NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: API PENJERNIH DAN KEAJAIBAN DI RUMAH KEPALA DESA

Malam semakin dalam, namun udara di dalam rumah Kepala Desa terasa panas dan mencekam.

Wu Ye duduk bersila di samping tempat tidur, kedua tangannya diletakkan di punggung Badu. Uap putih tebal mengepul dari tubuh anak itu, sementara wajah Wu Ye tampak sedikit pucat. Ia terus memompa energi dalam untuk menahan laju racun agar tidak menyerang jantung sang pasien.

"Kakek... aku kembali!"

Suara Liu Si terdengar dari pintu. Napasnya terengah-engah, pakaiannya kotor oleh lumpur dan darah, namun matanya berbinar penuh semangat. Ia melangkah masuk dengan cepat sambil mengangkat kantong kulitnya.

"Aku mendapatkannya! Bunga Salju Bulan!"

Wu Ye membuka mata, secercah lega terlintas di wajahnya. "Bagus! Kerjamu cepat, Nak. Tapi lihat, racunnya semakin ganas. Kita tidak punya waktu lagi."

Liu Si segera meletakkan bahan-bahan di atas meja. Selain Bunga Salju Bulan, ia juga menyiapkan beberapa jenis akar obat dan cairan jernih dari saripati tanaman.

Warga desa yang masih berjaga di luar menempelkan wajah mereka di jendela, berbisik-bisik penuh cemas.

"Lihat tangan Liu Si... apa itu api?"

"Ya Tuhan! Tangannya terbakar tapi dia tidak kesakitan?"

Di dalam ruangan, Liu Si sudah memejamkan mata. Ia mengangkat tangan kanannya. WUSH! Api berwarna kuning keemasan menyala stabil di telapak tangannya. Cahaya hangat itu menerangi seluruh ruangan, menghilangkan rasa dingin dan lembap.

"Ini adalah Api Penjernih," kata Liu Si dengan suara tenang namun berwibawa. "Api ini tidak akan membakar daging, tapi akan membakar segala kotoran dan racun."

Dengan gerakan tangan yang lincah dan indah, Liu Si mulai bekerja. Ia memasukkan Bunga Salju Bulan ke dalam api. Bunga itu tidak hangus, justru meleleh menjadi cairan bening yang berkilau seperti permata. Ia mencampurnya dengan bahan-bahan lain, mengaduknya di udara dengan energi murni, tanpa menggunakan wadah!

Pemandangan itu sungguh luar biasa. Seorang anak muda mengendalikan api dan cairan obat seolah sedang menari. Itu bukan sekadar meramu obat, itu adalah seni surgawi.

Wu Ye menyaksikan dari samping dengan mata berbinar. "Sempurna... Campurannya seimbang sempurna. Bahkan aku pun sulit melakukan itu semudah dia."

Setelah beberapa saat, Liu Si menepuk tangannya. Sebuah pil bulat berwarna putih susu dan memancarkan cahaya lembut terbentuk sempurna di tangannya. Aromanya harum semerbak, membuat siapa saja yang menciumnya merasa segar kembali.

"Sudah siap!"

Liu Si mendekati Badu. Ia membuka mulut anak itu dan memasukkan pil suci itu ke dalam tenggorokannya.

Selanjutnya adalah tahap paling berbahaya.

"Kakek, bantu aku menekan racunnya keluar!" seru Liu Si.

"Siap!"

Keduanya meletakkan tangan masing-masing di dada dan punggung Badu.

BOOM!

Dua jenis energi yang berbeda namun selaras meledak masuk ke dalam tubuh Badu. Energi Kuning dari Liu Si dan Energi Abu-abu dari Wu Ye bekerja sama.

"Gggghhh!" Badu mengerang keras. Tubuhnya melengkung tinggi. Dari pori-pori kulitnya, mulai keluar cairan hitam pekat yang berbau sangat busuk. Cairan itu adalah racun murni yang didorong keluar oleh api obat!

Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Keringat membasahi wajah Liu Si dan Wu Ye. Energi mereka tersedot habis, tapi mereka tidak berhenti.

Akhirnya..Badu memuntahkan sesuatu

"KELUAR!" teriak Liu Si dan Wu Ye bersamaan.

BERSIH!

Sebuah semburat cairan hitam pekat keluar dari mulut Badu, mengenai dinding kayu dan membuat dinding itu langsung gosong dan berlubang. Betapa dahsyatnya racun itu, hingga bisa mengikis kayu sekeras itu!

Setelah racun utama keluar, tubuh Badu yang semula kaku dan memerah perlahan menjadi rileks. Napasnya yang tadinya tersengal-sengal kini menjadi panjang dan teratur. Warna keunguan di bibirnya perlahan menghilang, digantikan oleh warna merah muda yang sehat.

Liu Si dan Wu Ye mundur, napas mereka terengah-engah, keringat menetes deras. Energi mereka hampir habis, tapi senyum lebar terukir di wajah mereka.

"Berhasil..." bisik Liu Si.

Ibu Badu yang melihat itu langsung menjatuhkan diri ke lantai, menangis haru. Ia ingin berlutut di hadapan Liu Si dan Wu Ye, namun Wu Ye segera menahannya.

"Jangan begitu, Nyonya. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong sesama," kata Wu Ye dengan nada rendah hati, namun ada wibawa yang luar biasa dari dirinya saat ini.

Pintu rumah terbuka lebar. Para warga yang melihat kejadian itu dari awal kini terdiam seribu bahasa. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana api muncul dari tangan, bagaimana racun keluar, dan bagaimana orang yang hampir mati kembali hidup.

Mereka bukan lagi sekadar "Kakek dan Cucu penjual obat". Mereka adalah orang suci! Mereka adalah ahli yang memiliki kekuatan gaib!

"Terima kasih... Terima kasih, Tuan Liu, Tuan Wu..." Kepala Desa Badu menunduk dalam, wajahnya penuh rasa malu dan hormat. Dulu ia sering meremehkan mereka, menganggap mereka orang asing yang tidak berguna. Sekarang ia tahu, dialah yang bodoh karena tidak menyadari adanya naga yang bersembunyi di kolam kecil.

 

Rahasia yang Terbuka

Malam itu, suasana di Desa Kapas berubah total. Warga tidak lagi takut atau curiga. Yang ada hanya rasa hormat yang mendalam.

Setelah memastikan Badu tidur nyenyak dan aman, Liu Si dan Wu Ye berjalan pulang. Langkah mereka berat karena kelelahan, namun hati mereka ringan.

Namun, saat baru beberapa langkah meninggalkan rumah kepala desa, Liu Si menarik lengan baju Wu Ye. Wajahnya kembali serius.

"Kakek, lihat ini."

Liu Si mengeluarkan liontin berbentuk ular hitam yang ia ambil dari tubuh Manusia Iblis tadi. Cahaya bulan menerangi benda itu, membuat ukiran di atasnya terlihat sangat jelas dan menyeramkan.

Wajah Wu Ye berubah pucat pasi saat melihat liontin itu. Tangannya terhenti, napasnya tertahan di dada.

"Ini... ini lambang Sekte Ular Hitam..." bisik Wu Ye, suaranya bergetar menahan amarah dan ketakutan. "Mereka... mereka adalah tangan kanan dari organisasi yang membantai Desa Batu! Mereka adalah pembunuh orang tuamu, Si!"

Wu Ye mencengkeram bahu Liu Si kuat-kuat.

"Jadi dugaanku benar! Mereka tidak hanya lewat. Mereka sedang melakukan ekspedisi besar-besaran di daerah ini. Mereka mencari sisa-sisa klan Chen. Mereka mencari kotak kayu itu!"

"Kalau mereka punya pasukan depan seperti Manusia Iblis tadi, berarti ada ahli yang sangat kuat memimpin mereka di sini," kata Liu Si dengan wajah dingin. "Badu diracun bukan karena kebetulan. Mungkin itu cara mereka memancing kita keluar. Mereka tahu ada tabib handal di desa ini."

"Kemungkinan besar," jawab Wu Ye gelap. "Mereka menguji air. Dan sayangnya... hari ini kau terlalu bersinar, Si. Kau menunjukkan Api Penjernih. Ahli alkemis mana yang tidak tahu tanda api kuning keemasan itu? Itu adalah ciri khas darah kerajaan klan Chen!"

Liu Si menunduk. Ia sadar, demi menyelamatkan nyawa, ia terpaksa membuka identitasnya. Tapi konsekuensinya sangat besar.

"Jadi... sekarang mereka tahu kita di sini?"

"Mereka mungkin belum tahu pasti, tapi kecurigaan mereka pasti memuncak. Waktu kita tinggal sedikit."

 

Persiapan Perpisahan

Sesampainya di rumah, suasana menjadi hening dan tegang. Wu Ye langsung masuk ke ruangan rahasia dan mengeluarkan kotak kayu cendana hitam itu. Kotak itu kini terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah merasakan bahaya yang mendekat.

"Si, dengarkan aku baik-baik," kata Wu Ye dengan nada paling serius seumur hidupnya. "Desa Kapas tidak lagi aman. Bahkan, keberadaan kita di sini justru akan membawa malapetaka bagi penduduk desa yang tidak bersalah."

Liu Si menatap Wu Ye. "Maksud Kakek... kita harus pergi?"

"Kita harus pergi malam ini juga," tegas Wu Ye. "Sebelum fajar menyingsing, kita harus sudah berada jauh dari sini. Kita akan menuju ke Kota Perak, tempat yang ramai dan besar, di mana kita bisa bersembunyi di antara keramaian sekaligus mencari informasi lebih banyak tentang musuh."

"Tapi Kakek... bagaimana dengan desa ini? Bagaimana jika mereka datang mencari kita?" tanya Liu Si khawatir.

Wu Ye tersenyum tipis, namun senyum itu penuh arti. "Aku akan meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat mereka berpikir kalau kita sudah pergi jauh ke arah lain. Dan untuk penduduk desa... aku akan memberi mereka hadiah perlindungan."

Wu Ye mengambil beberapa butir pil berwarna hijau dan sebuah peta kecil.

"Ini Pil Penolak Racun dan Penolak Penyakit. Berikan pada Kepala Desa. Selama mereka memilikinya, racun tingkat biasa tidak akan mempan pada mereka. Dan ini..."

Wu Ye mengambil kuas dan tinta khusus, lalu menulis beberapa simbol aneh di kertas.

"Ini adalah Formasi Pembatas Sederhana. Tempelkan di empat penjuru desa. Ini akan membuat desa ini terlihat seperti kabut bagi orang jahat. Mereka mungkin akan lewat begitu saja tanpa menyadarinya."

Malam itu, tidak ada tidur bagi mereka berdua.

Liu Si dengan cepat mengemasi barang-barang penting. Buku-buku kuno, alat-alat meramu, dan bekal perjalanan. Semua dimasukkan ke dalam sebuah tas kulit besar yang tahan banting.

Wu Ye berdiri di depan pintu, menatap desa yang telah menjadi rumah mereka selama tiga belas tahun. Rasa haru bercampur sedih menyelimuti hatinya.

"Selamat tinggal, Desa Kapas... Terima kasih telah melindungi kami selama ini," bisiknya.

"Kakek, sudah siap," suara Liu Si memecah lamunan. Pemuda itu kini berdiri dengan pakaian perjalanan, wajahnya tampak lebih dewasa dan tegas. Di matanya, tidak ada lagi ketakutan anak kecil. Yang ada hanyalah tekad seorang pejuang.

"Bagus. Ingat, Nak. Mulai langkah ini, tidak ada lagi Liu Si. Mulai sekarang, kau adalah Chen Si. Dan perjalananmu untuk menaklukkan dunia baru saja dimulai."

Mereka membuka pintu belakang. Angin malam bertiup kencang.

Dengan langkah ringan namun pasti, dua sosok itu menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan Desa Kapas yang sedang tidur lelap, menuju masa depan yang penuh badai dan pertempuran.

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!