menolong nona, kalau nantinya tuan muda Luis tahu kebenarannya, dia pasti akan menyesal." Desah Dylan putus asa.

Setelah itu ia kembali ke tempat kerjanya untuk menyelesaikan beberapa proyek Wilson.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!