NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 AWAL LATIAN ZETA

Setelah menembus hiruk-pikuk kota, langkah mereka akhirnya terhenti di hadapan sebuah gerbang raksasa dari batu hitam. Permukaannya dipenuhi pahatan rune kuno yang berpendar merah, seolah bernapas mengikuti denyut panas dari balik dinding.

Begitu gerbang terbuka, gelombang hawa panas langsung menerpa wajah mereka.

Di baliknya terbentang Lembah Latihan Neraka Beltrum sebuah arena luas yang lebih menyerupai altar perang para iblis. Tanahnya retak-retak, dialiri garis lava tipis yang menyala seperti urat nadi. Di beberapa titik, kawah kecil menyemburkan api dan uap panas secara berkala, teratur, seakan menjadi bagian dari mekanisme latihan.

"aku bilang kan mau latihan, bukan mau uji nyali di tempat mistis begini. bukan tempat latihan, ini neraka!" Ucap Zeta

Lytia berkacak pinggang, seringai jahatnya muncul. "Eh, namanya juga Lembah latian Neraka Beltrum. Kalau

Kamu mau latihan yang gak menantang mending ke taman anak anak sana! Udah, jangan jadi penakut!"

Zeta menelan ludah, pasrah. "Ya... ya sudahlah."

"Oh iya, Zeta," Lytia menunjuk pakaian Zeta dari atas ke bawah. "Ganti baju mu dulu. Kamu nggak ngerasa aneh

apa pake baju begini? Tadi di jalan warga pada ngelihatin mu kayak keliatan aneh."

Zeta melihat pakaian rumahannya yang sudah agak kotor. "Iya juga sih nggak cocok buat tempur. Oke, aku ganti."

Setelah berganti dengan pakaian latihan ala militer Beltrum yang lebih ringan tapi kuat, Lytia membawa Zeta ke

ruangan kusus latian. Di sisi lain, terlihat beberapa kelompok prajurit sedang berlatih tanding, tapi area Zeta dan Lytia sengaja dikosongkan khusus untuk pelatihan privat.

Demonstrasi Sang Jenderal

"Oke, dengerin," Lytia berdiri tegak, auranya berubah serius. "Aku bakal tunjukin cara dasar ngeluarin sihir.

Pada dasarnya, aku punya dua elemen: Tanah dan Api.

"Oke, tunjukin sekarang! Aku mau lihat sihir asli!" seru Zeta antusias.

Lytia menarik napas, tangannya terangkat ke depan. "Sihir Api: [Fireball]!"

BOOM!

Sebuah bola api besar melesat dan menghantam boneka latihan dari kayu pohon besi sampai hancur berkeping keping.

Zeta melongo, rambut depannya sampai tertiup angin panas akibat ledakan itu. “Gila, ini real banget...

bukan CGI film!” batinnya takjub.

Belum sempat Zeta berkedip, Lytia menghentakkan kakinya ke tanah. "[Earth Wall]!"

Tiba-tiba tanah di depan mereka naik setinggi dua meter, membentuk dinding kokoh yang melindungi mereka.

"Begitu caranya, Zeta," jelas Lytia sambil menepis debu di bahunya. "Awalnya kamu harus ngerapalin nama

sihirnya buat fokusin energi. Tapi kalau kamu udah mahir, kamu bisa keluarin tanpa suara. Sekarang... giliran mu. Coba

serang boneka pohon itu!"

Eksperimen yang Salah Alamat

Zeta maju dengan penuh percaya diri. Dia memasang kuda-kuda keren, tangannya dijulurkan ke depan, matanya

menyipit tajam.

"Sihir Api...BOLAAPI!" teriak Zeta penuh semangat.

Satu detik... dua detik... hening. Cuma ada suara jangkrik dan angin sepoi-sepoi yang lewat. Nggak ada api,

nggak ada ledakan.

Lytia melongo, lalu mukanya memerah menahan marah sekaligus malu. "HEEEEHHH?! Apa kamu lupa ingatan?!

Elemen mu itu ANGIN, Bodoh! Mana bisa kamu keluarin api?!" teriak Lytia sampai urat lehernya kelihatan.

Zeta nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang nggak gatal. "Hehehe... sori, sori. Reflek doang karena habis liat kamu tadi keren banget."

"Fokus, Zeta! Fokus!"

Zeta menarik napas dalam-dalam. Kali ini dia serius. Dia merasakan aliran energi di dadanya sesuatu yang dingin dan ringan. "Sihir Angin: [Wind Blast]!"

*Wuuuussshhhh!*

Sebuah tembakan angin berwarna hijau pucat melesat kencang, menghantam boneka pohon sampai terpental ke belakang.

Lytia sedikit terkejut. "Wah... buat permulaan, itu lumayan bagus."

"Cih, segini doang mah kecil!" Zeta mulai sombong, hidungnya kembang kempis.

"Jangan sombong dulu, bodoh!" Lytia merasa tertantang. Dia langsung merapalkan berbagai variasi sihir api dan

tanah sekaligus semburan api yang meliuk-liuk, bola tanah yang jatuh dari langit, dan guncangan tanah kecil.

Zeta nggak mau kalah. Dia mencoba mengerahkan seluruh energinya. "Sihir Angin: [Great Tornado]!"

Angin besar tiba-tiba berputar kencang di tengah ruangan latian. Debu beterbangan, senjata di rak-rak latihan

mulai goyang, bahkan ruangan itu hampir jebol dindingnya

"Zeta! Zeta, STOP!" teriak Lytia panik sambil menahan jubahnya. "Bisa berantakan semua tempat ini kalau kamu nggak kontrol! Kontrol energi mu, bego!"

Zeta panik, dia berusaha "mematikan" saklar energinya, dan akhirnya angin itu mereda, meninggalkan ruangan dalam keadaan acak-acakan.

Zeta berdiri terengah-engah di tengah ruangan yang berantakan. Debu masih beterbangan akibat tornado kecil yang ia ciptakan tadi. Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan takjub.

"Wah... Ku nggak nyangka. Ini beneran kekuatan ku? Gede juga ya?" gumam Zeta, senyum bangganya mulai melebar.

Lytia berjalan mendekat sambil mengibaskan debu dari bahunya. Wajahnya masih terlihat sedikit syok. "Iya, Zeta. Ternyata kamu punya kapasitas mana yang lumayan gede, walaupun tampang mu cupu dan nggak meyakinkan. Tapi masalahnya, kontrol mu itu nol besar! Kamu cuma buang-buang energi!"

Lytia menatap sekeliling ruangan yang porak-poranda. "Kita harus pindah ke area yang lebih luas lagi. Di sini terlalu sempit buat kamu yang nggak bisa ngerem kekuatan."

"Kenapa nggak di sini aja? Kalau di luar, aku malu dilihat orang. Aku kan masih payah," keluh Zeta.

"Nyadar juga kamu payah?" cibir Lytia. "Tapi tenang, area luar yang aku maksud itu lapangan terbuka yang jarang, dilewati orang. Ayo!"

Logika Mana dan Teori Zeta

Mereka sampai di sebuah padang rumput yang sangat luas, jauh di balik bukit istana. Angin bertiup kencang,

seolah menyambut elemen alami Zeta.

"Oke, latihan pertama tadi udah lumayan karena kamu berhasil 'memicu' mana kamu. Tapi dengerin, Zeta. Daya sihir besar itu percuma kalau nggak dikontrol," jelas Lytia serius.

Zeta mengernyit. "Bukannya makin besar makin bagus? Sekali hantam musuh langsung rata, kan?"

"Bodoh!" Lytia menjitak kepala Zeta. "Kalau kamu nggak kontrol, energi mu bakal habis dalam sekali serangan, terus kamu pingsan. Pas kamu pingsan, musuh tinggal tusuk kamu. Belum lagi serangan mu bisa kena temen sendiri. Paham?!"

Zeta mengusap kepalanya sambil meringis. "Iya, iya, paham. Oh iya, Jenderal... ada semacam buku sihir nggak buat aku belajar rapalan-rapalan lain?"

Lytia mengangkat bahu. "Ada di perpustakaan istana, tapi isinya banyak jadi kau harus sering baca. Kebanyakan penyihir di sini belajar dari apa yang tertulis di sana secara turun-temurun."

Zeta terdiam. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. “Kalau cuma dari buku, berarti variasi sihir mereka hampir sama dong dari turun temurun? Di dunia game ada karakter yang bisa buat serangan angin itu macem-macem dengan sesuai imajinasi kita sendiri. Apa jangan-jangan... sihir di dunia ini juga bisa keluarkan sihir variasi cuma lewat imajinasi sesuai kemauan ku?”

Zeta berjalan menjauh dari Lytia, sekitar sepuluh meter. Ia ingin membuktikan teorinya. Ia menutup mata, membayangkan angin di sekitarnya memadat, memanjang, dan meruncing seperti tombak yang berputar

kencang."Sihir Angin... [Wind Lance]!"

Zeta membuka matanya. Sebuah tombak angin hijau pekat terbentuk di depannya. Namun, karena masih belum terbiasa dengan "tekanan" energinya, tombak itu melesat liar bukan ke arah boneka latihan, melainkan langsung ke arah Lytia!

"HEEEEEHHH?!" Lytia kaget setengah mati. Dengan refleks kilat, ia menghantamkan tangannya ke tanah. "

[Earth Wall]!"

*DUAAARRR!*

Tombak angin itu menghantam dinding tanah Lytia sampai retak.

"ZETAAAA! Apa kamu mau ngebunuh ku?! Apa kamu mau balas dendam gara-gara mata kiri mu itu, hah?!" teriak Lytia dari balik dinding tanah, wajahnya campuran antara marah dan panik.

Zeta buru-buru lari sambil masang muka melas. "Hehehe... maaff Jenderal! Aku tadi nyoba merapalkan sihir baru, eh nggak tau arahnya malah belok ke situ. Maaf, maaf!"

Lytia keluar dari balik dindingnya sambil ngomel-ngomel nggak karuan. Tapi di balik permintaan maafnya, jantung Zeta berdegup kencang karena senang.

“Ternyata bener... sihir di sini cuma soal imajinasi,” batin Zeta dengan licik. “Berarti mereka dunia ini cuma ngandelin buku yang terbatas itu doang. Kalau gitu, rahasia ini aku simpen sendiri aja. Aku bakal bikin variasi sihir yang nggak pernah mereka bayangin!”

"Bagus, Zeta. Serangan tombak angin tadi lumayan, tapi itu serangan yang biasa dipake bangsa Elf. Kamu jangan ke pedean dulu karna udah bisa keluarkan sihir tapi udah mau mencoba membuat sihir baru itu mustahil" ucap Lytia sambil menghancurkan sisa dinding tanahnya.

Zeta tertegun. “Ternyata tombak angin udah umum ya? Berarti imajinasi ku tadi masih terlalu 'standar' buat Dunia ini,” batinnya. "Oh, jadi udah umum ya? Kirain aku jenius."

"Belum! Kamu masih butuh latihan berhari-hari lagi kalau mau disebut jenius," balas Lytia ketus. "Variasi sihir lainnya bisa kamu baca di perpustakaan istana nanti. Sekarang... waktunya latihan fisik!"

Zeta menepuk dadanya sombong. "Latihan fisik? Tenang, aku udah biasa. Di dunia ku, aku aktif olahraga."

"Oh ya?" Lytia menyeringai licik. Ia menjentikkan jarinya, dan seketika beberapa bola api kecil meluncur mengejar kaki Zeta.

"AAAAAAKKHH! APA-APAAN INI?! O-oi, Jenderal! Kenapa aku harus lari sambil dikejar api?! Aku bisa lari biasa tanpa hambatan, ini sih penyiksaan!" teriak Zeta sambil tunggang-langgang menghindari jilatan api di belakangnya.

"Hahahaha! Namanya juga perang, Zeta! Musuh nggak bakal biarin kamu lari santai kayak di taman!" Lytia tertawa puas melihat Zeta yang lari kesetanan.

Hari yang Melelahkan

Matahari mulai tenggelam, menyisakan langit berwarna oranye keunguan. Zeta ambruk di rumput dengan napas memburu. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya.

“Gila... untung dulu aku hobi olahraga dan sering kerja sampingan jadi kuli angkut, kalau nggak, mungkin aku udah pingsan di jam pertama,” gumam Zeta dalam hati.

Lytia berdiri di atasnya, menatap Zeta dengan sedikit rasa kagum yang disembunyikan. "Nggak nyangka, fisik Kamu cukup kuat juga. Bagus. Latihan hari ini selesai. Ayo balik."

Saat mereka berjalan kembali membelah keramaian kota, Zeta tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah panik.

"OYYY! Baru inget aku! Aku pulang ke mana?! Aku kan nggak tau apa-apa di sini! Dasar Jenderal pikun!

Lytia tersentak, menepuk dahinya keras-keras. "Ohhh iya! Harusnya aku lapor Putri Stella soal tempat tinggal mu!"

"Cih! Kalian bener-bener penculik ya! Habis manggil orang sembarangan, malah nggak dipikirin tempat tinggalnya. Kejam!" gerutu Zeta.

"Maaf, maaf! Hehehe..." Lytia nyengir canggung. "Gini aja, malam ini kamu nginep di rumah ku dulu. Besok baru aku urus ke istana."

Zeta menghela napas. "Yaudah, terserah. Eh, tapi emangnya kamu nggak jaga Lembah Nox itu? Emang aman ninggalin Wilayah itu demi pulang ke rumah?"

"Pasukan manusia Zetobia juga lagi pemulihan. Sekarang Lembah Nox dijaga sama 3 kesatria Beltrum, kita cuma punya waktu 3 hari sebelum harus balik ke medan tempur," jelas Lytia dengan nada serius.

Kehangatan yang Asing

"Itu rumah ku," tunjuk Lytia ke sebuah bangunan kayu yang terlihat kokoh dan asri.

"Emang nggak apa-apa aku di sini?" tanya Zeta ragu.

"Nggak apa-apa, santai aja." Balas Lytia

Tiba-tiba, pintu rumah terbuka. Sepasang suami-istri iblis paruh baya keluar dengan wajah cemas yang langsung berubah jadi bahagia. Sang ibu langsung memeluk Lytia erat.

"Lytia! Syukurlah kau pulang dengan selamat, Nak!"

"Iya, Ayah, Ibu... aku dapet izin sebentar dari Raja," jawab Lytia lembut.

Zeta tertegun di depan pintu. Pemandangan itu seperti belati yang menusuk hatinya. Ia teringat masa lalunya di Bumi pulang sekolah hanya disambut rumah yang sepi, dingin, dan kosong. Orang tuanya terlalu sibuk bertengkar dan bekerja sampai akhirnya bercerai. Kata "pulang" bagi Zeta tidak pernah seindah ini.

"Zeta, kemari! Kenalin, ini ayah sama ibu ku," panggil Lytia.

"S-salam kenal..." Zeta membungkuk kaku.

"Ibu, Ayah, dia ini Zeta. Manusia dunia lain yang dipanggil lewat ritual itu," Lytia menjelaskan.

Orang tua Lytia terbelalak. "Ternyata bukan dongeng yah ini jelas nyata? Kesatria dunia lain benar-benar ada di depan kita?" Sang ayah langsung merangkul pundak Zeta dengan ramah.

“Ayah dia akan menginap semalam di rumah kita karena aku dan orang istana lupa untuk memberinya tempat tinggal” ujar lytia

“Silahkan kami senang bisa menolong kesatria yang akan membawa kemenangan untuk kerajaan ini” balas ayah lytia

Zeta hanya bisa tersenyum tipis. "Maaf merepotkan..."

Di dalam rumah Lytia, suasana terasa sangat hangat. Cahaya lampu dari batu sihir menerangi meja makan. Zeta duduk di samping Lytia, dikelilingi oleh tawa dan obrolan hangat keluarga itu. Sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan di dunianya, kini malah ia dapatkan di dunia iblis yang katanya di dunia asal Zeta iblis itu jahat "jahat".

1
T28J
udah lama saya gak baca si Zeta 🙏
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!