NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 6: Amarah Sang Surya

Panggilan Perang

Setelah penyatuan itu, Raka merasa tubuhnya jauh lebih kuat dan ringan. Matahari ketiga di punggungnya kini bersinar dengan stabil, tidak lagi liar. Namun, kedamaian itu pecah saat langit di atas Lembah Dwipantara tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat.

Boom!

Sebuah retakan besar muncul di langit. Dari sana, ribuan bayangan hitam turun seperti hujan. Itu adalah pasukan iblis dari Lembah Kelam. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri sosok pria dengan jubah hitam yang sangat dikenali Raka dalam mimpinya, namun dengan aura yang jahat.

"Ternyata di sini kau bersembunyi, keponakanku," suara pria itu menggelegar, menghancurkan pohon-pohon bambu di sekitarnya.

Raka berdiri di tepi danau, mengenakan kembali pakaiannya. Ia menatap ke langit dengan mata yang kini berwarna emas murni. Di tangannya, sebuah pedang cahaya mulai terbentuk," Pedang Surya."

"Ki Ageng, Laksmi... bersiaplah," ucap Raka dengan nada dingin yang mematikan. "Hari ini, aku tidak akan lari lagi."

Raka melompat tinggi ke udara, membelah awan hitam dengan pedangnya.

Siuuuuutttt!

Cahaya keemasan yang luar biasa terpancar dari tubuhnya, menantang kegelapan yang mencoba menelan dunia. Raka telah menguasai tiga dari sembilan matahari, dan itu sudah lebih dari cukup untuk memulai pembalasan dendamnya."

Langit Lembah Dwipantara yang tadinya jingga abadi kini terkoyak oleh kegelapan yang pekat."

Ribuan makhluk bayaran dari Lembah Kelam, sosok tanpa wajah dengan jubah compang-camping dan pedang hitam turun dari langit layaknya hujan meteor gelap.

Wusss... Wusss... Wusss...

"Raka! Mereka datang untuk mengambil jantung cahayamu!" teriak Ki Ageng Selo sambil mengangkat tongkat kayunya, menciptakan perisai transparan di sekitar danau.

Raka berdiri tegak di atas air. Matanya berkilat emas, memantulkan cahaya dari tiga matahari kecil yang berputar di belakang punggungnya. Ia menggenggam Pedang Surya, sebuah bilah cahaya murni yang bergetar hebat.

"Biarkan mereka datang," ucap Raka dingin.

Pasukan pertama mencapai permukaan air. Raka melesat maju, gerakannya meninggalkan jejak cahaya emas.

Setiap ayunan pedangnya membelah tubuh monster-monster bayangan itu hingga menjadi debu hitam.

Duar!

Raka menghantamkan tinjunya ke permukaan air, melepaskan gelombang energi panas yang menghancurkan puluhan musuh sekaligus. Namun, pasukan itu seolah tak ada habisnya. Di tengah kekacauan itu, sesosok pria raksasa dengan baju zirah berduri dan sayap hitam besar mendarat di hadapan Raka. Ia adalah Malakor, Panglima Tertinggi Lembah Kelam.

"Hanya tiga matahari?" Malakor tertawa, suaranya seperti seribu tulang yang patah.

"Keponakanku yang malang, ayahmu," Sang Hyang Jagat, memiliki sembilan matahari saat ia membantai seluruh pasukanku. Kau... kau hanyalah kerikil di jalan kami."

Malakor mengayunkan gada raksasanya yang dikelilingi api hitam.

Booms!

Benturan antara gada dan pedang Raka menciptakan ledakan yang menguapkan sebagian air danau. Raka terdorong mundur, kakinya menyeret di atas permukaan air.

Penyatuan Dua Unsur

Raka terdesak. Malakor terlalu kuat untuk dihadapi dengan hanya tiga matahari. Tubuh Raka mulai gemetar, energi hitam dari gada Malakor mulai meracuni aliran sukmanya.

"Raka! Masuk ke dalam air sekarang!" perintah Laksmi dari balik kabut.

Dengan sisa tenaganya, Raka menyelam ke dasar danau yang dalam. Di sana, di sebuah gua bawah air yang kedap udara berkat sihir, Laksmi sudah menantinya.

Kondisi Raka memprihatinkan, urat-urat hitam mulai menjalar dari lengan menuju dadanya.

"Kau tidak bisa mengalahkannya dengan amarah saja, Raka. Kau butuh keseimbangan. Kau butuh matahari keempat, Matahari Keheningan," bisik Laksmi.

Laksmi mendekat, menempelkan tubuhnya yang dingin ke tubuh Raka yang membara.

Suara uap terdengar saat mereka bersentuhan.

Laksmi memeluk Raka dari depan, mengunci tubuh kekar pemuda itu dengan kaki jenjangnya.

"Gunakan aku sebagai penyeimbangmu. Satukan cahayamu dengan sukmaku," ucap Laksmi.

Dalam kondisi terdesak dan penuh gairah, Raka mencium Laksmi dengan intensitas yang luar biasa.

Ini bukan sekadar pelepasan nafsu, melainkan sebuah ritual Penyatuan Ganda. Tangan Raka memberikan sentuhan di pinggul Laksmi, sementara energi dari Laksmi mulai mengalir masuk ke dalam nadi Raka, membasuh racun hitam Malakor.

Laksmi merasakan energi matahari Raka yang liar mulai menyatu dengan energi dinginnya. Di bawah air, dalam pelukan yang panas, sebuah matahari keempat mulai terbentuk di dada Raka.

Warnanya bukan lagi jingga, melainkan putih cemerlang yang menyilaukan.

Getaran kenikmatan dan kekuatan meledak secara bersamaan."

Raka merasakan setiap pori-porinya terbuka, menyerap seluruh esensi kehidupan di lembah itu. Penyatuan raga mereka mencapai puncaknya, mengirimkan gelombang kejut yang membuat gua bawah air itu bergetar hebat."

Bangkitnya Sang Matahari Putih

Blar!

Permukaan danau meledak. Raka melesat keluar dari air seperti peluru cahaya. Kini, empat matahari berputar di belakangnya, dan auranya telah berubah total. Rambut hitamnya kini bersinar perak keemasan.

Malakor tertegun tak percaya. "Bagaimana mungkin... Matahari Keheningan? Kau... kau menyatukan sukma dengan Roh Lembah?"

Raka tidak menjawab. Ia melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata.

Sret!

Satu ayunan pedang, dan lengan kanan Malakor yang memegang gada jatuh terpotong.

Aaaaaaaaakhhh!

Malakor melolong kesakitan. Darah hitamnya menyembur, namun langsung menguap sebelum menyentuh tanah.

"Ini untuk ayahku," ucap Raka. Ia memusatkan seluruh energi empat matahari ke ujung jari telunjuknya.

Zuuuttt... Sebuah bola cahaya seukuran kelereng namun dengan kepadatan massa sebuah gunung terbentuk.

Duar!

Sinar cahaya putih menembus dada Malakor, menghancurkan jantung hitamnya dan meledakkan seluruh tubuh raksasa itu hingga tak bersisa. Seluruh pasukan bayangan yang tersisa seketika lenyap menjadi abu saat pemimpin mereka tewas.

Hening kembali melanda Lembah Dwipantara. Matahari hitam di langit mulai memudar, berganti dengan cahaya jingga yang kembali tenang."

Ki Ageng Selo mendekati Raka yang mendarat di pantai dengan napas tersengal. Raka tampak jauh lebih dewasa, ada wibawa seorang raja yang mulai terpancar dari wajahnya.

"Kau sudah melakukannya, Raka. Kau telah melewati ujian pertama," ucap Ki Ageng bangga.

Raka menatap tangannya yang masih bergetar.

"Malakor menyebut ayahku Sang Hyang Jagat. Di mana dia, Ki? Di mana pria yang memberikan kekuatan ini padaku?"

Ki Ageng menunjuk ke arah cakrawala yang paling gelap, jauh di luar batas Lembah Dwipantara.

"Ayahmu tidak mati, Raka. Dia dikurung di dalam Penjara Tanpa Ruang di pusat Lembah Kelam oleh saudara kembarnya sendiri, Dewa Barata. Barata-lah yang sebenarnya menginginkan nyawamu."

Raka mengepalkan tinjunya."

Krakkk! Tanah di bawahnya retak.

"Aku akan mencarinya. Dan aku akan memastikan Barata membayar setiap tetes air mata ibuku dan setiap penderitaan ayahku," janji Raka.

Dari dalam danau, Laksmi muncul ke permukaan, menatap Raka dengan tatapan penuh arti. Ia tahu, pria yang baru saja bersatu dengannya itu kini telah melampaui batas manusia biasa.

Perjalanan Raka bukan lagi sekadar mencari jati diri, tapi sebuah perang suci untuk merebut kembali takhta langit."

"Bersiaplah, Raka," bisik Laksmi ditiup angin. "Karena dunia luar tidak akan selembut lembah ini."

Raka menoleh ke arah utara, tempat di mana kegelapan sejati menunggu. Dengan empat matahari yang bersinar di punggungnya, ia melangkah maju."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!