NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Tahta di Atas Luka

​Lampu kristal di ruang tengah Mansion Jacob seolah kehilangan sinarnya malam itu. Di atas meja marmer yang dingin, beberapa lembar dokumen berkekuatan hukum tetap terbentang luas. Pak Andrew menyodorkan pena berlapis emas kepada Vanya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat demam yang belum turun, Vanya membubuhkan tanda tangannya.

​Setiap goresan pena itu bukan hanya perpindahan aset, melainkan pergeseran kekuasaan. Mulai detik itu, Vanya Benjamin bukan lagi "menantu yang menumpang," melainkan pemilik tunggal dari imperium Jacob Group.

​"Selesai, Nyonya Vanya," ucap Pak Andrew dengan nada hormat yang tidak pernah ia berikan kepada Olivia maupun Karlo. "Sesuai jadwal, besok pagi jam delapan, tim legal akan mengantar Anda ke kantor pusat untuk memulai kepemimpinan Anda sebagai Komisaris Utama dan pemegang saham pengendali."

​Vanya hanya mengangguk pelan. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa lelah.

​Konfrontasi di Kamar yang Dingin

​Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam kamar utama yang biasanya sunyi kini terasa mencekam. Devan berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam dengan rahang mengeras. Pikirannya kalut. Viona baru saja pulang dengan wajah masam setelah mengetahui bahwa pembacaan wasiat itu berakhir dengan "nol besar" bagi Devan.

​Vanya masuk ke kamar, mencoba mengabaikan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Ia ingin segera memejamkan mata dan melupakan kenyataan pahit bahwa ia harus berendam di bawah hujan hanya untuk menjemput pria yang sekarang menatapnya dengan penuh benci.

​"Vanya," suara Devan terdengar berat dan tajam.

​Vanya tidak menyahut. Ia berjalan menuju meja rias, melepaskan anting-antingnya satu per satu dengan gerakan lambat.

​"Vanya! Jawab aku!" Devan berbalik, langkahnya lebar menghampiri istrinya. "Apa kau yang memaksa Papaku membuat wasiat gila itu? Apa yang kau bisikkan padanya di atas tebing malam itu?"

​Vanya tetap diam. Ia seolah-olah menjadi tuli. Ia mengambil kapas, menuangkan pembersih wajah, dan mulai membersihkan sisa pucat di wajahnya.

​"Kenapa malah orang luar yang mendapatkan warisan itu? KENAPA?!" Devan berteriak, suaranya menggema di dinding kamar. "Aku anak kandungnya! Karlo anak kandungnya! Tapi dia memberikan semuanya padamu? Orang asing yang bahkan tidak dia kenal sebelum pernikahan ini!"

​Vanya meletakkan kapasnya. Ia menatap pantulan Devan di cermin. Mata Devan merah, bukan karena duka, tapi karena harga diri yang terluka dan keserakahan yang tak terpenuhi.

​"Aku lelah, Devan," ucap Vanya lirih. Suaranya terdengar sangat letih, sebuah kelelahan yang sudah menumpuk selama berbulan-bulan diabaikan dan dihina.

​"Lelah? Lelah karena apa? Karena sudah berhasil merayu pria tua itu untuk memberikan hartanya padamu?" ledek Devan dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Hebat sekali sandiwaramu.

​Vanya berbalik, menatap Devan langsung di matanya. "Aku tidak pernah meminta satu sen pun dari Papa Davit. Jika kau ingin tahu kenapa Papa memberikan ini padaku, tanyakan pada dirimu sendiri. Ke mana kau saat Papa butuh bantuan di kantor? Di mana kau saat Papa ingin bicara di meja makan? Kau sibuk dengan duniamu sendiri, Devan. Kau membiarkan kapal ini bocor, dan Papa hanya ingin seseorang yang bisa menambalnya."

​Devan tertawa getir. "Menambalnya? Kau pikir kau sehebat itu? Kau hanya seorang wanita yang beruntung."

​Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Tatapannya penuh dengan penghinaan. "Dan asal kau tahu, Vanya... itulah alasan kenapa aku tidak menyukaimu sejak awal. Karena kau terlalu kaku. Kau terlalu formal, terlalu dingin, dan membosankan! Kau tidak punya gairah, tidak seperti Viona yang bisa menghidupkan duniaku. Menikah denganmu seperti hidup dengan patung pajangan di museum."

​Kalimat itu menusuk tepat di jantung Vanya. Membosankan. Kaku. Itulah label yang diberikan Devan untuk kesetiaan dan ketabahan Vanya selama ini. Vanya tidak menjawab lagi. Ia menarik selimut dan merebahkan tubuhnya, membelakangi pria yang masih berstatus suaminya itu.

​"Terserah kau mau bicara apa, Devan. Tapi ingat satu hal," suara Vanya terdengar dingin dari balik selimut. "Besok pagi, saat kau butuh uang untuk membayar belanjaan mewah kekasihmu itu, kau harus ingat siapa yang memegang kendali atas rekeningmu."

​Devan terdiam sesaat. Rahangnya bergemeletuk. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. Tanpa sepatah kata lagi, ia menyambar jaketnya dan membanting pintu kamar dengan sangat keras. Ia pergi, kemungkinan besar kembali ke pelukan Viona untuk mencari penghiburan atas kemiskinan mendadak yang ia alami.

​Fajar yang Baru

​Vanya tidak menangis. Air matanya sudah habis di bawah hujan semalam. Ia hanya menatap langit-langit kamar yang gelap, menyadari bahwa mulai besok, ia tidak bisa lagi menjadi "patung pajangan" yang kaku.

​Ia harus menjadi badai.

​Keesokan paginya, tepat pukul 08:00, sebuah iring-iringan mobil hitam berhenti di depan lobi Jacob Tower. Seluruh karyawan berdiri berjajar di lobi, termasuk para manajer yang kemarin sempat meremehkan Vanya.

​Pintu mobil terbuka. Vanya keluar dengan setelan kerja berwarna merah marun yang sangat tajam, memberikan kesan otoritas yang tak tertandingi. Rambutnya disanggul rapi, matanya tajam tanpa ragu. Di belakangnya, Pak Andrew dan Pak Hans berjalan sebagai pengawal setianya.

​Saat ia melangkah melewati pintu putar, para staf membungkuk hormat.

​"Selamat pagi, Nyonya Vanya! Selamat datang, Komisaris Utama!" seru mereka serentak.

​Vanya terus berjalan menuju lift eksekutif tanpa berhenti. Ia tidak membutuhkan pujian mereka. Ia hanya butuh kepatuhan mereka. Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya. Patung pajangan itu kini telah memiliki nyawa, dan siapapun yang meremehkannya akan tahu betapa mahalnya harga sebuah pengabaian.

​Di lantai atas, Karlo sudah menunggu dengan wajah cemas, sementara Devan entah berada di mana. Vanya melangkah keluar dari lift dan langsung menuju ruang rapat utama.

​"Mulai hari ini," suara Vanya bergema di depan para direksi, "peraturan di Jacob Group berubah. Dan siapapun yang tidak setuju, silakan tinggalkan surat pengunduran diri di meja saya sebelum jam makan siang."

​Era baru Jacob Group telah dimulai, dan Vanya Benjamin adalah penguasanya.

​Keesokan harinya, suasana di kantor pusat Jacob Group benar-benar berubah. Vanya duduk di kursi kebesaran mendiang Pak Davit, menatap tumpukan berkas dengan ketenangan yang mematikan. Namun, di lantai bawah, tepatnya di divisi properti yang dipimpin oleh Karlo, sebuah drama lain sedang berlangsung antara karlo dan seketarisnya.

​Selama ini, semua orang mengira Karlo adalah suami setia yang tertekan oleh sifat posesif Rose. Rose memang lebih banyak menghabiskan waktunya di mansion, fokus mengurus Mikaila dan memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, tanpa menyadari bahwa suaminya telah membangun dunianya sendiri di kantor.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!